Prince Reckless Dan Miss Invisible

Reads
3.5K
Votes
1
Parts
22
Vote
Report
prince reckless dan miss invisible
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Penulis Wali_writing_on_the_wall

Bab 12 : Di Trotoar Pinggir Jalan Senopati

"Naes, tunggu!"

Langkah gua berhenti dan menoleh pada Raka yang sedari tadi mengikuti. "Mending lo balik aja sana," menunjuk jauh ke belakang. "Party sama teman-teman lo yang selevel, daripada sama cewek melarat kaya gua," lalu kembali berjalan.

Raka menurunkan standar vespa. "Lo nggak bisa jalan jauh pake heels itu, nanti rusak."

Sekali langkah gua terhenti, menatap sepasang pink heels pinjaman dari Mami Raka. Gua langsung teringat semua yang melekat malam ini adalah barang pinjaman termahal yang pernah ada dalam hidup. Belum lagi tas dan seragam gua juga masih ada di rumah Raka. Tanpa pilihan, gua berpaling dan mendekati sang pangeran. "Anter balik ke rumah lo, gua balikin ini semua sama ambil tas."

Raka menaruh lengan kanan di atas speedometer. "Ceritain apa yang terjadi di Nara, Nes," melihat Naes diam dan berwajah masam. "Gue ngerasa bertanggung jawab karena udah bawa lo ke sana, gua nggak mau lo pulang dengan keadaan cemberut begini."

Gua langsung terduduk di pinggir trotoar, dan Raka pun turun dari vespa untuk duduk di samping. "Mereka nggak suka sama gua karena Naes cuma cewek miskin yang dibawa Pangeran Rakanda ke party Cintia Salim," dengan pandangan lurus ke depan, menatap setiap mobil yang lalu-lalang.

"Ohhh, Cintia and the gank," ujar Raka, sembari menopang tubuhnya dengan kedua tangan ke belakang dan kaki diluruskan. "Mereka bilang itu sama lo di Nara?"

Gua mengangguk. "Iya, tapi nggak secara langsung," lalu mendesah dan mengalihkan pandangan ke Raka. "Ka, jawab jujur, kenapa sih lo bawa gua ke rumah dan ngajak joged?"

Raka mengedipkan mata kiri, sambil tersenyum. "Gue mau lo inget sama hari ini, lo harus inget pernah jalan sama gue."

"Gua tetap nggak ngerti Ka! Kenapa lo lebih milih gua ketimbang Cintia Salim?"

"Naeswari Anindyaswari!" ucap Raka dengan lantang. "Gue nggak pernah tahu kalau lo anak kelas dua belas, bahkan kalau tugas sosialisasi ini nggak ada, gue nggak bakalan pernah kenal sama lo," memiringkan tubuh, sambil merapikan rambut. "Lo satu-satunya anak yang nggak pernah ketemu sama gue, otomatis lo nggak punya kenangan tentang gue. Semua anak SMA Persahabatan kenal Pangeran Rakanda, mereka ingat gue karena banyak hal, tapi lo sama sekali nggak punya memori tentang gue, bukan?"

Gua melipat kaki dengan kedua tangan demi posisi duduk yang jauh lebih nyaman. "Masuk akal sih Ka, tapi kenapa lo ngerasa semua orang harus punya kenangan tentang diri lo?"

"Ahhhhh," desah Raka, sambil meregangkan tubuh. "Mereka bilang masa remaja adalah masa-masa yang nggak bakalan terulang dan harus diisi sama hal-hal hebat dan memorable."

Sebelah alis gua terangkat mendengarnya. "Secara casing aja lo udah memorable Ka, nggak perlu kudu effort seperti ini."

"Nes, gue nggak mau lo inget gue sebagai tipikal cowok populer. Tajir dan ganteng aja!" sambil memberikan senyum tengil yang menyebalkan. "Lo harus inget gue sebagai cowok ganteng yang baik hati, lucu, dan nggak sombong."

Gua langsung menghela napas. "Apa bedanya sih?" tanpa sadar, sebuah senyum tipis hadir di sudut bibir. "Pasti menyenangkan jadi mereka, cantik, kaya, dan terkenal.\"

Raka menutup mulutnya dengan tangan untuk menyembunyikan tawa, lalu mengambil napas sebentar. "Lo harus tahu kalau Cintia itu oplas! Aslinya dia tuh nggak secantik itu, masih cantikan lo kemana-mana, Nes."

