After Honeymoon

Reads
353
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
after honeymoon
After Honeymoon
Penulis Nenny Makmun

Bali Chemistry

Sabtu pagi yang cerah setelah menikmati matahari terbit sambil berlari-lari kecil di pinggir Pantai Kuta, Mutia kembali ke kamar untuk mandi dan sarapan. Acara selanjutnya adalah melihat acara pelepasan anak-anak penyu.
Sesekali melirik ke kamar 311 yang masih senyap, “Sepertinya si pemabuk masih molor!” Mutia segera berlalu menuju ruangan breakfast yang bisa memandang Kuta dengan lepas.
Kali ini Mutia memilih memakai celana jeans pendek, kaos gombrang Micky Mouse dan sandal jepit yang semalam di beli di Surf Girl dan topi pantai bundar bertali agar tidak kabur kena tiupan angin laut.
Sarapan di hotel lalu bergegas menuju Pantai Kuta. Jam di tangan menunjukkan pukul 08.00 dan banyak sekali di hari Sabtu pagi wisatawan domestik dari luar negeri yang menikmati Pantai Kuta.
Ada yang bermain surfing, beberapa turis asyik dipijat dan berjemur, jalan-jalan.. Mutia berhenti sejenak pada bangunan berbentuk patung penyu yang sangat besar dan naik ke atasnya lewat tangga yang tersedia di atas ternyata pasir untuk tempat tinggal penyu-penyu kecil. Di dalam bangunan ini juga tempat penangkaran telur-telur penyu. Mutia membaca tulisan Bali Sea Turtle Society di papan tak jauh dari bangunan ini.
Tiba-tiba sosok bapak-bapak menyapa Mutia, “Hai Non, kalau suka penyu nanti sore kemari saja, ada acara pelepasan tukik atau anak penyu... seru, anak-anak penyu nanti akan balapan untuk mencapai bibir laut.”
“Oh… aku kirain sekarang acaranya Pak,” jawab Mutia sambil menuruni tangga.
“Tidak Non, nanti sore jam 16.00 akan ada pengumumannya. Kamu suka penyu?” tanya sosok bapak yang mulai senja tapi terpancar semangat di wajahnya.
“Iya saya suka penyu, kebetulan di rumah juga pelihara sepasang kura-kura dan suka mengoleksi apapun yang bertema kura-kura,” Mutia menjawab riang.
“Hehehe kalau begitu silakan berburu apa saja yang bertema penyu Non, mumpung di Bali, sambil menunggu sore hari nanti ikut aja acara balapan pelepasan tukik, seru!”
“Kenapa harus sore hari Pak? oh ya nama saya Mutia... kalau Bapak?” Mutia mengulurkan tangannya.
“Panggil saja Mr. Turtle, kebetulan saya juga pecinta penyu dan kura-kura, Mutia. Iya kebiasaan kita melepas tukik memang jam 16.45 dengan perhitungan, waktu tersebut menjelang matahari terbenam sehingga peluang mereka ini selamat lebih besar karena predatornya seperti burung, tidak bisa melihat mereka lagi saat hari telah gelap.”
Mutia mengangguk-angguk mendengar penjelasan bapak yang memperkenalkan namannya dengan Mr Turtle.
“Baiklah, terima kasih Mr. Turtle. Sore nanti saya akan kemari,” Mutia menyalami Mr. Turtle dan memutuskan untuk jalan-jalan di pinggiran Kuta sambil mencari pernak-pernik bertema kura-kura.
***
Mutia hari ini memilih untuk jalan-jalan ke Pasar Sukowati dan Joger sambil menunggu sore hari mengikuti acara pelepasan tukik yang menurut Mr. Turtle dimulai ketika seekor penyu naik ke Pantai Kuta di tahun 2001. Hingga akhirnya 23.964 butir terkumpul dan 12.883 telur berhasil ditetaskan selama tahun 2012. Seiring dengan naiknya kembali penyu ke Pantai Kuta, kegiatan melepas tukik pun dimulai sejak tahun 2001. Dan sore ini akan menikmati kembali terbenamnya sang surya.
Pas sampai di Pasar Sukowati pukul 10.00 saat pasar mulai buka, Linda memberi tahu kalau ingin sukses menawar harga, maka sebaiknya datang di pagi hari pada saat baru buka. Karena kepercayaan orang Bali, jika pada saat baru buka, dagangan langsung dapat terjual, maka akan memperlaris barang dagangan mereka. Jadi jika mampu datang ke pasar seni Sukawati pada pukul 10:00 wita (waktu lokal), alangkah baiknya Anda mencoba menawar lebih murah.
