Bab 18 : Prince Reckless & Miss Invisible
"Orang tua lo nggak marah, pulang semalam ini sambil bawa cewek?"
Raka memberikan ciri khasnya, sebuah senyum tengil, lalu berteriak. "Pah, Mah, Raka pulang," menatap balik Naes. "Lihat kan?" sambil melebarkan kedua tangan, menunjukkan rumah besar yang seakan kosong.
"Ini gimana?" menunjuk dress yang gua pakai.
"Lo ganti di closet room Mami tadi siang, tenang aja, Mami tidur di kamar belakang," menunjuk lorong menuju belakang rumah.
Melihat jam minimalis yang terpampang di tembok ruang tamu, gua nggak pernah pergi sampai selarut ini. Bergegas menuju ruang dimana tadi siang Mami Raka membantu ganti baju dan touch up. Untuk terakhir kalinya tangan gua bisa memegang dress secantik ini, menaruhnya di meja rias dan kembali mengenakan seragam.
Gua pun kembali ke ruang tamu, mendapati Raka menunggu di ruang tamu, ia nggak berganti baju dan nampak serius menatap gawai. "Gua udah siap, Ka."
Raka mengangguk dan berdiri. "Rumah lo dimana?"
"Mampang, Gang Djati," jawab gua pelan karena malu menyebutkan nama daerah tersebut di dalam rumah mewah seperti ini. "Ada kok di maps," tambah gua, lalu bergegas ke luar dan menunggu Raka menyalakan vespa.
----
Aplikasi peta menunjukkan lima ratus meter sebelum Gang Djati Mampang Prapatan, sedari tadi bersiap untuk turun jauh dari gang supaya Raka nggak tahu rumah gua. "Di sini aja, Ka," perintah gua.
Raka melihat gawainya. "Ini masih di depan?"
Gua memang tipikal orang yang nggak bisa bohong dan dalam situasi seperti ini lebih baik jujur saja. "Gua rasa lebih baik lo nggak usah mampir. Pertama, malu sama keadaan gua, dan kedua, ini bukan cluster yang isinya orang-orang modern. Apa kata tetangga kalau mereka lihat gua balik malam gini sama cowok."
"Serius?"
"Selamat datang ke lingkungan menengah ke bawah masyarakat Indonesia," jawab gua, mencibir lingkungan sendiri.
Raka mematikan vespa dan parkir di pinggir jalan. "Seenggaknya gue boleh anter lo sampai depan gang?"
Gua pun mengiyakan dan membiarkan Raka menghantar sampai depan Gang Djati. Melihat sang pangeran dengan kemeja putih dan celana bahan, sepatu pantofel nampak amat sangat kontras dengan lingkungan sekitar. Nggak ada satupun di lingkungan ini yang ke luar tampil seperti Raka, gua amat terbiasa melihat lelaki-lelaki muda berseragam satpam, penjaga minimarket, dan pom bensin. "Sampai sini aja, yah, Ka! Kita ketemu lagi Senin nanti," lalu menatap tangan Raka yang enggan melepaskan genggamannya. "Sampai Senin depan, Ka," ulang gua, dan ia pun melepaskan tangannya. Gua berbalik menuju ujung gang ini, dimana tempat yang ingin gua tinggalkan berada. Sebelum membuka gerbang, timbul keinginan menoleh ke belakang demi melihat sang pangeran untuk terakhir kalinya hari ini. Entah kenapa, gua malah memutuskan untuk langsung masuk saja.
----
Andai kamar gua seluas kamar Raka, ada jendela di atap dan balkon sendiri. Pasti bakalan seperti cewek-cewek di film, pulang ngedate, joged-joged kegirangan, dan berujung menatap ke luar sebelum tertidur. Gua bisa apa di dalam kamar 3x3 bertembok triplek tanpa jendela? Merebahkan diri dan Jake Ryan menatap balik. "Terima kasih buat malam ini," sambil senyum-senyum sendiri. Memperhatikan poster-poster film John Hughes yang menempel di gypsum. "Gua rasa malam ini lebih cocok sama Pretty in Pink, tapi cowoknya dari Sixteen Candles." Menyadari beberapa kemiripan adegan dengan semua yang terjadi, lamunan gua teralihkan oleh notifikasi WA dari nomor nggak dikenal.
