Bali Chemistry 1
Penerbangan on time Jakarta 08.30 ke Bali butuh waktu 1.45 menit. Mutia berusaha untuk tenang melakukan perjalanan untuk menyembuhkan luka hatinya sesuai saran Linda.
Mutia meyakinkan diri selama ini dirinya sejak lulus kuliah dan sudah empat tahun ini bekerja keras hingga menempati posisi Asisten Manajer Sales Support di perusahaan multinasional elektronik Global Indonesia, salah satu perusahaan elektronik besar di Indonesia.
Selama empat tahun memang Mutia fokus mengejar karier agar mempunyai pendapatan dan penghidupan yang layak, meskipun Rolan, kekasihnya saat itu juga sosok yang sukses sebagai seorang pengacara di kantor pengacara Nusa Bangsa yang sudah ternama.
Tanpa Mutia bekerja keras, gaji yang didapat Rolan sudah bisa menghidupi dirinya jika tidak ada tragedi Teres yang merebut Rolan dari hidupnya. Sekarang baru Mutia sadari tak ada yang sia-sia apa yang dia lakukan empat tahun ini dengan bekerja keras, karena kenyataan dirinya memang harus menjamin kehidupannya sendiri setelah Rolan bukan lagi lelaki yang jadi pelabuhan terakhirnya.
Selama di perjalanan, Mutia lebih banyak mem-flash back hubungan dirinya dengan Rolan, sebuah hubungan yang diawali sama-sama menunggu tes interview tahap kedua yang cukup lama.
Empat tahun lalu dia dan Rolan sama-sama fresh graduated dan sama-sama melamar pada perusahaan multinasional elektronik Global Indonesia. Menunggu hampir dua jam karena yang akan mewawancara terjebak kemacetan Jakarta, membuat Mutia dan Rolan terlibat pembicaraan.
Tidak hanya itu, mereka bertukar nomor telepon dan Rolan dulu yang memulainya mengbuhungi Mutia yang juga menanti telepon Rolan. Mutia tertarik dengan Rolan sejak awal pertemuan, Rolan sudah terlihat sempurna dari penampilan yang rapi dan sewaktu ngobrol juga ternyata dia bercerita kalau dirinya perfectionist dalam segala hal.
Mutia sendiri suka hal yang sifatnya perfect, rapi dan teratur. Selama ini belum menemukan sosok pria yang Mutia inginkan karena jarang menemukan cowok yang serba rapi, sebaliknya Rolan juga merasa Mutia wanita sederhana yang sempurna juga.
Makanya Rolan memutuskan untuk mengenal Mutia, awal menelepon alasannya apakah dirinya dipanggil lagi untuk tahap selanjutnya dan memang Mutia mendapat panggilan untuk tes ketiga atau terakhir, yakni wawancara dengan user.
“Wah… selamat yang Tia, sudah kuduga pasti kamu lolos, aku ikut senang teman seperjuangan mencari kerja akhirnya mendapatkan pekerjaan sesuai harapan...” kata Rolan di waktu lalu.
“Terima kasih, kamu sendiri Lan, ada panggilan lanjutan enggak?” Mutia balik bertanya.
“Hmmm aku tidak lolos, tapi don’t worry karena aku diterima di kantor pengacara Nusa Bangsa langsung sebagai karyawan tetap dengan fasilitas yang bagus,” suara Rolan di seberang telepon tampak bahagia.
“Wuiiih kereeen… itu kan kantor pengacara ternama, pas banget dengan jurusan kamu Lan! Selamat ya! Aku ikut senang mendengarnya,” Mutia langsung merasa ikut bahagia dengan kabar teman baru yang hanya dikenal gara-gara tengah menunggu panggilan wawancara.
Sempat keduanya terdiam sesaat di telepon genggam masing-masing dan tiba-tiba...
“Tia, gimana kalau kita ketemu sekedar makan merayakan keberhasilan kita diterima pekerjaan, ee kalau kamu tidak keberatan lho...”
“Oh enggak dong! Aku ngikut aja, mau makan di mana?” tanpa sadar Mutia antusias menerima ajakan Rolan.
“Hmmm aku jemput kamu ya. SMS alamat lengkap rumah kamu, besok pukul 19.00 aku jemput kamu, gimana?”
“Besok... besok kan malam Minggu ya...” Mutia agak ragu, karena malam Minggu bukannya malam yang istimewa buat orang yang sudah punya pasangan.
“Iya hmmm masalah ya di kamu? Pasti kamu diapelin cowok kamu. Ya sudahlah kita cari hari lain,” ada nada kecewa barusan yang Mutia tangkap dari ucapan Rolan.
“Oh bukan! Aku enggak ada masalah sama sekali! Aku belum punya cowok tapi aku sebaliknya mengkhawatirkan cewek kamu nanti marah kalau kamu pergi dengan aku!” Mutia balik mengutarakan alasan kekhawatirannya.
“Tiaaa… aku ini masih jomblo! Belum ketemu cewek yang sempurna sampai rasanya... aku merasa nyaman ngobrol dengan kamu, upps kenapa aku jadi ngaku ke kamu sekarang!” suara Rolan tertahan sepertinya Rolan menutup bibirnya dengan tangannya.
Tanpa Rolan tahu di seberang telepon wajah Mutia memanas dan rona merah di wajahnya tidak dapat disembunyikan, hatinya juga berdebar, “Aku juga merasakan yang sama Lan, kalau suka kamu dari pertama,” bisik Mutia dalam hati.
“Tia, jadi gimana kalau besok aku jemput?” Rolan bersikap kembali normal.
“E... eee... i... ya... tapi kamu besok izin yah ama Mama Papaku...” jawab Mutia tergagap, ini seperti penembakan jadian saja.