Mutia tersenyum sumringah, oleh-oleh buat Linda sudah ada, yaitu sepasang lukisan penari Bali yang sangat manis memakai baju Bali kuning keemasan ungu, dua lukisan yang saling berhadapan hanya seharga Rp30.000,- padahal tadinya sepasang diminta Rp100.000,- Mutia iseng menawar langsung dua boleh tidak Rp30.000,- ternyata diberikan oleh penjualnya, katanya sebagai penglaris karena pembeli pertama.
Mutia jadi percaya diri untuk setiap pembelian menawar lebih dari separuh harga yang ditawarkan oleh penjualnya. Kadang berhasil kadang tidak, tapi membuat Mutia jadi girang sendiri,
Sepasang lukisan, beberapa kaos leak Bali, kain-kain Bali, patung kayu, perak putih dan batu berbentuk kura-kura sudah Mutia dapat juga.
Cukup belanja di Pasar Sukowati, Mutia memutuskan untuk melanjutkan ke Joger. Tapi jam siang sudah memanggil perutnya untuk diisi.
Mutia meminta sopir taksi menuju warung bubur Laota yang ada di jalan raya Kuta yang buka 24 jam. Salah satu yang direkomendasikan oleh Linda di sini adalah bubur pelangi. semangkok bubur dengan lauknya yang terdiri bermacam-macam seperti cumi, udang, ikan, sapi, telor pitan dan cakwe, mungkin karena itulah di sebut bubur pelangi karena isinya bermacam-macam.
Bali membuat Mutia memperbaiki nafsu makannya, pelan Mutia melahap bubur yang masih panas tersaji itu. Harum gurihnya benar-benar membangkitkan selera makannya dan mau melahap banyak makanan. Tubuhnya juga tidak bisa gemuk, apalagi tubuhnya semakin tirus saja karena dua minggu ini nafsu makannya yang sangat buruk.
Setelah perutnya terisi kenyang, Mutia masih ingin melanjutkan ke Joger. Ada titipan Linda, barang apapun yang penting dari Jogger dengan kata-kata yang unik.
Joger pukul 14.00 penuh sesak dengan pengunjung turis mancanegara maupun domestik. Pengunjung rata-rata tersenyum membaca setiap kalimat dengan kata-kata yang slengehan tapi kena di hati.
Sebelum masuk pintu, Anda akan disambut tulisan-tulisan garing seperti \"Ini tembok Joger, bukan tembok Berlin\". Ketika masuk, makin banyak kata-kata garing yang Mutia temui. Lihat saja di beberapa merchandise kecil, Joger menulis \"Milik pabrik kata-kata Joger, Kuta, Balinesia yang tak terpisahkan dari Indonesia.
Untuk menangkal serangan maling, Joger juga punya kata-kata seperti \"Dilarang maling!, karena TUHAN, ada di mana-mana!\" yang disertakan dalam tiap produk. Entah, kata-kata itu berkhasiat apa tidak.
Akhirnya Mutia memilih sebuah tas cangklong cukup besar, bisa untuk ke kantor, berwarna hijau kesukaan Linda bertuliskan “Joger Jelek, Bali Bagus, Joger Jelek, Bali Cantik.”
“Wah sudah pukul 15.00, aku harus segera balik ke hotel taruh belanjaan dan ke Kuta melihat pelepasan tukik,” Mutia segera mencari taksi kembali ke hotel.
***
“Eggh gila aku tidur hampir seharian...” Milan terbangun dari tidurnya di hari Sabtu yang hampir seharian.
Jam di kamar menunjukkan pukul 15.00, Milan membuka jendela kamarnya dan angin hangat memaksa masuk ke kamarnya yang dingin karena AC. Setelah mematikan AC dan TV yang menyala dari semalaman, tak ada yang lebih menarik selain membuat kopi panas.
“Aku sepertinya mabuk semalam, tapi hmmm siapa yang membawa aku kembali ke kamarku ya?” Milan meneguk kopi panasnya sambil mengingat kejadian semalam.
