Prince Reckless Dan Miss Invisible

Reads
3.5K
Votes
1
Parts
22
Vote
Report
prince reckless dan miss invisible
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Penulis Wali_writing_on_the_wall

Bab 19 : Gua Berhak Atas Semua Ini!

Uap panas menyeruak ke muka ketika gua membuka rice cooker, masih banyak nasinya. Melirik ke meja dapur, lebih tepatnya mencoba menembus tudung saji. Masih terdapat telur dadar dan tempe goreng, gua pun mengambil piring dan menyendok nasi. Ketika akan mengambil lauk, "ITU PUNYA NAES! Belum makan dari pagi."

Dira yang hendak mengambil telur, langsung mengangkat tangan. "Ok, Nes, maap," lalu mundur dan kembali ke kamar.

Gua diam sesaat berdiri di depan tudung saji, sambil memegang sepiring nasi hangat. Rada terkejut dengan kata-kata gua sendiri, mungkin dorongan lapar. Gua pun mengambil telur dan tempe, duduk sendiri di dapur menikmati makan siang.

"Ada apa? Tadi Ibu dengar ribut-ribut?"

Gua melirik Ibu yang datang ke dapur, sambil menggendong si kembar, nggak lupa si Bengal ikut ngintil di belakang. "Itu Dira mau ngambil lauk aku."

Ibu kebingungan mendengarnya. "Loh, bukannya kamu udah makan?"

Sebelah alis gua langsung naik. "Itu Nanda kali, Bu! Aku kan baru bangun."

Ibu menggelengkan kepala, sembari menahan si kembar agar nggak turun dari pangkuan. "Lagian kamu ngapain juga sih bangun sesiang ini?"

"Naes kemarin pulang malam buat ngerjain tugas," menjawab tanpa melihat Ibu, terus terang gua lumayan sebal, Ibu nggak tahu kalau salah satu anak ceweknya balik malam.

Si Kembar terus saja memberontak untuk turun, sementara si Bengal menarik-narik bagian belakang daster Ibu. "Ya sudah, nanti sekalian cuciin piringnya."

"Emang Ibu nggak khawatir sama Naes?"

Ibu yang nampak kewalahan mengatur si kembar dan si Bengal menjawab. "Khawatir apa sih, Nes?" sambil terus berupaya menaikkan salah satu dari si kembar ke gendongan dan melepaskan tarikan daster dari si Bengal.

Gua membanting sendok ke piring sampai berdenting, ini sukses mendapatkan perhatian Ibu. "Naes pulang jam setengah satu malam!" Ibu hanya diam dan terus berupaya bergulat dengan ketiga anak balitanya, gua bisa melihat dengan jelas wajah lelah sekaligus bingung. "DIAM KALIAN!" seketika ketiga bocah terhentak, si Kembar membeku, dan si Bengal bersembunyi di balik tubuh Ibu. Dira dan Nanda langsung ke luar kamar, mereka berhenti di depan dapur, berdua saling tatap, berusaha membaca keadaan. Nggak pernah sekalipun gua mendapatkan perhatian di rumah, Sabtu siang ini Ibu, Dira, Nanda, si Kembar, dan si Bengal terpaku menatap. "Naes pulang malam buat bikin tugas sosialisasi, tugas ini bakalan jadi pertimbangan guru buat kasih rekomendasi lolos program bibit unggul berprestasi," kata gua dengan berapi-api sampai dada kembang-kempis.

Nanda menarik si Bengal yang ketakutan, supaya Ibu bisa leluasa menanggapi Naes. "Shhhh, sini sama Kakak dulu," lalu membawanya ke luar rumah, sementara Dira tetap berdiri di belakang Ibu.

Ibu menurunkan salah satu si Kembar, bahunya turun seperti baru saja terlepas dari engselnya. "Maap, Nes, Ibu nggak tahu kamu capek habis ngerjain tugas. Ibu doain supaya kamu lolos, Nes, dan makasih udah bikin hidup Ibu lebih mudah," dengan nada memelas dan tangannya mengelus-ngelus rambut si Kembar agar tetap tenang.

"Ibu tahu nggak apa yang bisa bikin hidup kita lebih mudah?" tanya gua, sambil melirik si Kembar, lalu kembali melihat Ibu. "Pakai KB!" gua pun beranjak dari dapur dan langsung masuk kamar.

Gua menghabiskan Sabtu dengan berdiam diri di dalam kamar dan itu nggak membosankan, terlebih sambil membaca percakapan di grup kelas. Tentu saja gua sudah nggak mau menanggapi, beberapa sampai berani japri langsung meminta konfirmasi hubungan dengan Raka. Di antara belasan WhatsApp terselip pesan dari sang pangeran.

Raka

"Nes, boleh kirimin semua video kita? Biar gue yang editin."