“Siaaaap! Siapa takut!” jawab Rolan tegas.
Dan memang benar Rolan menepati janji pukul 18.45 dia sudah menjemput dirinya dengan taksi dan dengan sopan meminta izin pada papa mamanya yang tidak keberatan, asalkan pukul 21.30 sudah kembali ke rumah.
Ternyata makan malam pertama berdua asyik berbicara seputar kehidupan kampus yang baru saja mereka tinggalkan dan dunia kerja yang akan mereka masuki. Entah kenapa Rolan dan Mutia langsung nyambung dan asyik berbicara rencana-rencana ke depan.
Rolan dan Mutia tanpa banyak bicara mesra, hari-hari berikutnya menjadi hari yang mendekatkan mereka berdua, walau kehidupan metropolitan yang ketat dengan date line dan sama-sama tengah meniti karier tidak menjadi penghalang untuk menyatukan hati dan visi misi mereka. Sesekali melepas penat setelah lima hari kerja berdua dengan nonton atau sekedar makan bersama.
Papa dan mama Mutia juga tidak keberatan putri semata wayangnya menjalin dengan Rolan, pemuda yang sopan dan mempunyai pekerjaan bagus.
Tanpa terasa sudah empat tahun berpacaran dan tak pernah ada keributan berarti, sampai tragedi Teres menghancurkan semuanya.
Rasanya ini tidak sangat adil ketika semua sudah tampak sempurna, apartemen Rolan yang rapi dan cantik selama ini membuat Mutia nyaman bersama Rolan saat menghabiskan waktu sesekali memasak bersama, menonton film DVD atau sekedar mengobrol sambil sibuk di depan laptop kerjaan masing-masing. Semua menyisakan manis yang harus Mutia lupakan pastinya dengan perlahan.
Dirinya dan Rolan sama-sama menyukai hal yang rapi, bersih dan teratur. Bahkan Rolan sudah merencanakan setahun lagi melamar dirinya pas apartemen, mobil dan sejumlah tabungan sudah dimiliki.
Rolan juga tidak akan menghalangi dirinya yang akan tetap berkarier, walau kalau sudah anak sepertinya memilih untuk Mutia mengundurkan diri dan membesarkan buah hati mereka.
Sampai sini Mutia tidak mau lagi melanjutkan kenangan-kenangan bersama Rolan, kenangan yang sempurna membuat dirinya terluka dengan sempurna. Empat tahun bersama-sama membangun pondasi masa depan dan saat pondasi itu siap untuk ditempati, ternyata ada penghancur yang tiba-tiba masuk.
***
“Hmmm enak sekali...” Milan asyik menikmati makanan yang disuguhkan pramugari siang ini. Sebuah sapi saus lada hitam dengan kentang, macaroni dan lumuran saos tomat sangat menggugah selera makan Milan yang menggila.
Padahal tadi sebelum terbang sudah diisi deluxe cheese burger, tapi sepertinya sudah menguap entah ke mana. Buktinya sekarang melahap dengan cepat menu makan siang yang disuguhkan pihak peaswat.
“Ah masa bodo mau kolestrol tinggi dan badan melar, siapa juga yang peduli aku!” gerutu Milan dalam hati yang tak mau lagi jaga badan seperti yang Meta cerewetin selama jadi pacarnya.
Meta selalu menasihati dirinya, “Aduh jangan makan malam, buat kamu gendut! Jangan banyak ngemil karbo! Kalau mau ngemil, buah-buhan dan sayuran saja seperti aku! Aku enggak mau ah punya pacar gendut!”
Milan tersenyum dan sekarang dia seolah ingin menjawab omelan Meta di waktu lalu, “Mau makan karbo kek, lemak kek, daging kek, asalkan bukan cokelat dan es krim peduli setan dengan kolestrol dan gendut! Sekarang juga kamu buktinya memilih selingkuhan om-om gendut, dasar cewek munafik!”
Dan tiba-tiba crew pesawat mengatakan sebentar lagi pesawat akan landing di Bandara Ngurah Rai dengan perbedaan waktu satu jam lebih maju dengan waktu Jakarta.
***
“Tia, kamu sudah sampai Bali. Saatnya kamu melupakan Rolan dan meyakinkan dirimu kalau akan ada pria pengganti Rolan yang jauh lebih baik!” Mutia berbicara dengan dirinya dan mencoba menarik napas kuat lalu menghembuskan dengan seulas senyum di wajahnya.
Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi, di layar tertera nama “Linda”.
“Ya Non, aku baru saja keluar dari bandara, ini mau naik taksi,” Mutia tahu Linda pasti masih mengkhawatirkan dirinya yang terpuruk karena putus dengan Rolan, apalagi Linda juga yang menjadi saksi terbongkarnya kebohongan Rolan.
“Kamu baik-baik saja kan Dears... jangan lupa paket wisata yang sudah aku pesankan, kamu pasti bakalan senang deh di Bounty Cruise Bali, seru! Pokoknya jangan lewatkan semua paketnya ya, jangan ada kesempatan mengingat si brengsek Rolan lagi ya Sayang. Lupakan Rolan, tapi ingat jangan langsung jatuh cinta dengan cowok meskipun kamu ketemu sosok ganteng sekalipun, karena itu pasti hanya untuk pelarian!”
“Iyaaa Lindaaa… lagian mana mungkin aku bisa cepat jatuh cinta! Baru saja aku kena akibatnya!”
“Eh siapa tahu kamu ketemu cowok bule ganteng lalu kecantol terus kawin dan pergi ke luar negeri... aku sendirian dong enggak ada lagi sahabat yang sayang seperti kamu,” kata Linda dengan nada sok sedih.
