Bab 3: Dunia Terasa Nyaman Saat Tak Sendiri
Sudah lima belas menit gua duduk dengan beberapa anak kelas yang tengah asik bahas Winata brothers. Sedari tadi ikut mendengarkan mereka ribut, membandingkan siapa yang paling pas buat dijadikan pacar.
"Jason lucu banget nggak sih?" tanya Adriana sambil menunjukkan TikTok gombalan cowok tersebut.
Sontak Rina merebut gawai dan segera membuka akun Winata bersaudara yang paling tua. "Nih, gantengan Bryan kemana-mana." Menyodorkan gawai tepat ke wajah Adriana.
Lina menyipitkan kedua matanya. "Kenapa Bryan nggak mirip sama adik-adiknya yah? Lebih ke bule nggak sih daripada chindo."
Mendengar hal itu gua pun ikut nimbrung. "Yakin mereka adik-kakak, bukan saudara jauh kayak sepupu getuh?"
Adriana melirik Lina. "Bener juga Lin, mereka nggak pernah confirm kalau adik-kakak cuma bilang saudara aja."
"Makanya gue juga heran si Bryan beda sendiri. Benar kata lo, mereka sepupuan." Sambil menunjuk Rina.
Rina langsung bingung ditunjuk Lina. "Eh, apa? Mereka sepupuan! Yakin lo?"
"Lah kan lo yang bilang tadi." Balas Lina dengan ngegas.
Adriana langsung memotong. "Terserah yang penting pacar sejuta umat gue, Jason is the best."
Gua yang jelas-jelas sedari tadi nimbrung dengan mereka cuma bisa menghela napas. "Ehem..ehem..." Berdeham untuk mengingatkan mereka bahwa gua ada di samping. Mereka bertiga melirik dan melemparkan tatapan, sejak kapan lo ada di sini? Kemudian perlahan bangkit dan meninggalkan gua sendirian di bangku samping kelas. Gua pun mulai mencari-cari lagi, sekiranya anak-anak mana yang bisa ikutan nimbrung?
Dalam kelas ada lima anak yang tengah sibuk berdandan tipis-tipis, berusaha agar make up mereka tidak terlihat. "Nggak deh," ucap gua sambil pergi. Mana mungkin gua bisa related sama mereka? Setiap hari aja datang rambut masih basah. Dekat lapangan ada tiga cewek dari tim softball lagi asik ngumpul. Begitu mau melangkah ke arah mereka, tiba-tiba aja gua ingat dulu pernah masuk tim softball. Tepatnya kelas sebelas gua memutuskan untuk mencoba peruntungan di eskul olahraga. Cuma bertahan sebulan sebelum insiden gua matahin hidung salah satu dari mereka, karena lemparan bola tak berarah. Belum lagi dianggap bawa sial karena tim softball terus kalah semenjak kedatangan gua. "Jelas nggak dah," ujar gua sambil berbelok ke kantin yang terdengar tengah riuh oleh anak-anak.
----
Bukan tanpa sebab kantin ramai, di meja tengah sang Pangeran dan para ningrat SMA Persahabatan tengah bercengkrama. Sang Pangeran naik ke atas meja, berpura-pura memainkan gitar sambil melantunkan nada buta. Para aristokrat di meja langsung menebak-nebak, Melisa menebak lagu milik Justin Bieber dan Shannon langsung berteriak "Driver License" dari Olivia Rodrigo. Otomatis dahi gua berkerut, sejak kapan Justin dan Olivia nyanyi lagu rock? "November Rain bodoh." Dengan sedikit kesal karena tak ada satupun tebakan mereka yang benar! Bahkan salah satu dari mereka bisa-bisanya dengan lantang menebak "Love Story" dari Taylor Swift. Rakyat jelata seperti gua sudah pasti bakalan nggak dianggap. Lagi pula entah apa yang ada di dalam otak sampai mikir bisa duduk bareng ningrat?
