Prince Reckless Dan Miss Invisible

Reads
3.5K
Votes
1
Parts
22
Vote
Report
prince reckless dan miss invisible
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Penulis Wali_writing_on_the_wall

Bab 17 : Jangan Pernah Lupain Gue Naeswari Anindyaswari

Sang pangeran nggak mengatakan apapun ketika gua lebih memilih untuk merasa aman ketimbang jatuh ke dalam pelukannya. Kami terus jalan bergandengan, seolah nggak ada ujung yang jadi penghabisan, sesekali mata kami saling beradu. Gua bisa dengan jelas melihat Raka tersenyum, dia bahagia dengan apa yang diterimanya. Sekalipun memilih untuk merasa aman, gua berusaha mati-matian supaya nggak kelihatan sedang berada di langit ketujuh. Jadi seperti ini rasanya disukai sama cowok ganteng.

Raka berhenti saat hendak melintasi sebuah panggung live music. "Lo mau lagu apa?"

Gua mendelik. "Mang lo bisa nyanyi?"

"Nggak lah, cuma mau request aja, terus slow dance sama lo," lalu menyuguhkan senyum tengilnya.

Kedua bola mata gua langsung berputar. "Nggak inget waktu di Nara gua joged macam..."

"Percaya dah sama gue," sela Raka. "Lagian lo sendiri yang tadi bilang kalau gue boleh kasih memori manis."

Gua melirik panggung live music yang sedang memainkan Efek Rumah Kaca, sebuah pilihan yang cukup mencengangkan untuk dimainkan di pasar malam. Merogoh kantong dan mengeluarkan gawai, cepat-cepat membuka Spotify. "Ini, lagu kesepuluh," menunjukkan playlist dari soundtrack Pretty in Pink.

Mata Raka memicing saat membaca. "Try A Little Tenderness, Otis Redding," dahi berkerut karena nggak pernah dengar sama sekali. "Baiklah, kalau ini yang lo mau," kemudian mendekati panggung, berbisik pada salah satu pemain band.

Gua nggak punya referensi lagu buat berduaan selain dari playlist film John Hughes. Try A Little Tenderness nempel di otak karena ada di adegan pas Duckie joged di toko musik. Gua harusnya tahu itu pilihan musik yang sulit, apalagi buat band di pasar malam. Raka terlihat jelas sedang alot berdiskusi dengan salah satu pemain band, bisa ditebak lagu pilihan gua ditolak. Sang pangeran pun menyelamatkan malam ini dengan mengeluarkan selembar uang berwarna merah dari dompet, membuat si pemain band mengangguk dengan sumringah dan bergegas mengumpulkan teman-temannya.

Raka kembali ke Naes. "Jangan ragu dan ikuti gue," menarik ke dekat panggung, lalu melingkarkan tangan kiri Naes ke pinggang, sementara tangan kanan digenggam ke atas sebahu. "Tunggu sebentar, yah," lalu melirik ke panggung, memberi kode dengan mata, 'mengapa belum mulai?'

Setelah mendapatkan kode dari Raka, mata penyanyi di panggung memicing melihat gawainya dan, sebelumnya sudah memasang TWS di telinga. Dugaan gua bakalan nyanyi sambil mendengarkan langsung, nggak lama suara terompet mulai mengalun. Gua mengikuti arahan yang diberikan oleh Raka, tangannya yang melingkari pinggang dengan lembut mengarahkan. "Sumpah, gua malu banget, Ka," ketika tahu beberapa pasang mata mulai menonton kita.

"Tunggu," kata Raka. "Ini wajib dikenang," mengeluarkan gawai dan melemparnya ke salah seorang stage crew yang berjaga. "Tolong rekamin," pinta Raka.

Mata gua terbelalak ketika si penyanyi membuka mulut dan mulai melantunkan Try A Little Tenderness. Nggak mirip, namun mendekati. "Canggih juga lo, bisa bikin mereka nyanyi Otis Redding," puji gua.

Raka tersenyum. "Dan sekarang saatnya bikin lo slow dance yang benar," dengan mata melihat ke bawah, dimana kaki Naes menginjak kakinya. "Jangan tegang dan percaya sama gue," mulai mengarahkan tubuh Naes ke samping, sambil mengayun tangan. Pelan-pelan melonggarkan dorongan ketika Naes sudah bisa mengikuti ritme. "Anggap saja kita lagi di ballroom."

