Blek Metal

Reads
650
Votes
14
Parts
14
Vote
Report
Penulis Noer Eka

Chapter 6: Tanah Kematian

"Jangan sentuh! Jangan gerak! Duduk aja! Jangan lompat-lompat!"

Gadis berambut hitam lurus panjang sepunggung itu mengangguk-angguk saja, menurut kepada perintah Fani barusan. Untuk pertama kalinya selain anggota band, manajer, dan terkadang tukang sebagai pengecualian, akhirnya tempat ini dimasuki oleh orang luar, dia yang tahu ada rahasia di sini. Sesuai janji kemarin, Dahlia meminta untuk melihat latihan mereka sebagai sogokan untuk tutup mulut embernya.

"Marco!" Fani menoleh pada satu-satunya sosok berwajah bengis yang penuh tato pada kedua lengannya di ruangan tersebut, "Tolong jangan keluarin jokes bapak-bapakmu dulu, atau dia ketawa dan ngerusak latihan kita!"

"Iya bu."

Semua orang terheran-heran begitu mengetahui sosok penggemar dalam festival kemarin bisa hadir di dalam studio ini, dengan ijin Fani lagi! Makin kaget saat diperkenalkan bahwa cewek gahar di depan mereka ini adalah sepupunya. Tak ada yang mau memulai duluan untuk bertanya bagaimana awalnya, tentu mereka tak akan menghabiskan waktu Fani yang berharga di sini hanya untuk mengorek latar belakangnya. Semua orang telah bersiap pada posisinya masing-masing dengan intrumennya.

 Fani memberi komando, "Satu, dua, tiga, empat!"

Meski masih agak kacau pada awalnya, tapi beberapa permainan berikutnya harmoni mereka mulai menyatu. Luar biasa. Dahlia terdiam, tetapi sorot matanya tak mampu menyembunyikan rasa kagum pada apa yang ada di depannya saat ini. Ia tak mengerti musik, tetapi anehnya ia tertarik pada musik jenis beginian. Di dalam ruangan tertutup berukuran enam kali delapan meter itu mereka memainkan musiknya.

"Lan, tempomu terlalu cepat di bagian tengah." Kata Fani pada Bulan, sang drummer.

"Kamu sih! Kenapa pakai yang begituan? Udah tahu aku kesusahan." Bulan tak mau kalah.

Kaji memotong sebelum terjadi kekacauan, "Ulang, ulang, ulang."

Dahlia hanya diam sambil menatap ke arah mereka, benar-benar kacau, apalagi Fani yang terlihat jauh lebih galak di sini. Personil lainnya diteriaki, tetapi anehnya mereka tetap menurut. Tangan gadis bergamis tersebut kembali mengayunkan stik drum dan membuatnya seolah-olah seperti baton alias tongkat konduktor orkestra, sementara yang lain mengikutinya. Sungguh perpaduan yang aneh. Sejenak Dahlia berpikir, ternyata semua itu tidak asal teriak ya?

Di tengah kombinasi aneh begini, Dahlia kembali melihat ekspresi Fani yang terlihat lepas dan ekspresif, tidak sekaku biasanya. 

"Wah?" Fani mengecek ponsel dan ekspresinya berubah, "Kita latihan sampai satu jam lagi."

"Tumben? Biasanya lebih." Kata Bulan, seolah kecewa tetapi sudah terbiasa.

"Nggak ada waktu, kita lanjut aja instrumen lagu ini sampai selesai."

Para pemain kembali ke instrumen mereka dan kembali memainkannya tanpa lirik. Selama satu jam tak ada yang berbicara kecuali musik mereka. Fani mengambil alat perekam yang sedari tadi menyala, lalu memasukkannya ke dalam tas. Ia agak terlihat agak kurang puas.

"Udah, gitu aja, kamu mau ikut pulang?" Tanya Fani kepada Dahlia yang duduk condong ke depan sambil memangku dagu dan sikunya di paha.

"Gitu aja?"

Fani menghela napas, "Mau gimana lagi? Aku ada jadwal sama organisasi."

Dahlia langsung tersenyum, "Aku masih mau belajar sama mereka."

"Oke." Fani mengangguk, "Titip dia ya, bye!"

Gadis bergamis tersebut segera berkemas dan keluar dari dalam studio, lantas tak terlihat lagi oleh mereka. Di sisi lain Kaji, si pemuda kurus ceking pemain bass, berjalan mendekati Dahlia, "Kita pesan makan yuk, neng mau apa?"

"Boleh?"

"Boleh dong!" Kaji mendadak semangat, "Minta nomornya boleh?"

Dahlia agak terkejut tetapi ia tetap mengeluarkan ponselnya dan bertukar nomor serta media sosial dengan Kaji. Tak mau kalah, Yogi juga mendekat dan ikut memintanya. Hanya Marco seorang yang terdiam sambil memainkan gitar tak beraturan di pojokan bersama Bulan, "Si Fani jadi makin jarang latihan ya, gimana menurutmu?"