“Iya ya ada Dara... siapa lagi kalau bukan dia. Aku ingat dia mau menemani aku demi tips untuk bayar SPP-nya... duh yang ada aku mabuk lagi! Oh ya dompet aku!” seketika Milan ingat satu-satunya benda selain Hp yang selalu dibawanya ke mana-mana.
“Yah raib deh dompetku! Shiiiiit!” Milan memaki-maki dirinya sendiri, seketika kopi yang enak menjadi terasa pahit.
“Aaaagh gara-gara mengikuti saran Markis aku jadi ketiban sial nih!” Milan menghempaskan tubuhnya ke kasur dan menutup mukanya dengan ke dua tangan.
Sejenak Milan terdiam dan segera memutuskan mandi lalu mencari makan, tapi kembali dirinya memaki kebodohannya, “Mau makan pakai uang apa! Semua ATM dan kartu kredit aku ada di dompet! Siaaaal!”
“Hmmm lebih baik aku menenangkan diri ke Pantai Kuta, daripada kacau begini sambil aku telepon Markis.”
Milan memutuskan mandi lalu memakai baju kaos putih dan celana pendek tiga perempat biru dongker.
Ternyata benar, semilir angin Pantai Kuta memainkan rambutnya yang agak gondrong, menimbulkan kenyamanan tersendiri, “Wah sepertinya seru sekali... acara apa yah...” Milan berlari mendekat kerumunan orang-orang yang sepertinya tengah asyik setengah merunduk, sepertinya ada bawaan di tangannya. Ternyata kotak plastik berisi anak penyu.
“Yah saksikan sekarang saatnya pelepasan anak penyu ke alam bebas...” suara dari mikrofon dari seorang leader dengan semangat memimpin \'pasukan pelepas tukik atau anak penyu\' itu berseru lagi, \"Bali... Bali... Bali!\" kemudian para turis asing menjawab dengan \"Surga... Surga... Surga! Are you ready! Let’s go down!\" dengan semangat dan senyum tawa kebahagiaan
Milan jadi lupa dengan masalah dompetnya, bahkan ikutan heboh saat peserta yang terdiri dari anak-anak juga dewasa di garis start mulai melepas anak penyu dari kotak plastik yang perlahan-lahan jalan merayap mendekati bibir laut.
Tatapan Milan terpusat pada satu sosok cewek yang memakai celana jeans pendek, kaos gombrang Micky Mouse, sandal jepit dan topi bundar yang membuat wajahnya berkeringat tampak manis.
Cewek itu semangat sekali berseru agar anak penyu yang dilepasnya berlari kencang menuju bibir laut. Tak sadar Milan tersenyum sambil geleng-geleng kepala, “Kaya anak kecil saja... hehehehe tapi kali ini dia sepertinya sudah enggak sedih kaya kemarin...” Milan jadi asyik mengamati Mutia dan anak penyu yang terus berlari bebas mendekati bibir pantai. Bersamaan teriakan Mutia, “Horeeeee kamu sekarang boleh bebas Tukik ...”
Kaki putihnya terkena air laut, Milan menatap Mutia bebas dan saat bersamaan Mutia juga menatap sosok Milan yang tak jauh berada di depannya sekarang.
Tak ada rencana dalam pikiran untuk bersikap jaim bahkan sekarang Milan dan Mutia saling tersenyum menatap, Milan bahkan memutuskan untuk mendekati Mutia yang juga perlahan mendekatinya juga.
“Hai... tukik kamu juara satu ya, larinya cepat sekali...” Milan membuka pembicaraan.
“Iya lucu banget ya, lihat tuh masih enggak mau bebas juga... jalan miring-miring ngejauhin laut malahan...” Mutia menunjuk beberapa tukik yang memang sepertinya masih bingung arah bebas ke lautan.
“Hmmm asyik juga ya melihat tukik itu bebas lepas... lihat tuh sepertinya bahagia banget ya sudah ketemu air laut kebebasan!” Milan tampak ikutan seru dengan acara yang belum usai karena di sisi lain masih ada kehebohan para turis asing yang tukiknya belum juga mencapai bibir laut. Ada yang malah berhenti mogok, tidak mau jalan lagi dan ada yang jalan masih bingung. Sepertinya tukik Mutia memang yang paling tahu untuk cepat bebas lepas karena menjadi tukik pertama yang tercepat langsung mencapai bibir laut dan sekarang sudah hilang tertelan ombak.
“Ke tepi yuk, bentar lagi matahari terbenam...” Milan mengajak Mutia.
“Ayo...”
