Bab 9 : Pretty In Pink
Mami menaruh kedua tangannya di dada. "Kamu bakalan bersinar Naes!" bergegas menghampiri dan langsung memeluk. "Sekarang tinggal satu langkah lagi," memberikan petunjuk untuk menunggu dan langsung menghampiri sebuah laci kaca yang berisikan sepatu. Mami memilih sebuah sepatu pink dengan heels rendah, "Pegang ini," sambil memberikan sepatu itu, kemudian menarik lengan sahabat anaknya menuju meja rias. "Simple, seperti Andie Walsh."
Gua pun mengangguk dengan pelan, lalu menaruh sepatu pink di meja rias dan membiarkan Mami Raka mulai memake over. Selama ini gua kira nggak ada yang bisa diperbuat dengan rambut pendek sebahu, namun Mami Raka dengan tangan ajaibnya mengubah itu semua.
"Pertama-tama Mami mau bikin rockstar shag," dengan cekatan menyasak untuk mengurai kusut. "Rambut kamu itu tebal banget Nes," sambil terus menyasak bagian belakang. "Tinggal di prem nih," lalu mengambil sebuah digital prem blow, memasukan ujung rambut ke dalam alat tersebut dan menset selama beberapa menit. "Sempurna!" lalu membuka laci dan mengeluarkan beberapa peralatan make up. "Remaja seperti kamu cuma perlu dua ini," menunjukkan blush on dan lip tint, lalu memulas blush on tipis-tipis, begitu pula lip tint. "Naes, sekarang kamu secantik Andie Walsh."
Mata gua sampai nggak berkedip menatap diri sendiri, selama ini kemana Naeswari Anindyaswari versi ini? "Makasih banyak Mami Raka," berdiri untuk memeluk. "Coba aku punya Ibu seperti Mami Raka."
"Hush, jangan begitu!" hardik Mami, sambil menyentil hidung Naes. "Mami sendiri dari dulu pengen banget punya anak perempuan, biar bisa didandani seperti ini," lalu merapikan pink dress dan memberikan tatapan bangga. "Nes, kamu janji yah sama Mami, kalau nanti kenapa-kenapa sama Raka, kamu cepatan telepon Mami."
Tadinya gua pikir orang tua Raka sama sekali nggak punya beban anaknya pergi party, ternyata mereka sama saja dengan orang tua lainnya. "Siap Mami," lalu bertukar nomor dengan Mami Raka.
----
"Raka!" panggil Mami, sambil keluar kamar. "Gimana?" dengan kedua tangan mempersembahkan.
Raka membeku saat melihat Naes dalam balutan pink dress dengan rambut shag perm. "Naes?"
"Memang lo ngarep siapa? Cintia? Stephanie, atau Adriana?" sambil bertolak pinggang, membuat Raka tersenyum dan mengeluarkan gawainya. Gua pun berputar dan memberikan pose terbaik. "Naeswari Anindyaswari ready to party," dengan kepala miring, menatap Raka heran. "Lo sendiri nggak ganti baju?"
Raka menurunkan gawainya dan melihat seragam yang masih dikenakan. "Tunggu," jawabnya, lalu bergegas ke kamarnya.
Papih Raka melihat anaknya naik ke kamar, lalu menatap Mami. "Mami sudah kasih tahu Naes?"
Mami mengangguk. "Mamih udah kasih tahu dan udah tukeran nomor juga."
"Nes, nanti kalau kamu lihat ada yang aneh sama Raka, misalkan dia tiba-tiba kecapean, bahkan mual, tolong kamu langsung telepon Mami."
Gua langsung merasa ada yang nggak beres, terlebih raut wajah Mamih dan Papih Raka yang super duper cool berubah menjadi serius. "Siap Om," jawab gua sigap. "Memangnya Raka lagi sakit?"
"Nggak kok Nes," potong Mami. "Raka cuma gampangan aja masuk angin, terus ujungnya pusing-pusing getuh," lalu melempar tatapan pada Papih.
"Maklum, Raka kan kurus makanya, gampang banget masuk angin," tambah Papih.
Semua perhatian teralihkan ketika terdengar, "Pangeran lo telah datang," ujar Raka, sambil turun.
Tanpa pikir panjang gua langsung merekam dengan gawai, Raka menuruni tangga dengan celana formal hitam semata kaki dan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, dia juga menggunakan pomade.
Raka mengulurkan tangan. "Mari tuan puteri."
Gua berhenti merekam dan menurunkan gawai, memberikan tangan kanan. "Terima kasih pangeran," lalu berjalan ke luar, sembari menundukkan kepala meminta izin pergi pada Mamih dan Papih Raka.
