Prince Reckless Dan Miss Invisible

Reads
3.5K
Votes
1
Parts
22
Vote
Report
prince reckless dan miss invisible
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Penulis Wali_writing_on_the_wall

Bab 15 : Bianglala Dan Tong Setan

Raka mengamati telapak tangan Naes yang terbuka di depannya, ia hanya mendengus, lalu membuka dompet dan memberikan selembar lima puluh ribu.

"Makasih, Ka," ucap gua, lalu membeli dua tiket tong setan dan menarik Raka yang planga-plongo melihat wahana tong setan untuk menaiki tangga menuju atas tong. "Sebenarnya gua rada ngeri-ngeri sedap sih, tapi biasanya cowok suka," sambil mencari posisi kosong di pinggiran tong setan.

Raka menatap jauh ke bawah tong yang berisikan dua pemuda, mereka balas menatap ke atas untuk menghitung berapa jumlah penonton yang sudah ada. "Anjir, itu pakai RX King jadul?" kaget Raka, sembari melihat Naes yang membalas dengan menganggukan kepala. Rauman motor joki mulai terdengar, membuat semua penonton bersiap-siap dengan mengeluarkan sejumlah uang. "Nes, ini orang-orang mau ngapain?"

"Nyawer," jawab gua dengan lantang agar terdengar Raka.

Joki pertama memulai putaran dari bawah, perlahan mulai naik ke tengah, kemudian diikuti oleh joki kedua. Seraya raungan motor kedua joki menguasai udara malam ini, tong setan telah dimulai. Joki pertama bergerak ke atas mendekati para penonton, membuat beberapa menjulurkan tangan. Dalam kedipan mata, joki pertama mengambil uang dan menciptakan hembusan angin kencang, sontak membuat penonton riuh. Raka langsung menatap gua dengan girang dan berteriak.

"Gila banget, Nes!" dengan kedua tangan memegang kepala, seolah akan copot dan jatuh ke dalam tong setan.

Sungguh di luar dugaan kalau gua bisa bikin pangeran SMA Persahabatan sebahagia ini, siapa sangka pasar malam murah meriah mampu bikin Raka kegirangan dan siapa sangka pula dia akan melakukan hal gila!

Raka mengeluarkan sejumlah uang dari dompet. "Nes, pegangin sabuk belakang gue!" kemudian menggigit uang tersebut dan menjulurkan setengah tubuh ke dalam tong setan.

"Gila lo, Ka," sahut gua yang langsung menyambar sabuk belakang Raka ketika ia hendak menjulurkan tubuh. Menahan tubuh Raka dengan kedua kaki berpijak pada tembok tong setan. "Aduh, Ka, ada-ada aja lo," sambil sekencang mungkin memegang sabuk, untuknya Raka bertubuh kurus jadi nggak terlalu berat. Penonton lain yang melihat aksi Raka jadi bersemangat, mereka langsung heboh memberikan semangat bagi para joki.

Sebuah deru motor disertai kibasan angin kencang seketika menerpa, mata gua terbelalak melihat seorang joki berada di udara. Lalu, dalam sekejap turun kembali ke dasar tong setan, yang terdengar hanya riuh penonton dan euforia Raka. Gua pun menarik tubuh Raka kembali ke pinggiran tong setan, rupanya uang di mulutnya berhasil diambil oleh joki.

"Ya elah, tegang banget, katanya suka adrenalin," sambil merapikan kemeja.

"Yah, nggak tiba-tiba lo loncat sambil minta dipegangin juga, Ka!" geram gua, sambil mengelus dada.

"Hey, semua orang suka!" membentangkan tangan ke atas, sambil berputar melihat para penonton yang bersorak, bahkan para joki meraung-raungkan motornya.

Semua orang bertepuk tangan untuk Pangeran Rakanda, ia bagai seorang entertainer yang setiap aksi panggungnya dirindukan. Gua pun menghela napas dan bergegas turun dari tong setan.

"Tunggu, Nes," sahut Raka, sambil mengejar dan menggapai tangan Naes. "Ada apa sih, Nes?"

