Bab 4: Tugas Sosialisasi Tanpa Harapan
Nggak seperti biasanya Bu Rosalinda meminjam jam mata pelajaran, guru paling modis ini cuma muncul di saat-saat tertentu saja. Terakhir Bu Rosa muncul ketika SMA Persahabatan akan disambangi Menteri Pendidikan. Mengambil satu jam penuh upacara untuk memberikan penjelasan panjang lebar, apa saja yang harus dilakukan ketika Menteri Pendidikan datang. Kali ini mengambil jam pelajaran kelas 12B untuk buat pengumuman apa? Karena selain gua nggak ada yang bisa dibanggakan dari kelas ini.
Ketimbang mengetuk white board, Bu Rosalinda lebih memilih menghentakan tumit sepatu hak tingginya ke ubin kelas lalu mengangkat kedua tangan ke atas. "Ibu minta perhatian kelas 12B!" menurunkan tangan dan bersedekap sambil berjalan ke tengah. "Sebagai guru bimbingan konseling di sekolah ini, saya amat berharap para peserta didik tidak cuma pintar dan punya akhlak yang baik." Matanya yang dihiasi maskara mengitari kelas. "Ibu mulai menyadari banyak diantara kalian semua yang lebih memilih untuk berkelompok ketimbang membaur satu sama lain. SMA Persahabatan bukan sekolah yang berdasarkan kelompok sosial tertentu. Maka dari itu sebelum libur panjang ujian, Ibu sudah berkonsultasi dengan kepala sekolah dan guru-guru yang lain untuk membuat program sosialisasi antar kelas 12." Ditutup dengan sebuah senyum sumringah.
Anak-anak langsung saling melirik dan berbisik sementara gua yang duduk sendiri cuma bisa menghela napas. Program sosialisasi pasti akan berkelompok, tebak saja siapa yang mau masuk kelompok gua? Pastinya nggak bakal ada. Terus gua harus mengemis buat bisa masuk kelompok yang masih membutuhkan satu orang lagi. Gua juga harus mastiin mereka nggak lupa, di laporan harus ada nama Naeswari Anindyaswari.
Bu Rosalinda mengambil sebuah wadah, berjalan mulai dari meja depan kiri dan menaruh secarik kertas di hadapan anak-anak. "Program sosialisasi ini mengharuskan kalian semua kerja kelompok dengan kelas 12A. Target program ini adalah membuat kalian mengenal anak lain di luar kelompok kalian secara personal. Makanya satu kelompok hanya terdiri dari dua orang saja." Caranya menaruh kertas seperti sedang menabur pixie dust, beberapa kertas meleset dan jatuh ke lantai. "Kalian buka kertas dan ada nomor, perhatikan baik-baik nomor kalian dan cari anak kelas 12A yang punya nomor sama karena itu adalah rekan satu kelompok kalian."
"Bu ini tugas kelompoknya ngapain yah?" tanya Ibrahim ketua kelas 12B sambil memegang kertas yang berisikan nomor 18.
Bu Rosa kembali menyunggingkan senyum dan mengambil spidol. "Self essay mengenai partner kelompok kalian dalam lima tahun ke depan." Melafalkan dengan lantang yang ditulisnya. "Mudah bukan? Tidak akan memberatkan kalian secara akademik. Kalian cukup mengenal satu sama lain." Lalu raut wajahnya menjadi serius. "Jangan coba-coba curang dengan mengarang karena kalian harus buat dalam bentuk video. Hal-hal yang harus ada adalah bagaimana pergaulan di sekolah, keluarga dan cara meraih harapan atau impian untuk lima tahun ke depan. Kalau di TikTok tuh seperti a video day in my life tapi versi life essay partner kalian. Ibu cuma terima video dengan durasi minimal tiga menit."
Seketika kelas kembali ribut, banyak menganggap tugas ini adalah sebuah beban untuk libur panjang. Beberapa bahkan berkeluh-kesah karena sudah pesan tiket untuk liburan. Ini membuat Bu Rosa mengetukkan spidol ke whiteboard. "Ibu sudah rancang tugas ini agar tidak membebani kalian semua! Memangnya berapa lama sih yang kalian butuhkan biar bisa saling kenal? Dua hari juga cukup bukan! Lagi pula kalian bisa setiap hari bisa upload video TikTok, masa buat video durasi tiga menit buat sesama anak sekolah susah." Anak-anak langsung kembali saling pandang karena benar juga apa yang tadi diutarakan. "Selain itu tugas sosialisasi ini jadi item penting bagi kalian yang ingin masuk PTN jalur SNMPTN dan Mandiri." Mata Bu Rosa memicing dan ia lagi-lagi bersedekap seolah mandor pabrik yang akan mengumumkan siapa saja pekerja yang akan di PHK. "SMA Persahabatan adalah sekolah swasta nasional yang diakui terbaik oleh Kemendikbud Ristek bahkan kita dijadikan sebagai sekolah percontohan. Sekolah tidak akan segan untuk memberikan rekomendasi yang disetujui oleh Kemendikbud Ristek bagi siswa terpilih, yang lebih dari cukup untuk mendongkrak peluang kalian masuk PTN."
Tanpa pikir panjang gua langsung mengacung jari dan tentu saja Bu Rosa memilih anak lain yang juga mengacungkan tangan. "Kriteria self essay yang bagus bagaimana Bu?"
Bu Rosa mengibaskan rambut. "Pertanyaan yang bagus." Pujinya dan berdiri tegak di tengah kelas. "Ibu sudah bentuk tim sesama guru untuk memilih satu video yang mampu menyampaikan secara personal, detail dan menginspirasi." Tiba-tiba saja pesimisme yang memenuhi kelas berubah menjadi antusiasme berlebihan dan membuat Bu Rosalinda memamerkan deretan gigi putihnya. "Link untuk upload tugas nanti akan diberikan oleh wali kelas dan kalian boleh cari partner tugas sosialisasi sepulang sekolah." Lalu melambaikan tangan sambil keluar kelas seolah ratu kecantikan yang baru saja memenangkan mahkotanya.
Ketika kelas ribut mengenai tugas sosialisasi ini, gua menatap secarik kertas terlipat di atas meja yang sedari tadi tergeletak. Beberapa anak langsung gembira setelah menghubungi anak kelas 12A via WA dan mendapati mereka sekelompok. Beberapa lagi terlihat bingung sambil menatap nomor mereka, ada juga yang bertukar nomor demi mendapatkan partner yang pas. Terdapat pula wajah-wajah penuh kekecewaan, bisa gua tebak mereka sekelompok dengan anak yang nggak diharapkan.
Gua yakin tugas sosialisasi ini akan cepat dan mudah namun peluang buat dapat rekomendasi sulit. Memangnya hidup gua menginspirasi? Paper satu halaman dan video satu menit juga sudah cukup untuk mengulas keseluruhan hidup gua. Memang nggak ada yang bisa diharapkan dari tugas sosialisasi ini, gua lebih milih tugas sendiri yang mengharuskan mikir sampai tujuh keliling daripada harus deket sama orang lain dan orang lain deket sama gua. Jadi gua masukin kantong seragam saja kertas berisikan nomor tersebut, daripada harus menanggung kecewa sekelompok dengan anak yang sama sekali nggak berharap sekelompok sama gua.
Other Stories
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...
Sumpah Cinta
Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...