Pahit Manis
Gue bener-bener nggak tahu kalau rencana gue gagal lagi. Padahal menurut gue itu adalah rencana yang bombastis.Selalu di luar dugaan.
Kenyataannya Bapak angkat gue malah nggak marah ketika gue mengakui sesuatu.
“Pak, duit Kean udah habis.” Gue menjeda. “Kartu kreditnya juga udah over limit.”
As you know, limit kartu kredit itu bermacam-macam, tapi Bapak angkat gue ambil limit sampai 5 juta. Gue habisin dalam satu malam. Detik itu juga, gue berharap Bapak angkat gue akan memarahi gue dan mengusir gue dari rumah. Gue siap dan rela.
“Ya udah, nanti Bapak kasih lagi kartu kredit yang baru.”
Punya orangtua model gini jelas menjadi dambaan setiap anak. Tapi, sayangnya justru dengan begitu anaknya nggak akan menjadi mandiri dan lebih gampang melakukan hal yang nggak baik. Contohnya: dengan dia diberikan kebebasan berupa materi, kemungkinan anak akan menjurus ke pergaulan bebas, narkoba dan berbagai macam yang negatif. Beda halnya dengan anak yang dididik dengan mencari uang sendiri dan mandiri. Itu jelas akan membuat si anak menyadari bahwa kehidupan sangat keras. Apalagi hanya bermodal harta orangtua.
Oke, sampai di mana tadi?Ahg. Rencana gue gagal maning, gagal maning.Orangtua angkat gue kelewat baik sih.Terus, gue harus gimana lagi? Kali ini gue udah kehabisan ide. Gue nggak tahu lagi bagaimana caranya biar gue diusir dari rumah ini. Atau mungkin, emang gue ditakdirkan untuk nggak kembali pulang.
Oh Tuhan, tolonglah aku.Jadi gue putuskan untuk bertahan di rumah ini. Bersama orangtua angkat gue yang super duper baik. Karena gue udah capek mikirin rencana selanjutnya.
***
“Kean. Acara wisuda kamu kapan?” Ibu angkat gue bertanya sambil memotong beberapa bawang.
“Minggu depan, Bu.”
Detik berikutnya, Ibu angkat gue bergumam oh yang panjang.
Gue pikir, Ibu angkat gue pasti mau nyiapin acara syukuran. Undang beberapa tetangga, atau semacamnya.Mungkin juga Ibu angkat gue sewa elekton terus mengarak gue keliling kompleks. Kayak sunatan aja.
Pagi ini, gue berangkat seperti biasa ke kantor. Tapi Bapak angkat gue lebih duluan pergi karena ada meeting.
Dua puluh menit kemudian, gue akhirnya sampai di kantor. Dan seperti biasa juga, semua karyawan sibuk dengan masing-masing pekerjaannya. Gue tetap berjalan sampai ke ruangan gue.
“Pagi, Mas Kean.” Bunga menyapa bertepatan dengan terbukanya pintu ruangan.
“Hei, Bunga. Pagi.”
Gue pun masuk. Nggak begitu lama, Bunga masuk ke ruangan gue.“Mas, ingat. Entar siang ada meeting.”
Siangnya, gue dan Bunga menuju ruang meeting. Di sana, seorang berjas hitam dan berdasi rapi sudah duduk manis. Gue lalu bersalaman dan duduk di kursi.
Pembicaraan kami siang itu, seputar konfirmasi tentang kerja sama di daerah Tambak Asri. Di sana, mereka menginvestasikan dana besar untuk hunian tersebut yang rencananya akan dibuat kontrakan dalam jangka waktu lima tahun.
“Oke, kalau gitu. Terima kasih Pak Kean.”
Gue dan investor itu saling berjabat, kemudian berlalu dari ruangan.
Sampai di ruangan, Bunga memberitahu kalau besok sore jadwal pertemuan untuk menandatangani proposal kerja sama dengan investor tadi.Gue cuma manut-manut. Karena Bunga memang tugasnya untuk mengautr jadwal pertemuan dan mengingatkan hal-hal penting tentang perusahaan Bapak angkat gue.
Setibanya di rumah, meskipun gue udah capek mikirin rencana, tetap aja gue masih berusaha untuk mencari 1001 cara untuk melancarkan aksi.Lagi-lagi otak gue masih buntu. Beberapa berkas dari kantor yang tadi gue bawa pulang masih terlihat berserakan di atas meja gue. Gue atur sambil membaca kembali berkas-berkas itu.
