Susan Ngesot

Reads
915
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
susan ngesot
Susan Ngesot
Penulis Ariny Nh

Dibalas Dengan Dusta

Malam begitu lndah hari ini, bulan dan bintang kompak menerangi bumi. Langitpun mengeksplorasi semua keindahan itu. Semakin membuat malam ini terlihat begitu sempurna. Malam yang penuh arti pasangan kekasih Reni dan Adit. Karena malam ini ia merayakan hari jadiannya dengan Adit yang ke dua tahun. Ia senyum-senyum sendiri ketika teringat pertemuannya dengan Adit. Ingatannya seolah menjemput masa lalunya. Masa dua yang lalu, ketika ia dipertemukan dengan Adit.
*****
Reni berjalan gemetaran di depan kompleks pemakaman di dekat rumahnya yang baru ia tempati. Gesekan daun talas menggegerkan. Rasanya malam yang habis di landa hujan deras ini begitu mencengkam.
Krek …, krek…! Bulu kuduk Reni kompak berdiri, mendengar suara gesek daun kering yang ia pijaki. Ingin rasanya Reni berlari sekencang-kencangnya, tapi apa boleh buat liontin pemberian orang tuanya terjatuh di sekitar sini. Mau tak mau, suka tak suka, cinta tak cinta, terima tak terima ia harus mencari liontin tersebut.
Wush …!
Reni merasa ada yang menampar wajahnya, kali ini bulu romanya tak lagi berdiri namun, nyaris tercabut dari peraduanya. Reni menoleh ke belakang, ke samping kanan dan kiri, kali aja ada orang yang bisa diminta bantuan untuk sekedar meminjamkannya lampu sorot untuk mempermudah misinya mencari liontin. Namun, sayang tak satupun orang di sana selain dirinya, jangankan manusia, bayangan badan sendirpun enggan menampakkan diri.
Tak ada cara lagi, tak ada ide lagi untuk melanjutkan misinya mencari liontin. Gadis cantik bertubuh mungil, berambut sepinggang dan memiliki lesung pipi di pipinya yang merah merona itu, kini pasrah dengan keaadaan. Ia menjatuhkan pantatnya diaspal, gadis itu memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya yang terselimuti oleh rambutnya yang terurai.
Reni terus menangis, sesekali ia sesegukkan. Air matanya tumpah ruah dari kelopak matanya. Bendunganyang dibangun oleh kelopak matanya, tak mampu lagi menahan derasnya air mata gadis itu.
Dalam kesunyian malam yang menakutkan, kicauan burung hantu yang membuat bulu roma serempak berdiri. Reni menangis pasrah, ia rela menjadi santapan kuntilanak, ia bersedia bila harus menjadi istri gunduruwo. Pokoknya Reni rela diapa-apain oleh makhluk penghuni pemakamaman ini.
\'\'Hei, ngapain di sini?\" tegur sebuah suara yang membuat Reni semakin paranoid.
\'\'Om genderuwo, jangan makan saya Om!\'\'
\'\'Enak aja!\'\' kesal orang itu
\'\'Om please jangan makan saya,\'\' pinta Reni sambil terus menyembunyikan wajahnya.
\'\'Saya mau kok Om dijadikan istri, asalkan jangan makan saya.\'\' Ujar Reni ngelantur.
\"Beneran?\'\' tanya orang itu.
\'\'Bener Om,\" jawab Reni mantap.
\"Saya berani sumpah disambar gledek kalo saya boong.\" Saat itu juga langit yang awalnya gelap, terang sekilas berkat kilat di angkasa.
\"Kamu nggak boong?\"
\"Nggak,\" tegas Reni.
\"Tapi saya masih muda, dan belum berniat berumah tangga.\"
\"Emang genderuwo ada yang masih muda ya?\" tanya Reni dalam hati.
\"Gimana kalo kamu jadi pacar saya?\" tembak genderuwo itu.