“Aku aminin aja ya, biar sekalian aja kamu jadi jomblo sendiri di kantor, soalnya aku duluan yang kawin hehehehe,” Mutia menggoda Linda yang sekaligus sahabat terdekat dan teman jomblo di kantor.
“Ih dasar! Ya sudah selamat menikmati recovary heart… oh ya jangan lupa oleh-olehnya ya Dears hihihi,” Linda tertawa cekikian.
“Iyaaa, udah ah entar kamu dimarahin jam kerja malah ngobrol! Pak Fris tuh ada di dekat kamu lho!” Mutia memperingatkan kalau Pak Fris, bos mereka paling enggak suka kalau stafnya ngobrol di saat jam kerja. Jam di tangan Mutia menunjukkan 10.15 WIB, jam waktu sibuk dengan kerjaan kantor yang enggak ada matinya. Mutia memajukan satu jam untuk menyesuaikan dengan jam di Bali.
Dan taksi yang ditumpangi Mutia mulai menembus jalanan menuju sebuah hotel di kawasan Pantai Kuta, hotel yang sudah di reserve oleh Linda. Sepertinya Linda ingin sekali menunjukkan rasa sayangnya sebagai sahabat, sampai-sampai perjalanan ini dia juga yang atur melewati travel agent kenalannya.
Kalau bukan saran Linda, sebenarnya Mutia tidak ingin juga melupakan Rolan dengan cara ambil cuti tiga hari jalan-jalan kemari, tapi demi menghargai usaha Linda dan hmmm Mutia pikir setelah empat tahun terlalu sibuk mengejar karier memang perlu juga sesekali dirinya memanjakan diri, merasakan sebuah rutinitas yang berbeda.
Sepanjang perjalanan menuju hotel Granz Inz yang terletak di pinggir Pantai Kuta, jadi enak kalau mau jalan-jalan tinggal keluar hotel cukup jalan kaki mengitari seputaran kawasan Kuta. Ramainya jalanan dan hangatnya matahari memang membuat mood-nya mendadak berubah.
Rasa hangat menyergap tubuhnya, semilir angin saat membuka pintu taksi yang sudah sampai di lobi hotel seolah memberikan oksigen segar ke otaknya. Seketika ada rasa riang menyelinap dalam batin Mutia.
Sambutan ramah resepsionist meminta Mutia menunggu sebentar karena kamar masih dirapikan. Mutia menunggu di sofa empuk pas menghadap laut Kuta yang tampak panas karena pas pukul 12.00 matahari tepat di atas kepala.
Meneguk segelas es markisa yang disuguhkan pihak hotel karena terlambat membereskan kamar yang sudah Linda pesankan beberapa hari lalu sembari melihat-lihat lukisan yang terpampang di tembok lobi.
Bersamaan sosok cowok yang dilihatnya tadi pagi di restoran Awura cepat saji di bandara Soetta melintas dengan tas koper dorongnya, sambil sibuk bicara di telepon genggamnya.
“Iya Kis, udah udah sampe nih, mau check in Bro! Makasih ya kamu sudah siapin semua nih buat aku, Thanks banget Bro!
Milan juga disambut ramah resepsionist dan sama seperti Mutia disuruh menunggu sesaat.
Milan memilih tempat duduk rotan dan membuka majalah, tidak lama juga disuguhi es markisa yang langsung tandas karena memang udara sangat panas.
Milan dan Mutia sesaat saling menatap...
“Sepertinya ini cewek yang tadi pagi nangis... hmmm iya di restoran Awura. Ngapain dia ke Bali? Hmmm bodo ah kenapa aku jadi kepo,” Milan kembali asyik membaca majalah kesehatan di tangannya.
“Kayanya aku pernah lihat cowok itu deh, oh yaa baru tadi pagi dia memergoki aku lagi nangis! Sial pasti wajahku jelek banget, eh biarin ajalah tokh aku gak kenal siapa dia!” Mutia memilih menikmati pemandangan pantai Kuta kembali. Pas di depan hotel hotel Granz Inz terdapat patung penyu besar sekali yang sekaligus berfungsi sebagai tempat penangkaran anak penyu dan kura-kura.
“Linda... Linda, kamu memang paling mengerti aku!” Mutia bergumam sendiri. selama ini dia memang sering di juluki Miss Turtles karena suka sekali dengan kura-kura dan segala pernak-pernik kura-kura. Sampai-sampai Pak Fris setiap business trip bawa oleh-oleh spesial buat Mutia dari gantungan kunci, kaos, dompet, magnet kulkas, gantungan hp, topi, boneka, patung semua bertema binantang yang termasuk satwa dilindungi, kura-kura.
Dan sekarang bisa-bisanya Linda memilihkan penginapan pas banget di depannya tempat penangkaran kura-kura dan… wow pas banget besok ada acara racing anak penyu yang akan dilepas ke lautan.
“Pasti Linda sudah pengalaman kemari, tapi dia tidak mau cerita-cerita karena suatu hari mau kasih kejutan aku, Linda, Linda… kamu memang sahabat terbaik aku.”
Diam-diam Milan memperhatikan dari samping wajah Mutia yang tersenyum sendiri melihat Pantai Kuta dari balik jendela kaca hotel Granz Inz tengah tersenyum.
“Tadi nangis sekarang juga senyum-senyum sendiri, tuh cewek memang labil...” Milan berkomentar sambil geleng-geleng kepala, tapi tak urung dia juga seperti tertampar membaca artikel di majalah kesehatan yang baru saja dibaca yang mengulas kegemukan membuat orang jadi stres.