Dan … huwala humba.Melihat beberapa berkas ini, gue tiba-tiba punya ide. Dan gue yakin seratus persen, ini pasti akan berhasil.
***
“Kamu apa-apaan, sih, Mas?” Bunga datang dengan wajah cemberut. Gue udah tahu, Bunga pasti akan bereaksi seperti ini.
Sore ini, sesuai jadwal seorang investor akan ikut kerja sama dengan perusahaaan Bapak angkat gue. Dan sore ini juga, kami akan menandatangani sebuah kontrak bagi hasil. Mereka berinvestasi dengan angka yang nggak main-main.Satu milyar.Dan itu, gue batalkan.
Gue membatalkan kontrak kerja sama kami. Dengan begini, gue harap, Bapak angkat gue akan mengusir gue dari rumah.
Nggak heran kalau Bunga datang dengan wajah masam dan penuh tanda tanya. Mungkin dia berpikir gue adalah bos yang nggak tahu diri, nggak becus, dan nggak bisa bertanggung jawab. Well, gue bisa terima itu semua.
“Mas, jawab. Jangan diem aja. Mereka itu adalah aset kita. Kok kamu mau cancel, sih?Kamu harus tahu, ya, Mas. Perusahaan mereka itu adalah perusahaan top 50 se-Indonesia dalam bidang property. Mereka nggak sembarangan mau join dengan perusahaan lain.” Bunga masih berkoar sementara gue menarik napas setelah menyeruput kopi panas.
Gue tahu perasaan Bunga. Gue juga tahu kalau ada ratusan bahkan jutaan perusahaan dalam bidang ini yang siap bersaing. Dan menurut Bunga, perusahaan itu aset berharga yang dengan suntikan dananya, pastinya akan membuat perusahaan Bapak angkat gue ini lebih maju.
Gue bergeming.Bunga pun demikian.Gue nggak bisa berkata apa-apa. Karena Bunga nggak tahu apa masalah yang gue hadapi. Setelah ini. Gue harus siap mental untuk dirong-rong Bapak angkat gue dan angkat kaki dari rumah itu.
Plak!
“Ternyata selama ini, Bapak salah. Bapak pikir kamu bisa menjalankan perusahaan ini dengan baik.” Suara Bapak angkat gue menggelegar. Gue semakin menunduk.
“Pergi kamu dari rumah ini.”
Satu sisi, gue lega. Karena sebentar lagi gue akan pulang. Tapi, sisi lain, gue meresa nggak enak hati. Dengan terpaksa gue harus menjadikan perusahaan Bapak angkat gue sebagai kambing hitam atas rencana gue. Gue berjalan tersuruk ke kamar sembari memegangi pipi beka tamparan. Sementara Ibu angkat gue memandang gue nanar dari kejauhan.
Sebelum akhirnya gue kembali pulang, gue berbalik ke rumah Ujo.Naik angkot tentunya.Di perjalanan, gue banyak berpikir tentang bagaimana pahit manis kehidupan ini. Ternyata dengan gue kabur dari rumah, gue bisa banyak tahu kerasnya dunia luar. Dunia yang bahkan nggak pernah gue duga untuk sentuh sebelumnya.
Sekarang, pahit manis itu udah gue rasakan. Nggak hanya itu, pahit manis dalam asmara juga cukup memberikan gue banyak pelajaran. Menjadi baik aja itu nggak cukup. Tapi, menjadi baik sampai akhir itu yang jarang orang sanggup.
Akhirnya gue sampai di depan rumah Ujo. Gue masuk. Gue disambut Nyokapnya.
“Ujo lagi keluar bentar. Kamu tunggu aja, ya.” Nyokapnya Ujo kemudian berlalu.
Lima belas menit kemudian, si buto ijo akhirnya muncul juga.
“Dari mana aja, lo?” Gue menyergap Ujo sebelum dia masuk.
“Eh, elo.” Ujo masuk lalu menaruh beberapa kantong plastik yang dia bawa. “Gue abis dari supermarket, beliin Nyokap gula ama terpung terigu. Ngapain lo ke rumah gue?”
Gue mendesah panjang. Sementara Ujo menatap gue dengan tas besar yang gue bawa.
“Gue udah diusir.”
Ujo mendelik.“Bagus dong. Jadi lo bisa pulang.”
“Tapi masalahnya, gue takut, Jo. Gue takut kalau Nyokap nggak terima gue lagi.”
Sekarang, si Ujo yang mendesah pelan.“Lo ‘kan belum coba.”
