The Museum

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Norhayati

Dokter Anang

Mario baru selesai mandi. Dia membuat segelas kopi hitam dan meminumnya. Melaksanakan tugas sebagai penjaga malam museum. Menatap sekeliling dengan waspada. Dia melihat sekelebat bayangan mirip dokter yang memakai setelan putih lengkap dengan jas warna senada. Rambut cepaknya acak-acakan. Mario mengejarnya. Namun, bayangan itu menghilang. Pemuda keriting itu terus melangkah melewati berbagai barang antik, dari guci berumur ratusan tahun sampai golok Kapiten Pattimura yang sering muncul di uang seribuan.
Mario menajamkan penglihatan. Tidak ada tanda-tanda gangguan hantu penunggu museum. Dia beristirahat sejenak. Duduk di kursi untuk para pengunjung. Pemuda keriting itu malah terjengkang karena kursi tiba-tiba ditarik ke belakang.
“Ini pasti ulah salah satu dari mereka,” gumam Mario dalam hati.
Mario menatap ke belakang. Tidak ada siapapun.
“Cepat keluar. Berani kali kau ngerjain aku!” tantang Mario.
Tidak ada reaksi. Mario kembali berjalan sambil mengaktifkan radar hantu. Matanya tajam mengawasi sekeliling sambil menyorotkan senter.
Dokter Anang muncul di depan Mario saat dia berbelok di lorong ke arah pintu. Pemuda keriting itu kaget dan langsung menonjok pelipis Dokter Anang sampai benjol. Dokter itu mengeluarkan jarum suntik besar. Cairan putih memenuhi tabung suntikan.
“Aku akan menyuntikmu,” Dokter Anang menyeringai. Menampakkan giginya yang gingsul.
Jantung Mario berpacu cepat menggedor dada. Dia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Pemuda itu menelan ludah yang mengental di tenggorokan. Ujung jarum suntik yang tajam cukup untuk membuat tubuhnya berkeringat. Padahal, malam itu sangat dingin.
“Dok. Aku tak sakit, tak perlulah disuntik. Kau balik sajalah ke rumah sakit.”
“Dasar manusia! Ini bukan obat.”
“Dasar Dokter Hantu! Kalau bukan obat, buat apa mau kau suntikkan padaku?” balas Mario.
“Ini racun yang akan membuatmu tidur selama seminggu.”
“Emang aku snow white. Kebanyakan baca dongeng kau, Dok.”
Dokter Anang mendekat pada Mario.
“Jangan mendekat!” Mario yang takut jarum suntik mundur dan langsung kabur.
Dokter Anang yang merasa berhasil menakuti Mario, menghilang dan muncul di depan Mario saat di depan pintu.
“Kalau macam ni, aku bisa gagal memenuhi janjiku pada Lena,” gumam Mario dalam hati.
Mario membaca mantra daan mengecup mesra batu Tongghost. Dokter Anang menghilang. Malam Jumat ini akan lebih panjang untuk Mario daripada malam Minggu bagi jomblo.
Mario sesekali menatap radar hantu. Dia tidak mau disuntik. Sejak kecil, suntikan memang selalu berhasil membuatnya takut. Si Keriting sering menghadapi hantu yang memegang pisau, samurai, bahkan kapak. Tapi, semua berhasil diatasi. Energi dari Dokter Anang terasa di belakang Mario. Mario lari dan berbalik.
Dokter Anang muncul di depan wajah Mario. Mengarahkan suntikan ke tangan kiri pemuda itu. Dia berhasil menepis tangan dokter muda di depannya. Suntikan jatuh ke lantai.
