Dunia Model
Dicari gadis dengan tinggi minimal 170 cm, wajah fotogenic, umur 12-17 tahun untuk dibimbing menjadi seorang model di Agensi Model Look Fresh.
“Ella, ini pas banget dengan kriteria kamu,” kata Zara antusias menyemangati Ella sahabatnya yang sedari kelas 1 SD sampai sekarang kelas 8 selalu di dekatnya.
“Yakin Ra, aku harus coba ikut audisi ini?” tanya Ella ragu.
“Iya dong, kamu itu cantik banget Ella... daripada kamu mikirin soal Papa dan Mama kamu yang beda agama terus sibuk, mendingan kamu ikutan kegiatan positif,” saran Zara yang sok dewasa.
Dua gadis kelas 8 yang tengah beranjak dewasa memang kritis dengan lingkungan keluarga masing-masing yang jarang berkomunikasi dengan kedua orang tua yang memang sangat sibuk.
“Kamu juga coba dong Ra, jadi aku ada temannya....” ajak Ella.
“Hmmm aku kan pendek, Ellaaaaa... eits tapi imut!” Zara bela diri, centil.
“Ayooo cepat-cepat, isi formulirnya dan ayoooo kita ke studio foto. Cepat-cepat!” Zara menarik Ella dibonceng sepeda motor.
Ella tahu kalau Zara sudah berkemauan tidak bisa diajak kompromi, tapi sepertinya kali ini Ella tidak ingin menolak kemauan sahabatnya, karena dalam hatinya mengiyakan apa yang Zara sarankana agar punya kegiatan positif sepertinya betul juga.
Dan dua gadis remaja sama-sama berambut panjang, tertawa riang menuju studio foto. Bukan foto untuk keperluan Ella ikutan audisi, tapi foto lucu-lucuam mereka berdua diabadikan di studio kecil di Mall Citrapratama yang tidak jauh dari SMP/SMA Mutiara tempat Elle dan Zara sekolah.
“Siip sudah kelar semua persyaratan, ayo kita ke JNE untuk kirim berkasnya. Dan tunggu dua minggu pengumumannya di majalah Valia!” seru Zara yang tampak bahagia sekali bisa membuat Ella ikutan audisi model kali ini.
Ella hanya bisa ikutan bahagia karena Zara selama ini memang selalu menemani dan mendukung hampir 8 tahun kebersamaan mereka sebagai sahabat. Mungkin kedekatan karena mereka sama-sama merasa kesepan di rumah, orang tua mereka sama-sama orang sibuk. Begitulah kehidupan Metropolitan, di mana menuntut dua orang tua harus bekerja demi memenuhi kebutuhan yang serba mahal.
Zara masih beruntung mempunyai seorang kakak, hanya saja kakaknya laki-laki dan juga sibuk dengan dunianya.
***
Satu bulan kemudian....
“Ellaaaa… lihat nama kamu di nomor 6.Meskipun terakhir, tapi kamu sudah masuk nominasi.Wow… dari hampir 950 pesera seluruh Indonesia! Kamu benar-benar beruntung!” seru Zara sambil membesarkan mata dan mendekatkan majalah Valia ke matanya.
Ella merebut untuk melihatnya dan jelas tertulis nama “Cerella Flos” serta foto dirinya yang simpel sebenarnya tanpa make up, berbeda dengan nominasi lainnya yang sepertinya agak dandan.
Mau tidak mau Ella ikutan girang.Walau awalnya dirinya sangat ragu ikutan acara model-modelan, tapi mengingat saran Zara agar di tidak kesepian saat di rumah dan punya aktivitas yang asyik bisa menghapus rasa sepi hatinya.
“Terimakasih, Ra… kamu sudah mendukung aku untuk ikutan.Thanksbanget Dear, you are really my best friend,” ungkap Elle.
“Always Dear....” berdua saling berpelukan tak peduli di sekitarnya geleng-geleng dengan kelakuan Cerella dan Zara yang tampak larut dengan kegembiraan yang belum mereka tahu kalau salah satu temannya akan jadi model dari Sekolah Mutiara.
Langkah selanjutnya bukan langakah yang terlalu sulit untuk Cerella di dunia model, karena papa dan mamanya mendukung.Bahkan ikutan bangga dengan masuknya Cerella untuk menjadi nominasi cover majalah dan selanjutnya bernaung di agensi model.
Cerella mulai sibuk dengan audisi-audisi. bersyukur sekali Zara selama bisa menemani tanpa rasa berat menemaninya. Papa dan mama Ella hanya sesekali bisa temani Ella di acara model, mereka memercayakan Mang Dawi sebagai sopir keluarga untuk mengantar Ella jalan kemana pun untuk keperluan latihan model.
Cerella juga mulai menerima tawaran untuk pemotretan.Sepertinya karier Cerella sebagai model berjalan mulus.
Sayang saat mau kelas 10, Zara harus ikut papanya pindah ke daerah.Papanya mendapat tugas dari kantornya untuk pindah ke Purwokerto. Cerella kehilangan Zara yang selalu bersamanya saat suka dan duka. Teman yang saling mengingatkan berbagai hal dari pelajaran saat ada tugas yang harus dikumpulkan, ulangan.Tidak hanya itu, dia juga mengingatkan dirinya untuk tidak ikutan dengan gaya pertemanan yang kadang terlalu longgar.
Zara mengingatkan Cerella untuk tidak menanggapi teman laki-laki yang suka dengan Cerella, menurut Zara, “Jangan gampang suka dengan cowok.Kalau mulai mengenal cowok, yang ada itu pasti masalah dan membuat kita tidak fokus dengan kegiatan dan pelajaran. Pokoknya masalah cowok nanti saja! Kalau sudah kenal cowok bisa berantakan hidup kita.”
Cerella mengingat pesan sahabatnya itu dan dalam hati kecil dia selalu mengingat semua nasihat-nasihatnya. Tapi jauh dari Zara membuat Ella juga merasa sepi dan kehilangan.
Other Stories
Percobaan
percobaan ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Aparar Keparat
aparat memang keparat ...
Autumn's Journey
Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...