Prince Reckless Dan Miss Invisible

Reads
3.5K
Votes
1
Parts
22
Vote
Report
prince reckless dan miss invisible
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Penulis Wali_writing_on_the_wall

Bab 16 : Lebih Baik Merasa Aman

Gua berjalan menyusuri pasar malam, sambil menikmati setiap robekan permen kapas, kalut dan takut bikin tubuh ini lelah, sampai gua memutuskan mencari bangku dan duduk. Raka yang semenjak tadi dengan santai mengekor di belakang, akhirnya duduk di samping. Tangannya diletakkan melingkari pundak dan wajahnya mendekat ke telinga gua.

"Lo cewek tercantik, terpintar, dan satu-satunya yang bisa bikin gua sampai mikirin hidup."

Gua langsung melirik tajam dan memutar bola mata. "Tolong, jangan kasih momen Jake Ryan lagi." Pandangan lalu beralih menuju orang-orang di pasar malam ini. "Gua pengen optimis banget sama hidup ini, tapi susah." Entah kenapa, gua terdiam sesaat, sebelum melanjutkan. "Setiap hari gua bangun dan bertekad bakalan ke luar dari gang itu, tapi begitu disuguhi dunia luar, gua takut banget, takut kalau gua bakalan sama seperti semua orang di dalam gang itu. Gua takut kalau nantinya cuma pergi jam 8 pulang jam 6 karena jadi kasir, ART, dan yang lebih parah cuma dikawinin sama laki-laki nggak jelas." Gua mengambil napas panjang dan berkata, "takut jadi seperti Nyokap yang nggak punya pilihan hidup dan berakhir dengan enam anak di rumah petak dalam gang."

"Jadi kita sama-sama mengkhawatirkan masa depan."

Gua menoleh untuk menatap mata Raka dalam-dalam dan, pertama kalinya, gua sama sekali nggak tenggelam di dalam tatapan Raka. "Maaf banget nih, Ka, tapi apa sih yang lo harus khawatirkan dari masa depan lo?" alih-alih menjawab, Raka malah membuang muka, bikin gua menerka-nerka jawaban apa yang bakalan diutarakan sang pangeran.

"Well, seenggaknya lo punya masa depan," jawab Raka tanpa menatap Naes, pandangannya tetap saja menerawang jauh. "Masa depan gue sempit banget."

"Pasti lo mau jadi sesuatu yang di luar keinginan orang tua."

"Justru mereka ngebebasin gue, jadi apapun," kemudian menatap Naes. "Lo pasti bisa jadi apapun yang lo mau!" lalu menarik Naes berdiri dan menuju sebuah wahana.

Terus terang, gua nggak ngerti sama jawaban Raka, kenapa orang seperti dia bilang masa depannya sempit? Dan malah ngajak naik kora-kora. "Janji lo nggak bakalan ngelakuin hal aneh pas naik," dengan sebelah alis naik dan bersedekap.

"Sekali lagi, gue janji bakalan nggak loncat tiba-tiba," Raka, lalu membayar tiket masuk dan naik ke dalam kora-kora. "Sini," mengambil permen kapas Naes dan langsung menghabiskan, sebelum kora-kora mulai naik turun. "Gue mau lo dengerin ini baik-baik."

Gua pun menatap Raka dengan kedua tangan mengenggam pegangan besi. "Apa?"

Raka memberi tanda menunggu, sampai kora-kora berada di ketinggian maksimum. Beberapa pengunjung di belakang mulai berteriak. "Gue mau lo teriak sekuat tenaga, apapun itu terserah," perintahnya dengan nada tinggi.

Gua menyibak rambut yang berantakan, sambil memberikan tatapan, 'buat apa sih?', tapi dibalas dengan tatapan memelas Raka. Akhirnya, gua memutuskan untuk setuju dan berteriak. "Ahhhhhhhhhh..."

"Serius, cuma begitu!" desak Raka yang rambut sudah tak karuan dan berpegangan kuat-kuat. "Nes, keluarin semuanya!!!!"

Suara Raka mengalahkan teriakan pengunjung lain dan bikin gua melihat ke belakang. Orang-orang itu berteriak sekuat tenaga dan terlihat begitu lepas, bahkan dalam situasi seperti ini, gua tetap saja diam, teriakan gua tetap saja tak terdengar. Gua pun sadar, nggak peduli hidup seperti apapun, gua bakalan jadi cewek yang ragu-ragu akan masa depan. Sampai-sampai nggak pernah kedengaran, lalu gua menatap Raka, mengisi penuh paru-paru dengan udara. "GUA NGGAK MAU JADI KAYA NYOKAP! GUA NGGAK MAU PUNYA ANAK DAN TINGGAL DALAM GANG! GUA MAU CHILD FREE DAN TINGGAL DI RUMAH BESAR YANG GUA DESAIN SENDIRI!!!" entah kenapa, dada gua serasa plong banget, sampai-sampai gerakan naik turun kora-kora bagai slow motion yang bikin gua bisa melihat semua dengan jelas.

