Chapter 12: Penculikan
Dahlia termenung di atas kasurnya sambil memandang langit-langit. Hatinya benar-benar kacau hari ini. Kemarin Fani begitu menakutkan, belum pernah ia melihat rupanya yang demikian marah. Sungguh kacau!
Ia juga ingin marah tetapi sudah keduluan Ibunya, benar-benar menakutkan. Ibu dan Bude saling adu mulut, menyalahkan siapa yang membuat anak mereka begini. Dahlia tak mau mengingat kejadian semalam, karena yang ia khawatirkan adalah Fani. Tentu saja Bude akan semakin ketat mengawasinya dan tak akan membiarkannya bicara pada Dahlia.
"Pras." Dahlia menghubungi Prasetyo, "Aku mau ke rumahmu."
Gadis berambut panjang itu memakai jaketnya dan segera pergi dari rumahnya diam-diam. Tak mungkin Prasetyo kemari karena bakal habis dirujak warga, meski ia tak ada kaitannya, kuasa Pakdhe dan Budhe sebagai juragan di sana jelas sangat disegani, warga otomatis akan membantu tanpa diminta. Karena Dahlia tak bisa naik motor, ia lalu memesan ojek online untuk ke sana.
Rumah Prasetyo terletak di jalan utama, sebuah rumah besar tiga lantai dengan gerbang yang mewah juga. Rupanya sosok berambut gondrong itu sudah menunggunya di depan gerbang dengan santai sambil merokok. Dahlia tak dapat menyembunyikan senyumnya saat melihat Prasetyo, rasanya sudah lama sekali tidak berjumpa.
"Pras!" Dahlia melompat kegirangan.
Pemuda gondrong itu tak menjawabnya dan langsung membukakan pintu gerbang. Di dalam ruang tamu, keduanya saling berhadapan. Prasetyo tetap diam sambil menatap Dahlia sampai gadis itu angkat bicara.
"Aku mau minta tolong." Dahlia mengatupkan kedua tangannya di depan muka.
Prasetyo menghela napas, ia tahu tak akan bisa menolak permintaan tolong dari perempuan satu ini, tetapi ia mencoba lebih tegas, "Kemana pacarmu? Nggak minta tolong sama dia?"
"Pacar?"
"Iya. Si Yogi."
Yogi? Dahlia menatap ke arah Prasetyo yang juga masih menatapnya. Bagaimana bisa dia tahu hubungannya dengan Yogi?
"Itu cuma bercanda aja! Dia ..." Dahlia tiba-tiba terdiam seolah menyadari sesuatu, matanya menatap intens kepada Prasetyo, "Kamu cemburu?"
"Nggak."
Dahlia diam sejenak lalu ia melanjutkan, "Kamu bisa nyetir mobil kan?"
"Pakai nanya? Mau kemana emang?"
"Ikut aku sekarang!"
Dalam sekejap mereka sudah ada di dalam mobil, Prasetyo tidak bertanya lebih jauh meskipun ia sekarang terheran karena Dahlia memakai baju serba panjang dan sebuah kain melilit pada kepalanya, tindik pada hidungnya telah ia lepas juga. Ia benar-benar tak tahu apa yang Dahlia rencanakan. Gadis itu menunjukkan lokasi yang akan mereka tuju, sebuah gedung di samping mushola yang penuh dengan orang-orang berpenampilan religius. Dahlia meminta Prasetyo untuk tidak keluar dari mobil dan menunggu tak jauh dari jalan.
"Assalamualaikum, permisi." Dahlia menemui salah satu perempuan yang sedang berjalan sendirian di tangga.
Perempuan itu menoleh dan agak kaget melihat sosok yang agak sangar tetapi ia menjawab, "Cari siapa kak?"
"Cari Khadijah."
"Ohh...kalau gitu mari saya antar."
Dahlia mengikutinya dan masuklah ia ke sebuah ruangan yang agak ramai, entah ada pembicaraan apa. Semua orang menoleh ke arah pintu dan sangat kaget karena semua orang yang ada di sana adalah mereka yang ikut sidang keluarganya kemarin. Tanpa basa-basi Dahlia langsung mengajak Khadijah pergi keluar untuk mengobrol, awalnya ia tak mau, tetapi karena kemampuan cuap-cuap persuasi Dahlia walhasil Khadijah setuju untuk ikut.
"Kita ngobrol di mobil?" Tanya Khadijah heran.
"Ya, namanya juga privasi."
