Chapter 9: Labil
Fani terlihat merenung di depan cermin, memandangi dirinya sendiri yang sedang putus asa dan melakukan keputusan aneh. Rasanya ia bersalah ketika memanfaatkan Dahlia untuk tetap terhubung dengan band meski caranya begini. Ia masih belum siap meninggalkan band. Namun, di sisi lain ia tidak mungkin memberitahu ibunya kalau dirinya tergabung dengan kelompok yang kata ibunya begajulan itu, mungkin juga ia bakal dimusuhi anak-anak komunitas rohani lainnya.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya dan ternyata itu dari Dahlia. "Fan, kamu nggak akan percaya ini, aku sempat ngobrol dengan Marco dan bilang dia ngasih waktu satu bulan untuk aku tetap belajar di sini, syukur kalau aku lanjut bisa menggantikan kamu, tapi Marco tetap pesimis dan masih ingin kamu keluar karena suka tidak fokus pada band."
"Terus setelah satu bulan kamu mau gimana, Lia?"
"Aku? Nggak tahu."
Fani membaca pesan Dahlia dan rasa putus asanya makin dalam. Sepertinya tidak baik buat berdrama dengan Marco begini. Cukup lama ia terdiam dan sebuah keputusan terjadi di dalam otaknya. Bagaimana kalau ia menerima saja dan tidak menyentuh band lagi? Meski itu artinya ia harus kembali pada rutinitas membosankan menjadi penceramah yang religius. Baiklah, kata Fani dalam hatinya.
Dua hari kemudian ia mendatangi studio, berniat untuk keluar saja. Tetapi, alangkah terkejutnya ia ketika melihat sesuatu yang tidak ia duga. Begitu sampai di teras depan, Fani melihat bahwa Dahlia nampak asyik mengalir dengan mereka, bahkan dengan dua cowok calon vokalis baru mereka gadis itu terlihat sangat akrab, sudah menempel saja. Sejenak, Fani berdiri di samping motornya seolah sedang terjebak di gelembung lain sendirian.
"Woy! Fani! Sini!" Seru Dahlia sambil melambaikan tangannya.
Gadis berhijab tersebut terkesiap dan Dahlia menarik tangannya untuk mendekat. Terlihat Fani begitu kontras dengan anak-anak lainnya yang berpakaian serba hitam, bahkan manajer mereka juga datang hari itu memakai kemeja hitam. Seolah-olah ia telah datang ke tempat yang penuh dosa saja.
Bulan tiba-tiba menunjuk plastik kresek hitam yang dibawa Fani, "Kamu bawa apaan?"
"Oh ini?" Fani memberikan kresek itu pada mereka, "Cuma buah-buahan, ada juga telor ayam, nanti kita rebus aja di dalam."
Terlihat ada pisang setandan di sana, baunya harum sekali. Sebagian besar dari mereka mengambil isinya dan ada yang memakannya langsung, tetapi Kaji bertanya, "Dapat dari mana?"
Dengan ekspresi tanpa bersalah Fani menjawab, "Biasa, aku habis latihan dan dapat oleh-oleh."
Dahlia yang mendengarnya langsung tak jadi makan, untung saja belum ia kupas dan dikembalikanlah pada kresek lagi. Para anggota band langsung mengangguk dan mereka lempeng saja memakannya. Seolah sudah tahu segalanya.
"Lain kali suruh mereka bawa buah naga, mangga, atau jeruk, bosen deh pisang mulu." Komentar Bulan.
"Sedang diusahakan." Kata Fani.
"Usaha apa maksudnya?" Dahlia menatap ngeri sambil memegang tangan Fani.
Kembali mereka berlatih di dalam sana. Fani yang masih menjadi anggota band lantas mengajak dua calon vokalis tadi untuk melihat-lihat catatan musiknya. Mungkin bagi sebagian orang, musik metal cuma menjadi hobi sejenak saja, tetapi Land of Death sangatlah serius dengan ini dan harus orang-orang berbakat yang dapat memasuki band ini. Namun, mengingat semua itu Fani jadi makin merasa bersalah terhadap Dahlia karena pastinya ia telah memberi harapan palsu kepadanya. Kalau ingin dinasti, tentu harusnya Fani mengajukan calon yang sama berbakatnya dengan dirinya. Bukan Dahlia. Sepulangnya nanti ia bakal meminta maaf padanya, juga pada Marco karena telah main-main.