Mutia dan Milan berjalan bersisihan, pasir putih membungkus kaki mereka. “Eeeh aduh...” Mutia hampir jatuh karena sandal jepitnya tersangkut pasir. Spontan Milan memegang tangannya dan Mutia tidak menolaknya bahkan sempat mencengkeram erat.
“Nah… enak kan duduk di sini,” Milan menekuk kakinya yang panjang. Sementara Mutia menatap sosok wajah yang tidak asing karena sudah enam kali bertemu dalam dua hari ini. Kalau tidak salah enam kali saat pertama kali di restoran Awura cepat saji di bandara Soetta, di lobi dan lift hotel Granz Inz, saat Milan mengintip waktu dirinya berenang dan semalam yang terparah! Saat Milan mabuk terpaksa dia menarik sampai membentur dinding lift tak sadarkan diri lalu bersama Dara membawanya ke kamarnya dan sekarang memang ke enam kali, tapi ini nyata sangat dekat. Duduk berdampingan menikmati semilir angin Pantai Kuta dan semburat oranye di langit mulai mendominasi langit.
“Oh ya sebelumnya kenalan dulu, namaku...” belum Milan menyelesaikan perkenalannya, Mutia memotong.
“Kamu Milan! Aku Mutia...” Mutia menyambut uluran tangan Milan, entah kenapa dirinya ingin tersenyum semanis mungkin.
“Ups kamu tahu namaku? Iya sih kita sebenarnya sempat bertemu beberapa kali... ups dan aku memang akui kemarin sore mengintip kamu saat berenang, juga melihat kamu menangis di Awura kemarin pagi. Tapi kenapa aku tak tahu nama kamu, tapi kamu tahu nama aku?” dahi Milan jadi berkerut.
“Milan Kusuma, umur 28 tahun, masih lajang, rumah di Cibubur dan karyawan swasta,” kata Mutia tersenyum penuh kemenangan.
“Upps! Wait! Wait! Dari mana kamu tahu semua? Kecuali dari KTP! Dan saat ini aku kehilangan dompet dan seisinya termasuk KTP!” Milan berkata dengan serius.
“Tenang, dompet kamu aman kok di aku, tapi isinya aku nggak bisa jamin ya! Nih silakan kamu cek dulu!” Mutia mengeluarkan dompet cokelat yang memang Milan harap bisa ketemu secepatnya. Bagaimana bisa hidup tanpa isi dalam dompet ini.
“Thanks God!” Milan segera memeriksa isinya.
“Gimana? Ada yang hilang?” kata Mutia dengan mimik ragu karena wajah Milan menggambarkan sedikit kekecewaan, tapi tiba-tiba berubah tersenyum di bibirnya, membuat Mutia lega.
“Iya beberapa lembar uang cash enggak masalah kok! Sepertinya cewek yang semalam menemani aku yang mengambil, dia memang butuh untuk bayar SPP semesteran dan ibunya sedang sakit,” kata Milan lanjut.
“Iya namanya Dara, semalam dia yang nganterin kamu, kamu mabuk berat! Pasti kamu juga gak sadar ya kamu mau cium-cium Dara di lift sambil panggil nama cewek siapa Me... Me... ah lupa.”
“Meta! Mantanku...” lanjut Milan.
“Iya itu deh! Sampai Dara ketakutan dan yang ada di situ Cuma aku dan Dara, jadi aku tarik kamu spontan terus kamu kebentur dinding lift dan pingsan... tahu gak sih kamu berat banget, aku dan Dara kesusahan bawa kamu ke kamar,” Mutia berbagi kisah semalam pada Milan.
Muka Milan memerah seketika, teringat berat badannya yang naik hampir lima kilo dalam sebulan dan pastinya sangat berat badannya, mengingat baik Mutia dan Dara cewek yang menemani semalam dua cewek yang mungil dan kurus-kurus.
“Ya ampuun… maafin aku semalam pasti sangat memalukan...” Milan menutup wajahnya dengan dua tangannya.
“Aku juga minta maaf ngebenturin kamu ke dinding lift, habis kamu nakutin saat mabuk dan aku seumur-umur berhadapan orang mabuk rese ya semalam,” ungkap Mutia jujur.
“Hmmm maafin ya, dan makasih sudah selamatin dompet aku...” Milan tersenyum tulus dan jujur senyum Milan membuat Mutia berdebar.
