Karena Hujan
Kalau gue hitung. Ini sudah masuk minggu ke-empat sejak gue kabur dari rumah. Gue bisa membayangkan bagaimana wajah horor Nyokap kalau ketemu gue.
Gue pikir, Nyokap bakal lapor polisi setelah satu hari gue nggak pulang. Ternyata, nggak ada tanda-tanda berita tentang kehilangan anak.Bagi Nyokap, gue masih anak-anak.
Apalagi setelah mendapati gue main hujan sewaktu gue masih duduk di bangku SMA.
“Kean. Nggak bosannya kau main hujan. Nanti kau sakit, Mama juga yang repot.”
Gue nurut dong.
Lain halnya kalau gue kehujanan.
“Kenapa kau nggak bawa payungnya? ‘Kan Mama udah bilang, kau bawalah itu payung biar nggak kena hujan.”
Hujan jika terus-menerus, maka akan membawa bencana. Banjir, jemuran nggak kering-kering, mau ke mana-mana juga susah. Tapi ada kalanya hujan membawa berkah.
Contohnya, di saat-saat gue lagi susah banget move on dari tempat tidur, dan sialnya pagi itu jugague harus berangkat kuliah. Hujan berbanding lurus dengan gravitasi bumi. Tiba-tiba ponsel gue berdering, tanpa pesan singkat masuk. Bunyinya tentang ngabarin kalau dosen nggak masuk pagi ini. Di situ gue benar-benar bersyukur. Untung tuhan menciptakan hujan.
Hujan juga yang menyelamatkan gue dari amarah dosen killer di kampus. Saat itu gue benar-benar lupa kalau ada tugas administrasi kantor. Dan gue nggak tahu cara bagaimana untuk bolos kuliah. Karena point absen gue sudah tiga kali nggak masuk, jadi kalau satu kali lagi nggak masuk mata kuliahnya maka nilai gue bakal dapat E.
Di tengah derasnya hujan, tiba-tiba ketua tingkat gue sms.
Skefo.
Hari ini nggak masuk karena rumah Bu Kajol kebanjiran. Tugas dikumpul minggu depan di ruangan dosen.
Selamat, selamat.
Kita, terutama temen seangkatan gue emang panggil Bu Kalina dengan sebutan Kajol. Karena wajahnya peranakan India-Palembang. Hidungnya mancung dengan warna kulit eksotik. Kajol KW.
Terkadang, ketika hujan, apalagi ketika lagi deras-derasnya. Kita seperti mendengarkan seseorang teriak-teriak nggak jelas.
Dan itu gue alami. Sering malah.Saat itu gue lagi santai di kamar. Selang lima menit, gue tiba-tiba mendengar seperti ada yang teriak. Gue pikir itu halusinasi. Gue cuek bebek aja. Tapi, semakin lama, suara itu semakin menggelegar. Hingga tiba-tiba Nyokap mendobrak pintu kamar gue, lalu datang dengan membawa sebotol sambal. Ternyata, itu bukan halusinasi gue. Itu suara Nyokap yang minta dibukain tutup botol sambal.
***
Kehidupan gue di rumah baru nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Eh, ada ding. Satu kata. Sempurna.
Nggak ada omelan Nyokap. Nggak ada suruh sana sini. Apapun yang gue minta pasti dipenuhi. Gue berasa seperti anak tunggal. Nggak ada juga yang namanya saling rebut sama saudara dan mereka juga yang membiayai uang kuliah gue. Termasuk ketika minta uang untuk sekadar jalan-jalan dengan teman gue. Mereka nggak segan untuk ngasih.
Hari ini rumah baru gue kosong melompong. Ibu angkat gue lagi arisan, sedangkan Bapak angkat gue sibuk ngurus bisnis. Terlintas ide ngajakin Ujo, Suri, dan Rahma main ke sini. Bergegas gue SMS mereka.
Woy, kalian mau lihat rumah baru gue nggak? Buruan ke sini, alamatnya di Jl. Tetek Bengek RT 3 RW 5. Gue tunggu.
Nggak nyampe sejam, mereka sudah nongol di sebelah pagar rumah baru gue.
Sebagai tuan rumah yang baik, pastilah gue persilakan mereka masuk ke rumah.
“Serius lo, Bro? Wah, gokil,” kata Ujo dengan mata berbinar.
Suri dan Rahma hanya bisa berdecak kagum.
“Kalau gini mah, gue juga mau punya orangtua baru.” Suri menyahut sambil matanya jelalatan ke mana-mana.
