Gitar
Zyan masuk ke kamarnya dengan membawa gitar yang patah. Zyan duduk di atas kasur sambil termenung. Teringat kejadian tadi siang dia tidak sengaja mematahkan gitar Dana. Di tengah lamunannya, terdengar suara Mama. “Gimana sekolahmu hari ini?”
Zyan menengok ke Mama. “Hmmm, biasa aja…”
“Kok mukanya cemberut begitu?”
Zyan terdiam seben tar. “Gak apa-apa.”
Zyan tertunduk. Mama melihat gitar patah yang Zyan bawa.
“Kamu ingat Jerry? Teman kecil kamu yang sering nakalin kamu dulu?”
“Zyan inget, Ma. Dulu kamu cuma bisa nangis, terus meluk Mama sambil ngadu, tiap Jerry ngerusak mainan kamu. Bahkan kamu sampai ngumpet ke kamar, cuma gara-gara Jerry iseng panggil nama kamu dari luar pagar.
Zyan terlihat tertekan mengingat kejadian-kejadian tersebut.
Wajah Zyan memerah karena dengan menahan marah. “Dia jahat.”
“Orang-orang jahat itu sebenarnya cuma sedang marah.”
Zyan tertegun memperhatikan Mama yang sedang menasehatinya.
“Marah karena orang punya apa yang dia gak punya … kehilangan Mama.
Zyan terdiam. Mama mengelus kepala Zyan. “Di rumah gak ada yang masakin, kangen ditanya mama gimana tadi di sekolah. Sampai akhirnya…”
Zyan menjawab pelan, “Akhirnya?”
“Akhirnya hatinya rusak. Rusak karena diisi kebencian. Benci lihat orang-orang bahagia, sedang dianya gak. Orang-orang jahat seperti mereka gak tau harus nyalahin siapa. Mereka jadi nyalahin semua orang atas kehilangan yang mereka punya.”
Raut wajah Zyan terlihat berpikir.
“Nah, di titik itulah kemarahan muncul untuk menutupi lemahnya hati mereka.”
Mama tersenyum pada Zyan. Terlihat raut wajah sedih Zyan. “Tapi, dibalik kerasnya sikap yang mereka kasih lihat, sebetulnya mereka itu penakut. Takut sendirian, takut kesepian, takut kehilangan… bahkan takut untuk menghadapi kenyataan.”
Setetes air mata jatuh di pipi Zyan. “Kamu tau apa yang mereka lupa?”
“Apa?”
“Mereka lupa, kalau merebut kebahagiaan orang lain itu, gak akan bisa ngembaliin kebahagiaan yang sudah hilang. Zyan jangan sampai merebut kebahagiaan orang lain ya.”
Tangis Zyan sudah tidak bisa terbendung lagi. Dia menceritakan kejadian mematahkan gitar Dana ke Mama. Mama tersenyum simpul. Lalu, mengeluarkan uang dari saku bajunya. “Ini buat beli gitar baru, ngeganti gitar temanmu yang kamu rusakin.”
***
Dana berdiri di sudut pertigaan jalan sambil bernyanyi dan bertepuk tangan dengan lemas. Di depannya terlihat kaleng berisi uang receh hasil mengamen. Beberapa orang hanya lewat tanpa peduli. Zyan datang menghampiri Dana sambil membawa sebuah gitar baru. Dana terlihat ketakutan melihat Zyan berdiri di depannya. Wajah Zyan penuh rasa bersalah.
”Aku ganti gitar yang aku rusakin. Maafin aku,” ucap Zyan tulus kepada Dana.
Zyan memberikan gitar kepada Dana. Dana yang tadinya ketakutan, berubah bingung. Dana memperhatikan gitar yang Zyan bawa, diperhatikannya wajah Zyan yang tampak tulus.
Wajah Dana berubah tenang. Dana tersenyum. “Iya … aku maafin.”
Dana mengambil gitar yang disodorkan Zyan. Dana yang kelihatan bahagia karena memiliki gitar baru. Zyan tersenyum bahagia.
SELESAI
Other Stories
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya
Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...
Kesempurnaan Cintamu
Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...