Chapter 4 : Penyelidikan
Kepala Yanti rasanya pening bukan main. Pikirannya terpecah menjadi dua. Antara memikirkan kasus pembunuhan yang sedang ditanganinya dan rencana pernikahannya dengan Danang. Permintaan ibu Danang yang meminta mereka segera melangsungkan pernikahan layaknya perintah yang wajib dilaksanakan. Jika tidak, maka hubungan kasih mereka terancam putus di tengah jalan. Yanti tak mau hal itu terjadi. Dia sangat mencintai Danang dan tak ingin berpisah dengannya.
Namun jika dirinya memenuhi permintaan ibu Danang, bagaimana pula dengan perasaan orang tuanya. Tegakah dia menyakiti hati mereka? Yanti sudah berjanji akan menuruti rencana yang telah disusun orang tuanya. Tapi jika situasinya kemudian berubah seperti ini, apa yang bisa dilakukannya? Sejauh ini Yanti belum berani bicara pada orang tuanya. Dia menunggu waktu dan kesempatan yang tepat. Dia akan bicara dulu dengan ibunya yang sangat pengertian sebelum bicara pada ayahnya yang berprinsip kuat.
“Iptu Yanti!?” Sebuah teguran mengejutkan Yanti yang sedang bengong di mejanya. Gadis itu jadi salah tingkah dan malu ketika mendapati beberapa pasang mata rekan-rekannya di ruang briefing sedang memandangnya. Saat ini mereka sedang membahas kasus pembunuhan gadis muda tak dikenal.
“Anda sakit?” cetus komandan penyidik, AKP Ari.
“Tidak, Komandan. Maaf…,” sahut Yanti jengah.
“Baik! Kita lanjutkan lagi… Tadi sudah saya sampaikan kalau penyelidikan tim buser sudah mulai mengendus jejak para pelaku. Ditengarai pelaku lebih dari dua orang dan masih berada di sekitar kota ini. Tapi kita agak kesulitan untuk mengidentifikasi mereka. Sementara ini kita hanya bisa mengumpulkan profil para residivis dan bromocorah yang kemungkinan terlibat kasus ini. Saya yakin, kasus pembunuhan ini bermotif dendam atau sakit hati, dan pelakunya hanyalah orang-orang bayaran. Coba, kalian lihat baik-baik profil para residivis dan bromocorah yang dicurigai sebagai para pelakunya!” tutur Ajun Komisaris Polisi itu seraya menyodorkan map di tangannya kepada anak buahnya yang terdekat. Map berisi foto-foto para bromocorah itu kemudian beredar dari tangan ke tangan para anggota tim penyidik.
Ketika map itu sampai di tangan Yanti, sejenak gadis itu dibuat tertegun. Ia seakan mengenali dua orang yang ada dalam foto-foto ini, tapi masih tidak terlalu yakin. Dia lalu mencoba mengingat-ingat, di mana pernah melihat dua orang ini. Dan darahnya tiba-tiba terkesiap, tak salah lagi. Dia pernah melihat mereka di rumah Danang, kemarin saat bertemu dengan Kanjeng Ibu. Tapi, bagaimana bisa ada dua orang residivis bertandang ke rumah Danang? Ada urusan apa mereka? Perasaan Yanti jadi tidak tenang.
“Interupsi, Komandan!” Tiba-tiba Yanti menyela. Dia lalu mengangkat dua buah foto profil di tangannya.
“Adakah diantara rekan yang tahu, siapa mereka?” tanyanya kemudian ditujukan kepada rekan-rekannya.
Aiptu Togar mengacungkan jari. “Saya tahu! Nama mereka Hardi dan Soni, tapi mereka biasa dipanggil Codot dan Komodo. Mereka mantan petinju yang terjerumus ke dalam dunia hitam geng jalanan. Saya pernah menangkap mereka karena kasus penganiayaan. Mereka sempat dihukum penjara selama lima bulan, tapi setelah keluar saya tak pernah melihat lagi batang hidungnya!” ujarnya.
“Kamu tahu di mana mereka tinggal?”
“Mereka kerap berpindah-pindah. Tapi mereka bisa ditemui di rumah John Kono, salah seorang pemimpin kelompok preman di kawasan Rawa Jati. Mereka anak buah John Kono!”
Yanti manggut-manggut.
“Apakah kamu pernah berurusan dengan mereka, Iptu Yanti?” tanya AKP Ari ingin tahu.
“Ah, tidak, Komandan. Hanya saja saya agak curiga pada mereka!” jawab Yanti.
“Oke, kalau begitu tim buser ini akan dibagi beberapa kelompok tugas untuk menyelidiki para bromocorah yang ada dalam foto-foto itu! Iptu Yanti saya serahi tugas menyelidiki Codot dan Komodo, nanti dibantu Aiptu Togar dan Briptu Agus. Sementara yang lain silahkan pilih timnya masing-masing!” ujar AKP Ari kemudian membagi tugas.
Ada yang berkecamuk dalam dada Yanti saat mengetahui bahwa kedua tamu orang tua Danang kemarin adalah para preman yang pernah masuk penjara. Rasanya dia tak percaya orang terhormat dan terpandang seperti orang tua Danang berurusan dengan para preman. Tapi Yanti tak ingin berprasangka buruk. Dia lalu mencoba mengkonfirmasi Danang melalui telepon, apakah mengenal orang bernama Hardi dan Soni. Ternyata Danang tidak mengenalnya.
Yanti lalu menduga kedua orang itu adalah kenalan ayah atau ibu Danang. Tapi untuk urusan apa mereka menemui orang tua Danang? Urusan bisnis, pribadi, atau urusan lain? Biasanya kalau ada urusan bisnis atau pekerjaan, mereka lebih suka menerima tamu di kantor. Sementara urusan pribadi di rumah, itu pun tidak sembarang orang diperbolehkan datang ke rumah kecuali untuk urusan keluarga atau yang sifatnya urgen.
Other Stories
Susur
Kepergian Mamat mencari ayahnya, tanpa sengaja melibatkan dua berandal kampung. Petualanga ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...
Testing
testing ...
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...
Bad Close Friend
Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...