The Museum

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
the museum
The Museum
Penulis Norhayati

Prolog

Museum Bamboe Kuning adalah museum terbesar di Indonesia. Tempat itu menyimpan berbagai pusaka zaman kerajaan, penjajahan Belanda hingga era reformasi. Termasuk berbagai barang zaman purba seperti fosil Dinoaurus.
Museum itu juga terkenal sangat angker. Setiap security yang dapat shift malam pasti langsung berhenti, bahkan ada yang ditemukan pingsan di dekat pintu. Penghuni rumah sekitar museum juga sering mengalami keanehan saat melewati pagar. Ada yang mendengar suara orang memanggilnya, juga melihat gadis cantik melambai sambil duduk di depan pintu museum.
Kesunyian saat malam bisa saja dimanfaatkan para pencuri untuk menggasak barang-barang berharga. Hal ini membuat manajer sekaligus pemilik museum mencari seorang penjaga malam dengan menyediakan mess berfasilitas lengkap.
Kekhawatiran Pak Herman bukan tanpa alasan. Sudah dua kali museum itu dibobol pencuri. Saat kejadian pertama, pelakunya ditemukan Ardan pingsan di depan barang berharga yang ingin dia curi. Sedangkan saat pencurian kedua, si pencuri nyaris berhasil membawa kabur arca berharga ratusan juta. Beruntung saat itu pelakunya terkunci di museum dan berhasil diamankan Joni saat pagi karena dia sedang piket. Gembok yang sebelumnya berhasil kedua pencuri itu buka tiba-tiba terkunci dengan cara yang sulit dijelaskan.
Keangkeran museum juga membuat museum sepi karena beberapa kali pengunjung mengalami hal aneh dan melihat penampakan.
Mario, pemuda Medan, berbadan kurus kerempeng serta rambut keriting turun dari taksi bandara sambil menggendong ransel besar dan menyeret koper hitam di depan gerbang museum kuno yang sangat besar. Memasuki pagar hitam dengan bambu kuning di kanan dan kiri gerbang. Papan nama bertulisan Museum Bamboe Kuning terletak di atas pintu. Dua orang mengenakan kemeja putih lengan pendek dan celana panjang hitam mengawasi gerak-geriknya.
“Mas siapa? Ada perlu apa?” tanya salah satu dari mereka.
“Ardan,” Mario membaca tulisan yang tertera di dada pemuda klimis dengan otot yang menyembul di lengan bajunya itu dalam hati.
“Namaku Mario. Aku datang untuk ketemu Pak Herman.”
“Mas ini toh yang namanya Mario. Mas sudah ditunggu Pak Herman. Mari saya antar,” ucap Ardan ramah.
Mario mengikuti langkah Ardan melewati berbagai benda kuno dalam kotak kaca. Keterangan mengenai tiap benda tertulis di papan yang berdiri di depannya. Ardan mengetuk pintu kayu jati.
“Masuk,” ucap suara dari dalam.
Ardan membuka pintu, “Pak. Mas Mario sudah datang.”
Pria botak dengan kumis tebal di atas bibirnya yang menghitam berdiri. Dia mempersilakan Mario masuk dan duduk di depannya. Mario duduk di kursi hitam berhadapan dengan Pak Herman dengan dibatasi meja kerja dari kayu jati yang diukir.
“Ardan, Sampeyan tunggu di sini sebentar.”
“Baik, Pak,” pemuda berdada bidang dengan rambut klimis berdiri di samping Mario.
“Mario, semoga kamu betah bekerja sebagai penjaga malam di sini,” Pak Heman menjabat tangan kanan Mario.
Mario tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Pak Herman meminta Ardan mengantar Mario ke kamarnya.
“Saya bawakan tasnya, Mas?” Ardan menawarkan bantuan.
“Kau bawakan koper ini saja. Aku masih kuat bawa ransel ini.”
Ardan dan Mario pamit pada Pak Herman. Mereka keluar dari ruangan kayu yang sangat luas. Seluruh dinding museum itu adalah kayu. Mereka berjalan jauh ke belakang museum, melewati lorong panjang dengan cat yang memudar. Ardan mengeluarkan kunci dari saku celana. Membuka pintu kayu jati. Dia mencabut salah satu kunci dan menyerahkannya pada Mario.
Mario sangat kagum dengan kamarnya. Ruangan itu sangat luas dengan fasilitas lengkap. Ada kulkas, TV, kompor gas juga mesin cuci.
“Mas, di sini adalah kamar mandi dan toilet. Ini dapur. Kalau ada yang habis tinggal bilang pada saya.”
“Ya,” sahut Mario singkat. Dia tak bisa berhenti mengagumi kamar berwarna khas kayu itu.
“Semoga Mas selamat bekerja di sini,” Ardan menepuk pundak Mario.
“Selamat? Kerja di sini bahaya ya?” Mario mengerutkan kening.
“Bahaya banget, Mas. Museum ini sangat angker, makanya kami ndak ada yang berani mengambil shift malam. Teman kami langsung meriang tiga hari tiga malam dan berhenti bekerja karena diganggu makhluk penghuni museum ini,” cerita Ardan.
“Cuma hantu? Kupikir ada rampok yang suka mengincar tempat ini.”
“Kamu ndak takut pada hantu? Kalau saya sih lebih baik ketemu rampok daripada hantu,” pemuda bertato naga di tangan kirinya itu menatap Mario.
“Aku sudah biasa ketemu hantu,” sahut Mario santai.
Mata Ardan membulat menatap pemuda berambut keriting kayak mie instan di depannya. Dia pamit dan menutup pintu dari luar. Ardan kembali ke tempat kerjanya di depan pintu museum.
“Jadi, dia penjaga malam museum ini?” Pemuda berotot seperti Ade Ray dan rambut gondrong yang dikuncir menatap Ardan.
Ardan mengangguk.
“Mukanya nggak meyakinkan,” sahut Joni santai.
Ardan meletakkan ujung telunjuk di depan bibir. “Dia direkomendasikan oleh kakak bos kita,” bisik Ardan.
“Masa?”
“Iya, Mas. Dia juga bilang ndak takut hantu.”
“Kita lihat saja besok. Dia pasti berhenti bekerja di sini!” Joni menatap Ardan mantap.
***

Other Stories
Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

DARAH NAGA

Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...

Suara Dari Langit

Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...

The Unkindled Of The Broken Soil

Tak semua yang berjalan memiliki tujuan. Tak semua yang diam itu hampa. Dan tak semua ki ...

Titik Nol

Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Download Titik & Koma