Dirinya memang tengah stres patah hati dan ditambah stres lagi karena tidak bisa menyetop nafsu makannya yang menggila gara-gara efek dari putus dengan Meta. Hampir sebulan ini benar-benar tak kontrol makanan dan tidak lagi fitness seperti yang biasa dirinya lakukan bersama Meta.
Masalah makan dan olahraga, Meta jagonya, karena jelas ini menyangkut profesinya sebagai model. Meta teratur minta diantar ke pusat kebugaran, maka sekalian saja menyuruh dirinya juga untuk olahraga. Buat Milan tidak masalah karena selama bisa memenuhi keinginan Meta yang ingin dirinya juga mempunyai berat badan ideal dan sehat baginya merupakan salah satu komitmen yang dijaga.
“Meta! Meta! Iiih kenapa aku harus mengingat dia lagi! Hmmm aku kurang apa sih Meta? Teganya kamu memilih lelaki gembrot kaya raya dibanding aku yang selalu berusaha menjadi lelaki ideal! Bodo! Kali aja kalau aku gembrot sekarang kamu mau balik ke aku!” Milan menggerutu sendiri, masih tersisa rasa sakit sekaligus kesal pada Meta mantannya dan sialnya dirinya belum juga bisa move on seratus persen!
***
“Maaf Ibu Mutia Arini, silakan ke resepsionis, sudah bisa check in sekarang...” seorang pria kebapakan berseragam merah bata menghampiri Mutia dan melanjutkan ke arah Milan dengan kalimat yang sama.
Hampir bersamaan Mutia dan Milan selesai menulis di resepsionist, kemudian dibantu oleh greeter menuju kamar mereka masing-masing.
Sekarang mereka bertiga pada sebuah lift yang mengantarkan mereka menuju lantai tiga. Baik Milan dan Mutia diam, seolah sibuk dengan gadget masing-masing.
Sesekali Milan melirik pada Mutia yang sepertinya tampak acuh dan tak menghiraukan dirinya, “Apakah aku sudah terlalu jelek karena gendut sampai-sampai cewek yang biasa saja tak tertarik dengan aku? Sial, ini gara-gara Meta! Sudah buat hati aku terluka sekaligus menghancurkan fisik aku sekalian!”
Lagi-lagi Milan masih terus merutuki Meta yang menyebabkan dirinya sekarang tidak lagi menjaga penampilan sama sekali. Sebulan yang penuh kekacauan.
Tampaknya memang Mutia acuh, tak peduli dengan Milan yang ada di depannya, tapi sebenarnya wajah Mutia yang memang menghadap iPad’s touchscreen tapi hatinya berbicara, “Hemm ganteng meskipun sedikit chubby, sepertinya dia juga memperhatikan aku. Duh semoga aku lagi enggak ke-GR-an nih...”
“Nah Ibu Mutia, ini kamarnya 308 dan Pak Milan ayo saya antar kamar 311,” kata Pak Uda Adhina, greteer yang siang ini bertugas.
“Ini Pak, terima kasih...” Mutia memberikan tips dan membuka kamarnya. Rasanya ingin terlelap dulu di kamar dan baru sore nanti mungkin berenang atau menikmati sunset di Pantai Kuta.
Kamar ditata apik dengan dominasi wallpaper bernuansa silver baik tembok dan gordennya, tempat tidur broken white dan ada bunga lily di meja samping tempat tidurnya.
“Wow bagus juga kamarnya... ahhhhh lupakan Jakarta dan nikmati keindahan Pulau Dewata!” Mutia menghempaskan tubuhnya dan merentangkan tangannya.
Sesaat dirinya sudah terlelap...
Sementara Milan di kamar sibuk mengganti channel TV mencari film yang seru untuk membunuh waktunya.
“Gila, ngapain juga aku ngikutin saran Markis ke Bali sendiri kaya orang hilang? Hmmm seharusnya ke tempat romantis ini ditemani cewek yang aku cintai! Meta, Meta… setelah tiga tahun akhirnya kamu memilih om gendut yang berduit! Dasar cewek matre!” Milan menegak minuman kaleng Guinness yang tersedia di minibar kamarnya.
“Bro… lagi ngapain? Aku bete nih di kamar sendiri, mau ngapain coba? Gara-gara kamu nih! Kenapa juga aku musti ngikutin saran kamu berlibur kemari, yang ada malah aku inget Meta terus! Soalnya aku jadi keingat kalau Meta selalu ngomongin pengin banget bulan madu kemari kalau kita menikah!” Milan menelepon Markis yang sepertinya tengah menikmati makan siangnya.
“Sudahlah Lan, ngapain juga masih mikirin Meta! Mantanmu sudah semakin lengket saja, tuh lihat deh infortaiment di TV DNCI, pas tuh lagi nyiarin Meta Maylania dengan pacar barunya yang tidak malu-malu lagi datang ke pesta nikahan artis Bianca ...”
Milan segera mencari channel TV DNCI dan memang Meta, mantannya, tengah berdiri saat acara pemberkatan di gereja pernikahan teman modelling Bianca dan Benard, di sampingnya ada pengusaha sukses, Putera Barata. Mereka tampak mesra.
“Apa sih yang menarik dari si Putera Barata, cuma uangnya doang! Jelas aku lebih ganteng! Lajang! Meta sudah harus pakai kacamata minus tuh... kelamaan pakai kacamata kuda mulu!” Milan nyerocos sendirian.
“Hoiii… hallo Lan, puas kan lihat si Meta di DNCI... makanya sudahlah move on Bro! Kamu juga berhak bahagia, kalau lihat mantan kamu saja tanpa beban menunjukkan rasa bahagia! Ingat Bro, salah satu cara agar kamu bisa move on ala Markis, saat ada cewek suka dan kamu sedikit suka, senang-senanglah bersamanya lalu tinggalkan cewek itu! Impas! Puas rasanya,” Markis dari seberang telepon mengingatkan Milan untuk move on ala dirinya, yang berulang kali dia saranin ke Milan agar mencontoh apa yang pernah dia lakukan.