Kedua mata gua membelalak. "Serius?"

Raka mengangguk. "Cowok-cowok pernah nemu foto dia waktu kelas sembilan, dan lo juga harus tahu kalau Cintia aslinya nggak lulus tes masuk. Tapi Bokapnya langsung turun tangan jadi donatur."

Gua pun tertawa, membayangkan wajah asli Cintia yang kata Raka masih jauh di bawah gua. "Ternyata masih ada yang bisa dibanggakan dari gua, yah."

"Nes, biar gue kasih tahu lo satu hal," ujar Raka dengan nada serius. "Orang yang suka ngerendahin orang lain, biasanya lebih rendah dari yang direndahin. Orang yang suka ngejelek-jelekin orang lain, aslinya jauh lebih jelek. Itu udah coping mechanism mereka, demi bertahan di society."

"Coping mechanism?" ulang gua.

"Iya, demi bertahan di lingkungan sosial sebagai makhluk paling paripurna, harus menjatuhkan orang-orang di sekitar," mata Raka menatap tanpa berkedip. "Beda sama lo, Nes, nggak perlu melakukan hal hina kaya begitu. Lo udah stand out."

Bola mata gua langsung berputar. "Saking stand outnya sampai orang-orang nggak tahu nama gua."

Raka mendekatkan tubuhnya sampai bahunya menempel di bahu Naes. "Naeswari Anindyaswari, Naeswari Anindyaswari, Naeswari Anindyaswari," ucap Raka berulang-ulang ke telinga Naes. "Itu nama yang nyeni banget, orang bakalan sulit lupa pas udah denger."

Gua nggak ngerti kenapa setiap kali Raka sebutin nama panjang, pasti ada sesuatu yang bergerak-gerak di dalam perut. Gua seolah kegirangan kaya anak kecil yang dikasih mainan. "Apalagi Pangeran Rakanda, siapa yang bisa lupa sama orang yang nama depannya Pangeran?"

Raka menahan senyum, lalu menghela napas. "Bokap dikenal sebagai raja susu, makanya gue dikasih nama Pangeran."

"Jadi lo beneran anak pewaris Cimory, yah?"

Raka menatap dengan sebelah alis naik. "Yah, mau gimana lagi?" tegasnya.

"Lo sungguh beruntung lahir dengan semua ini," gua menunjuk Raka dari ujung kaki sampai ujung rambut.

Raka mengambil telunjuk Naes dan menurunkannya. "Setiap orang lahir dengan kelebihan dan kekurangannya, Nes, cuma seringnya lebih fokus sama kekurangan," lalu membalikan telunjuk Naes ke pemiliknya. "Lo punya banyak waktu buat wujudin apapun yang lo mau, dan di situlah lo harus fokus!"

Gua menarik telunjuk yang Raka arahkan ke dada. "Gua udah punya rencana buat dapetin jatah ikutan program bibit unggul berprestasi, cuma masalahnya Naeswari Anindyaswari bukan siswi favorit guru-guru. Yang gua takutin adalah nggak dapet jatah karena guru-guru lebih memprioritaskan murid favorit mereka," menatap Raka, sambil menghembuskan napas dengan berat. "Asal lo tahu, kalau murid yang tergolong nggak mampu itu nggak sedikit loh di sekolah kita."

Raka mengusap dagunya. "Kenapa nggak lo deketin aja salah satu guru?"

Dengan pasrah gua membalas, "Udah kok, semua tugas dan ujian dari guru-guru selalu dapet nilai A, dan itu harusnya cukup buat bikin gua dekat di hati mereka, bukan?"

"Maksud gue secara personal, Nes, misalkan lo datang ke ruang guru buat ngobrol," jelas Raka, sambil menggaruk belakang kepala.

"Gua sering nggak dianggap sama orang lain, apalagi minta ngobrol langsung," sambil mengangkat kedua bahu, gua. Entah bagian mana yang lucu sampai bisa membuat Raka tertawa, bahkan ia sampai bangkit dan memegang perutnya.

"Mending kita ngobrolnya sambil ngopi aja," menunjuk sebuah minimarket di depan yang mempunyai kedai kopi Point. "Daripada duduk di trotoar begini jadi tontonan yang lewat."


Other Stories
Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...

Kuraih Mimpiku

Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...

Reuni

Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...

Boneka Sempurna

Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...

Dua Bintang

Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...

Download Titik & Koma