Sementara itu di sisi lain Dahlia ditemani oleh Yogi dan diawasi oleh Kaji untuk melatih vokal screamnya.
"Kamu nggak punya modal buat suara serak ya?" Tanya Kaji tanpa basa-basi.
"Nggak tahu, bukannya bisa dilatih ya?"
Mereka berdua saling berpandangan, merasa cewek ini cantik doang tapi bloon pikirannya. Makin lama dilatih, keduanya makin menyerah. Benar, ini sih bukan black metal tapi blek metal.
"Beda jauh suaramu sama si Fani." Dengan ekspresi ogah-ogahan Yogi mengakuinya juga.
"Aku nggak akan menyerah!" Dahlia masih berapi-api.
Yogi tertawa mendengarnya, lalu ia menoleh ke arah Kaji "Ji, ingat nggak kita dulu waktu kenal dia di mana?"
"Fani ya?"
"Iya."
Kaji mencoba mengingat-ingat semuanya, "Dimana ya? Bukannya dirimu yang bawa dia?"
"Hmm? Iya-iya, aku sama si Bulan yang bawa."
Mata Dahlia makin berbinar karena penasaran, "Apa nih? Ceritain dong."
Alkisah Yogi mulai bercerita tentang bagaimana mereka bertemu Fani. Sekitar sepuluh tahun yang lalu Yogi dan Bulan saling kenal dengan Fani karena satu sekolah, lalu setahun kemudian barulah Bulan tahu apa yang istimewa dari Fani. Sebuah pertemuan tak sengaja karena ia sedang mencoba membuat video uji nyali dan tiba-tiba ia mendengar teriakan mengerikan, tetapi anehnya sangat bernada, seperti sedang menyanyikan sesuatu. Perlahan Bulan mendekat dan alangkah terkejutnya ia ketika menemukan teman sekelasnya yang masih berseragam sekolah dan berhijab sedang asyik berlatih vokal. Tentu saja awalnya canggung ketika tahu seorang dai sekolah yang dikenal baik-baik rupanya punya kebiasaan demikian, tetapi Bulan memutuskan untuk mengenalkannya pada Yogi dan ia juga takjub dengan bakat terpendamnya. Lalu Yogi mengenalkannya pada Marco, abangnya yang sedang kuliah saat itu, dan mulailah perjalanan Land of Death. Kaji sendiri masuk belakangan karena ada audisi kecil-kecilan seperti dua calon vokalis yang sedang bersama Fani saat ini.
"Wah, aku jadi penasaran sama siapa yang ngasih tahu musik metal ke dia." Celetuk Dahlia.
Keduanya pun berpandangan, mereka juga tak tahu kapan tepatnya gadis berhijab tersebut bisa scream kayak begitu.
"Tapi melalui nepotismenya Fani, aku di sini bakal serius melatih kamu." Kata Yogi, "Walau nggak jadi sekalipun, kamu masih boleh main ke sini."
"Boleh nih?" Tanya Dahlia.
"Boleh dong, masak nggak boleh menengok pacar sendiri?"
"Oh iya-ya."
Kaji merengut, "Nggak bisa gitu! Nggak sah itu namanya!"
"Sah aja." Kata Yogi memanasi Kaji.
Di sisi lain Fani sangat senang dengan adanya dua calon vokalis baru tersebut, mereka tak cuma bisa scream saja tetapi mereka memang bisa bermusik dengan baik, bahkan bisa membaca not balok! Namun, seperti biasa Fani tak dapat berlama-lama ada di sana. Sekali lagi ia harus mengurus sesuatu di tempat lain.
"Kamu nggak ikut pulang, Lia?" Tanya Fani.
"Nanti saja."
"Oke deh." Fani segera pergi dari sana.
Sementara itu Marco tiba-tiba memanggil Dahlia ke dalam untuk bertemu manajer band. Di dalam sana semua orang nampak berkumpul karena ingin mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Manajer band, Pak Doni, duduk di depan Dahlia sambil menatap dengan serius, "Saya sudah dengar semuanya, juga situasinya."
Dahlia menunggu dengan jantung berdegup.
"Jadi saya pikir ada sebuah tawaran buat kamu."
...
Other Stories
After Meet You
Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...