Chapter 2: Behind The Stage
Suara lagu-lagu dari Land of Death menggema kencang mengisi telinga Dahlia. Kepalanya mengangguk-angguk pelan menikmati iramanya yang sedikit aneh bagi orang biasa. Ibunya apalagi, makin mengomel katanya lagu-lagunya jelek dan tidak jelas semua. Dahlia tetap diam saja mendengar omelannya sembari membersihkan seisi rumah. Meski begitu dari lubuk hatinya ia tak berani berterus terang kalau sebenarnya ia sendiri juga nggak ngerti artinya. Pokoknya metal! Pokoknya cadas!
Tiga hari setelah acara warga itu Bu Yani jadi malas untuk keluar rumah, jadilah seorang Dahlia yang dikorbankan untuk belanja ke warung pagi tadi. Namun, karena gaya nyentriknya yang suka pakai kaos band dan celana jeans hitam, ditambah lagi sebuah tindik di bibir dan telinganya, otomatis dirinya mendapatkan berbagai macam tatapan.
"Kenapa ibu-ibu ngeliatin saya? Ngefans ya sama saya?" Dahlia tersenyum nyengir dengan pedenya.
"Amit-amit!" Seru salah seorang ibu-ibu sambil memukul pelan lengan Dahlia dengan sayur bayam.
"Ih, pegang-pegang! Nanti aku kasih tanda tangan lho."
Dengan gemas si ibu menjawab, "Kepedean! Mending juga ngefans sama saya."
"Ih, kepedean." Balas Dahlia dengan sengit.
Ibu-ibu di sekitarnya cuma tertawa melihatnya.
"Lia, rambutmu itu udah panjang, bagus, kayak cewek."
Dahlia tertawa, "Saya kan emang cewek bu, kalau nggak percaya saya buka celana lho."
Mendengar pernyataan begitu, anak pemilik warung yang cowok nampak menahan tawanya. Dahlia yang menyadarinya langsung gantian menggodanya sampai dia malu dan masuk ke dalam. Namun, di tengah-tengah canda tawa tadi datanglah sosok pembawa masalah sebelumnya, Bu Dhe, alias ibunya Fani. Dengan berat hati Dahlia segera membayar belanjaannya dan beranjak pulang. Ketika berpapasan pun wanita paruh baya itu enggan untuk menengok meski telah disapa ramah olehnya.
"Kamu kenapa ketawa sendiri?"
Sejenak Dahlia baru sadar ia telah berhenti menyapu dan Ibunya menegur karena melihatnya tersenyum sendiri. Ia baru saja mengingat sebuah kejadian lucu, yang tentu saja tak mau ia ceritakan pada ibunya. Setengah jam kemudian barulah ia beres menyapu, tepat sebelum lagu terakhir dari album "Tanah Kematian" milik Land of Death diputar. Selama beberapa hari ini ia terus memutar lagunya agar dapat menghafal liriknya, kalau dia tidak hafal apa yang harus dipamerkan?
Bulan suci, pedang telah terhunus.
Selamatkan jiwa-jiwa yang rakus!
Runtuhkan kerajaan-kerajaan iblis!
Buat dia menangis!
Lapar! Lapar! Lapar!
Tuhan aku lapar!
Hearrrrhhhh ....
Toh, meski begitu Dahlia tetap tidak bisa memahami liriknya dengan baik.
Di saat gadis berambut panjang lurus itu asik menghafal lagu sambil duduk santai di ruang tamu, datanglah sesosok perempuan berhijab lebar yang mengetuk pintu. Tanpa mematikan lagunya, Dahlia membuka pintu dan melihat Fani berdiri di sana.
"Bulek ada?"
Dahlia berteriak dan memanggil ibunya, sesampainya di depan wajah sang ibu mendadak kecut. Hari itu Fani langsung meminta maaf atas perbuatan buruk ibunya tempo hari, ia sama sekali tak paham mengapa ibunya berkata demikian jahatnya pada saudara sendiri. Bu Yana, memandang sosok Fani yang lembut itu dengan tatapan heran, mengapa anak dan ibu bisa sejauh itu kepribadiannya?
"Yaudah ya, saya permisi dulu. Mari."
Keduanya memandang ke arah luar, Sejenak Bu Yana nyaris melupakan kejadian kemarin karena melihat kelembutan Fani.
"Ya Fani emang lebih cewek daripada kamu, tapi bukan berarti kamu itu nggak berharga dan harus dihina, apalagi sama orang selain Ibu."
