Bab 21 : Video Tugas Sosialisasi
"Ada yang lihat Raka?" pertanyaan yang bikin semua anak saling pandang, lalu menggelengkan kepala mereka.
"Nanti juga masuk," jawab seorang anak cowok.
"Tapi gue perhatiin, udah hampir seminggu ini IG-nya juga nggak aktif," timpal anak cewek lain.
Lagi-lagi, semua anak di meja kantin saling pandang, termasuk gua yang memperhatikan setiap anak di meja ini. Berharap ada satu dari mereka yang bisa kasih informasi.
"Bukannya terakhir dia ngerjain tugas sosialisasi sama lo, ya?" heran Meidina.
Pertanyaan yang mengubah arah pandang semua mata menuju gua. "Terakhir kali kontakan sih Minggu, dia cuma minta dikirimin video buat ngedit tugas sosialisasi," tanpa pikir, gua langsung melihat gawai dan pesan WA terakhir buat tanya tugas sosialisasi pun belum di-read.
Meidina memicingkan mata pada Naes. "Lo nggak lihat atau ngerasa ada yang janggal waktu terakhir sama Raka?"
Gua pun diam, sambil berpikir lalu. "Kayanya nggak ada dah, tapi gua kan baru kenal sama dia pas ngerjain tugas sosialisasi aja. Kalau ada yang janggal, harusnya kalian cowok-cowok yang ngeh. Kan sering nongkrong sama dia," menunjuk beberapa anak cowok yang duduk di depan gua.
"Denger itu, gue jadi sadar kalau selama ini si Raka rada-rada misteri, yah? Sering ngilang nggak jelas, tapi guru-guru nggak pernah mempermasalahkan," ujar seorang anak cowok, sambil mengangkat bahu.
Tiba-tiba, anak cowok lain mengacungkan jari. "Jir, gue juga baru ngeh! Si Raka bebas dari semua pelajaran olahraga."
"Plus, kalau bikin keributan, bukannya dia selalu dibebasin?" tambah anak cowok lain.
"Apa karena dia anak pewaris Cimory?"
Meidina langsung menunjuk Naes dengan sendok. "Pikiran gue juga begitu sih, tapi meja sebelah nggak dapet privilege yang sama. Padahal nyumbang paling gede loh buat sekolah ini," dengan mata melirik meja, dimana Cintia dan gengnya duduk.
Tiba-tiba, suara Bu Rosa terdengar dari speaker. "Anak-anak kelas 12, semuanya kumpul di aula setelah jam istirahat siang. Untuk pemutaran tugas sosialisasi terbaik," diakhiri lengkingan speaker yang memekakkan telinga.
Gua langsung membuka link sheet pengumpulan tugas sosialisasi di grup kelas. "Raka udah kirim video ke Bu Rosalinda," sambil memperlihatkan gawai berisi sheet checklist ke anak-anak.
Seorang anak cowok mendekat dan memicingkan mata. "Dia ngumpulin kemarin," melihat kolom tanggal pengumpulan. "Lo udah lihat videonya?"
Gua pun menggelengkan kepala pada Meidina. "Dia bahkan nggak balas pesan WA waktu gua tanya gimana tugas sosialisasi," lagi-lagi, semua anak-anak saling bertukar pandang. Ini bikin gua bingung, kenapa sang pangeran harus menghilang dari rakyatnya?
