Bab 11 : Faktanya Realitas Memang Menyakitkan
Bagaimana bertahan di dalam kandang harimau? Cukup dengan duduk cantik dan berharap nggak kelihatan. Untuk pertama kali dalam hidup gua, nggak kelihatan adalah sebuah berkah. Cewek-cewek ningrat sedang sibuk ngobrolin cowok-cowok yang datang malam ini. Mereka saling bertukar informasi sebelum turun dan menerkam, sementara ratu kandang harimau sibuk mendekati Raka. Nampaknya, hoax yang gua sebar malam ini memberinya antusiasme berlebihan.
Nggak tahu harus ngapain? Gua mengeluarkan gawai dan mulai merekam Raka yang tengah didekati Cintia, beberapa kali sang pangeran terlihat menghindari ratu kandang harimau dengan sok sibuk bersama cowok-cowok lain. Gua butuh merekam ini buat video tugas sosialisasi, insert bagaimana kehidupan anak-anak kalangan ningrat di sekolah.
Tiba-tiba Raka berlari menuju meja. "Nes, turun sama gue," kepalanya memberikan isyarat untuk ke tengah.
Mata gua melotot ke arah anak-anak yang lagi asik bergoyang. "Ka, gua nggak bisa joget."
Kedua alis Raka terangkat. "Manusia mana yang nggak bisa ngedance denger musik kaya begini?" lalu menarik tangan Naes, memaksanya ke tengah. "Ikutin aja musiknya."
Gua menelan ludah, sambil berusaha mensinkronkan gerakan tubuh dengan hentakkan musik. Yakin banget kalau sebenarnya gua kelihatan aneh banget, kedua tangan berputar di depan dan dengan bahu naik turun adalah jalan ninja gua biar kelihatan lagi asik. Sementara sang pangeran berjoged dengan luwes, sambil menertawakan gua, nggak ada angin sama badai tiba-tiba Raka mendekat. Gua langsung menahan dengan kedua tangan, agar tubuh Raka nggak nempel.
Raka mendekatkan kepala ke telinga Naes. "Gimana party ini?"
Gua menggelengkan kepala. "Nggak dah, ini bukan buat anak kaya gua," dengan lantang demi melawan hentakkan musik.
"Gue bilang juga apa? Mending kita diem di rumah bukan?"
Gua langsung mencibik. "Dih, itu juga nggak banget dah," Raka langsung tertawa lepas mendengarnya. "Beneran gua nggak ngerti buat apa sih semua anak-anak datang ke sini?"
"Sini," menarik Naes ke pinggiran, lalu menunjuk ke tengah ruangan. \"Semua yang datang ke sini bukan cuma populer tapi, mereka juga anak dari orang penting," melihat kerutan di dahi Naes menumpuk. "Lo pikir circle Cintia isinya siapa?"
"Anak orang kaya dan penting?"
Jemari Raka membentuk pistol, sambil mengedipkan mata. "Bingo!" ujarnya dengan bangga, kemudian beralih menunjuk pada seorang cowok dengan berkemeja biru. "Anak dirut Pertamina," lalu beralih menunjuk ke seorang cewek yang memakai dress hijau. "Lagi kenalan sama anak pemilik brand skincare terbesar di Indo." Keduanya terlihat tengah asik ngobrol.
Seketika gua sadar semua yang ada di party ini, circle anak-anak tajir Jakarta. Jadi ini alasan kenapa orang-orang kaya selalu berakhir dengan sesama orang kaya. "Pantesan gua ngerasa nggak cocok di sini."
"Lo mau cabut dari sini?"
Gua langsung mengangguk. "Tapi, gua ke toilet dulu."
"Ok, gue tunggu di parkiran aja."
----
Gua yang kebelet pipis langsung diam sesaat melihat toilet Nara Lounge. Mungkin karena kamar mandi di rumah yang miris banget, sampai-sampai lihat toilet estetik begini aja kaget. Akhirnya, memutuskan buat milih bilik paling pojok. Belum juga urusan kantung kemih selesai, terdengar suara cewek-cewek.
