Chapter 11: Kejutan
"Apa?!" Fani terkejut ketika mendengar kabar mengejutkan ini.
Gadis berhijab itu sungguh tak percaya melihat apa yang ada di depannya, Dahlia berdiri di sana bersama Pak Manajer dan semua orang, ia diangkat menjadi anggota tambahan yang berfungsi untuk mengisi clean vokal pada lagu baru mereka yang sebelumnya akan diberikan pada Bulan.
"Ya, ini balas dendam kami karena kamu nggak mau jujur." Kata Marco sambil tersenyum puas.
"Aseekkk..." Dahlia bersorak, sepertinya ia jadi sangat akrab dengan Marco.
"Woy! Lagu baru apa?" Fani masih kebingungan.
Bulan menjawab, "Kamu lupa ya? Itu kan yang pernah kamu tulis, judulnya Duka, kami rekam diam-diam sih."
Mendengar judul tersebut, Fani mengernyit tetapi sedetik kemudian ia tersenyum kecil. Ia menghela napasnya, "Aku pikir itu nggak pernah bakal kalian mainin."
"Memang." Kata Marco, "Tapi kita bakal mainkan itu di festival bulan depan, jadi si kampret ini masih ada waktu latihan."
"Jangan gitulah Bang Marco ..., aku kan bestiemu." Kata Dahlia dengan sok akrab.
"Tai! Untung aja situ bisa nyanyi!"
"Sori....hehe..."
"Tai!" Marco mendengus, lalu ia melanjutkan, "Kami sudah dengar masalahmu, jadi kami bakal berikan tribute buatmu pas festival nanti."
"Jadi?" Fani masih kebingungan.
"Intinya kamu harus jadi vokalis buat festival nanti, sebelum ganti ke orang lain." Kata Kaji.
"Dan aku juga ikut tribute itu!" Seru Dahlia.
Fani terdiam, ia tak tahu bahwa mereka masih begitu peduli padanya setelah apa yang ia lakukan. Tanpa sadar air matanya mengalir deras, Bulan dan Dahlia datang untuk memeluknya. Berulang kali kata maaf terucap dari bibir Fani untuk mereka karena tak bisa menjadi teman yang baik.
"Makasih..." Fani mengucapkan itu sambil akan mengusap air matanya, tetapi Yogi langsung memberikan tisu.
"Mau gimana pun, studio ini bakal tetap terbuka buatmu." Kata Marco sekali lagi.
"Maaf...ternyata aku tetap nggak bisa ambil semua jalan yang aku mau, makasih udah baik dan nggak ngebuangku."
"Udahlah! Ayo latihan! Waktu kita tinggal sebulan!" Marco segera berdiri dan pergi meninggalkan ruangan, sementara Bulan alias istrinya tahu bahwa suaminya itu suka tak tahan dengan orang yang menangis, kalau dia tetap di sana yang ada malah ikutan mewek. Perempuan gempal tersebut memaklumi sikapnya itu.
Setelah acara penuh air mata tersebut, mereka segera mengambil tempat pada instrumen masing-masing. Dahlia yang hanya kebagian satu lagu tak terlalu banyak hanya duduk sambil melihat mereka latihan, di tangannya terdapat partitur lagu yang not baloknya tak bisa ia baca. Suasana studio nampak berbeda hari ini, Dahlia mendadak kembali menjadi mode "penggemar", perasaannya kagum saat melihat mereka bermain, terutama Fani yang scream di antara lautan manusia hitam. Agaknya tak mungkin ia bergabung dengan para jenius ini, tetapi takdir berkata lain.
"Wuah!" Fani berteriak lega sekaligus bahagia.
Dahlia bertepuk tangan setelah melihat pertunjukan mereka.
"Sekarang giliran kamu." Kata Yogi sambil menunjuk partitur yang dipegang Dahlia.
Gadis berambut panjang tersebut berdiri dengan gaya kagok, tak tau apa yang akan ia lakukan. Namun, Fani segera menjauh dari mik dan berjalan melewati Dahlia untuk duduk di kursi yang tadi didudukinya. Seolah mengerti bahwa mereka sedang berganti peran, Dahlia perlahan mengambil mik tersebut. Suara gitar dipetik pelan dan instrumen yang terdengar dalam, menandakan melodi kesedihan yang akan dinyanyikan. Sesuai instruksi dari Yogi beberapa hari sebelumnya, Dahlia menyanyikannya walau masih tersisa cengkok dangdutnya, tetapi kombinasi aneh tersebut berhasil membuat lagu ini makin menyedihkan.