----
Rok pink dress menutupi grill Vespa, membuat gua nggak punya pilihan selain melingkarkan lengan untuk memeluk tubuh Raka. Benar kata Papihnya, tubuh Raka kurus, bahkan beberapa tulang rusuknya terasa saat memeluk. Bau parfumnya membuat gua teramat nyaman, sampai merebahkan kepala di punggung Raka. Perlahan detak jantung meningkat, mengangkat sebuah perasaan. Sebuah perasaan aneh yang sulit dikenali, secara perlahan mulai menguasai. Rasanya gua mulai jatuh hati dengan sang pangeran.
Raka mengeluarkan gawainya ketika berada di lampu merah simpang-senopati, mengangkatnya tinggi. "Kita lagi mau ke party Cintia guys," membuat beberapa pengendara motor melirik dan takjub dengan apa yang mereka lihat. Sepasang remaja di atas vespa dalam balutan kemeja formal dan pink dress.
Cepat-cepat gua melepaskan pelukkan dan memberikan pose V, sembari berharap pelukkan tadi nggak masuk ke dalam rekaman. Dengan gugup melihat sekeliling, mendapati orang-orang tengah menatap. Saking terbiasa nggak terlihat, sekalinya ditatap orang langsung merasa nggak nyaman. "Duh, lama banget sih ini lampu merah," gumam gua yang ingin cepat-cepat pergi dari simpang-senopati.
"Sabar, bentar lagi sampai kok," jelas Raka, kemudian berteriak pada pengendara motor di sampingnya. "Bang, boleh minta fotoin?" seraya menodongkan gawainya. Pengendara tersebut mengiyakan dan memberikan ancang-ancangnya sebelum mengambil foto, mengecek sebentar hasilnya, lalu memberikan kembali gawai Raka. "Makasih banyak Bang," tukasnya.
Lampu hijau menyala dan kami pun pergi dari simpang-senopati, gua berusaha menjaga keseimbangan karena nggak mau lagi memeluk tubuh Raka. Namun, sang pangeran malah menarik lengan kiri gua dan mengarahkannya ke perut.
"Udah peluk aja sih, daripada lo kaya robot gituh."
"Nggak apa-apa kok, gini juga nyaman," padahal gua pura-pura aja, biar nggak salah tingkah.
Raka meminggirkan vespa, ia berbalik dan tersenyum. "Kenapa lo berubah pikiran setelah tadi menikmati banget meluk gue?"
Rasanya gua pengen turun dari vespa dan lari entah kemana daripada menjawab itu. "Gua cuma ngerasa salah aja."
Dahi Raka berkerut. "Gue bukan properti siapapun, jadi nggak usah ngerasa bersalah. Gue bebas buat dipeluk sama siapapun," lalu mengambil tangan lengan kanan Naes dan menaruhnya di perut.
"Kenapa cowok seperti lo masih jomblo?"
Sebelah alis Raka terangkat. "Serius Nes, lo mau tanya itu?"
Karena gua penasaran banget setelah mendengar sang pangeran di depan mata available dan bebas buat dipeluk. "Lo sendiri bukan yang bilang kalau kita harus saling mengenal?"
Lagi Raka melempar senyum, kali ini sebuah senyum tipis muncul di penghujung bibir. "Pacaran bukan fokus gue sekarang."
"Itu terlalu klise buat seseorang yang nggak perlu mengkhawatirkan masa depannya," timpal gua dengan nada nggak percaya.
"Nes, ada banyak yang jadi fokus gue," kata Raka gamblang. "Gue pengen ngelakuin hal-hal luar biasa dan hebat, hal-hal yang bisa dikenang sama orang lain sepanjang hidupnya."
Gua langsung sedikit lesu mendengarnya. "Pasti asik banget bisa fokus untuk itu dari pada mikirin masa depan," setiap kali Raka berterus terang mengenai hidupnya, pasti gua merasa kurang lebih sedikit sedih. "Gimana sih rasanya hidup nggak ada beban?"
Mata Raka langsung menatap ke bawah selama beberapa detik, sebelum kembali menatap. "Kalau masa depan adalah beban, harusnya lo bersyukur. Karena setidaknya lo punya masa depan, sementara gue sama sekali nggak!"
Gua pun langsung mengacungkan telunjuk. "Tunggu, biar gua tebak, pasti Papih lo udah tentuin universitas dan jurusan."
Raka terlihat datar untuk beberapa detik, sebelum kembali tersenyum. "Mending kita cepet-cepet ke party Cintia," kemudian memastikan kedua tangan Naes sudah melingkari perutnya, sebelum memutar gas dan pergi dari pinggiran jalan.
Other Stories
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...
Broken Wings
Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...
Pintu Dunia Lain
Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...
Just Open Your Heart
Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...