Blek Metal

Reads
655
Votes
14
Parts
14
Vote
Report
Penulis Noer Eka

Chapter 3: Let The Bodies Hit The Floor!

"CHILDREN OF BASTAARRDD ...!"

Suara Flowers melengking tinggi, serak, dan menyeramkan di saat bersamaan. Tangannya di balik jubah hitam berada dalam posisi terlentang, gayanya seperti pemimpin sekte sesat, sementara ia berteriak di mikrofon para penonton ikut terbius dan bergejolak. Ditambah datangnya instrumen keras, cepat, dan terdistorsi, para manusia berbaju serba hitam di bawah sana langsung menubrukkan badan satu sama lain secara bersamaan, saling mendorong seperti gerakan ombak besar lautan akibat terkena badai. Ada pula yang menciptakan pusaran Wall of Death di sisi lainnya, siapapun yang masuk tak akan keluar lagi sampai puas. Semuanya ikut bergerak, tak ada yang diam. Di pinggir pun membentuk ombak sendiri yang lebih kecil.

"Andai aku cowok, udah ikutan moshing tadi." Komentar Dahlia pelan.

Ruang aula gedung olahraga memiliki tribun penonton di atas. Ketika hari H telah dimulai dan sejak pagi tadi Dahlia sudah ada di atas sini, ia tak boleh ada di bawah dengan alasan keselamatan atau takut hilang. Begitu kata Prasetyo. 

Berbagai genre datang silih berganti, tak ada bosan atau lelah badan mereka. Ada sekitar dua puluh tujuh band yang tampil, masing masing mendapat giliran setengah jam. Tapi waktu hanyalah angka, sialnya beberapa band lain terlalu banyak penggemarnya sehingga tidak mematuhi aturan dan memilih menambah satu atau dua lagu.

Pukul sembilan malam sampai selesai adalah jadwal black metal secara penuh. Puas sudah Dahlia melihat para personil band yang nampak sedang merayakan halloween alias berkostum hantu-hantu Indonesia. Mereka ternyata tak seseram bayangan orang, dulu saat Dahlia masih awam tentang konser metal ia pernah tak sengaja menemukan hantu-hantu tersebut sedang jajan cilok di pinggir lapangan sehabis manggung. Lengkap dengan riasannya dan kostumnya juga. Waktu itu Dahlia hanya terbengong karena disapa sesosok pocong yang bicara dengan nada sangat halus dan sopan. Sangat penuh tata krama.

Ternyata itu adalah band yang sama dengan band yang manggung kali ini. Dahlia heran mengapa awet sekali mereka ini, karena biasanya band seperti mereka baru setahun sudah bubar karena alasan mengurus keluarga.

"Eh?" Dahlia agak terkaget saat lengannya disentuh pelan, ia berbalik dan melihat salah satu panitia datang menghampirinya sambil memberikan air gelasan dalam kardus, tak lupa ditambahkan sebatang rokok diselipkan di sana. Mau tak mau ia harus menerimanya. Setelah ia pergi untuk membagikan sisanya pada yang lain, barulah ia mencari Prasetyo dan ia berikan sebatang rokok itu padanya. Meski berani bertindik, Dahlia sama sekali tak pernah mencoba rokok sekalipun, tato saja dia takut.

Lalu tibalah sebuah intro gitar panjang yang sangat lekat di telinganya, lagu Land of Death yang berjudul Propaganda Tuhan akan dimainkan. Liriknya yang paling jelas dinyanyikan hingga Dahlia hafal seluruhnya. Dengan cepat ia kembali ke ujung tribun dan mulai bernyanyi bersama. Flowers dengan suara melengking yang seram diiringi nada-nada kelam dan terkesan berat kembali menghipnotis para penonton. 

Sembuhkan umat manusia dari propaganda!

Mereka yang katanya bersujud nanti masuk surga.

Sembuhkan umat manusia dari propaganda!

Mereka yang katanya bersujud nanti masuk surga.

Tapi nyatanya? Tapi nyatanya?

Kau sudah sujud, tapi hatimu tetap kalut.

Kau sudah sujud, tapi hatimu tetap kalut.

Apa salahku? Tanyamu.

Kurangkah doaku? Kurangkah sujudku?

Kau lupa jika masih membunuh sesamamu!

Darah! Darah! Berdarah!

Kau sembah Tuhan atau Iblis?

Kau sebarkan propaganda Tuhan sebagai tameng dirimu yang bengis!

Kau sembah Tuhan atau Iblis?

Jangan-jangan kau kira Tuhan tidak pernah ada.

Dahlia berteriak-teriak bersama para penonton yang lain dan begitu Flowers mulai menggeram kencang para penonton di bawah mulai saling tubruk lagi. Bulan menggebuk snare drum dengan kecepatan tinggi, seirama dengan bassnya, diiringi suara dua gitar yang saling bersahut-sahutan satu sama lain dengan suara yang berat. 

Kau sembah Tuhan atau Iblis?