Nomor tak dikenal
"Makasih udah bikin gue ngerasa hidup malam ini."
Naes
"Harusnya gua yang bilang makasih sama lo, makasih atas semua memori manis yang lo buat malam ini. Goodnight, reckless prince."
Raka
"Good night, miss invisible."
Gua menatap layar gawai tanpa berkedip, apakah Raka memberikan nama kesayangan? Atau dia cuma sekadar membalas my reckless prince? Sekali lagi gua bertahan dan memutuskan untuk menaruh gawai, belum tiga detik, langsung gua ambil lagi gawai dan kembali membaca WA, ada perasaan senang tak karuan membaca pesan terakhir Raka. "Apa, harusnya tadi gua nggak defensif, yah?" menggaruk kepala dan menggeram. "Argggggggg..." Sial, kenapa perasaan sama isi kepala gua malah nggak karuan? Lalu mengambil bantal dan menaruh di muka, membiarkan sampai terlelap. Dalam hati berharap akan ada mimpi, dimana gua mengulang semua kejadian di pasar malam. Namun, dengan versi yang lebih manis, dimana gua memutuskan untuk meruntuhkan semua pertahanan terhadap Raka.
----
Sialnya, mimpi yang diharapkan sama sekali nggak hadir. Gua malah tertidur pulas dan bangun ketika hampir siang. Cepat-cepat mencari gawai untuk membaca pesan WA dan terpampang jelas, Good night, miss invisible, yang tadi malam bersama pangeran SMA Persahabatan bukanlah mimpi. Menepuk kedua pipi, sambil tersenyum, gua nggak pernah bangun tidur sebahagia ini.
Notifikasi WhatsApp group menandakan gua dimention, sejak kapan ada anak yang mention gua? Seringnya mereka malah bingung dengan nama Naeswari Anindyaswari, ikutan nimbrung di grup pun nggak pernah ditanggapi. Begitu gua lihat grup kelas, "Anjir!" notif chat tembus 100-an. Langsung gua buka dan cepat-cepat scroll ke atas, mencari asal muasal keributan di Sabtu siang ini.
Harusnya gua sadar kalau pergi sama cowok paling populer di sekolah, pasti semua anak bakalan gosipin. Gua bahkan sampai menghabiskan tiga puluh menit cuma buat baca obrolan anak-anak yang bermula dari story Raka. Adriana adalah biang kerok dari ini semua, dia yang memulai obrolan, Raka malam mingguan sama Naes, nggak lupa pakai bukti beberapa screenshot IG story Raka.
Gua cuma bisa gigit jari baca obrolan anak-anak, umumnya pada nggak percaya Raka jalan sama gua. Mereka bahkan kebingungan karena nggak inget sama sekali sama gua. Ada juga yang nebak kalau gua anak pindahan baru. Beberapa juga ngetik kalau yang ada di screenshot Adriana adalah anak dari sekolah lain.
Lama-lama gatel juga baca obrolan anak-anak kelas dan gua pun memutuskan untuk membalas.
Naes
"Hi guys, gua sama Raka cuma bikin tugas sosialisasi aja kok," tambah emoticon smile.
Bonita
"Kok ke pasar malam sih?"
Ronald
"Masa ngerjain tugas sosialisasi sampai dandan begitu?"
Aman Ketua Kelas
@Diana liat tuh orang bikin tugas aja sampe niat begitu, beda ma luh bikin video pendek aja kucel mulu.
Rizal
@Ronald iya, mana keliatan mesra banget lagi, asoooy bener.
Sepertinya gua melakukan kesalahan, ini sih kaya nyiram bensin ke api. "Sialan," gumam gua, sambil mengacak-ngacak rambut. Daripada apinya nambah besar, mending gua biarin saja. Menaruh gawai di kasur dan pergi ke dapur untuk mencari apapun yang bisa gua makan. Semoga Ibu masih menyisakan nasi di rice cooker dan beberapa lauk, perut gua sudah protes minta diisi dari tadi. Mana semalaman gua cuma minum kopi Point sama permen kapas.
Other Stories
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...
Mr. Perfectionist
Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Bisikan Lada
Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...
Sweet Haunt
Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...