Blek Metal

Reads
663
Votes
14
Parts
14
Vote
Report
Penulis Noer Eka

Chapter 7: Perbedaan

Setelah menutup telepon, Fani segera kembali ke dalam ruangan himpunan. Sorot matanya terlihat seperti sedang menahan sesuatu. Ia langsung kemari dari studio begitu mendapat chat dari ketua kalau jawdal di sini bakal dipercepat. Di dalam ruangan nampak beberapa orang yang sibuk mempersiapkan presentasi dan lain sebagainya, salah satunya Khadijah, ia mendekat dan duduk di samping Fani.

"Suaramu udah kembali?" Tanya Khadijah.

Fani tersenyum dan mengangguk, sementara Khadijah langsung senang karena tak lagi harus mengisi acara ceramah berjam-jam menggantikannya. Fani sungguh tak dapat memberitahunya tentang kenyataan sebenarnya, alasan mengapa ia menjadi serak selama beberapa hari terkahir. Jangankan musik metal, mendengar musik dangdut saja sudah dia bilang itu haram, katanya merusak hafalan Qur'annya. Ah, andai Khadijah tahu dirinya berkecimpung di sana, sudah pasti ia pingsan duluan.

"Gus Yusuf ketahuan merokok!" Seru gadis itu saat membaca berita dari pesan berantai dalam grup. Ia langsung menutup mulut dengan tangannya dan segera air matanya mengalir membasahi pipi.

Bicara soal Gus Yusuf, seluruh perempuan di Himpunan Pemuda Pemudi Rohani pasti setidaknya bakal terpesona padanya sekali seumur hidup. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, suaranya merdu saat melantunkan ayat suci Al-Qur'an, menjadi selebriti kaum rohani semenjak masih bayi hingga saat ini, semua itu membuat sang Gus ganteng tersebut sangatlah dikenal di mana-mana. Skandal kecil saja akan membuat reputasinya dipertanyakan.

"Alhamdulillah itu cuma hoax!" Khadijah menyeka air matanya, sungguh hatinya terlalu lembut untuk mendengar berita macam demikian.

Fani mengangguk mengiyakan saja. Ia sama sekali tak peduli pada Gus tersebut. 

"Ah, namanya juga cowok, dia bakal merokok lah!" Goda Mas Yudi pada Khadijah sambil asyik menata buku sumbangan di lemari.

Gadis bergamis pink itu langsung merajuk, "Kok bisa? Gus Yusuf itu orang baik tahu! Nggak mungkin dia bohong sama kita-kita?"

Fani sebenarnya ingin sekali tertawa, tetapi dia tahan dengan senyuman saja. Untuk detik berikutnya, suara di ruangan itu hanya berisi "perang" antara para penggemar Gus Yusuf dan para lelaki jomblo yang membenci ketampanannya. Dalam hatinya Fani hanya mendesah, bagaimana bila seandainya Khadijah tahu bahwa idola Fani yang sesungguhnya punya skandal narkoba, seks bebas, pernah membunuh orang, dan bahkan membakar tempat ibadah? Pasti ia akan koma di tempat.

"Udah-udah, bahas itu mulu. Ayo kita sholat dulu." Kata Fani sambil berdiri dari karpet.

Suara adzan magrib menggema indah di telinga mereka, setelah sholat isyak nanti mereka akan segera mengisi acarah ceramah mingguan seperti biasa. Musholla mereka telah penuh dengan orang-orang, kebanyakan anak muda yang tertarik dengan Islam. Seperti biasa, pasti nanti akan dipenuhi dengan berbagai perdebatan sengit hingga salah satunya kalah dan mengakui kebenaran Islam. Setiap anggota himpunan merasa ada kepuasan tersendiri saat itu terjadi, tak terkecuali Fani.

"Bagaimana saya bisa tahu kalau setan tersiksa di neraka? Padahal setan terbuat dari api, bagaimana api bisa membakar api?" Tanya seorang lelaki berpenampilan ala mahasiswa yang berdiri sambil memegang mik di belakang.

"Mengapa Islam terpecah belah?"

Dengan santai Fani menjawab itu semua dengan baik, beberapa perdebatan kecil terjadi tetapi Fani tetaplah pemenangnya. Tak begitu lama hingga mikrofon berpindah tangan pada seseorang, pakaiannya serba hitam dengan peci hitam dan bersarung, sorot matanya tajam ditambah celak warna hitam di bawah mata, sangat menakutkan penampilan luarnya. 

"Mbak, apakah saya berdosa ketika mendengarkan musik metal?" 

Seluruh penonton terdengar berkasak-kusuk. Namun, pemuda tersebut tampak tak goyah sama sekali.

"Mengapa kamu mendengarkannya?" Tanya Fani dengan lembut.

"Saya suka aja."

"Kenapa?"

"Bagus."

