Chapter 1: Sepupu Yang Sempurna
"Dahliaaa ...!"
Suara teriakan memekik dari luar kamar gadis berusia dua puluh lima tersebut. Namun, gedoran-gedoran tersebut tetap tidak membuatnya beranjak dari atas kasur. Untuk seorang gadis, kamarnya lebih mirip kapal pecah. Buku berserakan tak jelas, poster-poster bintang rock dari dalam dan luar negeri menutupi dinding, tak lupa audio bersuara tinggi memutar lagu-lagu death metal membuat kedua gendang telinganya seolah tertutup. Suara tadi bertambah menjadi gedoran keras pada pintunya. Sontak, Dahlia, si pemilik kamar berusaha bangkit dan berjalan menuju pintu setengah sempoyongan.
"Apa Bu?"
Perempuan paruh baya itu, Bu Yana, alias ibunya Dahlia memasang muka galak sambil menatap dari atas ke bawah, "Kamu itu perempuan! Bukannya bangun pagi sama bantu bersih-bersih, malah tidur nggak jelas. Lagumu juga nggak jelas! Matiin! Anak perawan kok gitu gayanya?"
Tangan Dahlia menggaruk belakang rambut panjangnya sambil menguap, ia sama sekali tidak menjawab dan langsung menutup pintunya kembali. Tak lupa dikuncinya agar tak ada orang yang menerobos. Dahlia memejamkan mata kembali sambil berhayal andai saja dirinya tidak punya ibu yang galak pastinya hidupnya akan lebih damai.
Sementara itu, Bu Yana hanya bisa menahan diri di depan pintu kamar anaknya, ia ganti berjalan menuju dapur dan mengambil cucian di wastafel yang telah menumpuk. Setiap hari selalu begini, Dahlia tak akan mau bersih-bersih bahkan sekadar menyentuh sapu saja ia tidak mau. Di tengah-tengah suara percikan air yang terjun pada piring-piring kotor dan suara video youtube berisi ceramah, keluarlah sebuah nada selingan yang menandakan transferan uang telah masuk. Tanpa mematikan keran air, Bu Yana melirik sedikit ke arah ponselnya dan melihat nominal sejumlah tiga juta telah masuk dengan licik. Tak lama kemudian keluarlah sosok yang dinanti-nanti dari dalam kamar, Dahlia, telah membawa handuk merah di atas pundak lalu berjalan tanpa sepatah kata menuju kamar mandi. Sambil melanjutkan cuciannya, perlahan bibir Bu Yana tersenyum seolah tak ada gesekan sebelumnya.
Di dalam kamar mandi berukuran dua kali dua tersebut, Dahlia nampak memandang ke arah cermin besar di balik pintu. Wajah tanpa make up tetapi tak ada jerawat yang parkir di sana satu pun. Barangkali takut dipalak. Dahlia lalu membuat rambutnya menjadi cepol, dan dalam sekejap mata ia mengambil napas dalam sebelum berteriak kencang.
"Heeaarrgggggg......."
Namun, hasilnya bukan jadi sebuah vokal scream yang bagus melainkan sebuah serangan tenggorokan di pagi hari. Suara Dahlia habis setelah tiga kali scream.
"Liaaa! Kamu kenapa?" Ibunya menggedor-gedor pintu dari kamar mandi dari luar, "Kamu nggak kesurupan kan?"
Dahlia tidak segera menjawabnya, ia memilih segera mandi saja. Alasannya? Malu. Gagal metal.
"Hahh..." Dahlia menghela napasnya, "Kalau begini terus, yang kubisa cuma nyanyi dangdut aja."
Selepas mandi, Dahlia duduk di meja makan dengan handuk tetap di pundaknya. Ia mencoba mengintip apa yang ada di balik tudung saji sebelum akhirnya sang Ibu menegurnya.
"Ibu masak rendang? Cepat amat." Kata Dahlia setelah kembali dari jemuran.
"Oh, itu si Fani yang nganterin."
Dahlia kembali menggeser kursinya, "Fani? Rajin amat."
"Iya, nggak kayak kamu."
Dahlia menghela napas kembali, sepertinya transferan darinya tak akan mengubah sifat ibunya yang suka ngomel.
"Coba sekali-sekali jadi kayak si Fani. Penampilannya feminin, pakai rok, pakai kerudung ..."
"Ibu dong, pakai kerudung juga kaya dia."