Kau sebarkan propaganda Tuhan sebagai tameng dirimu yang bengis!

Kau sembah Tuhan atau Iblis?

Jangan-jangan kau kira Tuhan tidak pernah ada.

Kali ini, sampai para panitia ikut menonton semua, seolah benar-benar terhipnotis oleh kualitas suara mereka yang terbilang nyaris sempurna untuk band pendatang baru.

Musik pun berakhir dengan sangat epik. Gemuruh penonton masih menginginkan mereka menyanyikan satu lagu lagi, tetapi tanpa basa-basi tak jelas seluruh personil mulai masuk ke belakang panggung dengan tertib. Band berikutnya yang akan muncul adalah penutup sempurna dari acara ini, setelah Land of Death terbitlah The Morticians. Sejenak sorot panggung mulai terang saat Land of Death masuk dan panitia membawa instrument baru, sebelum akhirnya panggung berubah gelap lalu kemudian memancarkan sinar merah yang menakutkan.

Terdengar suara kambing yang awalnya normal lalu mulai meronta secara ngeri membuat semua penonton bergidik, tapi tetap penasaran. Masuklah seorang personil dengan jubah hitam yang jauh lebih menakutkan dari Flowers tadi, dan ia mulai memainkan keyboard seperti organ. Kemudian masuklah beberapa personil lainnya dan terakhir sang vokalis datang membawa kepala dari seekor kepala kambing putih, nampaknya asli dan masih mengeluarkan darah. Para penonton kembali bergemuruh karena terbakar semangat.

"Lia!" Panggil Prasetyo sambil menepuk bahu gadis itu, dengan isyarat tangannya ia menyuruhnya untuk ikut.

Mereka pun berjalan keluar dari kegelapan dan masuk ke lorong yang terang. Prasetyo mengajaknya untuk pergi di mana para personil beristirahat. Mata Dahlia membesar dan senyumnya terukir indah di bibir saat melihat Flowers beserta personil lainnya sedang duduk di tempat paling pojok.

"Mau foto nggak?"

Dahlia mengangguk dengan antusias, "Mau! Mau!"

Prasetyo tersenyum dan ia pun mendatangi mereka sambil menggandeng lengan Dahlia. 

"Gaes, ni ada yang mau minta foto." Katanya.

Para personil Land of Death yang tadinya kelelahan langsung sumringah, sepertinya tak menyangka adanya seorang penggemar. Dari foto bersama hingga satu per satu. Dahlia mendapat tanda tangan kelimanya di atas kertas. 

"Makasih ya, Pras." Kata Dahlia setelah puas berfoto ria.

"Iya."

"Aku capek banget habis teriak-teriak, aku di dalem aja ya, kalau udah selesai chat aja."

"Yo!" 

Mereka berpisah di sana, Dahlia masuk ke ruang panitia untuk menyimpan tanda tangan yang ia terima. Jam telah menunjukkan pukul setengah satu pagi, tetapi panggung masih bergemuruh. Kalau saja tenaganya masih ada, ia akan lanjut untuk menonton The Morticians sampai selesai. 

"Ternyata kalau di belakang panggung si Flowers nggak banyak omong juga ya, bikin tambah penasaran."

Dahlia mulai menguap dan ia pun memutuskan pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Namun, semua kamar mandi penuh dengan orang, dari yang normal sampai yang mabuk ingin muntah. Tiba-tiba ia ingat kalau ada sebuah kamar mandi yang tersisa tetapi letaknya begitu jauh juga terselip. Meski katanya banyak cerita horor di sana, Dahlia terpaksa memberanikan diri untuk pergi. Keuntungan menjadi orang lokal.

"Ada orang juga ya." Gumamnya pelan saat ada di depan pintu kamar mandi tersebut.

Namun, karena suasananya terlalu sepi di lorong itu, Dahlia pun menyalakan kamera belakang untuk merekam sekitar, jaga-jaga bila ada orang jahat maka rekaman itu bisa jadi bukti. Sukur-sukur kalau berhasil merekam setan, nanti videonya akan ia jual dengan harga tinggi. Cukup lama Dahlia menunggu sampai ia berpikir aneh, jangan-jangan yang di dalam bukan orang? Ah, kalau pintunya terbuka ia harus mendapatkan wajah setan itu.

Lalu terdengarlah suara kunci yang dibuka dari dalam. Dengan rasa was-was Dahlia mengarahkan sedikit kameranya ke arah pintu. Namun, yang membuatnya terkejut bukanlah setan yang biasa digosipkan menjadi penghuni gedung olahraga ini sejak dulu, melainkan seorang gadis berhijab lengkap yang wajahnya begitu familier di mata Dahlia.

"Fani?" Ia terkejut dan tak percaya dengan apa yang ia lihat.

...


Other Stories
Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...

Youtube In Love

Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...

Sebelum Ya

Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...

Devil's Bait

Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...

Dua Bintang

Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...

Download Titik & Koma