Raka mengangkat kedua tangannya dan ikut berteriak. "NAESWARI ANINDYASWARI ARSITEK SUKSES, CHILD FREE, TINGGAL DI RUMAH BESAR YANG DIDESAIN SENDIRI!" Untuk pertama kalinya, Raka melihat Naes dengan sebuah senyum bahagia. Ketika kora-kora mulai melambat, Raka mengeluarkan gawai dan merekam betapa bahagianya Naes.

Gua merapikan rambut dan melihat pada gawai Raka. "Makasih banyak, Ka," lalu merebut gawai dan berbalik merekam Raka. "Sekarang, gimana tentang masa depan lo yang sempit itu?" Raka kembali memberikan raut sendu, walau hanya untuk beberapa menit saja, sebelum memaksakan senyumnya terlihat dalam satu layar penuh.

Ketika kora-kora berhenti, Raka mengeluarkan sesuatu dari saku. "Kalau lo yakin dan udah nggak takut sama masa depan lo, maka gue juga nggak takut," kemudian melempar apapun yang berada dalam genggamannya, sambil berteriak. "GUE NGGAK TAKUT!"

Malam itu, kebahagiaan meliputi kami berdua, tertawa lepas di dalam kora-kora, sampai operator wahana geleng-geleng. Tiba-tiba, Raka menggenggam tangan gua dan menarik turun, "Lo bisa lepasin tangan gua, Ka." Ketika kami berdua sudah berada di depan pintu keluar wahana kora-kora.

Raka menggelengkan kepalanya. "Lo bikin gue merasa hidup dan gue mau menghabiskan malam ini sama lo," lalu berjalan menyusuri pasar malam selayaknya orang pacaran.

Sumpah, perut gua rasanya nggak karuan ketika tangan digenggam sama Raka, detak jantung langsung meningkat. Gua sengaja diam, sampai tangan tertarik dan Raka menoleh ke belakang. "Ini cuma tugas sosialisasi," memberikan gawai Raka yang sedari kora-kora gua pegang.

Raka menggelengkan kepala. "Nggak, gue mau lebih," memasukkan gawai ke celana, lalu melepaskan genggaman pada Naes. "Malam ini harus jadi lebih daripada sekadar tugas sosialisasi," dengan kedua tangan melebar, seolah berupaya meraih seluruh pasar malam.

Sang pangeran menginginkan gua memberikan sekadar lebih daripada partner sosialisasi, perut masih saja memberikan sensasi nggak karuan, sementara detak jantung tetap berdebar-debar. "Ini terlalu cepat," kata gua berdasarkan akal sehat dan mengesampingkan perasaan.

Raka mengambil kedua tangan Naes. "Waktu relatif, buat lo cepat, belum tentu buat gue," lalu menarik kedua tangan Naes dan melingkarkan di pinggang. "Malam ini gue milik lo."

Gua menengadah dan lagi-lagi terpesona dengan wajah tirus berbalut rahang tegas, rambut Raka masih acak-acakan, justru menambah pesonanya. "Nggak bisakah kita pelan-pelan dulu, gua belum terbiasa dapat hal bagus, apalagi semuanya dalam satu hari."

Raka menarik tubuh Naes sampai menempel, membiarkan kepala Naes bersandar di dadanya. Kedua tangan memeluk, seolah menahan Naes agar tetap berada dalam pelukan. "Satu hari buat lo, selamanya buat gue."

Gua pengen menarik diri dari pelukan Raka, tapi entah kenapa, malah justru menikmati. Tubuh kurusnya sekarang berada dalam kedua tangan, tulang sternumnya terasa menusuk kuping. Gua pun teringat percakapan di McD, ketika sang pangeran mengatakan waktu adalah hal yang nggak dimilikinya. "Yakin mau menghabiskan waktu yang nggak lo punya sama gua?"

"Gue nggak pernah seyakin ini," jawab Raka dengan suara bergetar.

Gua malah melepas diri dari pelukan, namun satu tangan meraih Raka. "Kita nikmati aja malam ini bersama, dan lo boleh kasih memori termanis buat gua," lalu berjalan bersama menyusuri pasar malam, memilih-milih wahana dan jajanan selanjutnya untuk dinikmati. Terlepas dari apapun yang sang pangeran katakan, malam ini gua memilih untuk merasa aman saja.


Other Stories
The Truth

Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...

Egler

Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...

Final Call

Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...

Sang Maestro

Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...

Download Titik & Koma