Blek Metal

Reads
659
Votes
14
Parts
14
Vote
Report
Penulis Noer Eka

Chapter 13: Konser Terakhir (tamat)

Untuk pertama kalinya, Fani bisa memilih apa yang ia mau. Namun, sebelum itu dimulai, ia ingin mengunjungi sebuah tempat sendirian. Pagi-pagi sekali Fani membawa motornya melaju ke sebuah tempat. Deretan batu nisan mulai menghiasi sepanjang jalan, dan akhirnya Fani memarkirkan motornya di dekat penjaga makam. Ia membeli bunga untuk ditaburkan, setelah itu kakinya mulai berjalan memasuki area pemakaman. Jantungnya berdegup kencang karena ini kali pertamanya ia berkunjung setelah sekian lama. Lalu ia berhenti di sebuah makam dan segera berjongkok membersihkan rumput.

"Mas Yan, aku datang."

Hari itu ia bercerita banyak hal pada batu nisan tersebut, sesekali meminta maaf karena tak pernah datang. Namun, rupanya hari itu yang datang bukan Fani seorang. Terlihat sosok pemuda bersarung hitam muncul dan kaget dengan perempuan yang ada di makam tersebut, alias Fani.

"Kak..." Sapa sang pemuda.

Fani menoleh dan ia langsung berdiri. Rupanya ialah pemuda yang pernah ia temui di kajian tempo hari lalu.

"Kak Fani kenal sama abang saya?"

Gadis berhijab itu mengangguk, "Dia teman saya."

"Oh..gitu ya." pemuda itu tersenyum, "Saya nggak tahu kalau abang saya berteman dengan ustadzah macam kakak, mengingat abang saya ini pecandu dan meninggal pas sekolah dulu."

"Ya, orang kayak dia juga butuh dibantu kan?"

Pemuda itu tersenyum, untuk selanjutnya mereka bercakap-cakap panjang lebar mengenai sosok "Yanuar" alias ia yang dimakamkan di sini. Fani tak membongkar banyak hubungan mereka, tetapi melalui Ardi sang adik, ia jadi tahu sisi Yanuar yang tak pernah bercerita tentang keluarga. Tanpa sadar mereka asyik bicara dan akhirnya mereka harus berpisah. Di jalan, Fani tersenyum mengingat sahabatnya itu, Yanuar, orang yang mengenalkannya pada musik metal dan mengajarinya menyanyi secara otodidak. Sungguh guru yang luar biasa. Setelah melakukan hal tersebut barulah ia bisa memulai semuanya. Fani memaku pada hatinya, bahwa konser itu bukanlah untuk dirinya tetapi ia sembahkan untuk Yanuar.

Di tempat latihan, Fani kini tak lagi kucing-kucingan. Dahlia, bahkan Prasetyo pun menemani. Selama satu bulan ke depan mereka latihan, benar-benar memaksimalkan semuanya.

Festival Brisik ke-4 

Hari yang ditunggu telah tiba. Land of Death akan mendapat giliran manggung keempat. 

Bu Yana yang tak terlalu suka musik metal itu sengaja datang untuk melihat putrinya manggung, walau katanya cuma satu lagu saja. Pakdhe dan Budhe tidak hadir, tentu Fani sedikit sedih tetapi ia senang walau diberi ijin sekali ini saja. Namun, Bu Yana menyemangati keponakannya tersebut dan tetap mendukung mereka semua seaneh apa pun kelakuannya. Keluarga tetaplah keluarga.

"Pras! Sini!" Bu Yana memanggil Prasetyo yang sedang asyik bermain ponsel, ia mengajaknya berfoto untuk story medsosnya.

Sambil menunggu band lain selesai, mereka ikut menonton dari samping panggung dan ikut berteriak menikmati suasana. Namun di sisi lain rupanya Yogi mengajak Dahlia pergi sebentar, mengetahui hal itu Prasetyo pun mengikuti mereka. Yogi baru berhenti ketika Prasetyo memanggil.

"Kenapa? Ini pacarku." Kata Yogi dengan congkak pada Prasetyo.

Namun, sebelum Prasetyo menjawab, Dahlia melerai dan berkata, "Iya, aku pacarmu, tapi sampai konser ini saja."

"Ha?"

"Males juga pacaran sama kamu." Kata Dahlia, "Nggak seru, mending aku sama si Pras aja."

"Ha?" Giliran Pras yang kaget saat tangannya digandeng Dahlia.

Yogi, pemuda beranting besar itu langsung tertawa, "Sialan! Sialan! Yaudahlah. Terserah kalian. Aku capek."

Yogi tak mau memicu masalah meskipun ia jengkel karena merasa dipermainkan, tapi karena ini mau konser ia tak mau merusak semuanya. Setelah Yogi pergi, Prasetyo menatap Dahlia kebingungan.