Entah kenapa, satu kalimat dari si buto ijo itu buat gue merinding. Nggak sesuai dengan mukanya yang horor.
***
Akhirnya, gue sampai di depan rumah.
Jam segini si Gaga masih di sekolah. Nyokap juga sepertinya masih mengajar. Dan Bokap udah di kantor.Terpaksa gue tunggu mereka sampai balik.
Nggak jauh dari rumah gue. Ada semacam pos ronda. Akhirnya, gue tunggu di sana. Untungnya, ada seorang Bapak yang rela meluangkan waktunya untuk ngobrol nggak jelas dengan gue.
Nggak terasa hari sudah semakin sore. Gue melirik jam yang tersemat di tangan kiri gue. Di sana jarum pendek bertengger di angka tiga. Gue pun pamit ke Bapak itu dan bergegas ke rumah.
Seperti dugaan gue. Sebuah mobil yang nggak asing terparkir rapi di halaman rumah. Pelan-pelan, gue melangkah. Gue mengumpulkan semua keberanian untuk bisa sampai di depan pintu.
Jantung gue berdegup nggak normal. Sumpah. Ini lebih menegangkan daripada ujian meja. Mendingan gue ujian meja dua kali, deh. Tapi, gue nggak boleh nyerah. Tinggal selangkah lagi. Semua pengorbanan gue akan sia-sia kalau gue mundur sekarang.
Sebelum gue, mengetuk pintu. Gue udah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Gue akan dimarahi habis-habisan. Kemungkinan terburuk, gue akan dihukum sama Nyokap.Dengan kekuatan datang bulan. Eh. Dengan segala kekuatan dan keberanian gue. Seperti slow motion, tangan gue masih di udara mau meraih ganggang pintu, gue menelan ludah. Tiba-tiba ….
Loh? Pintunya terbuka sendiri?Gue menegakkan kepala.Muka gue langsung horor. Di sana, Nyokap gue berdiri dengan tegap, menatap gue tajam. Beberapa detik, suasana hening.
“Ma. Kean mi-minta m-maaf.” Roman-romannya kayak nembak cewek. Gue bicara terbata-bata sampai bibir gue kering.
Gue siap.Gue siap. Apapun yang terjadi.
Tiba-tiba, kedua tangan Nyokap terangkat ke udara. Refleks gue mendekap untuk menangkis.Tapi, tunggu.Kok nggak terjadi apa-apa?Sepersekian detik, sebuah pelukan yang selama bertahun-tahun nggak gue rasakan, tiba-tiba mendarat ke tubuh gue.
“Kau baik-baik aja ‘kan, Kean? Dari mana aja kau, Nak?” Bersamaan dengan itu, Nyokap melepas pelukannya.
Dan gue masih bergeming. Nggak berapa lama, Gaga datang dan gue akhirnya disuruh masuk.
Saat itu juga, Nyokap cerita kalau ternyata Nyokap sudah tahu keberadaan gue. Nyokap tahu kalau gue tinggal dengan orangtua angkat. Dan semua itu berkat si buto ijo. Ujo mewartakan ke keluarga gue, kalau gue baik-baik aja.
Di situ gue benar-benar lega. Lebih lega ketika gue dinyatakan lulus ujian meja.
Ngomongin soal kelulusan. Detik itu juga gue memberitahu Nyokap, dan Bokap yang baru pulang. Meskipun awalnya ekspresi Bokap seperti orang syok waktu melihat kepulangan gue. Untung aja, Bokap gue orangnya penyabar dan penyayang.
“Oh, ya. Kean. Ngomong-ngomong. Kau naik apa ke sini? Mana motor kau?”
Alamak.Mampus.Gue nggak pernah kepikiran kalau Nyokap akan bahas soal motor gue yang kemalingan. Dan gue kembali kena siraman bertubi-tubi dari Nyokap.
***
Hari yang nggak gue sangka akhirnya tiba juga.
Gue menatap pantulan diri gue dicermin. Kalau dilihat-lihat, gue ganteng juga. Gaga, Nyokap dan Bokap sudah siap di halaman rumah.
“Yuk, Ma, Pa,” kata gue mantap.
Mobil melaju dengan cepat menuju kampus gue. Di sana, teman se-angkatan gue sudah bersiap dengan memakai pakaian hitam, lengkap dengan lambang kampus di dada.
“Keano Sucipto. Lahir di Gorontalo, 27 Mei 1994.”
Gue berjalan dengan gagah. Penuh wibawa. Karisma. Dalam hati, Nyokap dan Bokap pasti bangga dengan gue.