Fani terdiam melihat sepupunya itu. Suara yang dinyanyikannya begitu persis saat ia membayangkan nyanyian ketika menulisnya. Suara yang ia pikir tak akan tercapai karena ia tak bisa. Jari-jarinya mengetuk pahanya pelan seolah mengikuti irama.
Kan kutunggu kau di sana...
Ku tahu kau sendirian
Gadis berhijab tersebut jadi agak merinding ketika mendengar lirik tersebut. Benar, lagu ini seharusnya dinyanyikan oleh orang lain dan ditujukan padanya. Secara fisik ia melihat Dahlia di sana, tetapi batinnya berkata bahwa "orang itu" sedang bicara padanya dari alam seberang. Tanpa sadar lagu telah berakhir dan menyisakan Fani yang terdiam, perlahan tangannya bertepuk karena bangga. Melihat sang idola bertepuk tangan padanya, Dahlia jadi serasa ikut melayang.
"Anjay..." Yogi menyenggol Dahlia sambil sok asik. Ia bangga karena latihan yang cuma seminggu itu mampu menghasilkan hal seperti ini.
"Cieee.... Fani udah bisa senyum nih ye..." Kata Dahlia.
"Cieee..." Yogi ikut-ikutan.
Sejenak Fani tertawa kecil, semua orang dan Pak Manajer pun ikut senang. Hari itu setelah latihan, Fani merasa tak ingin pergi dari sana. Dimatikannya ponsel miliknya, dan hari itu seharian Fani ingin bersama mereka. Untuk merayakan ini, Pak Manajer mengajak mereka keluar. Begitu aneh rasanya saat melihat sosok Fani yang bergamis ada di tengah-tengah orang berpenampilan begundal, tapi siapapun yang melihat lebih dalam bakal tahu kalau gadis itu juga orang semacam mereka. Orang-orang pada melirik, tapi Fani tak peduli pada orang-orang sok asik kayak mereka.
Pak Manajer membawa mereka ke tepi pantai, memandang indahnya debur ombak. Angin laut sore hari terasa sejuk dan menenangkan hati. Fani dan Dahlia yang berdiri bersebelahan tanpa sadar saling mengaitkan tangan mereka, seolah tak ingin semua ini berakhir.
"Terimakasih." Gumam Fani pelan.
Tak terasa hari sudah semakin gelap, mereka pun kembali pulang. Dahlia dan Fani memutuskan untuk pulang bersama lalu menghadapi orang-orang rumah yang pastinya kebingungan. Di atas motor mereka bercanda dan bergurau. Tak pernah Dahlia melihat sepupunya seperti ini karena biasanya gadis itu lebih mirip kanebo kering. Namun, hari yang indah ini bakal berakhir begitu saja. Hal yang mereka takutkan bukan rupanya telah menunggu di depan rumah.
Terlihat ada Bude, Pakdhe, dan seorang gadis bergamis yang ada di sana, begitu pula Bu Yana dan para warga yang lain. Seolah sedang mau mengeroyok.
"Kalian habis dari mana?" Tanya Bude dengan nada sinis, matanya melihat Dahlia sambil merendahkan dan menatap putrinya dengan kecewa.
Fani belum menjawabnya, tetapi matanya menatap pada sosok Khadijah di sana. Sejenak gadis itu agak takut begitu melihat ekspresi marah tertahan dan mengerikan yang belum pernah ia lihat dari Fani, seolah ia mau dimakan saja. Sementara itu Dahlia kebingungan karena melihat warga lain ikut berkumpul. Ada acara apa memang?
"Fani, Lia." Suara Pakdhe begitu dalam, "Masuk sekarang juga!"
Kedua gadis itu pun tanpa banyak bicara langsung mengikuti. Para warga pun bubar ketika mereka masuk ke dalam. Di rumah Fani, rupanya semua keluarga sedang berkumpul, bahkan anak-anak komunitas rohani juga. Melihat sosok Eyang Putri ikut hadir di tengah semuanya berarti ini adalah masalah yang serius.
Ini sidang keluarga!
...
Other Stories
Love Of The Death
Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...
Testing
testing ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...