Ternyata, Menepati Janji Itu Sulit Sekali
“Satu setengah jam lagi.” Jam taman yang berwarna hitam itu memberi tahu waktu. Suasana festival yang sudah mereda karena kembang apinya sudah selesai juga ditandai dengan para penjual yang memutuskan menutup stannya karena barang dagangannya sudah habis.
Dan pada waktu itu, aku segera menggamit tangan Yumi. “Ayo kita pergi.”
Yumi yang saat itu sedang mengunyah permen apel menunjukkan wajah yang bingung. “Ke mana? Bagaimana dengan teman-teman?”
“Ke suatu tempat. Kalau kau ingin membawa mereka, segera bilang. Aku tunggu di bangku.” ucapku. Aku ingin segera bergegas sebelum dia pergi. Dia mengangguk lalu melompat tinggi.
Sekarang aku sudah berada di luar taman. Menghindar dari kerumunan untuk mencari sesuatu.
Aku menemukannya. Tepat di seberang jalan.
Toko kelontong yang berukuran kecil itu seakan-akan tidak pernah tutup. Lampunya yang selalu dinyalakan, etalase tokonya yang tidak berubah, serta tulisan kanji yang bercahaya kedip-kedip tidak menentu itu seakan menandakan berapa lama toko ini telah berdiri.
Jalanan sepi. Hanya satu dua kendaraan melintas. Aku melangkah santai melewati garis putih yang sudah disiapkan untuk keselamatan pejalan kaki, lalu berjalan beberapa langkah dan sampailah aku di depan toko tersebut, disambut ramah oleh patung kucing keemasan yang tangannya bergerak kedepan belakang yang disimpan di etalase depan.
Aku melangkah masuk. Hawa yang terasa dari pendingin udara yang diletakkan di atas kasir masih mempertahankan suhu tetapnya yaitu 25 derajat. Di bawahnya, Nenek berambut konde yang sudah beruban lengkap dengan kacamata dan kimono ungu itu berdiri mematung. Setengah sadar mungkin.
“Nek, saya beli lampion itu.” Aku menunjuk ke lampion putih yang menggantung di langit-langit.
Nenek itu terperanjat. Sepertinya sehabis terbangun dari tidurnya yang tidak ia sadari.
“Ada yang bisa saya bantu, Nak?” Nenek itu bertanya. Terpaksa aku mengulangi perkataanku.
Nenek itu membetulkan kacamatanya lalu menatap ke arah lampion yang aku tunjuk. “Dua ratus yen,” ucap Nenek mantap.
“Baiklah meski harganya sama dengan yakisoba.” Aku merogoh saku.
Nenek itu mengambil lampion tersebut menggunakan tangga lalu membungkusnya dan meberikannya padaku. Aku membayarnya dengan dua lembar uang lalu berterima kasih.
“Sering-sering datang kesini,”ucap Nenek itu. Aku mengangguk lalu melangkah pergi.
Kembali kebangku taman yang sudah dipenuhi oleh sepuluh orang itu. sebagian bersandar pada pohon, sebagian duduk dan dua yang lain masih melahap makanan. Dua orang itu adalah Eguchi dan Kanzaki.
Kuro yang sedang bersandar di pohon itu melihatku pertama kali. “Jadi, sekarang kita ingin kemana?” ucapannya membuat yang lain menoleh. Eguchi pun berhenti makan, menatapku.
Aku mengangkat lampion. “Kita akan menerbangkan ini, di atas gunung.” Aku memberitahu tujuan.
“Kedengarannya menarik, untuk sebuah upacara perpisahan.” Aizawa berdiri, melangkah ke arahku. Diikuti oleh Yumi setelahnya.
“Meski jauh, aku ikut saja.” Konna juga mengikuti lagkah Yumi sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Yang lain juga mengikuti. Bersiap untuk berjalan lebih jauh ketempat yang sering kudatangi itu. Saatnya menatap bintang.
................