Selain anak-anak golongan atas, menengah dan bawah SMA Persahabatan punya kasta terendah yakni anak-anak golongan ghoib. Mereka adalah anak-anak yang acap kali bolos dan kerap merokok di belakang. Golongan ghoib memang nggak peduli apapun, mereka dihindari layaknya sekte aghori. Sambil mengibas-ngibaskan tangan demi menghalau asap rokok, gua ikut duduk di pagar. Mengamati empat cowok golongan ghoib ini sedang sibuk mabar sambil merokok. Begitu mau membuka mulut dan menyapa karena keberadaan gua tak terasa.
"Cuy, hawanya udah nggak enak nih cabut yuk." Ajak salah seorang cowok dengan rambut plontos dan celana kekecilan. Ketiga temannya serentak saling tatap dan setuju lalu mereka memanjat pagar sekolah melewati gua. Salah satu dari mereka terpeleset dan menginjak kepala gua.
"Anjir, nyaris gua jatoh kena pager! Untung ada pijakan." Serunya pada ketiga teman sambil berlari dan menghilang dari pandangan.
Gua merapikan rambut yang terinjak cowok tadi dan duduk di pagar belakang sekolah. Kali ini seperti hari-hari sebelumnya, tetap saja gua tak terlihat. Menempelkan punggung ke pagar, mengeluarkan gawai dan membuka Spotify untuk memutar "If You Were Here" dari Thompson Twins. Setiap kali gua gagal untuk dianggap ada, istirahat sejenak dan memainkan soundtrack Sixteen Candles. Memejamkan mata, membiarkan angin membelai tengkuk. "If you were here, I could deceive you. And if you were here, you would believe but would you suspect. My emotion wandering, yeah." Lagu ini memang emotional support buat gua, begitu mood membaik. "Masih ada anak-anak mentoring." Menyemangati diri sendiri dan bergegas pergi dari belakang sekolah.
----
"Kalian lagi ngapain?"
"Eh, Kakak Naes." Sini duduk ajak Sani. "Kita lagi pusing mikirin tugas fase F nih."
Mata gua memicing pada layar gawai yang dipegang Sani. "Bukannya tinggal cari di internet aja yah?" melihat tugas mereview bangunan historis dengan langkah-langkah heuristik.
"Nggak bisa, kita harus datang langsung dan buat mini dokumenter durasi tiga menit."
Gua pun menopang dagu. "Nggak perlu ribet, cari aja bangunan historis yang deket. Nggak perlu takut nanti ceritanya sama, kalian tinggal ambil dari sudut pandang yang berbeda. Misalnya Gedung Juang 45. Kalian ambil dari sudut pandang waktu tempat itu masih jadi salah satu hotel terbaik di Jakarta." Tentu saja ini berbekal dari pengalaman gua waktu bikin tugas fase di kelas sebelas. "Jangan lupa, bikinnya harus sinematik getuh." Dengan nada serius karena dulu nilai mini dokumenter gua kalah telak sama anak-anak yang ambil sembarang tema bahkan banyak yang nggak nyambung sama tema tugas. Tapi video mereka secara visual ciamik, sementara gua yang riset mendalam justru mentok di B+.
Jadi mentor buat adik kelas merupakan salah satu keputusan terbaik yang pernah gua buat. Mereka selalu ada ketika gagal terlihat sama anak-anak kelas dua belas walaupun terkadang heran mengapa anak-anak kelas sebelas bisa merasakan keberadaan gua ini? Apa karena mereka membutuhkan gua? Walaupun terkadang gua sama sekali nggak selalu nyambung sama obrolan mereka tapi berada di antara anak kelas sebelas jauh lebih baik daripada sendirian di belakang sekolah.
Sungguh nyaman ketika tahu kalau gua nggak sendirian di sekolah ini, di dunia ini.
Other Stories
Bisikan Lada
Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Tea Love
Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...
Love Of The Death
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Namaku May
Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...
Testing
testing ...