Kaki Mario mengait kaki Dokter Anang, lalu mendorongnya hingga jatuh terduduk tepat di atas jarum suntik.
“Adaw!” jerit Dokter Anang. Dia langsung pingsan.
“Apa yang kaulakukan padanya?” Lena jongkok di depan Dokter Anang dan menatap tajam Mario.
“Dia kena senjatanya sendiri,” Mario melengos tanpa rasa bersalah.
“Kalau terjadi sesuatu padanya, Gue rusak semua baju lo,” Mata Lena berkaca-kaca.
Mario tidak peduli pada ocehan Lena dan melanjutkan tugasnya. Lena menangis. Pria yang merupakan pahlawan dan berhasil membuat dia jatuh cinta terkapar tak sadarkan diri di depannya. Sundel bolong itu memegang tubuh Dokter Anang. Mereka menghilang.
“Kang Dokter teh kenapa Teteh Lena?” Suster Ngesot menatap Lena.
“Ini ulah Si Kribo.”
“Dia lagi. Apa kagak ada cara mengusirnya? Gue gedek banget sama dia,” Emak Kunti mengepalkan tangan kanan.
“Yang penting, sekarang kita selamatkan Mas Dokter dulu,” Pocong menatap Suster Ngesot.
“Neng akan berusaha sebaik mungkin,” Suster Ngesot mencabut suntikan yang masih menancap di pantat Dokter Anang.
Dia mencium bau cairan dari tabung suntikan. Matanya melotot seketika sambil menganga lebar. Seekor lalat masuk dan membuat suster itu tersedak.
“Kenapa, Neng Esot?”
“Cairan ini adalah racun Putri Tidur yang dibuat Kang Dokter.”
“Racun Putri Tidur itu apa, Encing Sus?” tanya Tuyul.
“Racun Putri tidur adalah racun yang bisa membuat orang tidur selama seminggu penuh. Penawarnya harus dibuat dari akar Putri Malu.”
“Oke, akan kucari,” Lena menghilang. Dia muncul di semak-semak depan pagar. Menarik beberapa tanaman Putri Malu hingga akarnya tercabut. Dia menghilang dan muncul lagi di ruang bawah tanah museum. Seekor cacing tanah kecil berwarna merah muncul di sela akar tanaman yang seluruh daunnya menguncup itu. Lena menjerit karena geli. Melempar tanaman di tangannya hingga jatuh. Cacing terpental ke atas rambut panjang Emak Kunti.
“Yul. Singkirkan cacing itu dari rambut Emak!” Emak Kunti yang takut cacing langsung histeris.
“Gimana sih, Emak. Dengan cacing aje takut,” Tuyul memasukkan iphone dalam saku, lalu mencari cacing di rambut panjang Emak Kunti.
“Hilang, Mak. Masa iya Tuyul harus mencari di seluruh rambut Emak yang bau ini?” gerutu Tuyul.
“Banyak cingcong lo. Buruan cari! Kalau kagak, gue jual lo!” bentak Emak Kunti gemetar.
“Emak tidak berperikehantuan. Masa anak sendiri pengen dijual,” Tuyul cemberut.
Tuyul terus mencari cacing kecil itu.
“Udah nih, Mak,” Tuyul menunjukkan cacing kecil yang menggeliat di depan mata Emak Kunti.
Emak Kunti menepis tangan Tuyul. Cacing kecil itu terlepas dan terbang ke ujung hidung Pocong. Mata Pocong langsung tampak juling untuk melihat cacing di ujung hidung peseknya.
Pocong menggeleng kuat-kuat agar cacing itu jatuh, Namun, cacing itu tetap di posisinya. Dia juga melompat-lompat. Cacing tanah itu tetap tidak jatuh. Tangannya terbungkus kain kafan, sehingga tidak bisa mengambil cacing itu dari hidungnya. Tuyul merekam kejadian itu.
“Neng Esot, tolong ambilkan cacing di hidung Mas Pocong ini dong,” pinta Pocong.
“Kang Pocong, Maaf ya. Neng teh takut.”
