Chapter 8: Blek ... Metaaalll
Semua berjalan sangat cepat, terlalu cepat malahan!
Beberapa hari lalu Dahlia cuma fans biasa, lalu ketemu idola, dan kini dia yang ambil posisinya. Mengingat hal tersebut gadis berambut panjang itu masih percaya nggak percaya. Mau mencoba takjub tetapi rasanya memang terlalu aneh. Apa sih tujuan Fani?
"Yap! Kita sudah sampai!" Seru Fani sambil memperlihatkan sebuah 'tempat persembunyian' yang sering digunakan untuk berlatih vokal.
Dahlia tercengang begitu sampai di sana. Bukan sebuah studio, bukan pula sebuah kos-kosan di tengah kota, melainkan sebuah gedung kosong yang terkenal angker di daerah ini! Baru saja semalam ia menonton acara penelusuran horor dari konten kreator lokal yang ingin mencari setan seram di lokasi yang sama, dan kata warga suaranya hanya berteriak-teriak saja pada malam-malam tertentu. Dahlia bergidik ngeri ketika tahu kalau sosok dari urban legend yang dimaksud rupanya adalah sepupunya sendiri, alias si Fani yang sedang latihan vokal.
"Kamu tahu nggak? Tempat ini adalah tempat yang cocok buat kamu latihan vokal juga, pantulan suaranya juga tidak mengganggu, sempurna bukan? Yang penting tempat ini aman." Fani dengan santainya membersihkan lantai dan menaruh tasnya di samping dupa mati dan sesajen yang tak bertuan.
Dahlia sih tak masalah, cuma ia takut kesurupan saja. Apalagi ini sudah malam.
"Kamu paham musik kan?" Tanya Fani.
"Iya. Tapi nggak bisa scream saja."
"Oke." Fani menatap Dahlia dengan serius, "Tapi aku janji kamu bakal bisa jadi vokalis metal selama sebulan."
Dahlia langsung berkata, "Bentar-bentar! Maksudnya aku beneran disuruh jadi vokalisnya LoD? Gantiin kamu?"
Fani menghela napasnya, sadar kalau ia terlalu terburu-buru, "Maaf ya, aku sebenarnya nggak bisa nahan diri begitu Marco ngasih ultimatum kemarin di telepon."
Di dalam ruangan kotor tersebut mereka terdiam cukup lama, Fani menarik kursi reyot dan langsung mendudukinya. Gadis berhijab tersebut merasa sangat bersalah. Ia merasa salah satu pelariannya mendadak akan hilang begitu saja.
"Fan." Kata Dahlia yang mendekat dan merendahkan badannya agar sejajar, "Aku paham perasaanmu meski sama sekali nggak merasakan di posisi yang sama. Lagian aku juga tidak tahu apakah nanti aku bisa membantu kamu. Tapi aku bakal berusaha."
Fani yang agak menangis langsung menyeka air matanya, ia memeluk Dahlia dengan erat seolah tidak ingin kehilangan, tak berhenti ucapan terimakasih tertuju padanya. Malam itu mereka tidak jadi latihan vokal, tetapi Dahlia memberi saran untuk mengatakan yang sebenarnya pada anggota band mereka, setidaknya jujur kepada Marco.
"Tapi, aku kepengen dengar kamu scream langsung! Aku penasaran." Kata Dahlia dengan penuh semangat.
Tanpa ada rasa malu atau berahasia lagi, Fani segera berdiri dari kursi reyot tersebut dan dengan postur tubuh yang santai ia mengambil napas dalam. Lalu suara geraman terdengar dari mulut Fani, ketika mulutnya makin lebar maka makin tinggilah suara vokalnya. High pitch yang serak dan kontrol sempurna. Sungguh scream terbaik yang dapat didengar para metalhead di manapun mereka berada!
Aku paham kenapa dia jadi urban legend di sini, Dahlia tersenyum bangga.
Seminggu kemudian, Fani kembali ke studio setelah mengumpulkan keberanian. Tak lupa ia membawa Dahlia di sampingnya. Namun, tak seperti apa yang ia ekspektasikan setelah mengutarakan isi hatinya, Marco tiba-tiba tertawa.
"Jadi kamu mau ngejadiin penyanyi dangdut buat jadi vokalis kita?"