“Masih jauhkah?” tanya Konna. Wajahnya yang terlihat sangat kelelahan itu semakin lesu setelah melangkah beberapa puluh meter naik ke atas bukit. Sepertinya dia bahkan sudah tidak kuat lagi hanya untuk menahan beban tubuhnya, apalagi ditambah pedangnya itu.
“Oh ayolah. Tinggal beberapa meter lagi.” Aku yang memimpin perjalanan berhenti melangkah, melihat Konna yang hanya bisa berpegangan pada pagar.
Kali ini aku tidak mengajak mereka untuk menerbangkan lampion tersebut di pinggir pagar seperti yang sering aku lakukan setiap kali merasa jenuh, tapi aku mengajak mereka untuk naik ke atas bukit meski lebih jauh.
Kami terus saja melangkah. Tanjakan yang semakin curam itu sudah kulihat ujungnya, tapi saat kulihat kebelakang hanya Yumi saja yang masih terlihat bersemangat.
“Yumi, dalam hitunganmu, berapa menit lagi?” tanyaku.
Yumi merogoh buku catatan tersebut di sakunya lalu membukanya. “Lima menit. Kita harus bergegas.” Wajahnya nampak serius.
Aku menghentikan langkah. “Kita tepat waktu.”
Malam ini hamparan rumput setinggi mata kaki yang mendatar di bukit ini terlihat menghitam karena tidak bisa mendapatkan sinar dari bulan. Tapi, sekarang bukan saatnya untuk melihat ke bawah.
Konna dan Aizawa segera berbaring di atas rumput tersebut. Terkagum-kagum melihat langit tak berawan yang disinari banyak titik cahaya.
Akane menyimpan pedangnya di punggungnya. Telihat puas dengan pemandangan yang aku suguhkan pada mereka. “Lumayan, Shin.” Tubuh kekarnya tidak terlihat kecapekan meskipun sudah menaiki tanjakan sepanjang beberapa ratus meter.
Kali ini bulan sudah membentuk senyuman. Sama seperti senyuman Yumi yang terlalu senang hingga berlari-lari di sekitaran bukit. Sepertinya mereka belum pernah melihat pemandangan semenakjubkan ini.
Aku pun ikut menatap langit. Bintang-bintang semakin besinar terang seakan ikut menyambut, langit biru yang tidak tertutup awan juga memperluas pemandangan dari ujung keujung. Rasanya, ini lebih indah daripada kembang api yang meletus-letus itu.
Lenganku yang menggenggam tali penggantung lampion ikut tertiup angin malam yang dingin, tak sabaran untuk diterbangkan.
Kaos yang kukenakan tak mampu menahan dingin karena sudah hampir tengah malam. Syal yang kulingkarkan di leherku juga hanya bisa menghangatkan sekitar leherku saja. kuputuskan dengan pemantik yang kubawa, aku segera menyalakannya.
“Teman-teman, sudah waktunya.” Aku berbalik ke arah para Shinigami yang masih sibuk dengan urusan masing-masing. Mengarahkan lampion pada mereka.
Mereka semua berbalik dan bangkit. Yumi pun yang masih berlari memutari bukit pun menghentikan pekerjaan tak bergunanya itu lalu melangkah ke arahku.
“Ini, indah sekali.” Akane menyimpan pedangnya di pinggirnya.
Konna mengangguk. “Tidak bisa dipungkiri lagi.”
“Teman-teman. Kurasa kita harus memanggil pedang kita. Aku yakin mereka meminta keluar.” kata Kanzaki. Dia kelihatan kerepotan dengan Eguchi yang bergerak-gerak tidak menentu.
Kami menatap Kanzaki aneh. Anak baru yang selalu mencairkan suasana, pikirkan.
Cahaya dari tiap-tiap Shinigami sekali lagi meliuk-liuk mewujud menjadi manusia yang merupakan partner mereka.
“Oke, sekarang apa yang akan kita lakukan di si ... wow.” Bocah kecil bernama Eguchi itu secara perlahan mendekat ke arah lampion yang aku pegang.
“Jadi, di sini kita akan menerbangkannya?” Kuro menatap langit. “Tidak buruk.”