"Stef, lo lihat nggak sih Raka tadi dance sama Anita?"
"Cin, semua orang lihat dia di tengah sama Anas."
Cintia membanting pounch ke wastafel. "Bisa-bisanya Raka suka sama cewek kaya begitu?"
Stephanie menyentuh bahu Cintia untuk menenangkannya. "Mereka cuma partner tugas bodoh sosialisasi."
Mendengar hal itu, gua langsung mikir seru juga nih kalau bisa masukin rekaman gimana pendapat anak-anak lain tentang tugas sosialisasi ini. Jadi gua langsung mengeluarkan gawai, mulai merekam video dan, lewat celah bawah bilik toilet, menaruhnya di lantai menghadap tepat ke arah wastafel.
Cintia berbalik dengan wajah marah. "Serius! Pertama dibawa pulang ke rumah, terus mereka dance bareng! Gue udah deketin Raka selama dua tahun, nggak pernah diajak ke rumah! Dua tahun setiap ada party, Raka nggak pernah samsek narik gue buat dance bareng," geramnya membuat cewek-cewek yang lain salah tingkah.
"Tenang Cin," saran Adriana. "Baru inget kalau itu cewek sekelas sama gue dan si Anis ini, pernah ditunjuk dalam kelas sama guru sebagai siswi penerima BSB."
Kedua alis Cintia hampir menyatu. "WTF is BSB?"
"Bantuan siswa berprestasi!" jawab Adriana. "Dengan kata lain, siswa kekurangan atau miskin."
"Jadi si Anas, jelas bukan saingan lo."
Cintia mendekat dan menempelkan telunjuk di dada Stephanie. "Bener juga kata lo," lalu mengambil pouchnya yang tadi dibanting ke wastafel. "Mana mungkin pewaris kerajaan Cimory mau sama gembel nggak jelas," spontan semua cewek ningrat yang mendengar langsung menganggukkan kepala.
Sebelum semuanya serempak pergi meninggalkan toilet, cewek-cewek ningrat sibuk memuji ratu mereka, membandingkan tulang pipi, bahu, dan kulit sang ratu yang terlihat lebih baik ketimbang si cewek miskin.
Menyadari realita nggak akan pernah bisa dianggap sama anak-anak ningrat, emang bikin sakit hati. Selama ini gua memang bodoh! Mikir kalau anak-anak seperti Cintia dan lainnya bakalan ramah dan cuma nggak kenal aja sama gua. Tapi, yang bikin sakit hati adalah, ketika mereka merendahkan gua dan yang bisa dilakukan cuma diam di balik bilik toilet. Realitas itu benar-benar menyakitkan! Dan, sebelum gua meratapi diri sendiri lebih jauh, gawai yang gua taruh di lantai berbunyi. Raka rupanya mengirim pesan WhatsApp, sudah lumayan kesal menunggu di parkiran.
----
"Lama banget princess?"
"Namanya juga cewek," balas gua dengan malas. "Gua mau pulang aja."
Raka sedikit kaget. "Pulang? Buat apa?" lalu memegang bahu Naes yang terlihat lunglai. "Malam masih panjang untuk anak muda seperti kita."
Gua mengernyitkan dahi. "Sebelah mana dari kata-kata gua yang lo nggak ngerti?"
"Sebutin aja lo mau kemana dan kita langsung cabut dari sini," jempolnya menunjuk ke belakang, dimana vespanya berada.
"Orang seperti lo mau menghabiskan seharian sama gua?" tanpa sadar memberikan Raka sebuah senyuman sinis. "Yang bener aja!" gua pun langsung berbalik dan pergi meninggalkan sang pangeran.
Berjalan dengan cepat tanpa. sekalipun mengidnahklan panggilan Raka. Terus saja menyuri trotoar, pokoknya harus pergi jauh dari situ. Sedih dan kesal campur jadi satu, buat apa berada di tempat dimana semua orang nggak suka sama gua!
Other Stories
Kelabu
Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )
(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...
Kuntilanak Gaul
Rasa cemburu membuat Lydia benci kepada Reisha. Dia tidak bisa terima saat Edward, cowok y ...