Bab 5: Pangeran Yang Memanggil Rakyatnya Dengan Nama
13 itulah nomor yang tertulis di secarik kertas dalam genggaman. "Dapet angka sial." Gumam gua sambil duduk di pinggir lapangan kemudian memandangi anak-anak lain yang tengah antusias dengan partner kelompok mereka. Sengaja nggak mendatangi kelas 12A demi mencari siapapun yang ketiban sial satu kelompok sama gua. Pertama pasti bakal bingung karena nggak pernah lihat gua dan kedua pasti ujungnya tukeran sama anak lain. Jadi lebih baik gua diam saja, menunggu nasib mendatangkan siapapun untuk tugas sosialisasi ini.
"Tiga belas! Yang dapat nomor tiga belas dari kelas 12B siapa woi!!!!"
Perlahan mata gua bergerak ke arah cowok kurus tinggi yang berlarian di lapangan sambil berteriak mencari pemilik nomor 13. Gua langsung menahan napas sambil memegang secarik kertas bertuliskan nomor 13, mengangkatnya ke depan mata. Pandangan silih bergantian fokus ke nomor di kertas dan ke cowok yang terus saja ribut mencari pemilik nomor 13.
Cowok tersebut membuat corong dengan kedua tangannya. "Anak kelas 12B yang dapat nomor 13 siapa nih!" teriaknya lagi membuat semua anak-anak di lapangan saling bertatapan ikut mencari.
Ketika hendak memasukkan secarik kertas ke dalam saku, sekali lagi nasib mempermainkan dengan meniupkan angin kencang dan menerbangkan secarik kertas bertuliskan nomor 13 milik gua ke seberang lapangan. Kertas itu bergulir di lapangan tertiup angin dan tersangkut di Skecher Uno Boys.
Pemilik Skecher Uno Boys mengambil secarik kertas dan matanya memicing lalu menatap ke depan arah asal kertas itu berasal. "Ini punya lo?" sambil berlari mendekati.
Pangeran SMA Persahabatan berada tepat di depan gua, entah kenapa gua justru malah salah tingkah. "Eh, sepertinya iya." Sambil menerima secarik kertas sialan itu dan menyesal kenapa tidak membuang saja tadi.
"Gue Raka, kita bakalan sekelompok nih." Sambil ikut duduk. "Kenapa gue nggak pernah lihat lo yah?"
Pangeran Rakanda duduk di samping gua dan semua anak-anak di lapangan melirik kita. Kenapa dari semua anak di sekolah ini gua malah sekelompok sama dia? Sementara itu mata Raka terus saja menatap meminta jawaban. "Gua udah sekolah di sini dari kelas sepuluh."
"Masa sih?" dengan kedua mata membesar. "Lo sekelas sama Adriana, Rina dan Lina kan?"
Gua langsung mengangguk dan mendapati wajah Raka menjadi bingung. "Maklum gua kan cuma rakyat jelata." Sebuah jawaban yang justru malah membuat sang Pangeran semakin bingung. "Maksudnya gua lebih sering nongkrong sama anak-anak kelas sebelas."
Dahi Raka berkerut. "Ngapain nongkrong sama adik kelas?"
Gua tersenyum mendengar pertanyaan itu sambil mengangkat kedua bahu. "Sekalian kasih mentoring buat mereka."
Raka mengangguk lalu berpaling pada teman-temannya. "Woi, ketemu nih partner tugas gue." Hal ini membuat anak-anak ningrat mendekat. "Gue sekelompok sama....." melirik. "Nama lo siapa?"
"Naeswari Anindyaswari." Jawab gua lalu menambahkan. "Panggil aja Naes." Seketika anak-anak ningrat menganggukan kepala.
"Anak baru yah?"
Sebelah alis gua langsung naik. "Nggak Cintia, gua pernah sekelas sama lo waktu kelas sepuluh." Langsung dibalas Cintia dengan senyum tipis yang terlihat amat dipaksakan.
"Oh, lo yang dulu pernah ikut pertukaran pelajar ke Canada itu yah?"