Bulan mendesah pelan, "Mau gimana lagi? Untung aja dia punya bakat, sekali dengar bisa ngikutin kita, kalau dia ampas mah aku bakalan marah-marah terus."

"Woy kita keluar dulu ya!" Kata Yogi di ujung pintu, sementara Dahlia dan Kaji sudah ada di luar.

"Yoi!" seru Marco, "Nitip bakso dua!"

"Oke!"

Setelah Yogi keluar, resmi hanya ada Marco dan Bulan di dalam studio. Marco mengambil sebatang rokok dari sakunya dan menyalakan ujungnya, ekspresinya mendadak jadi serius, "Aku ada dua calon pengganti vokalis band kita."

Bulan menatap wajah suaminya itu dengan pandangan gelisah, sambil memain-mainkan stik drum di tangan ia berkata "Kapan kita bilang? Apa yang lain cocok?"

"Harus cocok!" Kata Marco dengan ketus, "Aku nggak suka ada orang yang latihan seenaknya. Aku nggak peduli itu sahabatmu atau bukan!"

Perempuan berambut pendek tersebut menaruh stik drumnya pelan, ia lalu berdiri dan berjalan keluar studio tanpa berkata apa pun. Bulan paham, jika Marco sudah begini, maka cepat atau lambat akan terjadi sesuatu yang buruk.

Sementara itu di tempat lain, tepatnya sebuah minimarket, mereka tengah duduk-duduk di kursi depannya sambil makan-makan camilan. Yogi dan Kaji, mereka duduk di pinggiran sementara Dahlia ada di tengah-tengah mereka. 

"Udah punya pacar?" Tanya Kaji secara blak-blakan.

Dahlia menggeleng sambil tertawa kecil.

"Gila ya, kamu beda banget dari si Fani." Kaji masih berlanjut, "Suka metalan juga ya?"

Yogi langsung menyela, "Suka gitar? Aku bisa ajarin."

Mata Dahlia langsung melebar, "Boleh juga."

Yogi langsung tersenyum seolah pancingannya telah disambar, sementara Kaji makin kecut ketika melihat Dahlia asyik ngobrol dengannya. Buaya memang beda, keluh Kaji dalam hati. 

"Tapi daripada instrumen, aku pengen bisa nyanyi."

"Fani nggak ngajarin?" Tanya Yogi sambil mengambil kripik udang di meja.

Dahlia mengangkat bahunya kecil, "Aku selama ini tahunya dia itu penceramah aja."

Hati Dahlia mulai menerawang jauh meninggalkan percakapan bersama para pemuda genit ini, ia penasaran isi hati sepupunya karena selama ini ia tak pernah tahu siapa dirinya. 

"Lia!"

Gadis rambut panjang itu tersadar begitu mendengar suara yang familiar memanggilnya, "Pras?"

Pemuda gondrong itu turun dari motornya dan segera berjalan mendekat ke arah mereka. Tiba-tiba tatapannya jatuh ke arah Yogi sejenak, lalu kembali ke arah Dahlia, "Ngapain kamu di sini?"

Belum sempat menjawab, omongan Dahlia mendadak dipotong oleh Yogi yang jadi sok ramah, "Mas ini kan yang ada di festival kemarin kan?"

Prasetyo kembali menatap ke arah Yogi dengan tatapan yang tenang, tetapi sedikit tajam, "Yogi Billy Boy kan?"

Pemuda berhoodie hitam tersebut nampak kaget begitu mendengar nama tersebut dari mulut Prasetyo, tetapi ia tetap membalas sambil tersenyum, "Kalau Mas tahu nama itu berarti tahu siapa saya kan?"

"Tahu."

Merasa bakal ada sesuatu yang buruk akan terjadi, Dahlia lantas segera berdiri dan berpamitan pada keduanya, ia lalu menarik Prasetyo yang kelihatannya akan menerkam seseorang. Segera keduanya pergi meninggalkan minimarket tersebut.

"Kemana-mana rasanya ketemu dirimu terus." Kata Dahlia saat di atas motor.

"Kebetulan itu namanya!"

"Iya deh."

"Kita kan satu kota, wajar dong kalau ketemu."

Tak lama kemudian Prasetyo nampak bertanya ini dan itu, seperti seseorang yang sedang menginterogasi. Ia agak terkejut mendengar semua jawaban Dahlia barusan. Lalu sedetik kemudian Prasetyo mulai mengomel tanpa henti.

"Iya deh." Dahlia terlihat menyerah, lalu ia terdiam sejenak dan mulai bertanya, "Pras, kamu kenal mereka? Maksudnya Yogi?"

Pemuda gondrong itu tak langsung menjawab, tetapi akhirnya bersuara ketika pinggangnya dicubit Dahlia, "Kenal."

"Siapa?"

Prasetyo mendesah pelan dan sedikit bernada kesal, "Orang paling brengsek di klub vespa."

...


Other Stories
Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Absolute Point

Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Akibat Salah Gaul

Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...

Download Titik & Koma