Gua sebenarnya mau basa-basi, tapi perihal anak-anak banyak yang tanya tentang kita berdua namun, mood gua sedang tidak karuan dan memilih untuk mengurungkan saja niat tersebut.  Mengirimkan saja semua video.

Naes

"Nih, Ka, makasih banyak"

sent file

sent file

sent file

sent file

sent file

Ketika file video terakhir, gua kepikiran mengapa Raka sama sekali tidak menjawab anak-anak di group? Apa dia berhati-hati setelah kemarin gua menjawab nggak ada apapun diantara kita berdua? Lalu menempelkan gawai ke jidat, berpikir mengapa bodohnya gua! Kenapa nggak biarin saja Raka yang menjawab semua kekepoan anak-anak di group. 

Seharian penuh, gua menyesali keputusan untuk menklarifikasi. Membiarkan satu hari penuh, dikuasai penyesalan beserta keinginan kuat untuk mengintip pesan-pesan whatsapp. Dari pada salah lagi, gua memutuskan untuk menyembunyikan gawai di balik bantal. 

-----

Biasanya, Senin pagi pasti chaos, Ibu harus menyiapkan sarapan buat semua, dan gua cuma dapat remahan sisa. Bapak, Dira, dan Nanda sudah bangun dari subuh demi mengejar kereta, jadi porsi terbanyak sudah pasti diambil mereka. Gua cuma bisa sarapan apa yang masih tersisa di dapur, kalau nggak terpaksa ganjal dengan gorengan di sekolah. 

Pagi ini, sebuah piring lengkap dengan lauk pauk untuk sarapan, mata gua mengelilingi dapur dan nggak mendapati Ibu, si Kembar, dan si Bengal, begitu pula Dira dan Nanda. 

"Itu buat kamu semua, Nes."

Gua berpaling dan mendapati Bapak duduk di ruang tamu. "Oh, Bapak belum berangkat?" sambil melihat ke depan, dimana motor Bapak biasa diparkir.

"Izin, tadi pagi-pagi langsung minta tukeran shift," jawab Bapak, sambil menunjukkan gawai. "Ibumu tadi malam cerita, Nes," lalu diam sebentar dan menopang kepala dengan kedua tangan. "Bapak sama Ibu tahunya kamu tuh anak pinter, jadi nggak perlu dikhawatirkan. Nggak perlu repot mikirin ini sama itu, karena dari dulu pun kamu selalu dapat jatah masuk sebagai anak berprestasi."

Gua menyandarkan tubuh ke tembok dan menyilangkan kedua tangan. "Kemana Ibu sama yang lain?"

"Ke luar," jawab Bapak dengan enteng. "Biar pagi ini bisa leluasa sarapan, nggak diganggu sama adik-adik kamu," kemudian menghela napas panjang. "Nes, Bapak sama Ibu cuma bisa bertahan dengan semua ini." Kedua tangan Bapak yang tadi menopang kepala menunjuk ke sekeliling rumah. "Bapak sama Ibu memang bukan orang tua yang sempurna, kita nggak bisa kasih waktu dan perhatian karena terhimpit pilihan hidup," lalu menatap Naes dengan sebuah senyum kecil. "Jadi pagi ini, kamu sarapan sepuasnya, sama di atas meja ada uang jajan lebih dari Dira sama Nanda buat beli makan siang di sekolah." Bapak mengambil napas panjang, lalu melihat ke lantai. "Kamu jangan jadi seperti Ibu, Bapak, dan Kakak-Kakakmu, yah."

Gua nggak tahu harus ngomong apa? Lalu pergi ke dapur untuk sarapan. Tadi adalah pertama kalinya Bapak ngobrol langsung sama gua setelah sekian lama. Nggak bisa ingat kapan terakhir kali Bapak menanyakan sekolah dan hidup gua. Bapak biasanya tidur dari pagi sampai magrib, karena kerja shift malam sebagai penjaga gudang logistik.

Harusnya gua merasa bersalah pagi ini setelah mendengar perkataan Bapak. Tapi gua justru makan dengan lahap dan hati terasa lega. Sebetulnya, hidup gua nggak bakalan semenyedihkan ini andai kata jadi anak tunggal. Rumah petak dalam gang dan Bapak kerja cuma jaga gudang pun nggak bakal masalah andai hanya ada gua seorang. Gua berhak sarapan sama ayam goreng, bukan sama sisaan, gua berhak punya pagi hari yang tenang. Gua berhak punya masa depan yang cerah, gua udah kerja keras dan berhak atas semua ini.


Other Stories
Autumn's Journey

Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...

Cahaya Menembus Senesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Takdir Cinta

Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...

Penulis Misterius

Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Dua Mata Saya ( Halusinada )

Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...

Download Titik & Koma