Personil lain terkejut, dua calon vokalis baru terkejut, cicak di pojokan sana yang menguping pembicaraan mereka juga ikut terkejut.
"Jangan maksa deh." Kata Marco, "Tenang saja aku nggak bakalan main-main hak cipta sama lagu ciptaanmu, tapi-"
"Anu!" Dahlia menyela, "Boleh nggak cuma ikut belajar?"
Mendadak Yogi menyela, "Bentar, kamu harus paham kalau kita ini band serius."
"Satu lagu saja."
"Maksa amat!"
Dahlia berkata, "Aku mau jadi pacarmu deh kalau kamu ngijinin aku jadi vokalis bentar, sementara aja ..."
Semua orang terdiam, dan langsung saja Yogi berkata, "Oke deh, satu lagu aja kan?"
"Woy!" Marco melotot.
Yogi menepuk bahu Marco, abangnya, dengan lembut, "Ayolah, bentar doang. Nanti kalau Lia sudah puas kalian masuk band ya."
Kedua calon vokalis tersebut saling berpandangan. Marco hendak ngamuk tapi ditahan oleh Bulan, ia paham kalau Yogi jangan pernah diganggu kalau berurusan dengan perempuan. Di sisi lain Kaji segera mengeluarkan keyboard dan segera ia ingin mengetes kemampuan vokal Dahlia. Namun, seperti yang telah diduga, Dahlia benar-benar sempurna dalam bermain cengkok.
"Kamu tes scream deh." Lanjut Kaji.
Namun, bukannya suara scream yang bagus dan bisa didengar, mereka yang ada di dalam ruangan langsung meringis.
"Oke, Fani, sepupu kamu kayaknya nggak lolos jadi vokalis band ini!" Kata Marco, "Suara kamu Lia, kayak blek alias kaleng kerupuk digebukin!"
"Blek metal dong." Dahlia menjawab.
Marco tertawa, "Nah, itu tahu."
Dahlia langsung tertawa kencang, sementara semua orang merasa cringe dengan selera komedi mereka. Hari itu pula, semua orang seakan terbius oleh kepribadian Dahlia yang menyenangkan, melupakan sejenak kekacauan yang dibuat oleh Fani tadi.
Sepulang dari studio Fani menurunkan Dahlia di halte bus yang sepi, seperti kesepakatan yang mereka buat, mereka tak boleh terlihat bersama kecuali ada kepentingan yang formal seperti acara keluarga. Kalau Dahlia yang urakan terlihat bersama Fani, gadis berhijab tersebut tak mau menghancurkan reputasinya di komunitas, yang mana pasti ibunya bakal ngamuk besar dan menyalahkan Dahlia seperti biasa. Sampai detik ini Bude tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Maaf ya, Lia."
Namun, tak ada raut wajah sedih yang terpancar darinya, melainkan rasa antusias yang luar biasa, "Kamu ngomong apa sih? Aku ngumpul sama idolaku saja itu udah mimpi!"
"Maksudku kamu jadi yang nanggung semuanya, aku egois banget."
"It's okay!" Dahlia mengacungkan jempolnya.
"Sori ya, kamu jadi pacaran sama playboy kayak dia."
Dahlia menghela napas, sedikit menyesal, "Ya... ya... itu sih pengorbananku buat kamu. Sekarang kamu bisa berceramah dengan tenang dan aku akan bantu dari tempat lain."
Dengan senyum setengah mau menangis, Fani menggenggam erat tangan Dahlia. Setelah itu ia pergi meninggalkan gadis tersebut sendirian di sana. Namun belum sempat Dahlia memesan ojek online, ia melihat sebuah vespa abu-abu dari kejauhan dan berhenti di depannya.
"Lia!" Yogi tersenyum sambil memberikan helm.
"Woy! Pacar baruku ternyata!"
Pemuda beranting besar dan penuh tato di tangan tersebut tertawa kencang mendengarnya. Yogi segera menyetarter vespanya dan mengantar gadis itu pulang. Namun, tanpa mereka sadar, beberapa pasang mata menyaksikan kebersamaan mereka. Menatap sinis, ada pula yang kaget. Keesokan paginya, di warung santer terdengar gosip bahwa Dahlia diantar pulang oleh pria aneh lagi.
...
Other Stories
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Cinta Buta
Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...