Prince Reckless Dan Miss Invisible

Reads
3.5K
Votes
1
Parts
22
Vote
Report
prince reckless dan miss invisible
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Penulis Wali_writing_on_the_wall

Bab 13 : Cappuccino With Smile

"Cappuccino with no sugar," Raka menaruh dua buah cup di meja, lalu membuka tutup cup. "With special ingredients," menuangkan susu Cimory rasa hazelnut, yang sudah dibelinya dari minimarket kemudian mengocoknya dengan sedotan. "Cobain dah."

Gua langsung mencicipi racikan Raka. "Pas!"

"Enak banget kan," ujar Raka bangga, lalu mengeluarkan gawai dan menaruhnya di meja. "Nes, gue mau lo rekam afirmasi malam ini."

Gue menatap Raka, lalu melihat gawai. "Afirmasi?"

"Lo ceritain dengan yakin, bakalan dapet jatah program bibit unggul berprestasi," menunjuk ke gawai. "Tapi ingat, harus sedetail mungkin, jangan setengah-setengah."

Gua tahu afirmasi itu apa? Tapi ceritain ke orang tentang masa depan yang gua mau terasa janggal. "Malu ah, Ka," lalu menyeruput cappucino dengan cepat.

Raka menopang pipi kanannya dengan tangan, sementara bibirnya terus menyesap cappucino. "Gimana mau terkabul kalau malu sama impian lo sendiri?"

Mata gua melirik ke belakang, masih ada beberapa orang belanja, belum lagi ada barista dan penjaga minimarket. "Harus banget yah, Ka?"

Raka melepaskan sedotan dan membasuh bibir basahnya dengan lidah, sebelum menjawab. "Lo tinggal selangkah lagi Nes, nilai udah dapet, tinggal kesempatan. Nah, ini salah satu cara supaya lo bisa dapet kesempatan itu," lalu menarik kembali sedotan ke dalam mulut dengan lidahnya.

Gua menatap gawai Raka yang sudah siap sedia merekam, sedikit banyak perkataan Raka tadi masuk akal sih. Percuma usaha mati-matian dapat nilai A kalau guru yang kasih jatah program bibit unggul berprestasi nggak tahu gua hidup. "Gua yakin bakalan masuk program bibit unggul berprestasi UGM---"

"Nes," potong Raka dengan alis kiri terangkat. "Suaranya jangan kecil, sama gue pencet dulu recording video yah," kemudian memberikan aba-aba, sebelum menekan recording video.

Sementara gua tanpa sadar mengumpulkan keberanian, sambil mengepalkan kedua tangan, begitu Raka mengatakan siap. "Gua yakin banget masuk program bibit unggul berprestasi UGM fakultas arsitektur dan perencanaan!" dengan suara lantang yang membahana seantero minimarket.

Raka langsung bertepuk tangan dengan semangat. "Getuh dong, Nes!"

Entah kenapa hati gua terasa plong banget, serasa baru melepas sebuah beban. Gua pun memberikan Raka sebuah senyuman lebar, sebelum sadar barista dan penjaga minimarket ikutan tepuk tangan. Rasa malu sekarang menjalar dan bikin gua salah tingkah, sampai pura-pura kembali minum cappucino. Tapi karena gemuruh tepuk tangan nggak berhenti juga, akhirnya gua turun dari bangku, menghadap mereka, dan menempelkan kedua telapak tangan, sambil berterima kasih. "Malu banget, njir!" seru gua pada Raka.

Raka terus saja tertawa, sampai membenamkan wajahnya ke meja, kemudian menatap Naes. "Lo bakalan jadi arsitek sukses, Nes! Gue yakin banget someday bakalan ada gedung tinggi di sini hasil dari rancangan lo."

Masih berkelut dengan rasa malu, gua mendekap tangan di dada. "Makasih banyak, Ka," lalu menunjuk sang pangeran. "Sekarang giliran lo."

"Baiklah," jawab Raka, lalu merapikan rambutnya, sebelum melihat ke gawai. "Gue yakin bakalan bisa kasih memori yang nggak akan bisa terlupakan buat lo, Nes."

Untuk sesaat sang pangeran terlihat berbeda buat gua, wajah tirus dengan garis rahang kuat itu terlihat begitu memikat. Rambut klimis karena pomade, jatuh helai demi helai ke depan, ditambah bibirnya yang membentuk lengkung busur terlihat begitu sempurna. Benar-benar mirip sama Jake Ryan dari Sixteen Candles, dan simsalabim perkataan Jake Ryan pun muncul dalam benak, "I want a serious girlfriend, someone I can love."

Raka menempelkan telunjuk ke dahi Naes. "Gue jadi heran, apa sih yang ada di dalam sini?"

"Oh, nggak ada apa-apa!" timpal gua, sambil spontan menarik kepala ke belakang. "Maksud gua, lagi mikir, mau kemana lagi kita malam ini?" kembali cepat-cepat menyesap cappucino.

Mata Raka berputar dan menyilangkan kedua tangan, "Lo kan udah wara-wiri ke dunia gue, gimana sekarang kita melanglang buana ke dunia lo?" memicingkan mata ke Naes.

Buset, gua mau rekomendasiin tempat macam apa ke anak pewaris Cimory? Lagian anak macam gua biasa nongkrong dimana selain di rumah? Tiba-tiba teringat tempat kesukaan si kembar. "Gimana kalau pasar malam?"

Kedua mata Raka terlihat penuh antusias. "Menarik," timpalnya, sambil menganggukan kepala.

Seketika gua merasa bodoh, bisa-bisanya rekomendasiin pasar malam sama orang yang biasa party di Senopati. Beneran nggak ada tempat lain yang kepikiran. "Tapi, Ka, kalau nggak sesuai sama selera lo, mohon maap lahir dan batin, yah," pinta gua.

Raka mencondongkan tubuhnya. "Gue belum pernah ke pasar malam, bentukan kaya gimana aja nggak tahu," tegasnya.

Dahi gua pun berkerut. "Beneran lo nggak pernah ke pasar malam?"

Raka menyesap cappucino, sambil mengacungkan dua jari. "Suerrr," serunya, lalu menaruh cup di meja. "Bukan masalah tempatnya dimana, tapi sama siapa yang utama."

"Lo bener-bener tahu yah, gimana caranya ngambil hati orang," puji gua. Raka langsung terlihat congak, ia tahu betul bagaimana mengubah suasana hati orang lain. Gua tadinya penuh kekesalan dan sakit hati, kini menjadi penuh optimisme. Berharap malam ini tak pernah berakhir bersama sang pangeran, menikmati setiap lengkungan senyum di bibir yang kerap memuntahkan kata-kata manis yang begitu bersemangat.

Dengan sisa setengah cappucino di cup masing-masing, kita cuma saling tatap-tatapan. Buat gua, cappucino ini jadi kemanisan, seiring dengan nyeruput sambil menikmati senyum indah dari bibir sang pangeran. Tanpa sadar, semua terekam gawai Raka yang sedari tadi lupa untuk mematikan video recording.


Other Stories
Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

Testing

testing ...

Autumn's Journey

Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...

Awan Favorit Mamah

Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...

Perpustakaan Berdarah

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Download Titik & Koma