\'\'Iya deh, Iya Om Genderuwo!\'\'
\"Sekarang kamu lihat saya! Saya juga mau kihat wajah kamu.\"
Deg …!
Jantung Reni berdebar gadis bertubuh mini tersebut tak pernah menduga akan jadi pacar gundruwo, lagia nmana ada manusia yang mau jadi pacar mahhluk yang nyeremin itu. Seumur-umur Reni belum pernah melihat mahkluk gaib tersebut. Jangankan bertemu dengan genderuwo yang seramnya setengah mati, bertemu dengan tuyul yang imut-imut Reni belum pernah. Ini pengalaman pertama.
\"Ayo angkat wajah kamu!\" ujar cowok itu.
\"Tapi Om….\"
\"Kamu takut lihat saya? Kamu pasti malu punya pacar kayak saya, Kamu jahat!\" ujarnya memble.
\"Bukan gitu Om, tapi saya takut.\'\'
\"Tuh kan kamuuu ....\"
\"Iya, iya Om,\" ujar Reni buru-buru ia takut kalau-kalau genderuwo itu mengamu
\"Lebih baik kamu lihat saya, dari pada kamu jadi santapan saya.”
Reni menguatkan hati, melawan batinnya yang serta merta tak ingin melihat sook yang ada di depannya. Mau tak mau Reni harus menguatkan dirinya. Untuk melihat wajah sang pacar. Secara perlahan namun pasti Reni mengakat wajahnya. Ini hal terburuk yang pernah ada dalam cerita hidunya.
Oh My God gumam Reni tak percaya, apa yang ia saksikan. Mahkluk yang sekarang berdiri dihadapannya itu menghipnotis Reni. Ini yang pertama kalinya, bagi Reni yang membuat ia tak bisa berucap. Butuh waktu yang cukup lama bagi Reni, untuk memperhatikan lekat-lekat wajah mahkluk Tuhan yang paling sexy dihadapannya.
Jujur! Reni terpesona, wajahmu mengalihkan duniaku. Judul lagu Afgan mengukapkan isi hati Reni. Benar-benar daaah.
Ternyata dan ternyata genderuwo itu tak seperti yang dibayangkan banyak orang, Genderuwo itu? Sumpah ganteng bener, kulitnya aja putih, belum lagi hidungnya yang mancung, dan bibir merahnya yang sensual. Sumpah deh, top pokoknya. Serataus persen salah kalau ada yang bilang genderuwo itu hitam, tengil, dan jelek. Penilaian tersebut dinyatakan salah besar. Genderuwo itu ciamik gantengnya ngalahin pangeran William.
\"Ini punya kamu?\" tanya genderuwo, sambil menyodorkan sebuah liontin yang punya mainan berbentuk hati yang dibelah dua. Reni masih terpaku dan tak bergeming, ia masih terpesona pada pangerannya itu.
\"Lo bukan genderuwo?\"
\"Bukanlah, mana ada genderuwo cakep?\"
\"Kenalin, nama gue Adit,\" ucap cowok itu alias si genderuwo sambil mengulurkan tangannya.
\"Reni,\" Reni menyambut tangan kekar itu dengan senang hati.
*****
\"Kunti-ku Sayaang,\" Adit menggegam tangan Reni, Reni sama sekali tak keberatan digenggam pujaan hatinya. Ya iyalah, mana ada orang pacaran pegangan tangan marah-marah.
\"Iya Gundoku Cinta,\" Sahut Reni. Pasangan ini tergolong aneh bin ajaib. Jika, pasangan kekasih pada umumnya panggilan sayangnya, \'\'Bebz\", \"Ayah-Bunda\", \"Panda-bunda\" dan kawan-kawan. Sementara pasangan Adit-Reni panggilan cintanya adalah Genderuwo-Kunti. Konon, mereka ingin mengdokumentasikan perkenalan mereka di pemakaman dulu.
\"Kita harus putus Kunti,\" masih sempet-sempetnya Adit manggil kunti saat ini, kata terakhirlah yang membuat Reni semakin hancur.
Bak disambar petir disiang bolong Reni kaget tanpa ampun. Gimana ngga kaget, hubungan mereka bukan dua bulan, tiga bulan. Dan itu bukan waktu yang sebentar untuk mengikat hati seseorang. Bukan waktu yang sebentar, hubungan mereka itu udah serius. Nggak main-main lagi kaya ABG.
