Prince Reckless Dan Miss Invisible

Reads
3.5K
Votes
1
Parts
22
Vote
Report
prince reckless dan miss invisible
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Penulis Wali_writing_on_the_wall

Bab 6: Waktu Yang Tak Berpihak

Dari semua orang di dunia saat ini, gua berharap jadi Violet Parr sehingga bisa menghilang saja daripada berduaan dengan pangeran sekolah. Sekarang sudah lima belas menit semenjak gua dan Raka duduk berdampingan di pinggiran lapangan sekolah. Anak-anak lain sudah pergi harusnya lapangan ini menjadi sunyi namun sang pangeran terus saja sibuk berbicara mengenai rencana hari ini. Gua takjub bagaimana suara Raka mampu memenuhi ruang terbuka seperti lapangan, mengusir semua kesunyian yang seharusnya ada.

"Jadi kita mau ke rumah gue dulu atau ke rumah lo dulu?"

"Jelas ke rumah lo dulu," jawab gua tanpa pikir panjang. "Sepertinya bakalan banyak yang harus gua pelajari dari lo ketimbang lo pelajari dari gua." Tentu saja bakalan menolak pangeran yang mau datang ke gubuk derita, lagian apa sih yang mau gua tunjukin sama Raka? Hello! Rumah petak berisi enam orang atau lingkungan asri perkampungan yang masuk gang?

"Baiklah Naes, kita ke rumah gue dulu." Katanya setelah menganggukan kepala dengan hebat. "Tapi makan dulu yuk di mana getuh?"

Otak gua langsung berpikir keras, mana ada gua makan di luar? Makan siang saja bawa bekal dari rumah. "Kenapa nggak makan di rumah lo aja sih?"

"Keburu meninggoy! Ya udah McD aja di jalan gimana?"

Paket hemat McD berapa yah? Pikiran ini tanpa sadar bikin gua ngecek saku buat nyari sisaan receh yang bisa dipakai bayar McD.

"Gue yang bayarin," sembari mendekatkan wajahnya.

Gua cuma bisa menatap dengan kedua mata melotot, lagi-lagi malu dan nggak tahu harus bilang apa? "Yakin nih?" lagi-lagi sebuah pernyataan yang bodoh yang membuat sang pangeran tersenyum manis. Cepat-cepat gua menepuk pelipis karena bisa-bisa memikirkan hal tersebut.

"Lo benar-benar aneh yah?" lalu bangkit dan mengajak pergi. "Cabut yuk." Menunjuk sebuah Vespa LX 125 yang terparkir di parkiran dekat gerbang masuk.

Jalan dari pinggir lapangan ke parkiran nggak pernah terasa seberat ini, mimpi apa gua semalam? Sampai bisa boncengan sama Raka. Sepanjang jalan berusaha supaya dada gua nggak kena punggungnya dan ini berakibat duduk terlalu ke belakang. Susah payah gua pegangan ke grill, mana setiap ada polisi tidur merosot ke depan. Terus terang gua nggak pernah sedekat ini sama cowok dan memangnya semua cowok itu sewangi ini yah? Perasaan dari yang gua dengar mereka semua bau keringat dah.

----

"Big Mac dan satu pahe, buat Naeswari Anindyaswari." Seraya menaruhnya di meja. "Kecil-kecil makan lo banyak juga yah?"

Selalu ada perasaan aneh saat Raka menyebut nama gua, sebuah perasaan yang cukup sulit untuk dijelaskan. Terlebih ketika sama sekali nggak ada yang ingat siapa gua di sekolah. "Namanya juga rezeki, nggak boleh dilewatkan." Mengambil Big Mac dan melahapnya sampai beberapa lembar daun kol berjatuhan.

"Biasanya sih cewek-cewek paling pesen McFlurry sambil malu-malu kucing dan makan cantik." Ucap Raka lalu mencabik paha ayam dan mencelupkan ke dalam saus. "Udah getuh, abisnya bisa sampai sejam lagi." Jelasnya sambil mengunyah ayam.

Spontan gua mengambil tisu untuk menyeka mulut dan mulai memperbaiki cara makan. "Gimana yah? Gua kurang suka yang manis-manis sih."

Tiba-tiba Raka mengeluarkan gawai dan mulai merekam. "Naes nggak suka makan yang manis-manis dan anti jaim." Lalu tersenyum sambil melihat hasil rekamannya.