Tapi terlintas pesan Linda sahabatnya, “Mut jangan cepat terlalu percaya dengan cowok, apalagi kamu baru saja putus, lebih baik cooling down baru memikirkan pasangan baru! Karena itu sudah pasti hanya pelarian kamu sesaat!”
“Hoiii… kok ngelamun!” Milan mengibas-ngibaskan tangan di muka Mutia.
“Hehe enggak, inget sama sahabatku...”
“Jiah sahabat, palingan juga pacar!” goda Milan blak-blakan.
“Pacar apaan, aku gak punya pacar! Sudah ke laut!” jawab Mutia ketus.
“Sama dong, Meta juga sudah ke bonbin!” Milan juga jawab spontan.
“Heeem jadi ceritanya kamu jomblo?” tanya Mutia.
“Ya gitu deh, kamu sendiri? Jomblo juga kan? Kita berdua sama-sama jomblo dan sama-sama patah hati ceritanya,” Milan menyimpulkan sendiri.
“Ya gitu deh, Rolan mantanku memilih Teres buat jadi selingkuhan... padahal aku dan Rolan sudah pacaran empat tahun. Pas di hari jadian kita empat tahun malah aku memergoki dia berselingkuh di hotel dengan Teres. Ya sudahlah it’s over.”
“Aku dan Meta juga dua tahun bubar begitu saja, dia memilih pengusaha kaya, masih muda tapi sudah beristri, tapi uangnya gak berseri alias kaya banget!” ungkap Milan tanpa ada rasa ingin menutupi kekesalannya.
“Hai kenapa kita jadi blak-blakan gini?” Milan mendadak sadar dan Mutia juga menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tidak seharusnya dia bercerita bebas akan masalahnya dengan pria yang baru saja dikenalnya.
“Upps sudahlah, kita di Bali ini sama-sama ingin melupakan masalah kita, jadi hmmm bagaimana kalau cerita mantan aku dan kamu disudahi... lihat tuh polah para bule yang ngumpul sambil minum, benar-benar Bali jadi paradise ya buat mereka,” Milan melihat segerombolan turis yang sudah lanjut usia di tangan kanan kirinya ada bir dan sambil tertawa menikmati terbenamnya matahari.
“Iya gak peduli dengan cucu-cucu mereka yang berlarian di sekeliling mereka, sepertinya mereka menikmati reunian dan asyik cerita masa lalu. Lihat tertawa sampai terbahak-bahak begitu,” Mutia juga mengomentari.
Milan dan Mutia jadi akrab, seperti teman lama saja. “Oh ya semalam Dara ngucapin terima kasih dan maaf juga sih karena dia terpaksa ambil tips dan buat bayar taksi sekalian...”
“Iya sudah nggak apa-apa. Untung ada kamu Tia, kalau tidak kan aku bisa saja sekarang di penjara gara-gara berbuat tidak sopan pada Dara,” Milan sungguh-sungguh berterima kasih.
“Lagian kenapa sih harus mabuk gitu, yang ada juga enggak nyelesein masalah kan?” Mutia memberi saran.
“Aku enggak biasa minum sebenarnya, cuma semalam kayanya memang aku lagi di puncak kekacauan. Untung cewek yang menemani aku meskipun ujung-ujungnya duit tapi dia masih kriteria cewek baik-baik. Dara bekerja malam di diskotik cuma untuk biaya kuliah dan berobat ibunya. Dari awal dia sudah ngomong dan aku memang tidak keberatan menjadikannya teman bicara.”
“Iya makanya jangan mabuk lagi, lebih baik cari pelarian yang sehat.”
“Contohnya? Kamu sendiri gimana mengatasi patah hati kamu?” Milan balik bertanya.
“Semalam aku menghabiskan waktu untuk menulis, hampir empat tahun sejak kenal dengan mantanku aku jadi enggak sempat nulis. Bukan karena dia saja sih... tapi karena kesibukan kerjaan juga jadi gak sempet menulis yang jadi hobi aku. Nah semalam sepertinya bebas banget aku bisa menulis apa yang aku rasakan sampai-sampai enggak sadar udah hampir pukul 01.00 dan aku kembali ke hotel bertemu kamu dan Dara.”
“Iya... setidaknya aku tidak salah dibenturkan oleh orang...” Milan tersenyum tertahan melihat muka Mutia yang memerah.
Tiba-tiba terdiam karena ada suara aneh yang sumbernya adalah perut Milan, “Kriuuuuk... kriuuuk...”