Mereka masih sibuk mengamati keadaan rumah baru gue. Sementara itu, gue ke dapur bermaksud ambil minuman dan camilan.
“Nih,” kata gue sambil menaruh minuman soda merah dengan beberapa camilan.
“Weh … mantap banget,” seru si Ujo. Mata Ujo langsung berubah hijau kalau lihat dua hal: perempuan dan makanan.
Mereka pun asik menyantap soda merah dan camilan cokelat yang gue hidangkan. Kami bercerita tentang tugas di kampus, tentang cewek bohai di kampus. Kalau si Suri dan Rahma hanya bisa menggeleng sambil istigfar.
“Eh, bedewe, lo nggak dicariin ama Nyokap lo apa?” kata Suri.
Gue bergeming sejenak. Berusaha meresapi pertanyaan Suri sambil mencari jawaban yang pas.
“Kayaknya sih, nggak,” jawab gue santai.
Mereka bertiga saling bertukar tatap. Mungkin mereka pikir gue adalah anak terdurhaka versi On The Sp**.
“Kok gitu?” tanya Rahma.
“Ya buktinya, Nyokap nggak pernah tanyain tentang gue ke elo pada, ‘kan?” Gue mulai menatap serius ke arah mereka bertiga.
Ujo, Suri dan Rahma bersamaan mengangguk.
“Iya, sih,” ucap Rahma sambil menjajal camilan.
Sesekali gue juga berpikir, apa benar Nyokap nggak cariin gue, atau Nyokap nggak peduli lagi sama gue? Tapi nggak mungkin banget. Secara Nyokap gue itu, lihat gue pulang sebelum isya aja, murka setengah ampun, apalagi ini yang sudah hampir sebulan?
**
Si Ujo, Suri sama Rahma akhirnya kembali ke habitat masing-masing. Tinggallah gue termangu di rumah gedong ini.
Nggak berapa lama, gue perhatikan dari balik jendela, satu per satu rintik hujan jatuh bergantian. Hingga lama-kelamaan, itu menjadi segumpal air yang jatuh bersamaan. Membentuk sebuah kata yang disebut hujan.
Berderai memori akhirnya hinggap di pikiran gue. Bersamaan dengan turunnya air deras itu, semua hal yang menyenangkan secara konstan muncul silih berganti.Gue langsung teringat dengan cewek tomboy tempo hari. Kakinya yang jenjang, rambutnya yang panjang terikat walau dibantu dari lubang topi yang dia kenakan.
Gue belum pernah punya temen tomboy sebelumnya. Jadi gue nggak begitu tahu sifat mereka. Berbeda dengan cowok banci yang kalau kita kenal lebih dalam, mereka di luarnya lembut tapi di dalamnya tetap macho. Sementara cewek tomboy? Mungkin kebalikannya.
Gue mencoba mengingat nama cewek tomboy itu. Lilis. Sudah hukum alam kalau memori otak gue lancer hika mengingat nama cewek. Sekilas gue rasa namanya seperti nama kembang desa dari mana. Yang gue sesalkan dari pertemuan dengannya adalah gue nggak sempat nanya dia tinggal di mana? Anaknya siapa? Umurnya berapa? Adeknya berapa? Udah kerja atau masih kuliah? Eh buset. Itu gue yang kepo atau mau buat biodata diri?
Gue berikrar dalam hati. Kalau suatu saat gue ketemu sama cewek itu lagi, jalan ternekatnya mungkin gue bisa ajak dia makan malam bareng. Gue sih bisa ajak cewek makan malam bareng. Tapi yang paling nggak bisa itu, jawaban mereka setelah gue ajak. Ada yang senyum-senyum nggak jelas. Ada yang pasang wajah horor. Bahkan ada yang pernah gampar gue, gara-gara ngajakin dia makan malam di luar.
“Gue tuh ya, nggak sudi diajak ama lo. Ngaca dong. Wajah pas-pasan mau ngajakin gue dinner.”
Tapi dua hari kemudian, gue dapetin dia jalan bareng sama om-om nggak jelas. Saat itu gue disuruh Nyokap beli beras, dan mereka masuk ke sebuah restoran Prancis super duper mahal.
Gue menghela napas.Ini muka gue yang pas-pasan atau duit gue yang pas-pasan?Dan pada akhirnya, gue mengambil kesimpulan.
Jangan takut muka tebal, yang penting dompet tebal.
Jangan takut wajah standar, yang penting kantong isinya dollar.
