Prince Reckless Dan Miss Invisible

Reads
3.6K
Votes
1
Parts
22
Vote
Report
prince reckless dan miss invisible
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Penulis Wali_writing_on_the_wall

Bab 20 : Dianggap Dan Berharap

"Hai, Meidi," sapa gua begitu masuk kelas, lalu melempar senyum ke beberapa anak lain.

Meidi langsung menoleh. "Hai, Nes, lo udah ngerjain tugas?"

Gua menaruh tas, lalu mencoba-coba mengingat. "Tugas fisika?"

Meidi mengangguk. "Boleh lihat nggak?"

Gua mengeluarkan buku dan memberikan pada Meidi. "Nih, copas aja," lalu duduk dan merapikan rambut yang masih sedikit basah. Meidi sibuk memindahkan tugas fisika ke bukunya sendiri, tiba-tiba Adriana, Lina, dan Rina ikutan nimbrung tanpa diundang.

"Kita boleh ikutan nyalin juga, yah, Nes?"

"Silakan aja," jawab gua, sambil memutar bola mata, lalu memindahkan tas ke bangku agar mereka bisa leluasa menyalin di atas meja.

Adriana menyalin dengan sesekali melirik pada Lina dan Rina, memberi kode siapa yang akan memulai pertanyaan sejuta umat pagi ini? Akhirnya, Adriana terlihat kesal dan memberanikan diri. "Btw, Nes, waktu malam Sabtu, abis dari Nara, lo jalan sama Raka ke mana?" gerakan mencatat dari Meidi, Lina, dan Rina langsung berhenti, mereka semua sigap pasang kuping.

Gua berpura-pura sibuk sendiri, menyisir rambut dengan jari, lalu merapikan kerah seragam sebelum menjawab. "Pasar malam, masih ngerjain tugas sosialisasi Bu Rosa."

"Oh," gumam Adriana, sambil terus mencatat. "Jadi lo ngerjain tugas ke rumah Raka, terus diajak ke Nara, abis itu ke pasar malam?"

Gua mengangguk saja tanpa berkata apapun, lalu mulai melihat gawai.

Lina melirik pada Adriana, lalu mengangguk. "Kok kita lihat di story Raka, kalian kaya pacaran, yah."

Kedua alis gua langsung naik. "Gimana, yah? Tahu kan Raka cowok macam apa! Sok deket getuh dah, aslinya beneran cuma bikin video sosialisasi aja."

"Termasuk yang minum kopi berdua di Point?"

Gua melirik Meidi dengan merasa heran, karena nggak ada yang salah dengan minum kopi berdua di Point. "Iya, itu abis dari Nara kita nongkrong dulu."

"Ohhhhhhhhh," gumam Meidi panjang. "Kirain, habis Raka upload pake backsound Yuna favorite thing."

Dahi gua berkerut, lalu mulai searching Yuna favorite thing. Mata memicing saat membaca liriknya. It's in the way you drink coffee and how you have faith in me. And you love your camera and tell me that I'm good enough.

"Yang di atas bianglala juga kinda romantic," Adriana menambahkan.

Gua cuma bisa tersenyum menanggapi itu, lalu kembali pura-pura sibuk dengan gawai sampai jam pelajaran pertama mulai dan semua anak kembali ke meja masing-masing. Gua memang nggak terkoneksi sama anak-anak sekolah demi menjaga mental, jadi penasaran banget sama story-story Raka.

----

Uang jajan pemberian Dira dan Nanda gua pakai buat beli mie ayam paket komplit. Belum lima menit gua duduk di meja kantin, entah dari mana, beberapa anak duduk di kanan dan kiri. Aneh rasanya dikelilingi oleh orang-orang yang merasa kenal sama gua. Mereka basa-basi sebelum membombardir dengan apa lagi selain pertanyaan mengenai malam Sabtu bersama Raka.