Gua sadar ketika Raka mengatakan ballroom, beberapa orang mulai bergabung. Mereka bersama pasangan ke tengah dan mengikuti gerakan kita. Gua selalu terkesima bagaimana sang pangeran mampu menghidupkan suasana, namun tetap nggak ngerti gimana orang seperti ini butuh untuk merasa hidup? "Kenapa harus bisa merasa hidup, sementara lo sendiri selalu bisa mengubah suasana jadi seperti ini, dan kenapa lo seperti selalu tergesa-gesa dan ceroboh seperti nggak ada masa depan, sementara lo adalah seorang pangeran pewaris?" Akhirnya, hal-hal yang terasa mengganjal hari ini berhasil gua keluarin.

"Karena gue nggak punya hal-hal yang dianggap remeh sama orang lain," jawab Raka. "Terkadang gue mikir kalau semua ini biar setimpal sama apa yang gue dapetin. Tuhan barter, tampang, lahir dari keluarga tajir melintir sama hal-hal remeh yang orang lain punya."

"Kalau gua bisa ngomong sama Tuhan, bakalan minta barteran yang sama." Tiba-tiba saja wajah Raka menjadi serius, gua sama sekali nggak pernah lihat dia dengan tatapan mengancam seperti ini.

"Jangan ngomong begitu, Nes! Lo harus tarik semua kata-kata lo!"

Gua bisa merasakan ketegangan dari kata dan tatapan yang dilontarkan Raka, sampai mikir, memangnya ada yang salah dari perkataan tadi? "Ok, gua tarik semua omongan gua dan ganti sama, Tuhan, please kabulin semua yang gua bilang pas di kora-kora," Raka pun kembali tersenyum mendengarnya, ia lalu mengangkat tangan gua ke udara dan membuat tubuh gua berputar. "Wow, Raka, lo belajar dansa dari mana sih?"

Raka tersenyum, sambil menaikkan sebelah alisnya. "Waktu sekolah di luar, kan sering ada homecoming tuh."

Homecoming yang sering gua lihat di film-film remaja luar, langsung membayangkan cewek-cewek sibuk menyiapkan tema homecoming, mendekor ruang olahraga jadi ballroom, dan tentunya mempersiapkan calon queen dan king. "Terus, kenapa lo balik ke sini?"

"Pertimbangan Mami, pengen gue menghabiskan masa remaja di dalam negeri aja," dengan nada malas dan diakhiri dengan sebuah desah panjang. "Lo sendiri gimana? Sebutin satu hal yang bikin lo bahagia ada di masa remaja ini."

Menggelengkan kepala. "Gua rasa lo berhasil, Ka, ini adalah memori terbaik yang pernah terjadi selama masa remaja," gua mencoba melihat beberapa pasangan yang berdansa di sekitar kita, mereka nampak bahagia dengan pasangan masing-masing. "Gua nggak pernah kepikiran buat senang-senang, selama ini selalu dalam mode bertahan." Raka memindahkan kedua tangan gua ke bahunya, gerakan dansa nggak lagi bergerak, namun diam di tempat. Ini memaksa gua buat melihat langsung kedua mata cokelat muda, urat darah di pipinya sekarang terlihat lebih jelas.

"Kalau nanti nemu masa-masa berat di hidup lo nanti, tolong ingat malam ini sama gue."

Kedua tangan Raka yang memegang pinggang gua sekarang bergerak naik turun dengan lembut, memberikan ketenangan yang kontras dengan nada bicaranya yang dipenuhi khawatir. "Gimana bisa lupa satu-satunya momen paling manis dalam masa remaja gua?"

"Karena sekarang waktu milik lo yang masih panjang jadi musuh terbesar gue buat selalu diingat," lalu mendekatkan bibir ke telinga Naes. "Jangan pernah lupain gue, Naeswari Anindyaswari."

Gua hapal Try A Little Tenderness di luar kepala, jadi menurunkan kedua tangan dari bahu Raka, sebelum lagu berakhir. "Makasih, Raka, atas semua ini," sambil melihat sekeliling dan orang-orang yang ikut berdansa kini membubarkan diri. "Ini udah terlalu malam buat gua."

Raka mengangguk, lalu menggenggam tangan Naes dan berjalan ke luar pasar malam. "Tunggu, lupa gue," sambil meraba saku kemeja dan celana, lalu berlalu balik ke arah panggung.

"Ada apa dengan waktu, masa depan, dan lo," ucap gua saat melihat sang pangeran berlari untuk mengambil gawainya yang tertinggal.


Other Stories
Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Dua Mata Saya ( Halusinada )

Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...

Hati Yang Beku

Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...

Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat

Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...

Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )

(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...

Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Download Titik & Koma