“Aghhh itu sih kamu banget Kis, playboy cap kampret! Tapi nantilah aku coba saran kamu...” tiba-tiba ada seulas senyum di bibir Milan.
“Nah gitu dong! Markis sahabatmu ini enggak rela banget kalau kamu jadi terpuruk kaya gitu! Nggak ngurus badan! Nggak jaga penampilan lagi, malah kaya mayat hidup hanya gara-gara cewek matre gak punya hati! Pokoknya aku mau kamu di Bali ini untuk berubah! Move on Broooo! Atau kamu pacarin aja bule sesaat atau siapalah kalau kamu tiba-tiba ketemu cewek yang buat kamu tertarik! Tapi ingat, jangan main hati! Cewek itu adalah cewek untuk balas dendam karena Meta! Biar Impas! Oke ya! Jangan sia-sikan usaha aku merencanakan liburan kamu, jangan lupa nikmati paket Bounty Cruise Bali nya! Siip Bro selamat senang-senang!” Markis bicara seperti kereta api yang tidak bisa di-stop mendadak.
Milan menjauhkan handphone dari telinganya karena suara Markis yang teriak-teriak dengan semangat, terbayang wajah Markis yang tengah makan siang di rumah makan Padang favoritnya, kepedasan tapi berbicara ngotot kasih saran ke dirinya. Udah pasti kacau balau tampangnya, playboy cap kampret yang sudah banyak makan korban menurut Milan. Tapi entah kenapa sudah dari awal satu kantor hanya dengan Markis, Milan bisa sahabatan.
“Preeeeng!” minuman kaleng Guinnessnya dilempar, bagaimanapun hatinya kesal dan panas melihat barusan mantannya yang tak ada beban dengan pacar barunya.
Milan menatap langit-langit kamarnya dan memilih memejamkan mata hingga dirinya pun terlelap.
***
Mutia terbangun dan mengulet, ”Eaaagh… enak banget aku tidur, dan wow jam 15.00. Ya ampun aku tidur hampir tiga jam.”
Mutia mengambil remote TV dan melihat-lihat acara di beberapa channel, HBO tengah menayangkan Twilight Saga Breaking Dawn part 2, lagi-lagi film ini mengingatkan Mutia dengan Rolan, saat nonton film ini sambil menikmati pop corn buatan sendiri, menonton sambil menyandarkan kepala di dadanya.
“Ahhh enggak ada film yang lain apa!” Mutia malah jadi kesal sendiri dengan kasar memencet-mencet channel yang lain.
Akhirnya pilihan pada MTV Musik sambil membuka-buka majalah traveling yang ada di meja. Hampir satu jam membaca sambil mendengarkan lagu-lagu, Mutia bangkit dan melihat dari kaca kamarnya kolam renang yang ada di lantai satu.
“Hmmm enak nih berenang satu jam, terus lihat sunset di Pantai Kuta,” Mutia bicara sendiri sambil membuka kopernya mengambil baju renang.
Dan sekarang Mutia tengah menenggelamkan tubuhnya dengan gaya dada ke dalam kolam 3 meter. Berenang salah satu cara yang enak untuk melupakan kepenatan dan kejenuhan. Di dalam dasar air selalu memberikan rasa tenang dan bisa menjadi tempat paling aman untuk meneteskan air mata.
Mutia tidak menghitung entah sudah berapa kali dirinya berenang memanjang dari satu titik ke ujung bolak-balik. Tanpa dia ketahui sepasang mata yang baru saja tersadar dari tidur karena masih menyimpan amarah melihat pemberitaan gosip mantannya mengamati Mutia dari kamarnya di lantai tiga. Ya, kamar 311 tempat Milan menginap.
“Cewek itu hebat juga napasnya, dia olahraga atau sedang ngamuk sih... berenang bolak-balik tanpa jeda! Kurasa dia sedang stres juga, tadi pagi menangis sendirian terus senyum-senyum sendiri di ruang tunggu lobi dan sekarang berenang kaya kesetanan. Aneh! Tapi sebenarnya dia gak jelek-jelek amat! Aku tahu dia jelek tadi karena menangis dan pakai kacamata tebalnya, sekarang tanpa kacamata tebal dia tampak manis juga,” Milan bicara sendiri sambil terus mengintip lewat kekernya.
“Tapi cewek yang sangat sopan! Baju renang saja tertutup gitu, padahal di sekitarnya para bule hanya pakai bikini, hihihihi cewek sopan yang unik!” Milan terkekeh-kekeh sendiri sambil asyik membuat kopi lalu memutuskan membuka pintu depan kamar dan duduk di beranda yang menghadap kolam sambil menikmati kopi dan koran yang sempat diambil di lobi. Sesekali masih melihat Mutia yang tampaknya sudah kecapean dan tengah tiduran sambil menikmati jus jeruk yang dipesan.
“Sepertinya cowok di kamar 311 mengamati aku deh!” Mutia jadi keki karena beberapa kali memergoki Milan yang tengah menikmati kopi dan koran di tangannya tapi tatapannya sering ke arah dirinya.
“Duh kayanya cewek itu tahu deh aku lagi mengamatinya, mendingan aku masuk deh!” Milan memilih masuk ke kamar dan mengamati dari balik kaca jendela kamarnya dengan kekernya.
Mutia bergegas ke ruang bilas dan mengganti pakain kaos gombrang dan celana jeans tiga perempat, Mutia berencana ke Pantai Kuta untuk melihat indahnya sunset di Pantai Kuta.