Dahlia menghela napasnya dengan kecewa, "Barusan aku mikir kalau aku sebagus itu, ternyata cuma nggak suka kalau anaknya dihina orang selain ibunya sendiri."
Mendengar itu Bu Yana kembali mengomel panjang tanpa henti.
Tiba-tiba ponsel Dahlia berdering, Prasetyo telah menunggunya sedari tadi. Gadis itu pun mengecek dari balik gorden sebelum keluar, takutnya dibohongi. Rupanya pemuda berambut gondrong sepunggung itu telah berada di sana sambil duduk di atas motornya. Tanpa pikir panjang lagi Dahlia segera keluar dari rumahnya.
"Mau kemana kita?" Tanya Dahlia sambil naik ke boncengan belakang.
"Ada deh."
"Awas kalau kayak kemarin-kemarin."
Prasetyo tak mampu menahan tawanya ketika mengingat kejadian itu, buru-buru ia mengajak Dahlia untuk keluar seperti ada kejadian darurat, tetapi ujungnya malah diajak ke empang untuk menjaga ikan pancingan di ember agar tidak dicuri kucing. Segera Prasetyo menyalakan mesin motor maticnya dan melaju di jalanan. Tapi baru saja Dahlia berpikir positif, Prasetyo malah berhenti di depan sebuah toko cat yang ada di dekat rumah Dahlia.
"Ayo turun."
Dahlia manut-manut saja, tapi sedetik kemudian Prasetyo memanggilnya dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam toko. Di sana terdapat sekresek sedang kuas baru dan seember besar cat putih seberat dua puluh lima kilo. Tanpa basa-basi Prasetyo langsung mengangkat ember cat tersebut lalu meletakkannya di atas jok motor, Dahlia pun datang dengan sekresek kuas baru di tangan.
"Pegangin ya."
Dahlia dengan ekspresi kesal tertahan langsung memukulkan kresek berisi kuas tersebut ke kepala Prasetyo, sebelum akhirnya naik ke atas motor untuk memegangi ember cat di antara mereka. Motor matic Prasetyo melaju kencang menuju sebuah tempat. Sekitar limabelas menit kemudian sampailah keduanya di depan gedung olahraga Cemoromanggis, tempat yang akan menjadi lokasi festival tahun ini. Mereka masuk ke dalam dan disambutlah oleh sekelompok orang berbaju serba hitam, atau minimalnya pakai kaos hitam.
"Kita mau ngapain emangnya?" Tanya Dahlia untuk kesekian kali.
Bukannya menjawab, Prasetyo malah pergi dan tak lama kemudian kembali sambil membawa gantungan nama untuk Dahlia. Masih tersisa satu dua untuk mereka yang mengajak orang lain ke belakang panggung. Walau membenci nepotisme, kalau diajak dan dapat keuntungan juga Dahlia cuma bilang "Gas!". Dengan alat sakti ini mereka tidak perlu membeli tiket konser, cukup menjadi babu tenaga saja!
Festival of Darkness memasuki tahun ke tujuh, katanya saking keramat angka tersebut, menurut informasi dari Prasetyo panitia sampai berencana untuk menambah daftar band Black Metal yang manggung untuk meramaikannya. Kalau sampai festival ini bertahan sampai tahun ke tiga belas, mereka akan mengundang band dari luar negeri.
Lantas apa tugas Dahlia di sini?
"Ayo, bantuin ngecat logo sama anak-anak." Kata Prasetyo sambil merangkul pundak Dahlia dan mengajaknya pergi ke area penuh papan triplek yang sudah dicat hitam sebelumnya. Prasetyo memberikan selembar kertas pada Dahlia yang berisi bentuk-bentuk logo band yang akan manggung nanti.
Dari kejauhan orang-orang menatap mereka berdua sambil menyebarkan spekulasi, "Wah, kasihan banget ceweknya, disuruh kerja padahal bukan panitia."
"Parah emang."
"Tapi enak juga ya kerja kalau ditemenin cewek."
Sementara itu Dahlia hanya terfokus pada cat dan kuasnya, ia melihat logo-logo tersebut dan bibirnya tersenyum begitu melihat "Land of Death" terpampang nyata di sana. Prasetyo sesekali mengambil cat yang memang sengaja ia letakkan di antara mereka, dan diam-diam tanpa ketahuan ia gunakan kesempatan itu untuk melirik ke arah wajah Dahlia setiap kali ia kehabisan cat di kuasnya.
...
Other Stories
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...
Bagaimana Jika Aku Bahagia
Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...
Love Of The Death
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...