Prince Reckless Dan Miss Invisible

Reads
3.5K
Votes
1
Parts
22
Vote
Report
prince reckless dan miss invisible
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Penulis Wali_writing_on_the_wall

Bab 1: Rakyat Jelata Dan Pangeran

Kalian tahu rasanya jadi orang nggak terlihat seperti apa? Hawa keberadaan kalian tuh kayak uap air, yang cuma numpang ada terus menghilang. Itulah yang gua rasakan sehari-hari, terlebih hari ini di mana udah ngantri selama sepuluh menit di tukang gorengan favorit anak-anak tapi selalu kalah sama anak lain yang baru datang dan langsung dilayani. "Bang, beli lima ribu," entah ini keberapa kalinya gua bilang begitu dan setiap ada pembeli baru langsung dilayani. Akhirnya gua pun memutuskan untuk pergi saja daripada telat masuk kelas.

Belum ada lima menit masuk gerbang, seorang anak kelas sebelas nabrak dan sukses bikin buku matematika peminatan nyemplung ke kubangan. Tak pelak gua pun memberikan tatapan kesal dan anak ini malah cingak-cinguk, kemudian berlalu pergi. Gua pun memungut buku wajib tersebut dan cuma bisa bersyukur cuma basah pinggirannya saja.

----

Dari semua anak di kelas 12B ini cuma gua yang amat sangat beruntung kebagian meja sendiri, bukan gara-gara nggak ada yang mau duduk sama gua yah. Tapi memang jumlah murid kelas 12B ganjil dan beruntungnya bisa punya meja sendiri. Gua juga bisa fokus sama banyak hal lain, misalnya mengamati anak-anak lain. Contohnya, hari ini Vina baru aja catokan, terus si Ollie baru ganti ke iPhone 14, Winnie jelas banget baru sulam alis. Belum lagi kalau buka handphone nggak bakal ketahuan. Paling minusnya nggak ada yang bisa diajak ngobrol atau berbagi contekan.

----

Jam istirahat biasanya anak-anak bakalan pesen makanan ke si Bibi, semacam kurir buat anterin makanan dari semua tukang dagang di luar sekolah. Kantin sekolah sama sekali nggak punya jajanan, ini dibuat dengan harapan anak-anak bakal bawa bekal. Sementara itu anak-anak yang berdompet lebih tebal bakalan mesen online. Jadinya gampang banget kalau mau lihat kasta sosial di sini, pas makan siang cukup duduk di kantin dan lihat anak-anak makan apa?

Golongan tengah pastinya pesen ke si Bibi, buat anterin mie ayam, bakso dan makanan general lainnya. Golongan atas pasti pesen online setiap hari, mulai dari Gacoan, KFC sampai makanan-makanan yang lain FYP sementara golongan paling bawah dan cupu biasanya bawa bekal.

Gua sendiri asik makan telor mata sapi campur kecap dan nasi, sambil menikmati anak-anak atas makan crombolini. Mata gua langsung mengedipkan mata saat mencoba membaca, "monsir spun." Yang tertera di packaging.

"Monsieur spoon, Kak!"

Otomatis gua pun memberikan lirikan tajam pada Sani. "Maksudnya begitu." Lalu memperhatikan adik kelas untuk mentoring kelas sepuluh itu membeku melihat meja anak atas. "Pangeran sekolah ini."

"Kak Naes, deket nggak sih sama Raka?"

Itu adalah sebuah pertanyaan bodoh, di mana gua sendiri duduk di sini makan bekel sama adik kelas. "Menurut lo gimana Sani?" dengan sedikit ketus.

"Raka kan mingle sama semua anak kelas dua belas, siapa tahu Kak Naes pernah main bareng getuh."

Mata gua pun menuju Pangeran Rakanda, yang sedang bermain-main dengan membelah dua crombolini, menenggak isiannya lalu menyeka bibirnya dengan tangan. Ia memberikan pemandangan vulgar bagi semua cewek di kantin.

"Ternyata Kak Naes ngefans juga sama Raka." Kata Sani disambung dengan cekikikan beberapa temannya yang makan bareng. "Sampai nggak kedip getuh."

Gua pun berkilah dengan kesal. "Nggak kok cuma lagi kepingin crombolini aja." Bisa-bisanya tanpa sadar sudah terhipnotis oleh visual pangeran sekolah ini.

"Wajar kok suka sama Raka." Ujar Sani sambil menahan tawa.

Sayang gua bukan dari sekian banyak cewek di sekolah ini, yang ikut gabung PRFC (Pangeran Rakanda Fans Club) kalau ada orang yang paling gua hindari di sekolah ini, sudah pasti dia orangnya. "Bukannya kemarin dia bikin lab meledak yah?" tanya gua dengan nada sinis, berupaya menekankan reputasinya yang terkenal gemar bikin kehebohan.

"Itu karena dia salah masukin sisa praktikum ke gelas beaker." Jelas Sani.

Benar juga insiden lab meledak sampai membubarkan kelas kimia, memang nggak sengaja. "Terus dia pernah diciduk ke ruang kepala sekolah gegara konser dalam kelas."

Mengingatkan Sani pada kejadian dua minggu lalu, ia langsung menekan kedua tangannya di dada. "Aku lihat dari videonya di grup kelas, sumpah Kak! Keren banget, udah ganteng, suara bagus lagi." Lalu berpaling pada teman di sampingnya, "Raka nyanyi apa sih yang di video konser dalam kelas itu?"

"Night Changes, One Direction." Jawab teman Sani dan keduanya langsung tersipu seolah sedang menonton langsung konser Raka.

Sebelah alis gua naik, melihat raut terkesima keduanya yang sedang mengingat video konser dalam kelas Raka. "Dia bikin satu sekolah dipulangin, gara-gara nyulut pemadam api."

"Tapikan, kita jadi pulang lebih awal Kak dan itu sebelum long weekend."

Kedua adik kelas yang sudah setahun lebih gua mentoring ini, ternyata PRFC garis keras. Nggak ada gunanya membeberkan fakta pada fans yang tergila-gila. "Terserah, pokoknya Pangeran Rakanda itu trouble maker dan gua nggak mau deket-deket sama tukang bikin onar." Tegas gua dengan sungguh-sungguh sampai beberapa butir nasi meloncat dari mulut.

Kantin ini luas tapi seluruh pasang mata tertuju pada meja kantin di tengah. Lebih tepatnya pada Pangeran Rakanda bersama teman-temannya. Jikalau SMA Persahabatan ini sebuah negara monarki, mereka adalah para ningrat. Terlihat memukau dan berkilauan, menarik perhatian selama 24 jam, membuat semua orang bertanya-tanya mengenai apapun tentang mereka. Terlebih sang Pangeran yang nggak cuma berkilauan namun amat sangat menghibur dan dekat dengan rakyatnya. Harus gua akui Pangeran Rakanda sedikit berbeda dengan tipikal anak populer, dia humble banget dan nggak segan-segan buat sekadar nyapa atau iseng bertanya sama anak-anak.

Semua anak di SMA Persahabatan ini pernah ngobrol atau setidaknya say hai sama Raka, semua anak kecuali gua yang nggak terlihat. Naeswari Anindyaswari mungkin jadi satu-satunya rakyat jelata di negara monarki ini, yang sama sekali belum pernah berbicara ataupun disapa sama pangerannya. Jadi gua pun melanjutkan menghabiskan bekal dan kembali menjadi nggak terlihat sepanjang hari.


Other Stories
Chronicles Of The Lost Heart

Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Terlupakan

Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...

Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

Testing

testing ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Download Titik & Koma