***
Mutia tidak mau ketinggalan untuk menyaksikan sunset di pasir putih Pantai Kuta, salah satu tujuan kemari adalah menyaksikan tenggelamnya matahari di Pantai Kuta yang terkenal sebagai jantungnya Pulau Bali. Begitu orang mengenalnya dan keindahan Pantai Kuta, Bali, sangat terkenal ke mancanegara.
Pantai Kuta, Bali, berpasir putih dengan ombaknya yang panjang dan besar sangat menguji nyali peselancar belahan dunia. Tidak salah mereka memilih Pantai Kuta sebagai lokasi surfing terbaik di Bali.
Mutia asyik mengamati para peselancar yang pukul 17.00 mulai memilih menepi dan duduk-duduk di sepanjang pinggir pantai.
Mutia sendiri memilih duduk di tikar yang barusan disewa sambil sesekali membidik berbagai aktivitas sekitar dan tentu saja indahnya panorma yang mulai meremang dengan kamera DSLR yang sengaja dibawa dari Jakarta.
Ada saja adegan yang membuatnya tersenyum sendiri, tanpa sengaja matanya tertuju pada sosok ganteng peselancar yang sepertinya kelelahan sambil membawa papan surfing-nya langsung memanggil seorang ibu-ibu penduduk lokal setempat, sepertinya yang langsung datang sembari membawa tikar lalu digelar dan orang bule langsung tiduran dan si ibu mulai beraksi memijitnya.
Mutia usil mengambil foto si bule yang tidur tertelungkup menikmati pijatan si ibu yang mulai senja, seperti senja yang perlahan merayap di Pantai Kuta saat mentari dengan perlahan dan malu-malu mulai meninggalkan peraduannya untuk menyinari belahan bumi lain. Matahari begitu menguning berbaur dengan oranye dan hitam, pertanda waktu siang sesaat habis dan berganti malam.
“Indahnya... pantesan berkunjung ke Bali yang wajib utama dikunjungi adalah {antai Kuta, ternyata sunset Pantai Kuta terkenal kecantikannya sampai mancanegara...” Mutia asyik menulis apa yang barusan disaksikannya di iPad’s touchscreen yang selalu dibawa ke mana-mana.
Kesempatan bisa jalan dan keluar dari rutinitas kantor membuat Mutia tergerak untuk kembali menjelajahi hobi menulis yang hampir empat tahun ini vacum, hanya sesekali dirinya menulis di blog-nya, itupun hanya tulisan-tulisan pendek. Kesibukan sebagai Asisten Manajer Sales Support di perusahaan multinasional elektronik Global Indonesia tak menyisakan waktu untuk menekuni hobi menulisnya.
Mutia ingin mulai mengisi blog-nya dengan tulisan-tulisan yang sebenarnya banyak ide di benaknya, tentu saja traveling ke Bali ini menjadi tulisan awal kembali untuk memulai hobinya yang sudah lama terlupakan.
Setelah ini Mutia ingin menjelajah seputar Kuta, tapi Mutia memutuskan balik ke kamar dulu untuk salat magrib dan isya, lalu makan malam di hotel dan baru jalan mengeksplor sekitar Kuta.
Milan puas berendam air hangat lama-lama di kamar mandi, rasa bosan menjalari pikirannya. Tapi barusan Markis memberi tahu daripada enggak ada kerjaan mendingan pergi ke Diskotik SunBoshe, tempat dugem yang menarik. Sebenarnya bukan ajakan yang sangat menarik karena sebulan putus dengan Meta, Milan malah jadi tidak lagi mengunjungi tempat-tempat dugem, diskotik yang seperti biasa di malam Minggu lewatkan bersama Meta. Tapi mau apa lagi di Bali sendirian, tak ada teman dan tak ada perencanaan selain paket Bounty Cruise Bali yang Markis rencanakan buat dirinya.
Markis menganjurkan temukan saja gadis di Diskotik SunBosei untuk membalas dendam rasa sakit pada Meta.
“Sepertinya aku coba sajalah saran Markis, siapa tahu memang setelah membuat putus cewek, aku jadi merasa puas dan impas maka tak perlu lagi mengingat-ingat keparat Meta.”
Milan memakai minyak wangi dan berkaca, ada kumis dan jambang di wajahnya yang biasanya bersih, dan ada bantal yang menyembul di pinggang celana jeans-nya yang jadi agak ketat.
“Isssh aku… heemmm kacau sekali! Masa bodolah kalau ada cewek yang tertarik dengan aku berarti dia cewek yang pintar! Karena di balik penampilan aku yang sekarang kacau sebenarnya tersembunyi kegantengan dan ketampananku...” Milan bicara kepedean. Sepertinya kaos hitam tidak bisa menyembunyikan tubuhnya yang sekarang tampak chubby.
Milan memutuskan tidak makan malam dengan fasilitas hotel, berbeda dengan Mutia yang tengah asyik mencoba berbagai menu hidangan santap malam yang disediakan hotel Granz Inz.
Dari makanan Indonesia nasi goreng, bakmie goreng, ikan gurame, sup kepiting asparagus, kangkung sea food, sampai makanan western sandwich spaghetti beef, chicken steak, berbagai cake, pastry dan croissants sementara dessert-nya banana split, es krim, berbagai jus, buah dan susu segar.
Mutia mencoba memperbaiki nafsu makannya yang sangat buruk dan ajaib makanan yang tersaji menggugah seleranya kembali, walau sedikit-sedikit tapi Mutia mencoba semua menu yang tersaji. Hanya saja harus hati-hati karena ada makanan yang mengandung babi dan itu ada tulisannya. Sebagai seorang muslim, Mutia tidak diperbolehkan memakan daging babi.