Seharian bakal di rekam terus sama Raka, apa gua bohong aja yah? Pura-pura jadi orang lain getuh biar kelihatan sempurna. Lantas mata gua pun menatap Big Mac yang sudah hampir habis, lalu mempertanyakan mengapa gue harus kelihatan sempurna di mata sang pangeran? Mungkin malu jawaban yang paling tepat, malu karena gua cuma cewek standar, malu karena hidup gua nggak se-wah dia dan teman-temannya, malu karena gua nggak pernah deket sama cowok.

"Lagi-lagi Naes sibuk dengan dirinya sendiri, dia sering bengong."

Mata gua beralih dari Big Mac ke gawai Raka, dia kembali merekam. "Nggak semua orang bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran mereka." Kata-kata itu spontan keluar.

"Kenapa?"

Gua mengangkat bahu. "Mungkin karena cemas dan takut orang lain nggak suka atau setuju."

"Semua orang berhak mengatakan apapun selama itu nggak merugikan. Soal orang lain mau suka atau nggak bahkan nggak setuju, nggak usah dipikirin." Katanya sambil terus merekam.

"Gua harap bisa jadi seperti itu." Lalu menaruh sisa Big Mac dan mengambil napas. "Nggak takut buat bilang apapun, nggak cemas apa yang orang lain pikirin tentang gua." Entah terdorong apa sampai tiba-tiba sampai gua bilang. "Anak-anak kayak lo yang terlahir sempurna pastinya nggak perlu ngerasa begini. Muka bagus, orang tua kaya, apa sih yang harus dikhawatirkan?"

Sang pangeran menurunkan gawainya. "Lo punya hal yang gue nggak bisa punya, nggak peduli seberapa kaya orang tua gue, nggak peduli seberapa ganteng gue, nggak peduli seberapa banyak temen gue."

Gua pun menatap dalam mata cokelat Raka, berusaha menyibak maksud dari kata-katanya. Memangnya apa yang dia nggak bisa miliki sementara gua bisa? Jelas bukan materi lantas apa? "Memangnya apa yang gua punya tapi lo nggak bisa miliki?"

"Waktu..."

Mata gua memicing dan jidat berkerut. "Waktu?" ulang gua dengan penuh keheranan. "Kita masih muda dan punya waktu yang banyak."

Sang pangeran menggelengkan kepalanya lalu merebahkan tubuh ke kursi dan pandangannya berpaling ke luar jendela. Untuk beberapa saat dia sama sekali nggak berkata apapun dan gua mulai mengenali atmosfer ini, sebuah kesunyian melanda di antara gua dan Raka. Memangnya apa yang salah dengan waktu? Kenapa sampai Raka nggak bisa memiliki waktu? "Biar gua tebak pasti orang tua lo strict parents sampai nggak bisa leluasa."

Raka mengalihkan pandangan kembali. "Naes kalau ada anak SMA yang paling bebas di dunia itu adalah gue."

Kalau Raka punya semuanya bahkan jadi anak SMA paling bebas tapi nggak bisa punya waktu. "Jadi yang waktu nggak berpihak sama lo?"

Sebuah senyum timbul di wajah sang pangeran, ia menodongkan paha ayam. "Tepat sekali Naes, waktu adalah milik orang-orang yang beruntung." Lalu menyikat habis daging sampai tersisa tulangnya saja.

Terus terang gua sama sekali nggak mengerti jawaban Raka, waktu adalah sesuatu yang dimiliki semua orang dan gratis. Melihat sang pangeran kembali riang dan melanjutkan makannya, gua pun membuang pikiran kenapa waktu nggak berpihak sama dia. Lagi pula kapanlagi ditraktir Big Mac sama paket hemat seperti ini? Jadi gue pun nggak membuang kesempatan untuk menikmati keberuntungan ini.

Ketika semua sudah habis dan gua membawa nampan untuk membuang sisa makanan, sepintas melihat Raka mengambil sesuatu dari tasnya. Ia lalu memasukkan apapun itu dalam telapak tangan dan menenggaknya dengan bantuan soda. Kedua tangannya memegang kepala, lalu memejamkan mata untuk beberapa saat. Entahlah gua pun nggak terlalu mengindahkan dan fokus memastikan semua sampah masuk ke dalam container sampah.


Other Stories
Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Yume Tourou (lentera Mimpi)

Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...

Kepentok Kacung Kampret

Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...

Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Kisah Cinta Super Hero

cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...

Download Titik & Koma