Mobil tersebut terparkir agak jauh sehingga tak ada yang curiga. Begitu pintu mobil terbuka, tanpa Khadijah sadar ia sudah terdorong ke dalam. Dengan cepat Dahlia menutup dan mengunci pintu. Gadis berhijab tersebut kaget dengan adanya Prasetyo di belakang setir, ia mau berteriak tetapi Dahlia mengancam dengan sebuah pisau.
"Jalan, Pras."
Mobil melaju menjauhi gedung tersebut. Sepanjang perjalanan mereka diam, hingga Dahlia pun bicara.
"Kamu tahu kenapa kamu di sini?" Dahlia menatap tajam pada Khadijah.
Ia diam saja dan menunduk ketakutan.
"Kamu tahu kalau sudah bikin masa depan Fani hancur?"
"Hancur?" Khadijah menatap tak percaya, "Tapi aku cuma bertanya kemarin kemana dia? Tapi nggak tahunya malah terpengaruh sama kalian!"
Dahlia terheran, Prasetyo sempat menoleh kebelakang karena heran sebelum akhirnya fokus kembali ke jalanan.
"Heh!" Dahlia agak meninggikan suaranya, "Kamu itu ikut sidang keluarga kami juga udah gak bener!"
Khadijah masih tak mau mengalah, "Kalau emang kamu saudaranya kenapa menjerumuskan?"
Prasetyo diam-diam tersenyum mendengarkan percakapan di belakang, ia tahu bahwa Dahlia sudah tak bisa menahan diri dan yakin bakal berkelahi. Tapi buru-buru kepalanya menggeleng mendengar pernyataan, atau tuduhan tak jelas dari gadis tersebut. Sangat jugdemental.
"Dasar tukang ikut campur!" Dahlia mengangkat telapak tangannya dan langsung menggoresnya dengan pisau lalu sedikit menoel hidung Khadijah dengan darahnya, "Kalau kamu nggak mau nurut, lebih baik aku jadi kriminal dan bunuh kamu di sini!"
Mendengar ancaman tersebut, Khadijah tanpa basa-basi langsung menurut. Dahlia menyuruhnya untuk membuat Fani keluar rumah tanpa dicurigai, tetapi sebenarnya ia latihan. Hanya untuk satu bulan saja.
"Kenapa kalian mau aku bohong gini?" Khadijah mulai menangis.
Dahlia menghela napasnya, "Cuma untuk satu bulan aja, dan itu bikin Fani bahagia."
"Fani bahagia dengan dosa? Musik begitu kan dosa!"
Prasetyo yang mulai memahami alurnya tiba-tiba angkat bicara, "Dosa atau nggak, itu urusan dia. Lagian saya tahu kamu sepertinya nggak pernah dengerin metal. Dan Dahlia, kita harus ketemu Fani."
"Kamu bawa hp kan?" tanya Dahlia.
"I-iya."
"Telepon dia, suruh ke halte 309!"
Buru-buru Khadijah menelepon Fani dan untungnya ia dapat ijin karena yang menelepon adalah Khadijah. Tak berapa lama setelahnya mereka berhasil bertemu di halte 309.
"Udahlah Lia, jangan ngancam dia deh kamu." Kata Fani saat Khadijah datang dan memeluknya dengan gemetar.
"Mau gimana lagi? Dia ikut sidang keluarga aja sudah salah!"
Fani menghela napasnya, dan kaget ketika mendengar perjanjian tersebut. Tetapi Dahlia, Prasetyo, dan bahkan Khajidah jadi terkejut setelahnya.
"Aku baru saja negosiasi dan tidak akan kucing-kucingan lagi." Kata Fani.
"Bude ngijinin?"
"Nggak, tapi bapak. Aku bikin perjanjian kalau aku bakal ikutin semua kemauan mereka kalau satu permintaanku ini diturutin."
Khadijah bertanya, "Apa itu?"
Fani tersenyum lebar pada mereka, "Aku boleh mengisi jadi vokalis di festival bulan depan, dan setelahnya bakal jadi dai selamanya, nikah, dan punya anak."
Semua orang sangat kaget, terlebih Dahlia karena merasa drama darah bohongan itu jadi sia-sia.
"Khadijah aku minta maaf ya udah melibatkan kamu." Kata Fani, "Dan Dahlia sama Prasetyo, tolong temani aku selama satu bulan ini."
Semua orang jadi sangat lega dengan semuanya, terutama Dahlia.
"Tapi, Khadijah, tolong katakan sama mereka ya, bilang bahwa orang tuaku sudah setuju."
Khajidah mengangguk setuju.
...
Other Stories
Dua Bintang
Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...
Bad Close Friend
Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Final Call
Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...