Mutia menutup makan malamnya dengan segelas jus jambu yang rasanya segar dan kembali memilih jalan-jalan seputar Kuta untuk memuaskan materi tulisan traveling di blog-nya. Dan kapan lagi memuaskan diri untuk sesekali lepas dari rutinitas.
Jumat malam jalanan sepanjang Kuta menuju Legian ramai dipadati pejalan kaki, motor dan mobil para bule, domestik.
Mutia memutuskan jalan menuju ke lokasi monumen Ground Zero. Pernah mendengar tragedi bom Bali I, pada tanggal 12 Oktober 2012? Di jalan inilah tempat kejadiannya. Karena itu di jalan ini adalah lokasi dari monumen Ground Zero bom Bali. Setiap hari monumen Ground Zero mendapatkan kunjungan wisatawan untuk sekedar tahu akan tragedi bom Bali.
Mutia mengambil beberapa sudut-sudut monumen, memuaskan keingintahuannya dan setelahnya duduk-duduk di salah sudut monumen dan mengamati para pejalan kaki yang lalu lalang dengan berbagai bahasa.
Mutia memilih kembali jalan kaki melanjutkan untuk menikmati seputaran Legian dan Kuta, Mutia sempatkan mampir ke pusat Surf Girl untuk membeli sandal jepit yang lupa dibawa.
Outlet Surf Girl yang tertata rapi dan manis membuat Mutia betah beberapa lama naik turun untuk sekedar melihat-lihat dan membeli sandal jepit yang memang dibutuhkan. Bahkan Mutia memutuskan untuk langsung memakainya, sepatu kets-nya sekarang yang di bungkus plastik dan Mutia masukkan ke dalam tas ranselnya.
Mutia berjalan menuju seputaran Kuta dan semakin mendekati hotelnya, bagaimanapun dia harus jaga diri.
Sementara Milan sudah meluncur dengan sebuah taksi menuju ke SunBoshe, masih masuk daerah Kuta hanya agak keluar. Milan tidak terlalu peduli dengan lingkungan sekitar sehingga tidak tahu kalau mobilnya melintasi Mutia yang memilih mendekati hotel Granz Inz tempat mereka menginap.
Mutia memilih menikmati Pantai Kuta di malam hari, lalu mendatangi resto Breeze. Sebuah restoran di pinggir Kuta yang menghadirkan sajian lagu-lagu tenang dan romantis. Mutia hanya ingin menulis dalam ketenangan seperti waktu lalu saat waktunya belum tersita urusan pekerjaan. Mutia ingin menuliskan perjalanan yang harus dinikmati dengan kesendirian, laptop menjadi teman setia dan Mutia mulai asyik memainkan jari jemarinya di atas tuts menuliskan suasana hatinya, seperti yang kerap dilakukan di waktu lalu. Sesekali bersenandung mengikuti live musik.
Bunyi laut Kuta seakan gesekan biola yang berpadu dengan suasana yang terasa hangat. Mutia menikmati cemilan-cemilan dan susu cokelat kesukaannya, sepertinya makan malam di hotel Granz Inz sudah tidak menyisakan rasa kenyang.
“Hmmm sepertinya tiga hari di sini bisa menaikkan berat badanku yang turun drastis, baguslah biar Linda tidak merasa sia-sia sudah mengatur ini semua untukku. Wah lama sekali aku tidak punya waktu untuk menulis cerita-cerita hatiku, ya ampuun curhatan yang hampir empat tahun lalu...” Mutia asyik membuka folder berjudul CORETAN yang tak penah lagi di utak atik karena kesibukan kerja dan pastinya juga sibuk dengan Rolan yang bisa dijadikan tempat curhat langsung bila ada masalah sehari-hari tanpa perlu menulis.
Sepertinya Mutia ingin malam ini dia habiskan dengan laptopnya, bagai kaleidoskop saja dia menulis perasaan hatinya. Sesekali tersenyum sendiri dan Mutia tak peduli sama sekali dengan sekitar, yang ada hanya ingin menikamti harinya selama di Bali untuk menghapus semua kenangan tentang Rolan.
Dan biarkan waktu merambat menjelang tengah malam...
***
Suara musik hingar bingar memacu adrenalin di diskotik SunBosei, seakan memberikan semangat tersendiri di hati Milan.
Sudah sebulan ini dirinya menjauhi tempat-tempat yang ramai, padahal kalau ada Meta, minimal seminggu sekali tempat-tempat seperti ini membuat Milan dan Meta bersemangat dan serasa semakin dekat saja.
Baru Milan sadari kalau kebahagiaan dirinya saat bersama Meta hanya fatamorgana, Meta sekarang tak lagi ada di sisinya saat lagu hingar bingar mengingatkan apa yang telah terlewati bersama Meta, seakan sekarang mengejek kesendiriannya.
Milan memilih martini untuk menghangatkan tubuhnya. Saat tengah menikmati martini-nya, seorang gadis berpakaian seksi, rambut merah tergerai dengan dandanan lumayan tebal menawarkan diri untuk menjadi teman.
Milan hanya tersenyum yang diartikan memperbolehkan cewek itu menemaninya untuk di dekatnya.
“Hai… namaku Dara, sepertinya kamu sendirian kemari! Aku temani ya?” suara Dara mengeras karena bersaing dengan musik keras di diskotik SunBosei.
Milan tersenyum mengangguk-angguk sambil mencoba menikmati house musik remix DJ Sear, badannya sedikit ikut bergoyang-goyang.
“Dara sepertinya banyak masalah, sudah lupakan saja semua masalah kalau sudah di sini. Turun yuk, tuh asyik banget lagunya,” Dara menarik tangan Milan, tapi Milan menepis dan menolak. Sesaat wajah Dara jadi memberengut, tapi Dara tak mau menyerah, dia juga memilih dekat dengan Milan dan menemani Milan minum.
