Srikandi

Reads
1.2K
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Eko Hartono

Chapter 3 : Bertemu Kanjeng Ibu

Rumah besar dan mewah mirip istana itu tampak lengang. Hanya ada dua orang petugas security di pos penjagaan, dekat pintu gerbang. Rumah mewah ini dikelilingi pagar tembok dengan teralis tombak setinggi dua meter. Di sekeliling rumah terdapat halaman berupa taman dan lapangan berumput. Yanti jarang sekali menyambangi rumah ini, kecuali diajak Danang ketika ada acara keluarga atau dinning party.

Meski dirinya terbilang orang terdekat keluarga Danang dan bakal jadi menantu, tetapi Yanti tidak bisa sembarangan memasuki rumah itu. Layaknya aturan protokoler, Yanti mesti membuat janji dulu jika akan bertemu dengan tuan rumah. Ketika tiba di depan rumah pun ia mesti melaporkan kedatangannya pada sang asisten rumah tangga. Dengan didampingi sang asisten yang berpakaian seragam layaknya petugas hotel, Yanti diantar menemui Kanjeng Ibu di ruangannya.

Selain sebagai istri seorang yang bergelar ningrat, Kanjeng Ibu juga pengusaha di berbagai bidang usaha dan sosialita yang sibuk dengan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Sebenarnya beliau jarang berada di rumah, karena kesibukannya yang sangat padat dan menyita banyak waktu. Tapi kali ini dia sengaja menyempatkan diri di rumah ketika mendengar Yanti ingin menemuinya.

Di ruangan yang mirip lounge hotel berbintang, Yanti bertemu dengan Kanjeng Ibu. Sejenak dua perempuan beda generasi itu saling berpelukan dan berciuman pipi. Tak lupa Yanti mencium tangan calon ibu mertuanya. Keduanya lalu duduk di kursi sofa saling berhadapan. Sejenak suasana hening. Yanti sengaja diam untuk memberi kesempatan Kanjeng Ibu bicara lebih dulu.

“Danang bilang kamu ingin bicara dengan saya. Apa yang ingin kamu bicarakan,” tanya Kanjeng Ibu dengan nada penasaran.

“Mohon maaf, Kanjeng Ibu. Kalau sekiranya kata-kata saya tidak berkenan di hati Kanjeng Ibu. Ini mengenai rencana pernikahan kami. Kata Mas Danang, Kanjeng Ibu meminta agar pernikahan kami dilangsungkan segera,” jawab Yanti dengan nada hati-hati.

“Ya, begitu. Apakah ada masalah?”

“Maaf, Kanjeng Ibu. Bagi saya dan mas Danang tidak ada masalah, tapi saya sudah pernah berbicara dengan orangtua saya. Bahwasanya mereka berniat menyelenggarakan acara pernikahan kami tahun depan, sembari menunggu adik saya rampung kuliah.”

“Kuliah adikmu kan tidak ada relevansinya dengan acara pernikahan kalian?”

“Memang benar, Kanjeng Ibu. Tapi orang tua saya ingin kuliah adik saya selesai dulu, biar bebannya tidak terlalu berat.”

“Jadi ini masalah dana? Kalian tidak usah khawatir, biar nanti saya yang membiayai pesta pernikahanmu dan Danang!”

Yanti meneguk ludah. Ucapan Kanjeng Ibu terasa menusuk batinnya. Kentara sekali kalau wanita itu sangat merendahkan dan meremehkan keluarganya.

“Maaf, Kanjeng Ibu. Bukannya kami tidak menghargai keinginan Kanjeng Ibu, tapi orang tua saya masih cukup mampu membiayai acara pernikahan nanti. Bapak dan Ibu saya hanya ingin semuanya bisa berjalan dengan baik dan lancar. Semua butuh waktu dan persiapan yang matang,” kata Yanti berdiplomasi.

“Menurut saya semuanya sudah cukup matang. Kamu dan Danang sudah cukup lama menjalin hubungan. Kedua keluarga juga sudah saling merestui. Jadi tak ada lagi alasan untuk menunda-nunda waktu. Lebih cepat lebih baik. Lagi pula belum tentu tahun depan saya bisa menyaksikan kalian menikah. Siapa tahu, Tuhan mengambil saya atau suami saya lebih dulu sebelum kalian duduk di atas pelaminan. Perlu juga kamu ingat, Danang adalah anak laki-laki saya satu-satunya. Adat leluhur kami sangat mengutamakan kelangsungan keturunan dari anak laki-laki. Saya ingin menyaksikan Danang segera memberi keturunan kepada keluarga kami, sehingga hati saya bisa tenang…”

Yanti diam tercenung. Dia merasa sangat terpojok oleh kata-kata Kanjeng Ibu. Kini alasan yang dikemukakannya sangat sentimentil, menyangkut kelangsungan keturunan. Wanita itu menggunakan senjata perasaan seorang ibu demi memaksakan kehendaknya pada anak. Tapi hal ini sebenarnya bisa dimaklumi, karena semua orang tua yang memiliki anak yang sudah dewasa tentu juga punya harapan sama.

“Kalau kamu merasa apa yang saya minta ini terlalu berlebihan, terserah saja. Kamu juga boleh mempertimbangkan kembali hubunganmu dengan Danang. Karena saya juga tidak akan memaksa kamu memenuhi permintaan saya!” tandas Kanjeng Ibu kemudian terdengar menyerupai sebuah ultimatum.

Ucapan Kanjeng Ibu itu secara tidak langsung meminta Yanti putus dengan Danang jika tidak bersedia memenuhi permintaannya. Yanti jadi serba salah. Dia tak tahu lagi harus bicara apa. Dia tak kuasa membantahnya. Lagi pula percuma melawan wanita keras kepala dan berhati baja seperti Kanjeng Ibu. Titah dan perintahnya tak ubahnya bara yang dilekatkan pada kulit binatang, tak bisa dirubah lagi.

Dengan dalih akan membicarakan lagi dengan kedua orang tuanya, Yanti kemudian berpamitan pulang. Kakinya seperti dibanduli benda berton-ton beratnya saat melangkah keluar ruangan. Ketika akan keluar dari pintu depan, Yanti sempat berpapasan dengan dua orang laki-laki bertampang sangar dan memakai jaket kulit. Mereka layaknya preman jalanan. Mereka sempat menatapnya dengan sorot mata aneh. Mungkin karena seragam polisi yang dikenakan Yanti.

Gadis muda itu pun heran mendapati dua orang tamu keluarga calon mertuanya yang berbeda dari kebanyakan tamu lainnya. Biasanya orang-orang yang bertamu ke rumah ini berpakaian jas atau baju safari, atau setidaknya berpakaian pantas. Tapi Yanti tak mau bersu’uzon. Mungkin saja mereka kurir atau centeng yang dibayar untuk melindungi rumah ini. Yanti segera menghampiri sepeda motor maticnya yang diparkir di halaman dan melesat pergi.

***


Other Stories
Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Romance Reloaded

Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...

Separuh Dzarah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Pahlawan Revolusi

tes upload cerita jgn di publish ...

Download Titik & Koma