Prince Reckless Dan Miss Invisible

Reads
3.5K
Votes
1
Parts
22
Vote
Report
prince reckless dan miss invisible
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Penulis Wali_writing_on_the_wall

Bab 8 : The Pink Dress

"Itu Oro Jackson."

Mata gua mencari-cari awan mana yang bentuknya mirip kapal One Piece. "Oh itu," ketika menemukan sebuah awan dengan bagian bawah melengkung dan bagian depan mirip kepala kambing. "Itu Kiki Delivery Service."

Mata Raka memicing pada awan di tengah. "Nggak mirip ah, kejauhan," protesnya.

"Yang atas pita, terus yang tengah panjang itu sapunya," sembari menuntun pandangan Raka dengan jari. "Nggak semua harus miripkan, Oro Jackson aja cuma mirip bagian atas sama bawah."

Raka menganggukkan kepala dengan sebuah senyum tipis. "Lo mau kita seharian di sini main tebak-tebakkan awan?"

Sebuah pertanyaan yang menyadarkan kalau sekarang gua lagi di kasur bareng cowok, main tebak-tebakkan awan kaya orang pacaran. Otomatis gua langsung berdiri dan salah tingkah. "Ok, kita ngapain lagi? Oh iya, lo ada janji mau ke party Cintia."

Sang pangeran mengusap dagunya. "Yakin lo mau ke party Cintia? Gue sih nggak keberatan kita seharian di sini main tebak-tebakkan awan," dengan tangan kanan menunjuk ke atas.

Gua langsung menggelengkan kepala. "Nggak, gua lebih milih kita ke party Cintia. Lagi pula, bakalan bagus buat tugas," mengacungkan gawai.

Raka bangkit sambil melebarkan kedua tangannya. "Terserah tapi, kita nggak bisa ke sana pakai seragam," lalu berkacak pinggang dengan tatapan menelusuri dari bawah sampai atas. "Lo punya party dress?"

Dahi gua berkerut mendengar party dress. "Bukannya party Cintia di rumahnya? Masa pakai party dress?"

Raka bersedekap. "Nes, Cintia bilang di Nara, itu di Senopati," berjalan menuju meja komputer dan duduk. "Rumah dia memang di kawasan itu tapi, Bokapnya juga punya usaha di sekitaran situ," menyalakan laptop dan mensearch Nara lounge. "Yakin lo mau ke sini?"

Gua mendekat untuk mengamati berbagai gambar bar lounge. "Kenapa nggak," balas gua dengan ragu-ragu karena belum pernah sama sekali datang ke tempat seperti itu. Sebuah tempat yang sepintas mirip dengan tempat dugem tapi, memiliki lounge bar terpisah dengan atmosfer temaram lampu berwarna ungu. Gua pikir datang untuk bersenang-senang bakalan jauh lebih baik, ketimbang seharian berbaring di kasur menatap langit.

Raka sepintas memberikan wajah nggak yakin. "Baiklah kalau begitu, kita ketemu Mami dulu."

"Buat minta ijin mau ajeb-ajeb?"

Raka langsung melempar lirikan 'yang benar aja'. "Bukan Nes tapi, Mami kan satu-satunya perempuan di rumah ini," lalu mengajak turun menemui Maminya.

----

"Mi, Rakanya mau ke tempatnya Cintia nih," sambil memberikan kode untuk melihat ke arah tangga. "Ini Naes, nggak punya party dress, nggak mungkin juga kan party ke Senopati pake seragam."

Mami yang sedang mengupas jeruk di meja makan langsung berhenti. "Coba kamu muter," lalu matanya memicing dan dahinya berkerut. "Sepertinya Mami punya sesuatu yang cocok sama kamu," bergegas ke tangga dan menarik Naes masuk ke dalam kamar.

Gua takjub dengan keluarga Raka, bisa-bisanya dia bilang dengan mudah mau ke party sama temen cewek dan Ibunya nampak biasa? Apa orang-orang kaya memang seperti ini? Mami Raka narik gua ke dalam kamarnya yang jauh lebih menakjubkan. "Wow, ini beneran kamar Mami?"

"Iya, konsepnya memang satuin kamar sama walking closet,\" dengan bangga memamerkan display rak baju yang berjajar. "Style apa yang kamu suka?"