Milan tak tahu apa yang ada di benak Dara, “Duh kira-kira cowok ini bisa kasih aku duit gak ya? Aku butuh banget nih... aku harus bayar SPP semesteran, ditambah Ibuku sakit lagi,” Dara gelisah menatap Milan yang tetap cool dan minum segelas demi segelas.
Sampai jelang tengah malam, Dara hanya mendengarkan ocehan Milan yang bercerita tengah patah hati dengan cewek yang disebut-sebutnya Meta. Sebelumnya sempat asyik di awal Milan bercerita kalau tengah cuti dan liburan untuk menghilangkan kejenuhan, tapi lama-lama Milan ceritakan semua pada Dara termasuk mencari cewek yang akan jadi pembalasan sakit hatinya gara-gara Meta.
Dara menyeringai membayangkan entah siapa cewek yang akan jadi pembalasan Milan karena putus cinta, pastinya bukan dirinya karena dirinya mendekat bukan untuk cinta, tapi untuk uang yang tengah dibutuhkan.
Dara mencoba bersabar agar mendapat tips dari Milan karena telah menemani jadi teman curhat, tapi sepertinya malah sebaliknya karena sekarang Milan mabuk berat.
“Hai Dara, kamu antar pulang tamu kamu sekarang juga! Sepertinya sudah mabuk berat!” Nando, bartender yang bertugas malam ini memperingatkan Dara yang sudah akrab karena kerap nongkrong di SunBosei.
“Aduh Ndo, paling sebel deh kalau sudah gini, gimana aku dapat tips jujur! Eggghhhh!” Dara kesal, tak urung dia menyeret Milan untuk mencari taksi dan mengantarkan sampai kamar hotelnya.
Jujur Dara bekerja malam seperti ini untuk membiayai kuliah dan ibunya yang sakit-sakitan. Dara pilih-pilih tamu yang dianggapnya baik dan tidak macam-macam, jadilah Dara kerap mencuri alias ambil sendiri tipsnya dari dompet tamunya yang datang hanya untuk mabuk di SunBosei.
Dara mengambil beberapa lembar setelah membayar taksi lalu mengantarnya sampai kamar dan Dara pun pergi begitu saja.
Milan benar-benar mabuk berat, tubuh Dara yang mungil agak kesulitan menyeret tubuh Milan yang tinggi dan agak gemuk.
Saat bersamaan memasuki lift, Mutia juga baru kembali dari resto Breeze. Tentu saja wajah Milan jadi tak asing lagi buat Mutia, di beberapa waktu mereka sempat saling bertatapan dan bahkan tanpa sepengetahuan mereka saling berharap bertemu.
“Meta... Meta... kamu akhirnya kembali lagi padaku...” tiba-tiba Milan yang mabuk berat malah mencengkeram Dara dengan kasar.
Dara tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya dan takut, karena selain seperti ingin mencekik, Milan juga mau mencium wajah Dara.
“Mbaak tolong, tamu saya mabuk berat!” sekonyong-konyong Dara berteriak, Mutia juga kaget selama ini dia juga tidak pernah menghadapi orang mabuk.
“Mbaak, aduuh tolong...” Dara meminta tolong Mutia yang bengong, bingung harus berbuat apa. Spontan Mutia menarik tubuh Milan kasar dari arah belakang, sementara lift masih bergerak menuju lantai 3.
Tarikan yang kuat membuat Milan jatuh tersungkur membentur dinding lift, pas pintu lift terbuka di lantai 3 dan Milan sudah tak bergerak.
“Ayo kita bawa ke kamarnya saja,” Mutia terpaksa menarik kaki Milan agar keluar dari ruang lift. Dara menjinjing sepatu tingginya membantu Mutia yang coba merangkul Milan di pundaknya.
“Ayo cepetan, nanti dia sadar lagi,” Mutia menyuruh Dara agak cepat berjalan dan sampai di kamar 311, berdua masuk ke kamar Milan yang tampak kacau balau. Lalu menjatuhkan badan Milan di kasur. Sepakat tanpa kata berdua bergegas ke luar dari kamar Milan.
“Duuh untung ada Mbak, kalau tidak… hiiih gak ngerti deh!” Dara mengibas-ibaskan pakaian dan memasang sepatu high heel-nya.
“Upps... yah terkunci otomatis!” Dara menepuk jidatnya sesaat setelah mencoba membuka kamar Milan dengan sebuah dompet di tangan.
“Mbak nginap di sini kan? ini dompetnya si Milan... cowok mabuk tadi namanya Milan. Tolong ya Mbak bilang ke dia, aku ambil tips aku dan juga buat bayar taksi anterin dia. Oh ya nama aku Dara, bilangin ke Milan terima kasih sudah bantu aku bayar SPP... sekali lagi makasih ya Mbak!” Dara tanpa memberi kesempatan Mutia bertanya segera meninggalkan dirinya yang masih syok menghadapi orang mabuk pertama kali dalam hidupnya.
Mutia memasukkan dompet Milan dan segera menuju kamarnya. Setelah membersihkan muka, Mutia sesaat membuka dompet Milan dan iseng membuka KTP-nya, tertera nama Milan Kusuma dan umurnya 3 tahun lebih tua dari dirinya, dan masih lajang.
“Lebih tampan di foto daripada aslinya... sayang tampan-tampan tukang mabuk!” dan Mutia memilih memejamkan mata karena besok hari Sabtu setelah sarapan berniat untuk menyaksikan pelepasan anak-anak penyu di pantai Kuta.
Other Stories
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Melepasmu Untuk Sementara
Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...