Bab 2: Kenapa Hidup Gua Menyedihkan Sih?
"Naes pulang!" sambil melepaskan sepatu dan menaruhnya di rak. "Naeswari pulang Bu!" untuk kedua kalinya gua berteriak dan nggak mendapati respon apapun. Mendapati Ibu sibuk di dapur dengan si Kembar dan si Bengal, gua pun mengulang. "Pulang Bu."
"Iya Nanda, gimana hari ini?" balas Ibu tanpa melihat dan tetap fokus menyiapkan makan malam sementara si Kembar tengah sibuk memperebutkan mainan dinosaurus dan si Bengal tertawa melihat ekspresi kesal Naes.
Gua pun membalas dengan malas. "Baik Bu," Ibu tetap saja sibuk mempersiapkan makan malam dan akhirnya gua mengambil selembar kertas dari dalam tas. "Naes dapat nilai A buat tes akhir semester, kemungkinan bakal jadi calon kuat dapat jatah ikutan program seleksi bibit unggul berprestasi. " Menyodorkan print berisikan nilai serta peminatan.
"Wah, bagus Nanda." Balas Ibu tanpa berpaling dan dengan nada antusias yang terdengar dipaksakan. Itu membuat si Bengal tertawa lagi.
Gua menghela napas dan berkata dengan pelan. "Ini Naes Bu, bukan Nanda." Lalu menyerah pergi masuk kamar.
----
Melempar tas dan merebahkan diri ke kasur. "Ada yang punya ringkasan peluang kejadian majemuk?" membaca group kelas 12B serta merta mengajukan diri dengan membalas. "Ada nih." Mata gua pun mensortir percakapan yang terus aja menanyakan ringkasan catatan, sampai-sampai balasan yang gua tulis tenggelam. Tak ada satupun anak-anak yang membaca, hebat sekali di sekolah nggak kelihatan, di rumah nggak kelihatan sampai di grup juga nggak kelihatan.
Merebahkan diri dan memandang langit-langit, Molly Ringwald, Michael Schoeffling, Emilio Estevez dan Matthew Broderick menatap balik. "Lo semua punya masa remaja yang hebat, ada kisah buat diceritakan di masa tua nanti." Ujar gua dengan penuh iri, ada saat di mana gua amat sangat berharap untuk jadi Samantha Baker, Claire Standish atau Andie Walsh. Daripada menjadi Naeswari Anindyaswari dengan hidupnya yang dipenuhi repetisi.
Menopang kepala dengan kedua tangan dan berangan-angan. "Gimana rasanya dikenal sama semua orang, tiap datang ke sekolah anak-anak tanya kabar gua. Seru-seruan cerita ini dan itu, WhatsAppan sampai malam ngobrolin hal-hal nggak jelas." Lalu mengambil gawai berpikir untuk WA Sani dan adek kelas lain yang gua mentoring. Tapi mau ngomongin apa? Secara dunia kita berbeda, masa gua mau pura-pura jadi anak kelas sebelas. Gua pun urung dan menaruh kembali gawai.
Seperti hari-hari sebelum ini dan sejauh sebelumnya, ketika pikiran dan hari gua dilanda kesepian. Saatnya membuka layanan streaming video gratisan dan memilih antara Sixteen Candles, Pretty in Pink, The Breakfast Club atau Ferris Bueller? "Jake Ryan dong." Nggak ada yang ngalahin relatednya Samantha Baker sama gua, walaupun Samantha jauh lebih beruntung karena masih punya banyak teman. Tapi kita berdua sama-sama tak terlihat. Samantha terlupakan karena keluarganya sibuk dengan pernikahan kakaknya sementara, gua terlupakan semenjak lahir karena sulit bagi Ibu dan Bapak buat ingat kalau masih ada anak tengah mereka selain dua kakak dan tiga adik gua yang menyebalkan.
"Their forgot my birthday," melafalkan perkataan Samantha Baker. "Lo tuh gua banget, Samantha Baker!" ujar gua dengan geram pada saat adegan di mana Samantha marah karena ulang tahunnya terlupakan. Tentu saja eye candy Sixteen Candles adalah Jake Ryan. Gua langsung jatuh hati karena Jake nggak cuma modal tampang aja. Dia kalem, santai dan penuh perhitungan dengan tatapan tajam. Last scene di mana Jake cuma berdiri di samping mobil sambil menatap, "gua mau cowok effortless kayak gini." Sumpah gemes banget setiap kali liat Sixteen Candles. Gua langsung salting sendiri di kasur sambil membayangkan Jake Ryan.
Meletakkan gawai di dada dan kembali menatap langit. "Kapan yah? Hidup gua punya secuil cerita seru kayak film-film kalian." Terkadang gua terbawa khayalan masuk ke dalam Sixteen Candles atau Pretty in Pink. Datang ke sekolah buat ngobrol sama teman-teman tentang cowok incaran satu sekolah, terus nguntit rame-rame dan akhirnya punya kesempatan buat deket.
Dalam kamar 3x3 ini, cuma itu yang bisa gua lakukan setiap malam. Nonton semua film John Hughes dan setelahnya berkhayal. Buat banyak orang mungkin ini terlihat menyedihkan tapi berkhayal hidup dalam film remaja 80an jauh lebih sehat, lahir dan batin. Gua yakin ini lebih baik daripada mindless scrolling sosial media. Lihat kehidupan anak-anak lain di sosial media, cuma bakalan bikin gua nggak bersyukur dan berujung insecure.
Ketenangan dalam kamar 3x3 berakhir, saat Kakak kedua gua pulang dan memutar Hammersonic keras-keras melalui speaker bluetooth. "Gua mau tidur!" sambil memukul dinding samping kamar, kenapa sih nggak bisa seperti perempuan lain yang dengerin Ariana Grande, Dua Lipa atau Selena Gomez? Ini malah ngefans sama musik metal.
Benar-benar mimpi buruk, kalau hidup dengan lima saudara di rumah sempit. Sebenarnya gua cukup beruntung karena Bapak mengubah lahan sisa di samping kamar Nanda jadi kamar ini. Sebenarnya itu juga terpaksa, gara-gara nggak mungkin gua bisa sekamar sama Nanda. Bisa gila setiap hari dengerin orang nyanyi kayak kumur-kumur begitu.
Hanya saja demi menghemat budget, dindingnya nggak pakai batu bata melainkan triplek. Jadi selain Hammersonic dari kamar Nanda, derita lain juga datang dari kamar Dira kakak tertua gua. Pada malam-malam tertentu suka denger suara-suara aneh, entah kenapa gua merasa perlu untuk diam saja. Ketimbang cari tahu apa yang diperbuat sama Kakak cowok gua di dalam kamarnya.
Untungnya malam ini Dira lagi shift kerja malam dan Nanda sudah menurunkan volume. Gua bisa kembali menikmati ketenangan yang langka di rumah ini, "akhirnya." Sambil meregangkan kedua tangan dan menguap. Kedua mata ini hampir saja tertutup kalau bukan karena si Kembar yang berusia 18 bulan tiba-tiba menangis. Entah karena apa? Diikuti oleh si Bengal yang berusia empat tahun ikutan merengek minta mie goreng. Nanda rupanya merasa kesal juga dengan tangisan dan rengekan ketiga bocah tersebut, sampai kembali meninggikan volume suara Hammersonic. "Kenapa hidup gua menyedihkan seperti ini sih?" lalu menutupi wajah dengan bantal.
Other Stories
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...
Testing
testing ...
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Rembulan Di Mata Syua
Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...