0. Prolog
Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena
Sebab setelah ini aku akan menggoreskan pisau yang tajam ke nadiku
Terimakasih Revando sayang,
dirimu telah menjadi pengantar hidupku menuju kematianku.
Terima kasih kamu telah menjadi cinta terakhirku.
Aku mengklik send, barang satu detik atau dua detik. Status kepedihan hatiku secara lancar tanpan macet tercantum di moment we chat.
Kata-kata itu merupakan status terakhir yang ku-update di moment we chat. Biar Revando tahu betapa sakit hatinya aku karena perbuatannya. Aku mengambil serpihan kaca dari figura yang tergeletak. Perlahan serpihan kaca itu kutempelkan ke pergelangan tangan kiri.
Sret…!
Ya, serpihan kaca telah berhasil merobek pergelangan tanganku. Darah-darah kental pun mulai bercucuran ke lantai. Aku tersenyum lirih kala sayatan serpihan kaca kian merobek nadiku. Lihatnya Revando dan Rifky. Aku yakin kalian bisa merasakan hangatnya darahku.
Aku merasakan tubuhku semakin melemas. Biarkan begini, tersudut mati dengan sisa sayatan yang kalian gores di hatiku.
Pandanganku mulai kabur tapi aku masih bisa melihat ada bayangan hitam dan besar muncul di depanku. Aku yakin 100% bayangan hitam itu bayangan malaikat pencabut nyawa. Sekarang aku sudah siap nyawa diambil olehnya.
“Selamat tinggal dunia. Revando, Rifky kalian adalah cintaku sampai mati,” ucapku sebelum menutup mata selamanya.
Other Stories
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...