Bab 4 - Posesif Dan Lelah
Nadya menyalakan sebatang rokok, duduk di pinggir tempat tidur dengan rambut berantakan dan kulit masih berkeringat. Reza masih telentang, matanya menatap langit-langit, napasnya pelan tapi berat. Mereka baru saja menyelesaikan sesi bercinta yang intens, tapi malam itu berbeda. Nadya tidak tersenyum. Tidak menggoda. Matanya tajam.
"Aku capek jadi bayangan," katanya tanpa menoleh.
Reza menoleh perlahan. "Nad, jangan mulai malam ini."
"Kenalkan aku ke orang tuamu. Atau aku pergi."
Reza tertawa kecil. "Kamu tahu itu nggak mungkin."
"Kenapa? Karena aku cuma proyek sambilan? Karena aku bukan Vania yang kamu pamerin di media sosial?" Nadya memadamkan rokoknya dengan gerakan kasar. "Kalau aku nggak lebih dari selingan, bilang sekarang. Biar aku berhenti berharap."
Reza bangkit dari ranjang, mengambil celana dalam dan celana bahan, lalu duduk di kursi sambil menatap Nadya. "Kamu tahu aku sayang kamu. Tapi semua ini... rumit."
"Kamu yang buat rumit. Empat rumah, empat hati. Kamu pikir kamu siapa? Dewa cinta?" Nadya berdiri, menatapnya langsung. "Aku bukan perempuan yang bisa kamu jadikan jeda."
Sementara itu, di Senopati, Tari duduk di kafe kecil sambil memainkan sedotan plastiknya. Di depannya, Damar sedang bercerita soal mimpi buat buka bisnis barbershop online. Damar memang pengangguran. Kadang menang taruhan judi online, lebih sering kalah. Tapi Tari merasa hidup saat bersama Damar. Ia merasa didengar, tidak seperti saat bersama Reza.
"Cowok kamu itu siapa sih sebenernya?" tanya Damar sambil menyeringai. "Kerjaannya banyak banget, tapi nggak pernah ada waktu buat kamu."
Tari tersenyum pahit. "Dia sibuk."
Damar meraih tangan Tari dari atas meja, mengelus punggung tangannya perlahan. "Aku nggak punya banyak. Tapi waktuku 100% buat kamu."
Di antara tatapan dan genggaman itu, Tari merasa dirinya kembali jadi gadis 20-an yang bisa jatuh cinta tanpa logika. Tapi ia juga tahu, Damar tidak bisa menafkahinya. Ia tahu ia sedang menggali kuburan emosional baru. Dan anehnya, ia menyukainya.
Di waktu yang sama, Sheila berdiri di dapur rumahnya. Ia sedang memotong bawang untuk masakan malam. Anak lelakinya bermain di ruang tamu dengan suara kartun menggelegar. Reza mengabari akan datang malam itu. Tapi seperti biasa, tak kunjung tiba. Pukul delapan lewat. Ia mulai menghangatkan kembali sup yang sudah dua kali dingin.
Sheila menatap cermin kecil yang tergantung di dapur. Usianya hampir empat puluh. Bekas luka operasi melintang di bawah pusarnya. Tubuhnya tidak seperti Riri atau Tari. Tapi ia tahu cara mencintai tanpa syarat. Sayangnya, Reza tidak pernah benar-benar ada untuk dicintai.
Di PIK, Riri sedang live Instagram, membahas skin care dan tanya jawab dengan followers-nya. Ia tampil ceria. Tapi setelah live ditutup, ia membuka notifikasi dan menatap satu pesan dari Reza yang belum dibalas sejak dua hari lalu. Riri menggigit bibir, lalu membuka galeri foto dan menghapus foto mereka berdua. Satu per satu.
Empat perempuan. Empat rasa. Semua mulai goyah.
Dan Reza, masih berpikir semua berada dalam kendalinya.
Other Stories
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
People Like Us
Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...
Dari Luka Menjadi Cahaya
Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...