“Hai kamu lapar ya? Pasti kamu belum makan ya dari pagi!” Mutia langsung menebak.
“Iya aku belum makan nih... aku bangun tadi jam 15.00 dan kaget gak ada uang sepeserpun karena dompet raib. Baru saja berniat jual hp dulu biar bisa hidup.”
“Hehehe ya sudah yuk kita cari makan atau makan di hotel saja, makanannya enak-enak kok,” ajak Mutia.
“Hmmm karena kamu sudah balikin dompet aku, gimana kalau aku yang traktir kamu... yuk kita makan di Cuisine Jimbaran udang, ikannya segar. Kita bisa pilih lalu mau kita masak apa saja. Ayo...” Milan menarik tangan Mutia.
“Ehh gimana kalau kita mandi dulu, ganti baju... aku pakai celana pendek gini, kamu juga...” usul Mutia.
“Aduuuh gak usah di sini mah enggak ada yang kenal, cuek aja keburu aku masuk angin nih... perut aku udah lapaaaar berat,” Milan memasang muka memelas.
“Pleasee lagian kamu tetap cantik kok gak usah pakai mandi sore,” Milan merayu Mutia.
“Baiklah...” Mutia menurut saja mengikuti Milan yang sudah memegang tangannya.
***
“Stop… stop, yakin habis ikan sebanyak itu?” Mutia menghentikan Milan yang memilih ikan gurami hampir empat ekor besar. Padahal barusan juga menimbang udang hampir setengah kilo.
“Habisss! Tenang saja, aku seharian lho enggak terisi makanan sama sekali, sebentar lagi kamu Tia yang aku santap saking kelaparan,” Milan menakuti Mutia yang geleng-geleng kepala dengan pesanan Milan yang berlebih.
Dan memang benar Milan makan dengan sangat lahap, tak ada rasa malu langsung menyantap satu per satu menu yang terhidang, gurami goreng acar, udang mayonese, mie goreng, cak kangkung saos tiram dan buah-buahan. Lengkap!
Mutia meletakkan dua tangannya di dagu melihat Milan yang benar-benar kelaparan. Padahal Rolan yang selama ini Mutia kenal tak pernah menunjukkan makan yang mengerikan seperti Milan barusan, selapar-laparnya Rolan tetap tenang menyantap makanannya.
“Ihh kok aku jadi ingat Rolan sih!” Mutia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
“Kenapa Tia, kaget ya liat orang ganteng makan kaya monster? Tenang, ini aku juga baru pertama kali kok kelaparan gila kaya gini!” kata Milan setelah sadar semuanya sudah tandas habis.
“Hehehe iya gak apa-apa, seru lihat kamu makan...” ujar Mutia.
“Kamu masih lapar enggak? Aku pesenin lagi ya?” tawar Milan.
“Oh enggak, enggak sudah cukup... cukup kenyang, beneran...” Mutia tersenyum, memang sudah kenyang perutnya.
“By the way aku sebulan ini memang jadi rakus sekali dalam makanan, sepertinya aku memang stres gara-gara ditinggalin Meta. Gimana aku gak patah hati, kamu pasti tahu Meta Maylania, foto model terkenal yang sekarang lagi digosipin di infotainment dekat dengan Putera Barata, seorang pengusaha sukses. Dia mantan tercantik yang pernah aku punya.” ungkap Milan jujur.
“Oh pantesan kamu stres berat ya ditinggal Meta, tapi saranku kamu kontrol pola makan kamu, jangan sampai badan kamu tambah melar Lan. Kaya kamu di foto KTP tuh gak gendut...” saran Mutia yang teringat wajah Milan di KTP yang kurus, lebih ganteng pastinya.
“He eh iya, itu foto terganteng aku, sebenarnya aku baru sebulan ini kok jadi gendut gini, karena waktu lalu Meta selalu menjaga berat badan aku dengan berbagai larangan no carbo! No cemilan! Harus nge-gym! Yah gitu deh dijaga habis ama Meta. Tapi sekarang malah Meta memilih om gendut juga... parah!” Milan mengomel.