Gua pun menjawab dengan melirik tajam pada Joshua ikut menimpali. "Bukan, itu si Tika Maheswari anak kelas 12D."
"Ups sorry," kata Joshua pelan dan anak-anak lain langsung terlihat salah tingkah.
Tiba-tiba Cintia maju ke depan. "Lo jadi ikut ke Nara?"
Raka melirik smartwatchnya. "Gue mau balik ke rumah, ada janji sama Mamah."
"Ah, Raka bakalan sepi nih kalau nggak ada lo." Ujar Cintia kecewa. "Gue udah order buffet catering plus beverage." Dengan suara dikecilkan.
Joshua pun merujuk. "Ayo Bro, party sebelum liburan."
"Belum lagi kebanyakkan dari kita udah punya holiday destination sama keluarga dan tugas sosialisasi." Tegas sidekick Cintia yang bernama Stephanie. "Ini kesempatan terakhir kita buat nongkrong bareng."
Raka mengusap dagunya. "Nanti gue nyusul dah." Sontak anak-anak ningrat langsung gembira. Joshua dan beberapa cowok memberikan fist bump sembari memperingatkan Raka agar menepati janjinya. Mereka semua akhirnya pergi bergerombol.
Sekarang gua benar-benar sendirian di pinggiran lapangan dengan Pangeran Rakanda. Melihatnya yang duduk di samping sibuk dengan gawainya, entah kenapa bikin gua malah semakin salah tingkah.
"Ke rumah gue dulu yah, abis itu kita ke party Cintia."
Mata gua pun melotot. "Hah? Ngapain ke rumah lo dulu terus ke party Cintia?"
Raka malah balas melotot. "Bukannya lo harus kenal sama gue yah?"
"Buat apa jir!"
"Ya buat bikin tugas sosialisasi!"
Seketika gua merasa bodoh. "Oh iya, maaf lupa gua." Melempar tatapan ke segala arah kecuali Raka.
Raka tersenyum. "Lo rada aneh yah, tapi gue suka." Seraya membenturkan bahu kirinya.
Gua langsung menoleh. "Sorry, gua bukan cewek bodoh!" Mengusap bahu kanan yang disentuh Raka, seolah sedang mengusir kesialan. "Gua nggak bakalan jatuh buat gombalan sampah."
Lagi dahi Raka berkerut. "Itu pujian bukan rayuan."
Sekarang gua benar-benar merasa bodoh, mengira Pangeran sekolah ini sedang berusaha merayu. "Maaf gua cuma nggak terbiasa deket sama cowok."
"Oh yah?" dengan mata kiri memicing dan menyunggingkan senyum tipis. "Kalau begitu mulai sekarang lo harus terbiasa deket sama gue."
Gua nggak bisa memungkiri ada sekilas momen saat Raka berkata tadi yang bikin dia kelihatan ganteng. "Jangan!" sambil menepuk dahi, bisa-bisa gua mikirin hal seperti itu.
"Lo benar-benar aneh."
Gua menghela napas dan menyesali kenapa bisa sampai salah tingkah terus. "Raka kalau lo mau tukeran nomor sama anak lain nggak apa-apa, gua sama sekali nggak keberatan."
Raka langsung mencondongkan tubuhnya. "Buat apa? Gue sama sekali nggak keberatan sekelompok sama lo dan menurut gue tugas sosialisasi tentang lo bakalan keren banget."
"Lo pasti akan menyesal Raka! Lihat gua." Menunjuk diri sendiri sambil melotot pada Raka. "Lima menit yang lalu lo aja nggak tahu gua eksis di sekolah ini, nggak ada yang keren mengenai hidup gua."
"Menurut gue lo keren Naes!"
Gua benar-benar nggak tahu harus ngomong apa lagi? Pangeran Rakanda nggak mau tukar partner, terlebih dia bilang gua keren. Tapi gua benar-benar nggak bisa memungkiri ada sebuah perasaan senang saat nama gua disebut. Sebuah nama yang nggak pernah diingat oleh anak-anak kelas dua belas, sekarang disebut oleh cowok paling populer di sekolah ini.
Other Stories
Kepentok Kacung Kampret
Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Viral
Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...