Pedang milik Konna dan Aizawa juga sudah hadir. Mereka tersenyum-senyum penuh bangga.
Yumi membaca lagi penghitung mundurnya. “Dua menit lagi.”
“Sebentar lagi, apa yang akan kita lakukan sebelum kita menerbangkannya?” kata Kanzaki.
“Tunggu dulu. Aku punya sesuatu untuk kalian.” Yumi merogoh sesuatu dari kantong jaketnya yang besar. “Aku sempat membeli ini sewaktu festival.”
“Maksudmu mencuri. Kita tak pernah dibayar untuk pekerjaan ini,” kata Kuro.
“Diamlah.” Yumi memandangnya dengan wajah sinis. “Sekarang ulurkan tangan kalian.”
Kami yang penasaran atas apa yang akan diberikan Yumi ragu-ragu menjulurkan tangan. Yumi mendatangi mereka satu satu.
“Ini untukmu, ini untukmu.” Yumi memberikan barang tersebut lalu menutup telapak tangan mereka agar tidak ada satupun yang melihat, namun tetap saja mereka melihat apa yang diberikannya.
“Gantungan beruang?” Kuro bertanya-tanya atas apa yang ia dapat. Dia memainkan gantungan tersebut dengan jari.
“Kurasa kau membutuhkan sesuatu yang imut.” Ucap Yumi.
“Yah, setidaknya, sekarang waktunya mendapat majikan baru.” Kuro memasukkan gantungan tersebut. Yumi meresponnya dengan juluran lidah menghina.
“Jimat keberuntungan?” kata Konna.
“Aku tahu, kau sebenarnya selalu sial dalam menghadapi hari.” kata Yumi. Meski terlihat berguna, namun kurasa sebenarnya tergantung orangnya.
Juga benda-benda aneh lain yang berhasil membuat temannya kebingungan.
“Terakhir, untuk Shin.” Dia memberikan sesuatu untukku. Sebuah bola kaca berwarna biru.
“Ini, apa?” tanyaku.
“Entahlah, kurasa ini benda semasa aku masih hidup, ingatanku tak sempurna kembali ternyata. Jadi, Mungkin kau akan membutuhkannya untuk sesuatu yang penting.” Dia mengedikkan bahu.
Lengang sejenak. Kami semua menikmati hadiah.
Yumi bertepuk tangan, meminta perhatian. “Teman-teman, tiga puluh detik lagi.”
Aku memegang bagian bawah lampion. Siap untuk diterbangkan. “Sebaiknya kau memegangi sisi yang lainnya.”
Yumi mengangguk lalu melakukan yang kuperintahkan. “Aku sudah siap.” Wajahnya kini terlihat santai, senang sekali.
“Ada permintaan terakhir?” Akane nyeletuk.
Kali ini wajah senang Yumi berubah menjadi isak tangis, meski berawal dari tetesan, kini sudah mengalir deras. Dia menunduk.
“Kau tahu, aku senang sekali hari ini. Semua yang kita lakukan, aku ingin kita melakukannya lagi bersama-sama. Terutama kau, Shin. Akhirnya kau menepati janjimu, meski aku masih penasaran tentang masa laluku, tapi ini sudah cukup.” kata Yumi.
“Bersiap untuk menghitung mundur.” Kuro memberitahu. Yumi menahan isak tangis dan memberhentikannya.
“Tiga ....” ucap kami bersama-sama.
“Dua ....” jemariku siap melepas lampion ditanganku. Dengan kepergian Yumi. Sebuah akhir yang bahagia.
Yumi tiba-tiba menatap langit.
“Hei, bintang jatuh!” seru Yumi. Kami serentak menatap langit. Memang benar, kali ini cahaya tersebut mulai berjatuhan, melintas lalu menghilang ditelan langit. Tidak hanya satu, tapi belasan jumlahnya. Pemandangan yang langka.
Selama beberapa saat kami terus menatap langit yang terlihat indah tersebut. Hujan bintang yang entah perginya kemana itu meski hanya sekedar datang dan pergi namun fenomena tersebut membekas dalam ingatan kami.