“Yul, kamu jangan merekam terus dong. Bantu aku menyingkirkan cacing ini,” Pocong jongkok di depan Tuyul.
“Wani piro?”
“Dasar Tuyul Matre. Cepat ambilkan!”
“Iye,” sahut Tuyul malas. Dia mengambil cacing di hidung Pocong dengan tangan kiri. Tangan kanannya masih merekam. Dia menghentikan rekamannya, lalu menghilang untuk membuang cacing di halaman.
“Wah, mangsa tuh,” Tuyul menatap Robi yang sembunyi di balik pohon nangka. Dia menghilang dan muncul di belakang Robi. Lalu mengambil dompet pria botak itu..
“Tuyul, kembalikan dompetku!” Robi menatap Tuyul yang memegang dompetnya.
“Busyet, kenapa makin banyak aja manusia yang bisa ngeliat gue?” Tuyul langsung lari memutari halaman.
“Cepat kembalikan dompetku!” Robi mengejar Tuyul. “Sial. Dokter Anang ke mana sih? Bukannya berhasil menyelesaikan misi, aku malah dicopet Tuyul.”
“Ya elah. Gue kan bisa menghilang,” Tuyul menghilang dan muncul di ruang bawah tanah. Duduk selonjoran sambil mengatur napas.
“Lo kenapa, Yul? Ketemu Si Kribo?” Emak Kunti menatap Tuyul.
“Bukan, Mak. Tuyul baru ngambil dompet security baru itu, ternyata dia bisa liat Tuyul. Jadinya Tuyul diuber dah. Capek, lari keliling halaman.”
“Kamu kan bisa menghilang atuh, Yul,” Suster Ngesot yang sedang sibuk membuat penawar racun Putri Tidur ikut nimbrung.
“Tadi Tuyul lupa kalo bisa ngilang.”
“Masih kecil udah pikun lo, Yul.”
Tuyul tidak menghiraukan ocehan Emak Kunti. Dia sibuk dengan dompet kulit warna hitam di tangannya.
“Isinya banyak kagak, Yul?”
“Emak matre banget sih. Urusan duit aja paling cepat,” Tuyul membuka dompet. “Wih, banyak banget, Mak,” Tuyul menunjukkan berpuluh lembar uang lima puluh ribuan.
“Gue jadi beli baju baru. Lo udah janji pengen gantiin baju gue yang robek, kan?
“Iye, Mak. Tuyul ingat kok.”
Tuyul mengambil iphone di saku kolor kuningnya. Lalu Membuka situs online shop dan memesan daster putih motif bunga kamboja. Dia membuka You Tube dan mengirim video Pocong dan cacing yang baru direkam. Senyum-senyum sendiri sambil menatap video itu. Baru lima menit, video itu sudah ditonton 500 kali.
“Encang Cong, video lo viral nih,” Tuyul menunjukkan video Pocong di You Tube.
“Hapus, Yul.” Pocong berusaha merebut iphone dari Tuyul. Tapi, apa daya tangannya terbungkus kain.
Pocong menjulurkan kain kafan ke tangan Tuyul. Tuyul berhasil menghindar. Dia menghilang. Pocong juga menghilang. Dia terus mengejar Tuyul sambil melompat.
“Udah, Yul. Mas Pocong capek,” Pocong menyerah. Dia menghilang dan muncul kembali di ruang bawah tanah.
Tuyul menertawakan Pocong. Dia masih sibuk melihat video.
“Videonya lucu kali, Yul.”
“Iya. Siapa dulu dong yang merekam, gue gitu loh.” Tuyul menatap lawan bicaranya.
Tuyul buru-buru menyusul Pocong yang menghilang duluan. Hingga tidak sadar, iphone-nya terjatuh. Mario tersenyum puas karena Tuyul langsung kabur saat melihatnya. Dia mengambil iphone di lantai.
“Kenapa lagi lo, Yul?”
“Tadi gue ketemu Si Kribo, Kak Lena.”
“Tapi, lo nggak diapa-apain sama itu orang, kan?” Emak Kunti menatap Tuyul khawatir.