Tiba saat sesi foto dengan keluarga. Mata gue seketika nyalang melihat sosok di depan gue. Mereka kedua orangtua angkat gue. Mereka tersenyum. Gue pikir, detik-detik saat gue diusir, semua kenangan tentang gue akan mereka lupa.Ternyata gue salah.Mereka kemudian mendekat, lalu bercengkerama dengan Nyokap Bokap. Seperti pertemuan antara mantan dan pacar.
Tapi, ini lebih indah daripada itu.
Sebenarnya, bukan hanya itu yang buat gue jantungan. Ada satu sosok yang benar-benar membuat mata gue membelalak.
“Hai, Mas Kean. Selamat, ya, wisudanya.”
Di depan gue, Bunga maju cantik nggak lama setelah kemunculan orangtua angkat gue.Seketika bibir gue kelu. Gue speechless dengan kedatangan Bunga ke wisuda gue. Rasanya detik itu juga, gue pengin nangis.
Sejak kejadian gue diusir gara-gara investor itu, gue nggak pernah komunikasi lagi dengan Bunga. Gue juga nggak ada keberanian buat sms Bunga walau sekadar say hai. Gue sadar diri, semua yang gue lakuin itu salah. Dan Bunga nggak ada hak untuk menerima permintaan maaf dari gue.
“I-iya makasih. Tapi kok, Bunga bisa ada di sini?”
Gue menatap Bunga dan orangtua angkat gue bergantian.
“Kami yang ajak Bunga ke sini, Kean.” Ibu angkat gue akhirnya bersuara. Senyum simpul terulas di bibir mereka, termasuk Bunga.
Entah, apa gue yang kangen dengan Bunga atau baru sadar kalau Bunga tampak lebih cantik dari biasanya. Dia memakai knee length dress berwarna hijau muda dengan ornamen hitam di pinggangnya. Rambutnya terurai panjang dengan kepang menyamping.
“Eng … Bunga.” Suara gue tiba-tiba tercekat. Semua orang menatap gue penuh antusias. Seolah ingin mendengar kalimat selanjutnya.
“Kenapa, Mas?”
“Ma, Pa, Ibu dan Bapak.” Gue menjeda. “A-ada sesuatu hal yang pengin Kean bilang.”
Dengan sigap gue langsung berlutut di depan Bunga. Gue ambil tangan kanan Bunga. Gue lihat matanya seketika melebar. Nggak terkecuali Nyokap Bokap dan orangtua angkat gue.
“Gue tahu, mungkin ini mendadak. Tapi, setidaknya gue udah yakin kalau lo emang yang tepat buat gue.”
Gue kembali mengambil napas dalam-dalam.
“Would you marry me?”
Bayangin aja, dengan pedenya, di depan Nyokap Bokap dan orangtua angkat gue, gue bisa berucap empat kata itu.
Suasana seketika hening. Yang ada hanya suara sorak orang-orang sekeliling.
“Tapi, Mas….”
Dari raut wajahnya, sepertinya Bunga keberatan dengan perkataan gue. Gue menatap balik ke arah Bunga, seakan menunggu kalimat berikutnya.
“Cincinnya mana?”
Gubrak.
Sok ngelamar anak orang, tapi nggak ada persiapan. Tanpa kata-kata yang romantis. Tanpa alunan musik romantis. Dan nggak di tempat romantis.
“Cem mana kau, Kean? Melamar nggak ada cincinnya. Di mana-mana itu, kalau kau mau lamar anak orang, ya harus ada cincin.”
Yak, dan gue di-bully lagi.
Gue langsung mendekat ke Nyokap gue.
“Ma. Kean pinjam cincin kawin Mama, ya?”
“Alamak, kau ini. Nggak modal kali kau.”
Gue nyengir. Akhirnya, setelah masang muka melas, Nyokap melepas cincin yang tersemat di jari manisnya. Detik berikutnya, gue lalu memasangkan cincin itu ke jari manis Bunga.
Hasilnya. Cincin itu kebesaran di jari Bunga. Ujung-ujungnya gue kembali diketawain.
“Ya udah, Kean. Ini coba pakai cincin Ibu.” Ibu angkat gue lalu melepas dan memberikan cincin itu ke gue.
Cocok.
Walaupun, ending-nya gue masih ngenes gara-gara sebuah cincin. Tapi, pada akhirnya gue bisa merasakan kebahagiaan yang nggak akan pernah gue lupain seumur hidup.
Sampai kapanpun.
TAMAT
Other Stories
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...
Autumn's Journey
Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...