“Lan sudahlah, kamu sendiri bilang kemari untuk melupakan mantan kamu, jadi sudahlah jangan diingat lagi. Walau aku juga susah melupakan Rolan, tapi aku pikir-pikir ngapain juga aku inget-inget mantanku yang Mr. Perfectionist! Dia pria yang paling sempurna aku kenal... sangat rapi, tertib, terorganisir apapun! Bahkan aku jadi ikutan dia yang biasa sempurna. Awalnya sulit tapi kurasa memang tertib itu enak, jadi aku ikutan deh kebawa Rolan. Yah setidaknya aku putus dengan dia yang tersisa kebiasaan bagus dia yang aku pertahankan dalam keseharian aku,” ungkap Mutia jujur.
Milan mengangguk-angguk, “Ya setuju, kita ambil saja ya yang terbaik dari kebiasaan yang telah kita lewati bersama mantan kita. Kurasa aku setuju sekali dengan memulai langkah awal aku dengan pola makan yang sehat dan berolahraga lagi seperti yang selalu Meta tuntut padaku. Kali ini aku lakukan bukan demi Meta, tapi demi diriku sendiri yang harus sehat.”
“Nah itu baru benar!” Mutia tersenyum sambil memberi jari jempolnya.
“Hai kamu juga dong Tia! Jangan terpuruk gara-gara Rolan. Kamu tuhhh manis, punya karier bagus, pasti akan menemukan pengganti Rolan yang lebih baik,” Milan mengedipkan satu matanya, jujur membuat Tia terperangah. Tapi Tia sadar sepenuhnya cowok ganteng chubby di depannya bukan untuk menggantikan Rolan, karena kata Linda itu hanya akan jadi pelarian saja di saat hati masih menyisakan luka.
“Iya pastinya!” Mutia tersenyum manis.
Dan kenapa berdua jadi bisa tertawa bebas pada malam kedua di Bali. Bahkan Milan tanpa canggung sesekali tak sengaja memegang rambut Mutia yang tertiup angin dan meminjamkan jaketnya untuk dipakai Mutia yang kedinginan dengan hembusan angin di Jimbaran.
“Besok acara kamu apa Tia?” Milan menikmati buah semangka yang terasa manis.
“Hemm jadi Linda sudah memesankan paket Bounty Cruise Bali buat besok Minggu, Lan, aku juga belum tahu kaya apa, tapi menurut Linda seru sih...” Mutia mengunyah pepaya potong yang ditaburi jeruk nipis.
“Serius! Kamu jam berapa paketnya?” Milan menatap tajam Mutia.
“Pagi sih, berkisar jam 09.00-10.00 gitu... kenapa Lan?”
“Aku juga besok ikutan paket Bounty Cruise Bali, sama juga jam 09.00 di Pelabuhan Benoa, jangan-jangan besok mobil jemputan kita sama,” Milan antusias dengan kesamaan acara liburan Minggu dengan Mutia.
“Wah asyik, aku jadi ada teman!” Mutia juga tak kalah riang.
“Hemmm sepertinya Tuhan menemukan kita untuk sama-sama melupakan mantan kita dan memulai sesuatu yang baru...” ucap Milan begitu saja.
“Sesuatu baru? Maksudnya?” Mutia terperangah dengan ungkapan Milan barusan.
“Oh enggak... aku salah ngomong,” Milan teringat saran Markis untuk membuat sakit hati hilang adalah dengan melakukan hal yang sama dengan cewek yang suka ke kita, tapi kitanya jangan main hati.
Milan jadi menatap Mutia yang masih asyik mengaduk-aduk ice lemon tea-nya. Wajah Mutia memang tidak secantik Meta, tapi gadis ini unik dan sikapnya perfectionist karena terbawa mantannya yang empat tahun bersamanya.
“Ah sepertinya aku enggak bisa setega seperti yang Markis sarankan, tapi hmmm lihat sajalah nanti...” Milan menarik tangan Mutia untuk kembali ke hotel karena jam sudah menunjukkan pukul 20.30.
“Yuk pulang, besok kita akan melakukan aktivitas yang kata Markis sobatku memacu adrenalin.”
“Ayo...” Mutia tak menolak tangannya digenggam Milan.
“Mutia, ini hanya pertemanan biasa jadi kamu tidak perlu merasa takut untuk menjadikan Milan sebagai pelarian...” bisik hati Mutia meyakinkan diri kalau dirinya sedang tidak mencari sosok untuk hanya jadi pelarian hatinya yang masih patah hati.

Other Stories
Bisikan Lada

Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...

Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

Prince Reckless Dan Miss Invisible

Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...

Download Titik & Koma