----
"Tenang semua!" ujar Bu Rosa dengan tangan kiri ke atas. "Hari ini Ibu mau pilih salah satu video tugas sosialisasi terbaik," tegasnya, sambil berjalan di atas panggung aula. "Anak-anakku semuanya, pasti banyak yang menganggap tugas ini adalah sebuah beban. Bukan begitu?" memperhatikan raut wajah anak-anak. "Bukan tanpa sebab Ibu beri kalian tugas sosialisasi ini. Sekolah kita terkenal sebagai salah satu sekolah swasta terbaik dalam hal akademis dan non-akademis. SMA Persahabatan tidak melihat siswa-siswi dari latar belakangnya, tapi melihat dari kemampuan untuk bisa berkembang, baik itu akademis maupun non-akademis," lalu menuruni tangga aula dan berjalan menuju anak-anak yang duduk di kursi tengah aula. "Kalian semua datang dari berbagai ras, suku, dan agama," sambil melihat pada seorang anak keturunan Indonesia Timur. "Tugas sosialisasi menjembatani perbedaan yang ada di kalian semua," kata Bu Rosa, sambil tersenyum. "Coba sekarang kalian ingat, sebelum mengerjakan tugas ini, seberapa kenal kalian dengan teman-teman di sekitar?" pertanyaan yang dijawab oleh riuh anak-anak dan membuat Bu Rosa menyunggingkan senyum lebar. "Jelas, bukan, sekarang? Sekolah ini tidak mau ada gap yang lebar di antara kalian semua, kita di sini semua satu tujuan demi meraih masa depan yang cerah," lalu berjalan ke tengah dan berhenti tepat di samping Naes. "Ibu mau kalian semua lihat video ini, salah satu tugas sosialisasi terbaik dari Pangeran Rakanda dan Naeswari Anindyaswari."
Gua sontak melihat Bu Rosa dengan nggak percaya, lalu memutar kepala melihat anak-anak yang tengah berbisik satu sama lain. Ingin rasanya lari dari aula ini, menghindari semua tatapan mata anak-anak. Terlebih, gua juga deg-degan karena nggak tahu bagaimana Raka membuat video sosialisasi. Gua pun melorotkan badan di kursi, menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Sementara itu, di panggung aula, layar proyektor yang tergulung sudah diturunkan. Satu demi satu, lampu aula dimatikan, dan beberapa anak terlihat mengangkat gawai untuk merekam. "Lo ngapain sih, Raka," gumam gua, sambil terus menutup wajah dengan kedua tangan. Kemudian, nampaklah title video memenuhi layar proyektor, "Sial!" sumpah malu banget.
"Tugas Sosialisasi Pangeran Rakanda dan Naeswari Anindyaswari" dengan background gua sama Raka lagi dansa di pasar malam. Video dimulai dengan percakapan gua dan sang pangeran ketika di McD, dimana gua mempertanyakan apa yang harus dikhawatirkan dari anak-anak yang terlahir kaya dan sempurna seperti Raka?
Raka
"Waktu."
Gua menatap subtitle yang menuliskan jawaban Raka, nggak pernah ngerti kenapa dia jawab seperti itu. Video lalu beralih ke tangga rumah Raka, adegan gua turun dengan pink dress sukses membuat semua penonton berdecak kagum. Beberapa memberikan tepuk tangan buat gua, ingin rasanya lari ke luar dari aula ini.
Raka memasukkan montage party di Nara Lounge, memberikan gambaran kecil mengenai glamornya kehidupan kaum ningrat SMA Persahabatan. Video beralih pada kamar kecil dengan POV dari bawah. Gua langsung melihat ke belakang, dimana Cintia dan teman-temannya duduk. Mata kami saling pandang, dan ekspresi kaget gua beradu dengan ekspresi terkejut Cintia.
Benar saja, percakapan antara Adriana dan Cintia yang menyebutkan gua sebagai penerima BSB atau siswi miskin membuat semua orang di aula shock! Bahkan, guru-guru pun saling pandang, lalu menggelengkan kepala, sambil melihat ke tempat Cintia dan teman-temannya duduk.
Cintia
"Mana mungkin pewaris kerajaan Cimory mau sama gembel nggak jelas."
Kata-kata yang dilontarkan Cintia membuat seisi aula terhening, kini semua pandangan tertuju ke gua. Jelas banget gua jadi protagonis di dalam aula ini, anehnya gua sama sekali nggak marah. Justru saat ini merasa kasihan sama Cintia dan teman-temannya.
Meidina yang duduk di samping langsung menggenggam tangan gua. Perkataan buat mensupport yang keluar dari mulut Meidina nggak bisa dicerna sama gua. Ada begitu banyak hal dalam pikiran gua saat ini, tapi yang paling utama adalah, dimana sang pangeran saat ini?
Other Stories
The Labsky
Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...
Dari Luka Menjadi Cahaya
Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...