Bab 5 - Runtuh
Hari itu langit Jakarta kembali mendung, tapi kali ini seolah mencerminkan perasaan masing-masing tokoh dalam kisah ini.
Di ruang kerjanya, Reza menerima pesan dari Nadya: “Kalau kamu nggak kasih kejelasan minggu ini, aku akan cerita sendiri ke istrimu.”
Ia memandangi layar ponselnya, rahangnya mengeras. Nadya bukan sekadar marah—ia sudah kehilangan kendali. Reza tahu ini adalah titik paling rapuh dari jaring yang ia anyam sendiri.
Di waktu bersamaan, Riri menerima DM dari akun tak dikenal: “Pacar kamu juga main di Senopati dan Rawamangun. Jangan terlalu bangga, sayang.”
Riri mengernyit. Awalnya mengira itu haters. Tapi rasa penasaran mengalahkan ego. Ia menyewa jasa ‘cyber investigator’ yang biasa membantu influencer menyelidiki stalker. Dua hari kemudian, ia menerima foto-foto Reza dengan wanita lain.
Riri melempar ponsel ke lantai. Matanya panas. "Bang*at," gumamnya. Dan ia tahu, ia bukan satu-satunya.
Di salon mewah di Dharmawangsa, Nadya dan Riri bertemu. Tak sengaja. Sama-sama sedang perawatan wajah. Mereka saling pandang, saling senyum canggung. Lalu, terdiam.
“Namamu Nadya, kan?”
“Riri?”
“Reza.”
Satu nama, satu napas, satu luka. Dunia seperti berhenti berputar.
Beberapa meja dari mereka, seorang pegawai salon menangkap momen itu dan mengabadikannya dalam diam. Dalam beberapa jam, berita gosip mulai beredar di grup pertemanan selebriti. Nama Reza mulai disebut.
Sementara itu, Tari menemukan tiket bioskop yang jatuh dari dompet Reza saat mereka makan malam. Dua tiket. Tanggal dan jam yang sama dengan waktu Reza bilang ia 'rapat dengan kontraktor'.
Dengan hati berdebar, Tari mencari tahu. Ia menemukan jadwal film yang sama. Lalu membandingkan postingan Riri di Instagram Story. Ada kursi, ada minuman, ada bayangan tangan pria. Sama.
Tari merasa tubuhnya menggigil. Bukan karena cemburu. Tapi karena ia merasa bodoh. Ia bangkit, langsung menuju ke kosan Damar. Kali ini bukan untuk mencari pelarian, tapi untuk merusak kendali yang Reza kira masih ia genggam.
Sheila, yang biasanya paling diam, mengikuti nalurinya. Ia menyewa taksi online dan mengikuti Reza saat pria itu terburu-buru pamit. Ia melihatnya memasuki rumah lain. Bukan rumah mereka. Bukan rumah kantor.
Ia menunggu di luar. Lama. Sampai akhirnya pintu terbuka dan seorang wanita muda keluar sambil menggandeng lengan Reza.
Sheila menangis dalam diam. Tak ada amarah. Hanya kehancuran diam-diam yang terasa seperti mati perlahan.
Vania? Ia menunggu waktu yang tepat. Lita sudah mengumpulkan cukup bukti. Empat rumah. Empat wanita. Jadwal. Transaksi. Foto. Bahkan voice note.
Malam itu, Vania duduk sendiri di ruang tamu. Di mejanya ada empat amplop, masing-masing diberi nama: Nadya, Tari, Sheila, Riri.
Ia menghubungi keempat wanita itu. Dengan nada formal dan tenang, ia mengundang mereka ke vila keluarga di Puncak. Alasan: makan malam untuk membicarakan masa depan.
Tak satu pun menolak. Semua merasa ini saatnya bicara. Semua merasa mereka korban.
Dan Reza, di sisi lain, menerima undangan makan malam dari Vania. Tanpa curiga. Ia mengira ini usaha perbaikan hubungan. Ia mengira semua masih dalam kendalinya.
Ia salah.
Other Stories
Test
Test ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...
Cinta Buta
Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...