“Yumi ....” Akane memecah keheningan. Kami langsung mengingat apa tujuan kami berada disini.
Kami semua menatap ke arah orang yang seharusnya berada di dihadapanku. Kali ini, dia tidak ada. Jariku mulai melemas karena tidak mampu berkata apa. Aku tidak tahu mengapa aku mengingkari janji ini.
Karena jariku kebas, aku akhirnya melepaskan lampion tersebut, tinggi, tinggi ke langit. Membawa secercah cahaya harapan yang sudah hilang.
“Aku, mengingkari janji,” ucapku akhirnya.
“Tapi setidaknya kau membawa lampion ....” Eguchi mencoba menenangkanku.
“Tapi setidaknya apa?! Kita tetap tidak bisa menerbangkan lampion itu bersamanya.” Aku membentak. Emosiku yang tidak terkendali membuatku memotong ucapannya.
Lututku melemas, hingga akhirnya berlutut. Air mataku sudah mengalir deras sejak tadi. Semua kesenangan ini hanya berakhir sedih. Aku yang tidak pernah menepati janji akhirnya melakukan hal buruk itu.
Di belakangku, para Shinigami beserta pedangnya berbisik-bisik.
“Dia sedang ingin sendiri. Kita tinggalkan saja dia.” Aku mendengar suara Konna yang membicarakanku.
Beberapa pasang kaki itu akhirnya melangkah pergi. Meninggalkanku. Menyisakan satu orang.
“Kau tahu, sebenarnya aku agak terkejut melihat Yumi akhir-akhir ini. Awalnya dia orang yang sangat pendiam dan misterius. Tapi saat dia bertemu kau, sifatnya berubah total hingga aku berpikir akan sulit menemukan orang semenyenangkan dia lagi,” suara itu milik Aizawa, yang berdiri di belakangku.
“Tapi ...” Dia mulai terisak. Aku yakin dia sedang meneteskan air matanya. “Aku masih berharap kau bertemu dengannya lebih awal.”
Air mataku sesekali masih menetes. Masih merasa menyesal dengan janji yang tidak kutepati hanya karena terlambat sedetik saja. Seharusnya, lampion itu terbang tepat saat kami melepas kepergiannya.
“Sial. Masuk.” Dia menghilang dan langsung pergi ke kantornya. Dia setidaknya memiliki tempat untuk menangis.
Aku memutuskan untuk berbaring menggunakan hamparan rumput yang tak terhitung jumlahnya itu sebagai penopang tubuh. Menatap langit, yang semakin memunculkan gemerlapnya bintang-bintang. Sepertinya bintang jatuh yang melintas tadi sudah selesai.
“Mengapa kau melakukan itu?” gumamku. Kami akhirnya tidak sempat melihat lenyapnya Yumi dari muka bumi ini. Tanpa ucapan selamat tinggal.
Tanganku sejak tadi menggennggam erat sesuatu.
Ternyata bola yang diberikan oleh Yumi. Bola berukuran segenggam itu terbuat dari kaca yang berwarna hijau transparan. Gurat-gurat simetris yang melingkar dari ujung ke ujung menghiasi polosnya bola itu.
Untuk apa aku diberikan benda seperti ini?
Mungkin dia ingin aku tetap mengingatnya? Kurasa aku tidak perlu mengingat orang yang baru bertemu denganku selama beberapa hari.
Ini, perpisahan yang terlalu cepat.
Tidak, Shin. Jangan. Aku berbicara pada diri sendiri untuk menahan diri. Rasa bersalah itu kembali muncul.
Sialan. Tetes air mata itu tidak mau berhenti. Menemani kesendirianku.
Other Stories
The Unkindled Of The Broken Soil
Tak semua yang berjalan memiliki tujuan. Tak semua yang diam itu hampa. Dan tak semua ki ...
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...
Aruna Yang Terus Bertanya
Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...
Susur
Kepergian Mamat mencari ayahnya, tanpa sengaja melibatkan dua berandal kampung. Petualanga ...
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...