Gua mengetuk-ngetukkan telunjuk ke dahi. "Lebih ke 80's sih, gaya-gaya Molly Ringwald getuh," karena gua nggak punya referensi style selain dari film-film yang selama ini ditonton.

Kedua mata Mami membesar dan sebuah senyum mengembang lebar. "Sixteen Candles, Pretty In Pink, The Breakfast Club!" serunya, lalu berlari untuk memeluk. "Mami fans berat semua film-film Hughes."

"Loh, Mami tahu film John Hughes?" tanya gua nggak percaya, sambil berusaha melepaskan pelukan Mami yang terlalu erat.

Sebelah alis Mami terangkat. "Kamu pikir umur Mami berapa?"

Benar juga yah, itukan film tahun 80an pas Mami Raka masih remaja. "Aku suka yang simple tapi, eye catching dan Molly juga punya rambut pendek kaya aku," sambil memilin rambut di sekitar kuping kanan.

Mami nampak berpikir. "Hemmm, Samantha Baker, Claire Standish, atau Andie Walsh?"

Tanpa ragu aku menjawab, "God, it reminds me so much of your mom. She always wore pink. And she looked so beautiful in it."

Mendengar itu Mami nyaris terharu. "Mami juga paling suka sama Pretty In Pink," lalu mengibas-ngibaskan kedua tangannya ke wajah untuk menahan haru. "Mari kita cari pink dress!"

Gua selalu salut sama orang-orang yang suka fashion, mereka selalu punya taste terbaik di semua hal. Kamar Mami Raka bikin gua seakan-akan berada dalam sebuah butik, berderet rak display dengan baju-baju yang gua yakin sama sekali nggak murah. "Dior wool boucle 1960," melafalkan tag sebuah jaket denim berbalut wool.

"Nes, coba ke sini," panggil Mami Raka.

Berjalan menurut arah suara dan mendapati Maminya Raka dengan bangga mempersembahkan sebuah rak display. Gua memberikan raut tak percaya ketika, melihat sejumlah dress berwarna pastel tergantung. "Apakah ini?" menunjuk pada sebuah dress pink dengan label lace tulle short pink party dress.

Mami Raka mengangguk, lalu mengeluarkan lace tulle short pink party dress dan memberikan, dengan kepalanya mengisyaratkan untuk segera berganti di kamar mandi.

Gua ingat waktu pertama kali dapat gawai lungsuran waktu lebaran, perasaan itulah yang timbul saat menerima pink dress di tangan. Ini mungkin barang termahal yang bakalan gua pernah sentuh seumur hidup, melihat gelagat antusias Maminya Raka untuk gua mencoba. Akhirnya membawa pink dress ke dalam kamar mandi.

----

"Mimpi apa gua semalam sampai bisa pakai dress seperti ini," berkata pada diri sendiri di cermin. Membuka perlahan plastik yang membalut dress, gua nggak pernah nyangka kalau bahan lace bisa selembut ini. Mempaskan dress di tubuh sambil melihat di cermin, "Berlebihan nggak yah ini?" sebuah keraguan timbul sambil, mengira-ngira anak-anak lain dressnya seperti apa? Tapi, kalau ingat ini adalah party Cintia, anak yang setiap hari datang dengan H-RV dan punya gawai paling mahal di sekolah. Rasa-rasanya pink dress ini justru pas banget buat datang ke party Cintia.

Teramat pelan memasukan tubuh ke dalam pink dress, nggak ada satu menit pun gua lupa kalau ini adalah barang termahal yang seumur hidup bisa disentuh. Kalau nggak pernah pakai dress, sudah pasti bagian tersulit adalah men-zip resleting bagian belakang. Susah payah supaya bisa menarik resleting sampai bagian atas, membuat pink dress seakan mendekap erat tubuh. "OMG!" seakan nggak percaya melihat diri sendiri dalam balutan dress ini, sampai gua berputar-putar nggak karuan di depan cermin. Saatnya untuk menunjukkan pada Mami Raka, bahwa pilihannya tepat.


Other Stories
Dua Mata Saya ( Halusinada )

Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...

Melepasmu Untuk Sementara

Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...

Menantimu

Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...

Sweet Haunt

Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...

Hafidz Cerdik

Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...

Download Titik & Koma