Bab 10 : Emang Gua Spesial?
Menatap bangunan yang sekilas terlihat bergaya eropa, dengan enam jendela berkaca mozaik. "Nara lounge," melafalkan deretan huruf melengkung seperti pelangi terpampang di atas pintu masuk. Raka menarik lengan gua untuk masuk ke dalam, "Ini restauran?" melihat deretan kursi kayu dengan meja hijau tosca.
"Nggak semua terlihat sebagaimana mestinya," jawab Raka, sambil menuntun melewati seorang perempuan yang berjaga di sebuah front desk. "Naes, gue persembahkan Cintia Salim party," mendorong pintu berbentuk seperti gerbang, dan suara hentakkan musik mulai terdengar.
Ini jauh berbeda dari apa yang gua bayangkan, ini jelas bukan party yang didatangi oleh Samantha Baker di rumah Jake Ryan. Nggak ada anak-anak urakan yang membuat keributan di dalam ruang tamu, menumpahkan minuman ke sofa, atau melempar gulungan tisu toilet di depan rumah. Nara lounge berisikan anak-anak yang nggak bisa gua kenali, dan mereka semua terlihat seperti sedang berada di karpet merah festival film Cannes. "Ka, ini anak-anak dari mana?"
"Yah, anak-anak dari berbagai penjuru Jakarta."
Gua melirik. "Maksudnya bukan party anak Persahabatan?"
Raka balas melirik. "Nes, ini party Cintia Salim. Lo pikir dia cuma punya temen di sekolah aja?"
Gua takjub, bagaimana seorang Cintia bisa punya teman di seluruh penjuru Jakarta? Apakah menjadi cantik dan kaya syarat mutlak untuk bisa berteman dengan siapapun? Seperti halnya Raka yang sekarang sibuk bersalaman dengan orang-orang, yang tengah menyapanya. Gua mendekat dan berbisik. "Lo kenal sama mereka?"
"Temen nongkrong getuh dah," lalu berpaling pada seseorang yang mendatangi untuk memberikan fist bump. "Tuh anak-anak," menunjuk pada sekelompok anak-anak ningrat smu Persahabatan yang tengah berada di sebuah meja.
"Rakanda, glad you came!" memberikan pelukan, lalu melirik dengan tajam. "Ini siapa Ka?"
"Broo, baru nih," Joshua menambahkan, dan beberapa anak cowok langsung ikut nimbrung.
"Cintia, ini Naes loh!" tegas Raka.
"Kenalin Cintia and welcome to my party," memberikan tangannya untuk bersalaman. "Lo dari sekolah mana?" pertanyaan yang membuat Raka memalingkan wajahnya, berusaha agar tawanya nggak terlihat.
"Sama kaya lo Cin," jawab gua ketus, dan membuat Cintia kebingungan. "Kita baru aja tadi siang kenalan di lapangan."
Cintia menarik lengannya dan spontan berkata, "Freak partner tugas sosialisasi?" lalu menepuk keningnya. "Sorry, maksudnya kok bisa?"
Dengan sebelah alis terangkat gua menjawab, "Mami Raka dandanin gua."
Cintia terlihat syok. "Lo ke rumah Raka dan ketemu sama Nyokapnya?" lalu melihat teman-temannya dan berbisik sesuatu.
Stephanie maju untuk menodong Raka. "Beneran lo ajak dia ke rumah?"
Raka mengangguk. "Iya," lalu mempertegas. "Kita ada tugas sosialisasi, harus saling kenal bukan?"
Stephanie dan Cintia kembali saling lirik, melempar ekpresi 'ya sudahlah' lalu kembali menatap Naes. "Baiklah Naes, welcome to my party," mempersilahkan Naes dan Raka untuk duduk di table khusus anak Persahabatan. "Btw, nice dress," puji Cintia.
"Oh, ini punya Maminya Raka," kata gua, sambil melihat ke Raka. "Lo semua harus lihat kamar Mami Raka yang isinya display dress branded, kaya punya store pribadi sendiri."
"Serius?" timpal Cintia, lalu melempar tatapan tajam pada Raka. "Lain kali, ajakin gue juga dong Ka."
"Iya, nanti Cintia," balas Raka, sambil mengambil gelas dan menyesap isinya. "Ngomong-ngomong, siapa nih Dj guestnya?"
Cintia menunjuk ke arah meja disc jockey. "Gue hire Dipha Ka," lalu tersenyum dengan bangga.
Raka melihat ke arah meja disc jockey. "Lo emang yang terbaik Cin," kemudian bangkit bersama cowok-cowok. "Nes, gue sama anak-anak mau kenalan sama Dipha dulu."