Gue sih nggak pernah berharap ketika hujan turun, tiba-tiba si Lilis bernyanyi sambil membentangkan selendangnya ke udara. Kakinya ke mana-mana. Hentak kanan, hentak kiri. Pinggulnya bergoyang mengukuti irama, tiba-tiba gue datang berayun di sebuah tiang listrik, lalu bahu gue ikut bergoyang. Gue mendatangi Lilis yang sedang nyengir di bawah hujan.
“Tum pa se aeeh ….”
Nggaklah. Gue Cuma berharap Lilis bisa terima ajakan gue.
Nggak lama berselang. Ibu angkat gue pulang dengan membawa sebuah kue brownis cokelat pandan. Beliau lalu memotong-motong menjadi beberapa bagian lalu menaruhnya di atas meja. Kami pun menyantapnya bersama. Tiba-tiba beliau nyeletuk,“Kean. Kamu udah punya pacar, belum?”
Gue hampir tersedak mendengar pertanyaan Ibu angkat gue.“Nggaklah, Bu,” jawab gue sambil nyengir.
“Kalau gitu, Ibu mau kenalin kamu sama anaknya temen Ibu. Gimana?”
Gue kembali tersedak.
Awalnya gue nolak, tapi ya nggak ada salahnya juga. Akhirnya Ibu angkat gue mengatur jadwal pertemuan gue sama cewek yang katanya anak temen Ibu angkat gue.
***
Hari yang dimaksud pun tiba. Gue pakai mobil untuk pergi menemui anak temennya Ibu angkat gue.Mereka sudah mengatur tempat dan waktu pertemuan.
Akhirnya, gue sampai di sebuah café. Nggak lama, seorang cewek datang. Aroma parfumnya langsung menyeruak.
“Kean, ya? Anaknya Bu Hana?” kata cewek itu. Sebagai informasi, Bu Hana nama Ibu angkat gue.
Gue berbalik, lalu refleks tersenyum.“Oh, iya. Betul. Dan lo Bunga, anaknya Bu Galih, ya?” tanya gue. Gue cuma mau memastikan aja.
“Iya.”
Kami pun berjabat tangan. Gue jadi deg-degan centil kalau berjabat tangan sama cewek. Gue mempersilakan Bunga duduk.
Bunga nggak jauh berbeda dengan Lilis. Bunga punya mata yang sedikit bulat, sedangkan Lilis punya mata yang tajam. Rambut keduanya juga sama-sama panjang. Bedanya rambut panjang Bunga bergelombang. Sementara Lilis lurus. Dan kalau dilihat dari postur tubuh, Bunga punya postur yang sedikit tinggi dari Lilis. Mungkin karena Bunga pakai highheels kali, ya?
Loh? Kenapa jadi komentar tentang cewek?
Akhirnya, gue mengawali perbincangan dengan sedikit basa-basi. Gue tanya apa hobinya, apa makanan kesukaannya. Sampai kartun kesukaannya.Ya. Dan di situ Bunga langsung berubah geli. Mungkin karena baru ketemu dengan spesies manusia macam gue.
Setelah hampir sejam di café. Bunga dan gue bertolak menuju mall. Untung aja, Ibu angkat gue kasih mobilnya untuk nge-datehari ini.
Sampai di mall, Bunga dengan liar menelusuri beberapa toko pakaian dan kosmetik.Firasat Gue, mungkin Bunga adalah jelmaan Nyokap gue. Dia seperti orang kesurupan begitu melihat barang-barang yang ‘langkah’. Dan menurut hukum alam, jika cewek lagi berbelanja, maka yang wajib membayar adalah cowok.
Untungnya—lagi-lagi, Ibu angkat gue membekali gue dengan beberapa ratus lembar duit merah. Selang tiga jam Bunga terduduk di kursi foodcurt. Mungkin baterai Bunga sudah habis.
“Capek, ya?”
Dia malah nyengir. “Iya, nih. Capek banget.”
“Mau balik nggak?” tawar gue cepat-cepat. Gue takut aja, siapa tahu baterai Bunga langsung terisi full begitu matanya melihat ‘sesuatu’ yang menakjubkan.
“Ya udah. Yuk balik aja.”
Fyuh.Terima kasih Tuhan.
Akhirnya, petualangan Bunga berakhir sampai di situ. Kami pun menuju parkiran mobil. Begitu Bunga masuk ke mobil. Tiba-tiba, ada yang menepuk bahu gue.
“Hai, Mas. Ketemu lagi.”
Other Stories
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Namaku May
Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...
Love Of The Death
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Cinta Satu Paket
Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )
(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...
Aparar Keparat
aparat memang keparat ...