"Gua nggak pernah setakut itu," menunjuk ke tong setan. "Kenapa sih lo suka banget bertindak gegabah! Nggak pake mikir dulu, kaya orang nggak punya nyawa aja." Sang pangeran pun terdiam, dan gua bisa melihat dengan jelas, ada yang salah dengan perkataan tadi. Raka yang biasa melempar senyum ramah dan sesekali terlihat tengil kini terlihat muram.

Setelah jeda beberapa saat, bahu Raka turun dan ia membuka mulutnya. "Maaf, Nes, gue nggak ada maksud bikin lo takut. Gua cuma pengen malam ini nggak membosankan dan lo bisa punya kenangan sama gue."

Gua menghembuskan napas panjang dan memejamkan mata, membuang semua ketakutan tadi. "Gua nggak mau ingat lo kaya begitu tadi," menarik tangan dan melipatnya di dada. "Jangan bikin gua takut lagi, Ka, udah banyak yang gua khawatirkan di dalam hidup ini."

Raka memegang kedua bahu Naes dengan lembut. "Sekali lagi, maafin gue, yah, Nes."

"Yah, nggak lucu aja kalau sampai gua muncul-muncul di berita, lagi diwawancara, terus headlinenya seorang remaja terjun ke dalam tong setan."

"Sekali lagi, maafin gue, Nes," kata Raka dengan lembut. "Janji dah, gue nggak bakalan nekat lagi," sambil mengacungkan pose V, lalu memiringkan kepala ke kiri, dimana terdapat seorang penjual snack. "Mau permen kapas?"

Gua mengerlingkan kedua bola mata, sambil berjalan ke arah penjual permen kapas. "Dua, bang," dengan mengacungkan jari, namun penjual permen kapas tak bergeming. Ia nampak sibuk melayani dua bocah yang membeli dengan uang receh.

"Dua, bang, yang gede!" kata Raka dengan mantap, kemudian direspon dengan anggukan oleh abang penjual permen kapas. "Nih," sambil memberikan permen kapas.

Gua menatap gumpalan awan berwarna merah jambu yang dililitkan pada sebatang kayu tipis. "Hawa keberadaan gua memang tipis," memutar-mutar permen kapas untuk memilih bagian mana yang akan pertama kali dinikmati.

"Kata gue sih terlalu insecure," Raka, lalu menggigit permen kapas.

Gua langsung menoleh. "Gua insecure?" mengulang perkataan Raka.

Raka mengangguk dengan mulut yang terus saja menarik gumpalan permen kapas. "Lo bukannya nggak terlihat, tapi memang nggak mau terlihat aja," kemudian membersihkan bibir yang dipenuhi serpihan permen kapas dengan kerah. "Perasaan gue sih, lo merasa lebih aman aja nggak diperhatikan sama orang-orang. Tapi keadaan maksa lo buat bertahan di lingkungan yang mesti mingle."

Tanpa sadar, kepala gua miring dengan kedua tangan di pinggang. "Kok lo bisa menyimpulkan begitu?"

Raka menunjuk. "Lo sering kelihatan nggak nyaman di tempat ramai, mulai dari di Nara sampai di sini," lalu menatap permen kapasnya, hanya tersisa remahan yang menempel di batang. "Lo awkward banget di Nara, terus di sini juga lo pilih wahana yang pengunjungnya nggak ramai, dan gue yakin kenapa lo ngajak ke sini karena nggak ada pilihan lain."

Senyum tengil dengan bibir pink yang mengkilap akibat permen kapas nyaris saja membuai gua dari kenyataan. Memang gua sering banget merasa nggak nyaman di tengah banyak orang, ada banyak hari-hari dimana gua merasa lebih baik lenyap dari muka bumi daripada harus ketemu orang. Tapi gua nggak bisa begitu! Gua harus sekolah dan berprestasi biar bisa ke luar dari lubang hitam yang berupa rumah petak di dalam gang. Otak langsung kalut dan merasa takut, gua pun memutuskan untuk balik badan, jalan, sambil merobek permen kapas.


Other Stories
Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Kala Kisah Tentang Cahaya

Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...

Cerella Flost

Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Boneka Sempurna

Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...

Download Titik & Koma