Percakapan antara mereka selanjutnya sedikit membuat hati Fani bergetar. Lebih tepatnya membuat ia iri. Kalau saja ia menjadi laki-laki pastilah bebas seperti dia.

"Jadi saya masih boleh mendengarkannya?" Tanya jamaah tersebut.

Fani tersenyum, "Boleh saja, tapi lebih baik mendengarkan yang baik-baik saja dan berusaha hijrah pelan-pelan."

Hipokrit, sebuah suara terdengar meledek dari dalam kepala Fani saat mengucapkannya. Ketika sudah selesai, semua teman-teman memujinya sebagai penceramah terbaik yang pernah mereka miliki, tak terhitung berapa pertanyaan sulit dari jamaah termasuk si anak metal tadi yang nampaknya akan sulit dijawab orang lain. Dalam hati Fani mungkin senang dengan semua ini. Mungkin? 

Gadis berhijab tersebut kembali ke rumahnya saat malam telah tiba. Namun, di jalanan ia berpapasan dengan sosok pria berkuncir tanpa sepatah kata, Fani mengingat pria itu sebagai salah satu kawan Dahlia. Tunggu? Dahlia? Nyaris saja Fani jatuh ke selokan akibat teringat bahwa ia sudah melupakan Dahlia di studio! Dengan cepat ia pun melaju ke rumahnya lalu berlari menuju rumah Dahlia. Dengan napas ngos-ngosan Fani mengetuk pintu rumah sepupunya itu agak keras.

"Sebentar ..." Suara langkah kaki perlahan menuju ke depan, "Iya? Lho Fan-"

"Bulik! Dahlia mana?"

"Di da-"

Tanpa sempat menyelesaikan kata-katanya, Bu Yana dibuat terkejut ketika Fani berlari melewatinya. Tetapi alangkah terkejutnya ia ketika menemukan orang yang dicarinya terlihat sedang asyik menonton televisi sambil mengupil santai. Perasaan lega menjalar pada diri Fani seketika.

"Urusanmu udah selesai?" Tanya Dahlia sambil mencomot kerupuk dengan tangan yang jarinya dibuat ngupil tadi.

"Udah." Kata Fani sambil mengatur napasnya.

"Oke."

Fani menyeka keringatnya, "Oke."

Bu Yana keheranan menatap mereka berdua yang bertingkah aneh, ia lalu bertanya, "Kalian kenapa?"

"Nggak." Keduanya serempak menjawab.

Mata Bu Yana memicing curiga, tetapi tak melanjutkan pertanyaannya. Fani segera pergi dari sana dan Dahlia kembali pada rutinitasnya yaitu makan kerupuk sambil sesekali ngupil kalau ada kesempatan. Bu Yana yang melihat kejorokan putrinya langsung murka seketika, Dahlia berhasil menghindar dengan membawa toples kerupuknya ke dalam kamar dan mengunci pintu.

Tanpa orang lain sadari sebuah rencana rahasia kembali tercipta.

Keesokan harinya, Fani dan Dahlia kembali bertemu tetapi kali ini tidak di studio, melainkan kamar Dahlia. Bu Yana sedang keluar hari ini sehingga tak akan ada seorang pun yang menguping. Gadis berhijab tersebut mulai mengutarakan maksudnya tanpa basa-basi.

"Kamu mau aku ajarin scream metal nggak?"

Dahlia terdiam sejenak, mendengar ajakan itu berasal dari idolanya bahkan termasuk salah satu mimpinya, ia menjadi tak dapat berkata-kata.

"Kamu mau nggak?"

Dahlia yang tersadar langsung berkata, "Mau! Mau!" lalu ia kembali bertanya balik, "Tapi selama ini aku kan cuma biasa cengkok dangdut, memangnya bisa scream? Aku sudah pernah coba lho."

Fani yang duduk di kasur Dahlia menatap dengan serius, "Come on! Aku nggak terlalu sreg dengan vokalis yang direkomendasikan Marco. Aku kenal mereka soalnya."

Dahlia menghela napasnya, "Gila emang, cuma dikasih tahu lewat telepon."

"Mau gimana? Dia sumber donasi band. Tapi nyari vokalis yang agak kerenan dikit lah!"

Dahlia kembali memikirkan kata-kata Fani tadi. Kalau seorang frontman diganti begitu saja, tentu susasananya akan berbeda. Tapi mengganti frontman dengan sosok nggak jelas seperti dia begitu beresiko. Apa yang dipikirkan Fani?

"Aku takut kalau aku nggak eksis lagi di band itu. Ngebayangin kalau nama kita dihapus padahal kita yang jadi pendiri, aku nggak sanggup, Lia!"

Dahlia tak mampu berkata-kata lagi.

"Tolong Lia, tolong nyanyikan lagu yang aku tulis!" 

...


Other Stories
Jatuh Untuk Tumbuh

Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...

First Snow At Laiden

Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...

Percobaan

percobaan ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...

Download Titik & Koma