Gua mengangguk dan melihat Raka bersama cowok-cowok lain menuju meja DJ. Tiba-tiba suasana menjadi mencekam saat gua sadar semua pasang mata menatap tajam. Semua cewek-cewek ningrat di meja ini, seperti siap melempar bilah pisau. "Hemmm, ada apa yah?"
Adriana mencondongkan tubuh dari seberang meja. "Lo ngapain aja di rumah Rakanda?"
"Cuma ke kamarnya, terus kita duduk di kasur main tebak-tebakkan awan lewat jendela di atap," jawab gua, sambil menghitung dengan jari. "Terus sisanya sama Mami Raka buat make over," mengacungkan dua jari pada cewek-cewek ningrat, dan mereka semua langsung berpaling pada Cintia. Otomatis gua pun melihat ke Cintia yang kali ini terlihat jauh lebih syok, sampai-sampai dia mengambil gelas dan menenggak habis isinya.
"Lo tidur di kasur Raka berdua?"
Gua langsung sadar seharusnya nggak bilang tentang main tebak-tebakkan awan di kamar Raka. Bukan cuma dari nada bicara yang tergagap-gagap, raut wajah Cintia pun campuran antara sedih dan kesal. "Memangnya lo semua nggak pernah ke rumah Raka apa?"
Cintia menghela napas, sambil menutup matanya, seolah perkataan Naes begitu menyakitkan. "Raka nggak pernah ngundang siapapun ke rumahnya, apalagi ngenalin cewek ke Nyokapnya."
Gua langsung menoleh ke arah meja DJ, dimana Sang Pangeran bersama cowok-cowok ningrat, tengah berselfie dengan Dj Dipha. Jadi gua adalah cewek pertama yang dibawa pulang dan dikenalkan? "Ini kan cuma buat tugas sosialisasi," sebenarnya gua juga sedang berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa semua ini nggak ada yang spesial.
"Anas atau siapapun nama lo, kita semua sudah bareng Raka dari kelas sebelas," jelas Stephanie dengan suara nyaring. "Dia paling anti kalau kita semua, sekalipun cowok-cowok, mau main ke rumah," semua cewek ningrat langsung menganggukkan kepala, sementara Cintia malah terlihat geram.
"Why are you so fucking special Nes?"
Mulut gua langsung terbuka begitu mendengarnya, Cintia ratu smu Persahabatan baru saja menabuh genderang perang sama gua! Gimana sampai seorang Cintia jadi cemburu sama manusia macam gua yang bahkan orang-orang nggak bisa ingat nama Naes? Tiba-tiba otak gua yang minus perihal drama remaja dapat pencerahan, Cintia suka sama Raka! Pandangan gua langsung mengitari cewek-cewek ningrat di meja ini dan berakhir di sang ratu. Nggak pernah gua setakut ini! Dikerumuni cewek-cewek yang ingin mencabik-cabik gua, bikin bingung dan lebih bingung lagi karena bisa-bisanya gua dianggap ngerebut cowok idaman ratu mereka. "Raka banyak cerita tentang lo," gua berharap ini bisa meredam suasana mencekam.
Cintia bersedekap. "Oh ya? Raka cerita apa tentang gue?"
Sambil mengelus dada gua menjawab, "Dia bilang lo adalah cewek yang punya banyak temen se-Jakarta, semua orang suka sama lo," lalu memberikan senyum palsu. "Raka juga maksa gua buat datang ke sini, party Cintia Salim adalah hal yang nggak boleh terlewatkan," padahal gua yang maksa buat ke sini, tahu begini mending main tebak-tebakkan awan aja di kamar Raka.
"Ok, ada lagi?"
"Raka juga mention kalau lo sexy!" seketika suasana mencekam berubah menjadi riuh, semua cewek-cewek langsung melihat Cintia dengan senyum di wajah mereka.
Stephanie langsung beranjak ke samping Cintia. "Kan bener, apa gue bilang!"
Cintia merona dan merapikan rambutnya yang terselip di telinga. "Gue tahu kok, udah felling aja," lalu menatap cewek yang statusnya baru saja diturunkan dari saingan. "Kalau Raka cerita lagi tentang gue, jangan lupa lo harus laporan sama gue."
Gua langsung memberikan hormat. "Siap!" lega rasanya tahu gua bukan lagi ancaman bagi ratu sma Persahabatan, melainkan sudah menjadi salah satu dari kacungnya.
Sumpah nggak nyangka masuk ke dalam kandang harimau, untung gua pinter jadi nggak kena terkam.
Other Stories
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Cinta Buta
Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...
Romance Reloaded
Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...