Blek Metal

Reads
651
Votes
14
Parts
14
Vote
Report
Penulis Noer Eka

Chapter 5: Dualitas

Sejak akhir festival Dahlia nampak lebih diam dari biasanya. Badannya sehat, tetapi pikirannya kemana-mana. Ia sungguh tak bisa menyangka kenyataan yang ada. Bukan lagi Fani yang lembut dan halus tuturnya, tetapi sosok yang ada di depannya beberapa hari lalu adalah seseorang yang jauh berbeda. Auranya mengerikan, cara bicaranya tak ada tata krama, siapa dia?

"Jangan-jangan mereka ini sebenarnya dua orang?" Dahlia memang suka berpikir aneh.

"Kamu ngapain ngomong sendiri? Ke kaca lagi."

Dahlia menatap ke arah ibunya yang sudah berdandan rapi sedari tadi. Mata Bu Yana menatap penuh selidik ke arah putrinya, dari atas ke bawah, bukannya berdandan rapi tapi malah pakai baju hitam-hitam. Ini anak mau ke kondangan atau ke kuburan orang? Pikirnya dalam hati. Pada akhirnya Dahlia pun harus mengganti bajunya dengan gaun warna kuning cerah karena terpaksa. Tindik yang ada di bibir dan telinga harus dilepas saat itu juga, hingga nampaklah beberapa lubang seperti titik-titik.

"Nah, gini kan cantik." Bu Yana tersenyum melihat "karya" seninya pada diri Dahlia.

Dahlia menatap ke arah kaca dan melihat sosok feminin yang lain dari dirinya. Boleh juga, pikirnya dalam hati. Ibunya pun berjalan ke depan karena orang-orang sudah menunggu mereka.

"Rasanya sungguh semriwing di bawah." Gumam Dahlia saat keluar dari rumah, dan roknya yang panjang berhasil meminimalisir area yang tersibak karena cara jalannya tetap seperti laki-laki.

Sebuah mobil besar milik keluarga Fani terparkir untuk mengangkut anggota keluarga yang tidak punya kendaraan sendiri. Pakdhe, ayah Fani, baru tiba dari luar kota kemarin, sehingga keluarga mereka benar-benar lengkap hari ini. Bu Yana dan Dahlia duduk di kursi paling belakang dekat barang-barang hantaran, sementara seluruh keluarga Pakdhe ada di depan sana asyik bercanda satu sama lain. Acara hari ini adalah pernikahan sanak saudara mereka.

"Aku nggak pernah liat Lia pakai gaun, sering-sering ya, cantik lho." Kata Fani sambil menengok ke belakang.

Dahlia tersenyum saja, karena dalam hati pun ia juga ingin menanyakan hal yang sama, tetapi ia urungkan sampai saat ini. Sungguh gadis sialan! 

"Namanya gadis kalau udah perawan itu harus pandai-pandai dandan." Sambung Budhe yang duduk di kursi paling depan dekat Pakdhe yang menyetir.

Namun, Bu Yana segera memotong sebelum terjadinya tragedi nyinyirisasi, "Alah, emangnya dulu Mbakyu pas SMA pernah dandan?"

Dahlia menyahut, "Budhe pernah cemong juga pada masanya? Ceritain dong!"

Budhe belum membalas apa pun, justru Pakdhe yang tertawa terbahak-bahak. 

"Dulu itu aku sering ngejekin Budhemu jelek, Lia, tapi sekarang ternyata aku yang jatuh hati." Katanya.

Fani menyambung, "Allah memang maha membolak-balikkan hati manusia."

"Halah!" Budhe langsung membuang mukanya ke jendela.

Sementara itu Fifi yang duduk di samping Fani menatap keheranan pada tingkah orang-orang dewasa di sekitarnya, ia tak peduli dan lanjut memainkan game dalam tablet miliknya. Dahlia kembali bersandar di kursinya sambil melihat ke jalanan yang ramai. Tak lama kemudian sampailah mereka di lobi hotel tempat di mana acara dilangsungkan. Para keluarga yang lain telah menunggu di dalam.

"Ayo, kita ditunggu!" Seru Bu Yana pada Dahlia yang masih sibuk berdiri di depan.

Sesungguhnya Dahlia ingin sekali masuk seperti yang lain, tetapi begitu melihat anak tangga rasanya ingin mencopot sepatu hak tinggi yang dikenakannya. Namun, tanpa diduga ia melihat seseorang kembali menjemputnya, Fani datang dan mengulurkan tangan kepadanya seperti seorang pangeran. Tanpa basa-basi disambutnya tangan tersebut, barulah Dahlia bisa berjalan dengan benar walau tertatih-tatih dan nyaris terpeleset karena sepatunya.