Gua cuma menjawab seadanya, nggak dikurangi apalagi ditambahkan. Gua juga bisa merasakan beberapa pasang mata menatap tajam, Cintia beserta pengikutnya duduk di meja seberang. Tapi ada yang kurang di kantin hari ini? "Ada yang lihat Raka?" pertanyaan ini membuat anak-anak lain saling pandang.

"Lagi nggak masuk aja, dia kan memang begitu," jawab seorang anak basket.

Gua menghentikan aktivitas memilin mie, baru tahu jika pangeran sekolah sering nggak masuk. "Memang dia sering bolos?"

Anak lain cepat-cepat menelan apapun yang dimakannya sebelum menjawab. "Kaga bolos sih, tapi dia tuh sering dapat izin nggak masuk getuh."

"Pernah sampai tiga hari," tambah si anak basket.

Tanpa sadar, gua melanjutkan memilin mie sampai membentuk bola. Apa gua kirim WA tanya kenapa nggak masuk? Tapi kesannya gua ngarepin dia banget, dan memangnya Raka siapa gua? Jadi gua mengganti topik saja dengan bertanya bagaimana tugas sosialisasi anak-anak.

Gua yang biasanya menghabiskan jam makan siang dengan adik kelas, sekarang sibuk mendengarkan keluh-kesah anak-anak seangkatan. Jadi seperti ini rasanya dianggap dan terlihat, punya banyak orang untuk diajak ngobrol itu ternyata semenyenangkan ini.

Untuk pertama kalinya, gua merasa nggak kesepian di sekolah.

-----

"Nes, sampai besok."

Gua spontan melambaikan tangan. "Dah, Fathia."

"Rumah lo dimana, Nes? Bareng yuk."

"Di Mampang, duluan dah. Gua mau ke Kemang dulu ada urusan," menolak halus ajakan Sofie yang dulu pernah satu klub baseball, disambung dengan dadah yang panjang. Gua mau menikmati sisa hari ini dengan berjalan pulang sendiri, mengagumi diri sendiri yang akhirnya dianggap ada oleh anak-anak.

Ketika sinar matahari sore merambat dari sela-sela daun pepohonan, orang-orang berhamburan di pinggir jalan, menunggu transportasi untuk membawa mereka pulang. Gua berjalan menuju rumah dengan perasaan hangat, yang membuat senyum enggan pergi dari wajah.

Hari-hari sebelumnya, gua terbiasa pulang dengan pikiran kosong. Nggak ada yang bisa dijadikan teman di sekolah dan, ketika pulang, disambut entah musik metal dari Nanda atau rengekan dan kekacauan dari si Kembar dan si Bengal. Pikiran kosong dan perasaan terjebak dalam hidup jadi teman terbaik, sebelum Raka datang.

Langkah pun terhenti. "Raka," ucap gua, menyadari cowok itu telah membuat perubahan besar dalam hidup gua. Cepat-cepat mengeluarkan gawai dan perasaan ragu kembali muncul. "Emang gua siapa?" mengalihkan pandangan pada orang-orang sekitar, mencoba mencari inspirasi alasan yang terdengar biasa, namun bisa menguak informasi sebanyak mungkin mengenai Raka.

Naes

"Ka, dimana? Kok nggak masuk? Mau tanya tugas sosialisasi."

Ini pesan paling aman tanpa berkesan gua ngarep banget ketemu sama dia tadi di sekolah. Tanpa sadar, gua pun sudah berdiri selama beberapa menit, sambil menatap gawai. Berharap Raka membaca dan membalas cepat pesan WA gua, namun akhirnya sadar betapa bodoh diri ini berharap seperti itu. "Padahal gua sendiri yang jaga jarak pengen aman, tapi malah ngarep," sambil menggelengkan kepala, mengasihani diri sendiri.

Akhirnya, gua memutuskan untuk memasukkan gawai kembali ke saku dan bergegas mengejar bus Transjakarta.


Other Stories
Cahaya Menembus Semesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

After Meet You

Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...

Dia Bukan Dia

Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...

Jika Nanti

Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...

Cicak Di Dinding ( Halusinada )

Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...

Teka-teki Surat Merah

Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...

Download Titik & Koma