Selama dua tahun ini, Reni nggak pernah tuh yang namanya selingkuh ataupun men-dua. Men-tiga juga nggak permah, walaupun banyak laki-laki yang menyatakan cinta padanya.
Begitu pun dengan Adit, cowok itu nggak pernah melirik cewek lain, kontak saja begitu! seakan Reni memaksanya memakai kacamata kuda. Ini memang terdengar agak lebai. Tetapi beneran mereka tidak ada konfliks internal. Perlu ditegaskan lagi, nggak ada masalah diantara mereka berdua. Swear.
\"Kenapa gitu Yang, aku ada salah apa sama kamu?\" tanya Reni, tidak terima diputusin gitu aja. Dia kan nggak tau apa masalahnya, tegak duduknya persoalan. Tahu-tahu diputus begitu saja.
\"Orang tuaku ngga setuju, kalo kita pacaran.\" Adit mencoba menjelaskan inti permasalahan.
\"Tapi kita kan sudah pacaran dua tahun Yang, masak orang tua kamu nggak respect juga sama aku?\" tanya Reni, matanya berkaca-kaca.
\"Aku juga tidak tahu, kenapa mamah ngga restui hubungan kita,\" Adit ikutan sedih sesungguhnya ia tak mau berpisah dengan Reni tambatan hatinya.
\"Tapi kita kan bisa bujuk mamah kamu supaya ngerestui kita!\"
\"Aku ngga yakin Ren, mamahku itu keputusannya ngga bisa dirubah!\"
\"Kamu kok ngomong gitu?\" Bentak Reni, tidak terima dengan Adit yang nyerah gitu aja.
\"Bilang aja kamu punya cewek yang lebih dari Aku, Iya kan?
Ddrrrrrrrrtt
Handphone Adit bergetar, refleks cowok itu memgeluarkan handphonenya. Begitu tau siapa yang menelpon, Adit berjalan sedikit menjauh dari Reni.
Reni sekuat tenaga menahan tangisnya, ia tak mau terlihat lemah di depan orang yang sudah mencampakkannya. Walaupun tak rela, tapi Reni masih punya harga diri. Putus cinta. boleh saja. tapi putus harapan itu haram.
\"Ren, Aku pulang dulu ya! Mamah minta dianterin ke mall,\" pamit Adit gitu aja, tanpa persetujuan Reni cowok itu melajukan motornya menjauh dari Reni.
*****
Reni berjalan tanpa tahu arah, tak tau tujuan yang akan di datanginya. Hatinya sungguh hancur. Tadinya ia mengira malam ini, Adit akan memberinya hadiah terindah, dinner romantic. Eh, taunya Adit mengakhiri hubungan dengannya.
Saat ini ia ingin mendatangi sebuah tempat untuk melepaskan semua amarahnya. Ia paham, tak mungkin di rumah ia akan menumpahkan semua yang menganjal di hatinya. Reni butuh suatu tempat, dan tempat itu sebuah Cafe di dekat rumahnya dulu, sebelum ia tinggal satu kompleks dengan Adit.
Butuh dua puluh menit waktu perjalanan dengan taxi, Reni sampai di Heart Cafe, Cafe tempat ia menumpahkan semua perasaannya. Café kenangan ini punya tempat di hati Reni.
Setelah membayar Argo taxi, Reni melangkahkan kakinya ke cafe yang mempunyai suasana klasik seperti di kota tua.
\"Aku sekarang udah nggak ada hubungan lagi sama Reni, jadi kita ngga perlu backstreet lagi Ren!\" Sebuah suara yang sudah tak asing lagi, terdengar jelas di telinga Reni.
Tunggu dulu, tadi orang itu menyebut nama Reni dan Sebutan Ren pada lawan bicaranya. Apa mungkin yang disebut itu Reni dan Rena saudara kembar Reni ?
Reni menoleh ke sebelah kiri, terlihat sepasang kekasih yang sedang asyik memadu cinta. Dari sorot mata seorang cewek yang pasti Reni kenal banget terpancar sorot kebahagian.