Dahlia meraih piring tanpa menatap ke arah Ibunya yang mengomel kembali, telinganya sudah kebal dengan berbagai macam suara itu. Dengan tenang ia memakan rendang yang dibawakan oleh Fani, sepupunya, anak dari Pak Dhe yang sekaligus kakak kandung dari Ayahnya. Fani, cukup sering dirinya ke rumah ini dengan membawakan berbagai makanan tetapi jarang sekali mampir. Gadis itu berbeda dengan dirinya, seratus delapan puluh derajat. Enak juga rasanya, pikir Dahlia.
Selesai makan, seperti biasa ia mau menaruh piring kotornya begitu saja, tetapi melihat ibunya melotot tanpa pikir panjang ia pun langsung mencucinya. Begitulah hari-hari Dahlia, diawali dari omelan dan sampai omelan. Anehnya, meski mengomel ibunya tak pernah kehabisan suara.
"Lia mau kerja dulu. Banyak klien menunggu."
Ibunya mendesah pelan, "Iya, semangat."
Dahlia tersenyum dan kakinya melangkah ke dalam kamar lagi. Tempat kerjanya sebagai desainer logo. Seperti biasa ia akan menyalakan lagu death metal keras-keras sambil mengerjakan proyek.
"Apa ya? Hm?" Tanganya sibuk memikirkan playlist apa yang akan diputar.
Death Metal? Terlalu sering. Power Metal? Bukannya kerja, dia bakalan asyik headbang sampai leher patah. Punk? Salah haluan, itu bukan judul cerita ini. Oh, Dangdut? Orkestra?
Dahlia mengerutkan alis, "Random banget algoritmaku. Nyari apaan aku selama ini?"
Namun, sebuah ide terlintas dalam benaknya. Entah mengapa ia ingin mendengarkan musik yang jauh lebih gelap hari ini. Black Metal. Jarinya kembali mengetik playlist band luar negeri, tetapi kemudian berhenti, ia baru ingat ada sebuah band dalam negeri yang begitu enak di telinganya. Sebuah nama band ia ketikan di bar pencarian, Land of Death, satu-satunya band bergenre black metal yang paling menggetarkan jiwanya.
"Oh, baru rilis album juga semalam. Dengerin ah."
Dahlia seakan dipenuhi bunga-bunga di kepalanya. Intro lagu dengan petikan gitar akustik yang pelan dan gelap, lalu berhenti sebentar dan sebuah teriakan melengking muncul, ketika berhenti barulah suara snare drum cepat diikuti distorsi gitar yang tak karuan. Flowers Sang Vokalis, Bulan Sang Drummer, Kaji Sang Bassis, Yogi Sang Lead Guitar, dan Marco Sang Rythem Guitar. Diantara seluruh personil, hanya Flowers seorang yang masih misterius latar belakangnya. Setiap playlist yang menyertakan foto mereka, Flowes nampak sebagai sosok berjubah dan bertopeng, kadang hadir secara simbolik sebagai bunga matahari yang dipegang oleh Bulan.
Baru saja ia ingin berkomentar memberi semangat, matanya tertuju pada sebuah komentar teratas dengan sebuah pin. Jadwal konser Land of Death dalam festival musik metal, yang mana seminggu dari sekarang. Buru-buru ia menelepon Prastyo, kawan satu tongkrongannya.
"Ayolah, Yo, nonton ya."
Suara lelaki dari seberang telepon nampaknya ogah-ogahan, "Bilang aja nggak ada tebengan, belajar motor sana, males banget nebengin dirimu!"
"Ayo dong, mana semangat metalheadmu?" Dahlia berusaha meyakinkannya.
"Tempatnya di mana?"
"Di gedung olahraga, deket rumahmu."
Prastyo langsung meninggikan suaranya, "Geblek! Ya kamu lah yang ke sini, nanti berangkat bareng jalan kaki!"
"Naik apa?"
"Terbang, Lia. Terbang."
"Oke."
Dahlia pun menutup teleponnya saat itu juga. Ia tak peduli bahwa Prasetyo akan mengirim pesan marah-marah cukup banyak setelahnya. Semua orang wajib tahu bertapa slengeannya seorang Dahlia itu dan harus terbiasa, pikirnya kepada semua orang. Ia pun membua file proyeknya dan tenggelam di sana dalam waktu beberapa jam ke depan.
Malam telah tiba, dan sudah saatnya Dahlia meregangkan badan yang sedari tadi berpostur jelek. Sungguh hari ini benar-benar menyebalkan karena klien resek satu ini, orang yang memintanya mengganti desain hingga nyaris seratus kali, berdebat sengit, dan pada akhirnya berakhir memilih desain pertama. Nyaris saja ia membanting laptop kalau tidak ingat harganya. Yang terpenting adalah ia dibayar tinggi, itu saja.