“Nggak, Mak. Tuyul kan langsung kabur,” Tuyul terkekeh. “Iphone Tuyul mana, Mak?” Tuyul meraba saku kolornya.
“Kamu kualat denganku, Yul,” ledek Pocong.
Emak Kunti menghilang. Dia langsung muncul di depan Mario, merampas iphone di tangan pemuda keriting itu.
“Punya anak gue nih.”
“Paling hasil nyolong, kan?”
“Suka-suka dia,” Emak Kunti langsung menghilang, kembali bergabung dengan teman-temannya.
“Yul. Nih iphone lo. Lain kali hati-hati.”
“Emak baik banget sih. Tuyul jadi terharu. I love you, Mak.” Tuyul meneteskan air mata. Menyambut iphone dari tangan Emak Kunti. Memasukkannya ke saku. Lalu memeluk sang ibu.
“Ga usah sok bilang I love you dah lo. Dulu Babeh lo juga ngomong gitu, ujung-ujungnya tetap aje ninggalin gue.”
“Curhat, Mak?”
“Udah deh, Yul. Mending lo tambahin dah beliin gue baju. Masa cuma satu?”
“Emak gue emang matre dan pelit. Punya banyak uang malah minta beliin gue,” gerutu Tuyul dalam hati. Dia membuang ingus di baju putih Emak Kunti.
“Eh, Anak Setan! Kenapa lo membuang ingus di baju gue?” Emak Kunti menjauh dari Tuyul.
“Tuyul emang anak setan, Mak. Kalo Emak bilang anak manusia, itu fitnah. Makanye, Mak. Kalo pengen punya anak manusia jangan jadi setan. Lagian Emak matre banget sih. Tuyul kan jadi kesal.”
“Kecil-kecil bawel lo, kayak emak-emak.”
“Emak Kunti, Tuyul, udah dong jangan ribut melulu. Suster Ngesot harus konsentrasi membuat penawar untuk Dokter.”
“Maaf, Kak Lena,” Tuyul menunduk.
“Iye, Lena. Maafin kite ye,” Emak Kunti menatap Lena.
Lena menganguk.
“Berhasil… berhasil, hore… hore!” sorak Suster Ngesot meniru gaya Dora sambil mengacungkan ramuan cokelat tua dalam botol kaca.
“Sini, aku berikan pada Dokter,” Lena mengambil botol itu dari tangan Suster Ngesot, dan menuangkannya ke mulut Dokter Anang.
Dokter Anang membuka mata. Dia melihat Lena yang tersenyum manis. Dokter itu bangun dari meja. Dia tampak memegang kepala yang masih pusing. Matanya mendadak melotot.
“Aku pergi dulu. Ada urusan.”
“Tapi, Dok...” Lena berusaha mencegah. Terlambat. Dokter Anang sudah menghilang.
Dokter Anang muncul di halaman. Robi sudah tidak ada di sana. Dia kembali ke ruang bawah tanah.
“Lena. Tolong, ikam buatkan senjata untukku. Nanti biar aku yang menghadapi Mario,” Dokter Anang menatap Lena.
Lena mengangguk. Dia juga sudah kecewa pada Mario karena mengerjai orang yang dicintainya.
“Kang Dokter keren banget atuh,” puji Suster Ngesot.
“Sementara kita tidak usah mengganggu Si Keriting,” Dokter Anang menatap teman-temannya.
Semua kompak mengangguk.
***

Other Stories
Mozarella (bukan Cinderella)

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...

Separuh Dzarrah

Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...

Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Dentistry Melody

Stella hanya ingin mewujudkan mimpinya menjadi dokter gigi, bermain biola, dan bersama Ron ...

Hellend ( Noni Belanda )

Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...

Mobil Kodok, Mobil Monyet

Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...

Download Titik & Koma