\"Rena?!\" sapa Reni, cewek yang dipanggilnya kontan menoleh.
\"Reni…,\" gumam cewek itu pelan nyaris tak terdengar. Seolah memberi isyarat pada cowok yang sedang bersamanya, cowok itupun memutar tubuhnya menghadap Reni.
\"Kaliaaan, kalian paca...\" Belum sempat kata-kata itu keluar dari mulut Reni, air matanya sudah jatuh ke pipinya yang chuby. Suaranya tercekal ditenggorokkan.
\"Aku ngga nyangka kamu bakal khianati aku Ren!\" setelah kata itu keluar dari bibirnya yang mungil Reni keluar dari cafe dan berlari sekencang-kencangnya.
“Pacar dan saudara kembar sama-sama pengkhianat! “ jerit hati Reni perih.
*****
Reni membanting pintu kamarnya keras dengan penuh emosi, ini pertama kali Adit menyakitinya, setelah sekian lama mereka pacaran. Ini juga yang pertama kalinya Rena menusuknya dari belakang. Rasanya sangatlah sesak, orang yang kita sayangi, orang yang kita cintai kompak untuk menyakiti kita.
Sepanjang jalan dari cafe menuju rumahnya Reni terus menangis, air matanya jatuh tak tertahankan, bendungan kelopak matanya telah jebol dihantam derasnya air matanya. Reni tak menyangka Adit bakal menyakitinya sedemikian rupa, karena sepanjang jalan kenangan Adit tidak pernah mengecewakan Reni. Hubungan mereka langgeng nyaris tidak pernah ada masalah. Tak pernah ada pertengkaran dan mereka tidak pernah cekcok.
Benar kata orang, \"Semakin tinggi kita meloncat, maka semakin sakitlah jatuhnya.”
Yups! Reni banyak menaruh harapan bersama Adit. Ia ingin menjadi isteri Adit, ibu dari anak-anak Adit nantinya. Reni ingin hidup bahagia selamanya bersama Adit. Sakit, pedih, nyeri, perih dan rasa kecewa yang sangat mendalam saat ini Reni rasakan.
Sederet kata penderitaan itulah yang Reni dapatkan, bukan keahagian yang selama ini ia impikan. Harapan bahagia itu telah sirna sudah. Yang tinggal hanya luka yang teramat dalam dan tak tahu kapan sembuhnya.
\"Kenapa kamu sakiti aku?\" Reni menatap bengis sebuah photo lengkap dengan figuranya di atas meja mungil di samping ranjang Reni, sesaat kemudian photo itu sudah berada di tangan Reni.
\"Apa aku nggak pantes buat kamu?\" tanya Reni sinis pada photo mantan pacarnya itu.
Jika ada cowok yang bilang Reni itu tidak patas untuk dijadikan pacar, itu salah besar. Reni itu cantik, berkulit putih yang nggak pucat, hidung mancung belum lagi sifatnya yang keibuan .
Hanya saja Reni bertubuh pendek dan sedikit cuek dengan penampilannya. Ia tidak seperti cewek pada umumnya, yang hoby memakai rok dan segala macam dress. Reni lebih suka memakai celana jeans dan kaos.
Apa karena penampilannya itu Adit mencampakkannya? Memang penampilan Rena jauh lebih feminim ketimbang Reni. Sekejam itukah Adit yang mencintai seseorang hanya karena atas dasar penampilan? Sedangkal itukah arti cinta bagi Adit?
Your Always in My Heart. Kata itulah yang terucap dari mulut Reni, meski Adit telah meyakiti hatinya namun Adit selalu ada dalam hati Reni.

Other Stories
Testing

testing ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Mewarnai

ini adalah contoh uplot buku ...

Hold Me Closer

Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...

Download Titik & Koma