Namun, baru juga membuka kamar ia dihadapkan oleh kepalan tangan ibunya di depan muka, yang sepertinya hendak mengetuk tadi. Tapi dengan jahil, Bu Yani mengetuk dahi anaknya pelan.
"Eh, Lia, tolong anterin rantangnya balik ke Pak Dhe, udah Ibu isi."
"Iyaaa ..."
"Awas kalau nggak dianter, bersosialisasi itu penting tahu."
Dahlia menarik napasnya, "Iyaa ..."
"Yaudah, Ibu mau ke Pak RT dulu, ada rapat warga."
Wanita paruh baya tersebut langsung berjalan keluar rumah begitu saja. Sementara itu Dahlia dengan badan setengah sempoyongan berusaha meraih gelas dan minum sambil duduk di meja makan. Matanya tertuju pada rantang putih bermotif ayam yang terletak di atas meja, dengan penasaran ia mengintip ke dalam dan menemukan berbagai gorengan ada di sana. Terbersit untuk berbuat jahil dan mengambil sebuah, tapi ia sudah malas diomeli lagi. Dahlia pun segera membersihkan diri, alias sikat gigi dan cuci muka biar nggak buluk sebelum mengantar makanan itu.
Rumah Pak Dhe hanya berada di samping rumahnya. Kontras dengan rumahnya yang imut-imut, rumah Pak Dhe terkesan seperti istana di tengah-tengah perkotaan. Tinggi, besar, luas, dan bertingkat.
"Fani! Fani!" Dahlia mengetuk-ngetuk pintu depan rumah tersebut sekitar tiga kali.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari dalam dan membuka pintu untuknya. Rupanya itu adalah Mbok Siti, pengurus rumah. Tempat ini sedang kosong rupanya. Pak Dhe sedang ada di luar kota, Bu Dhe ikut rapat bersama Ibunya, dan Fani sendiri sedang mengisi acara di luar. Dahlia paham sekali maksudnya, sudah sejak dahulu sekali Fani terkenal berprestasi di bidang apa pun, menjadi tamu undangan untuk menjadi narasumber pun sudah tidak mengejutkan. Apalagi ia benar-benar aktif dalam lingkungan agama, barangkali acaranya semacam tausiyah atau ceramah tentang Tuhan.
"Ini Mbak, tadi Non Fani lupa bawa beras buat Ibunya Mbak." Kata Mbok Siti sambil membawakan dua kilo beras dalam sebuah kresek besar.
"Makasih lho Mbok. Lia pamit dulu."
Bertepatan dengan Dahlia yang menutup pagar penghubung rumah mereka, ia dikejutkan dengan kedatangan Ibunya. Cepat sekali pulangnya. Namun, Bu Yani tidak segera menyapa Dahlia dan langsung saja ia melewatinya begitu saja.
"Bu?" Dahlia menjadi kawatir dan langsung mengikutinya.
Di dalam, Dahlia melihat sebuah pemandangan mengejutkan, Ibunya menitikkan air mata. Dahlia segera meletakkan berasnya di atas meja dan mendekati Ibunya.
"Kamu dibilang jelek-jelek sama Bu Dhe, dibilang lebih jelek dari si Fani."
Perlahan Dahlia mengusap air mata ibunya dan memeluknya erat. Sambil terisak Bu Yani mulai bercerita mengenai omongan jelek dari Ibunya Fani. Antisosial, gosip memelihara tuyul karena sudah tidak mengutang lagi dan banyak duitnya, bahkan menyebut Dahlia jual diri karena sering melihatnya pergi bersama beberapa pria tak dikenal yang berpenampilan menyeramkan, membandingkan betapa si Fani alias putrinya lebih baik karena memakai hijab dan sering beribadah, juga tak akan berzina seperti tuduhan pada Dahlia. Singkatnya, Fani jauh lebih sempurna daripada drinya.
"Itu beras dari siapa?" Tanya Ibunya.
"Beli tadi di warung. Habis nganterin rantang langsung beli beras."
"Yaudah."
Dengan lembut Dahlia merengkuh badan ibunya. Dalam hatinya mungkin sedikit bergejolak, tetapi ia tak mau memulai pertengkaran karena hal sepele macam omongan orang.
...
Other Stories
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...
Balada Cinta Kamaliah
Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...
The Museum
Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...