"Kamu emang aneh kalau pakai dress." Kata Fani.

"Kamu juga aneh kema-"

Sebelum Dahlia melanjutkannya, Fani menoleh dan segera memberinya tatapan maut. Akhirnya Dahlia pun hanya mengunci mulut sampai ruangan resepsi. Suasana acara berjalan lancar dan sangat indah, mereka berdua yang kebetulan duduk berdampingan di meja tamu juga segera menerima rentetan pertanyaan wajib yaitu "kapan nikah?". 

Tiba-tiba muncullah suara klik kamera yang mengejutkan mereka karena terdengar terlalu dekat. Dahlia mendengar deheman berat yang sangat ia kenali, kepalanya menoleh dan ia baru sadar bahwa fotografer acara ini salah satunya adalah Prasetyo. Tanpa basa-basi, pemuda tersebut mendekat ke meja mereka dan memotret seluruh orang yang duduk di sana lalu kembali pergi memotret yang lainnya. Untuk sesaat Dahlia menyadari ada sesuatu yang aneh.

Awas aja kalau ditunjukkin ke anak-anak pas aku lagi pakai dress!

Tak lama kemudian, waktunya makan pun tiba, tiap orang mengantre untuk mengambil prasmanan di belakang. Dahlia mengode pada Fani untuk mengambilkan makanannya juga karena ia tak bisa berjalan dengan benar. Gadis bergamis kuning pastel tersebut berdiri dan berjalan ke belakang segera. Saat mengambil piring pada saat itulah ia berjumpa dengan Prasetyo.

"Psst, Mas. Tolong diambilin buat pacarnya." Fani tersenyum lima jari sambil memberikan piring pada Prasetyo.

"Kenapa?"

"Udah ambilin aja."

Prasetyo hanya menatap terheran-heran pada gadis bergamis tersebut, dan barulah ia tersadar bahwa gadis tersebut adalah orang yang duduk di samping Dahlia tadi. Tanpa banyak omong, ia pun langsung menyendok nasi pada piring yang dibawanya beserta lauk yang lain. Prasetyo segera kembali ke dalam dan ia melihat Dahlia duduk sendirian. Langsung saja ia meletakkan piring tersebut di depan Dahlia.

"Makan. Biar nggak mati." Kata Prasetyo dengan ekspresi wajah tanpa dosa.

"Asem, makasih ya."

Tanpa sepatah kata pun pemuda berambut gondrong dikuncir satu itu langsung pergi begitu saja. Dahlia di kursinya hanya terbengong-bengong tetapi ia lanjut saja memakan, tunggu, mata Dahlia terbelalak begitu menyadari porsi makanannya seperti kuli. Prasetyo sialan, batinnya. Ia malu karena pemuda itu mengetahui porsi makan aslinya. 

"Sori ya, Lia. Piringnya berat banget." Fani tiba-tiba sudah ada di samping Dahlia tanpa suara sedikitpun.

"Gapapa, untung dibantuin sama si Pras."

Fani terdiam mendengarnya, bibirnya tersenyum dan kembali lagi tak peduli. Satu jam kemudian pesta tersebut berakhir, Dahlia ingin menyapa Prasetyo sekali lagi tetapi melihatnya sedang sibuk menggotong peralatan, diurungkannya niat tersebut. Di sisi lain Fani masih menggandeng tangan Dahlia seperti tuan putri sampai masuk ke dalam mobil. Sepatu itu sudah membuat kakinya lecet-lecet, tetapi Bu Yana malah merasa bangga ketika melihat putrinya mengenakan itu.

Setelah sampai di rumah, kedua gadis itu langsung berpisah di pagar rumah. Namun, yang tak pernah orang lain ketahui adalah adanya sebuah janji diantara mereka yang mengikat kuat. 

"Besok aku ikut kamu kan?" Tanya Dahlia melalui chat.

"Iya. Tapi ingat, jangan sentuh apa-apa!"

"Siap!"

Hati Dahlia berbunga-bunga, tanpa langsung berganti pakaian ia tidur-tiduran di atas kasur dan sesekali berguling-guling kegirangan. 

...


Other Stories
Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Aku Pulang

Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...

Kado Dari Dunia Lain

Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...

Download Titik & Koma