"Kamu..." Prasetyo sedikit terbata, "...kamu nembak aku nih?"

"Iya."

"Ha?"

Tanpa diberikan kesempatan menjawab, Dahlia keburu menyeret Prasetyo dan kembali berkumpul dengan semua orang. Terlihat Bu Yana senang saat melihat Prasetyo ada di dekat Dahlia, dan tanpa diketahui keduanya, Bu Yana memposting story fotonya dengan Prasetyo dan diberi caption "Calon Mantu". Diam-diam Bu Yana sudah tahu, seram-seram begitu, Prasetyo ternyata anak orang kaya. Tak pedulilah soal tampang, yang penting duit!

"Oke!" Teriak Marco, "Bentar lagi kita naik! Ayo kumpul dulu!"

Sekali lagi Marco mengingatkan bahwa ini bukan konser mereka saja, tetapi konser semua orang. Acara dengan Dahlia tak boleh mengacaukan konser band lainnya. Tiba saatnya Land of Death naik ke panggung. Kumpulan orang memakai riasan seram pun naik ke atas panggung, Fani alias Flowers naik memakai topeng kesayangannya yang sebentar lagi tak akan ia pakai. Jantungnya berdegup kencang, ia grogi, tetapi begitu melihat Dahlia dan Bu Yana, ia jadi semangat lagi.

"CHILDREN OF BASTAAARRRDDD!" Flowers berteriak pada penonton yang membuat semuanya jadi makin semangat untuk bergerak.

Sekali lagi Fani melihat lautan manusia yang saling bertubrukan, kadang berputar, melompat, dan berteriak. Kebahagiaan muncul dari hatinya.

Kalian merasa lebih suci karena percaya Tuhan.

Tetapi kelakuan kalian masih kaya setan!

Pantaskah? Pantaskah?

Bukannya kau terima kami dan bimbing kami.

Tapi kesucianmu membuat kami terasa sendiri.

Tanpa Tuhan, kita jadi hewan. Sudah bertuhan, masih ingin jadi hewan.

Pantaskah? Pantaskah?

Fani meneriakkan seluruh isi hatinya di sini. Semua terasa lega dan rasanya jauh lebih ringan. Di sisi lain Dahlia dan Prasetyo ikut menikmati suasana, tetapi Bu Yana hanya bisa menutup telinga karena ini bukan seleranya. Penonton seolah terbius.

"Sebelum saya berpamitan." Flowers mengambil mik dan berjalan ke samping, "Ijinkan saya memperkenalkan anggota baru kami, Dahlia..."

Seluruh penonton bersorak.

"Lalu juga ada vokalis baru, perkenalkan Mas Irfan." Kata Flowers.

Keduanya naik dan mikrofon pun diserahkan pada mereka. Semua orang bersorak begitu mendengar ada pergantian vokalis di festival begini. Panitia mau heran, tetapi mereka tak bisa menganggu untuk saat ini.

Flowers berkata, "Ini lagu berjudul Duka, yang saya tulis sendiri dan perdana dinyanyikan oleh mereka, beri tepuk tangan."

Penonton makin bersorak.

"Saya undur diri, terimakasih dan inilah para pengganti saya."

Flowers pun turun dari panggung diiringi sorakan haru penonton. Dari balik topengnya, Fani sedikit menangis, tetapi rasanya bahagia saat suara instrumen lambat mengiringi. Duka, lagunya yang paling istimewa. Suara Dahlia dipadukan dengan suara Irfan jadi sangat indah. Beauty and The Beast.

Ku tahu kau sendiri di sana.

Aku akan menunggumu di sini.

Kau tahu aku rindu padamu.

Aku tahu kau rindu padaku.

Sepenggal lirik tersebut membuat hati Fani jadi tak karuan. Ia melihat Dahlia di sana, sama seperti ia melihatnya waktu pertama kali mendengarnya bernyanyi lagu tersebut.

"Fani! Fani!" Bu Yana melambai dan menyadarkan lamunan keponakannya tersebut.

Fani mencoba membaca pesan yang ditunjukkan padanya melalui celah-celah topeng. Sejenak ia terkejut, itu pesan dari ibunya, yang berisi kata-kata semangat untuknya. Fani mau menangis lagi, tetapi ia tahan ketika lagu di atas panggung mau selesai.

Fani kembali ke atas panggung untuk melakukan salam perpisahan pada penonton. Ia mengambil posisi di dekat Dahlia. Mereka bergandengan tangan erat sambil tersenyum.

"Terimakasih semuanya!" Ucap Fani.

Mereka menunduk pada penonton, lalu turun dari panggung dan konser mereka berakhir.

...

SELESAI


Other Stories
Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...

Teka-teki Surat Merah

Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Nina Bobo ( Halusinada )

JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...

Download Titik & Koma