Bab 1 - Pria Sempurna
Langit Jakarta malam itu kelabu, menyisakan aroma aspal basah dari hujan yang turun sore tadi. Di antara gemerlap lampu jalan dan bayangan pepohonan yang melintas cepat, sebuah mobil hitam Mercedes-Benz S-Class menggelinding pelan, menyusuri area perumahan mewah di Pondok Indah. Suasana di luar tampak tenang, nyaris beku. Namun di balik kaca berwarna gelap itu, seorang pria tengah mengatur napasnya.
Reza Hartono, 36 tahun, mengenakan setelan Armani abu-abu gelap yang masih rapi seolah hari kerjanya belum benar-benar berakhir. Jam tangan Patek Philippe menghiasi pergelangan tangannya. Ia tampak seperti pria dari sampul majalah gaya hidup: rapi, sukses, dan tak bercela. Namun malam itu, wajahnya memancarkan sesuatu yang lain—campuran hasrat, rutinitas, dan rasa bersalah yang tak diakui.
Mobilnya berhenti di depan sebuah rumah bergaya minimalis. Tak terlalu mencolok, tapi tetap mewah dalam kesederhanaannya. Cat putih bersih, jendela kaca besar dengan tirai tertutup, dan taman kecil yang dipenuhi tanaman eksotis. Tak ada papan nama. Tak ada petunjuk. Rumah ini seperti rahasia yang disimpan baik-baik.
Pintu depan terbuka bahkan sebelum Reza sempat menekan bel. Nadya berdiri di sana, mengenakan gaun satin merah yang membentuk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Cahaya lampu remang dari dalam rumah menyinari siluet tubuhnya, membuat Reza menelan ludah pelan.
"Kamu telat dua puluh tiga menit," ucap Nadya sambil menyeringai, tangan kirinya bersandar di kusen pintu, penuh tantangan.
"Macet," jawab Reza pelan. Suaranya serak, dan matanya tak bisa lepas dari tubuh Nadya.
"Masuklah. Dunia luar bisa menunggu."
Reza melangkah masuk. Begitu pintu tertutup, Nadya menarik dasinya, menyeretnya perlahan ke sofa, dan mencium bibirnya dengan intensitas yang menghapus sisa hari itu. Tak ada basa-basi. Tak ada waktu untuk kebohongan-kebohongan ringan. Di rumah ini, hanya ada mereka berdua—dan kebohongan besar yang mereka rawat bersama.
Nadya bukan sembarang wanita simpanan. Ia seorang pengacara perusahaan multinasional, mandiri, tajam, dan sangat tahu apa yang ia inginkan. Termasuk pria seperti Reza. Ia jatuh bukan hanya pada ketampanan atau dompet tebal, tapi pada bagaimana Reza bisa membuatnya merasa hidup. Di ranjang. Di meja makan. Dalam percakapan-percakapan larut malam.
Kadang, setelah bercinta, mereka berdiskusi soal hukum korporat, politik dalam negeri, atau sekadar menertawakan kebodohan publik figur yang sedang viral di media sosial. Reza tidak hanya datang untuk seks. Ia datang untuk sesuatu yang tak ia dapatkan di rumah: kebebasan.
Sementara itu, di tempat lain, ada seorang wanita lain yang menanti pesan. Vania, istri sah Reza, sedang menyisir rambut panjangnya di kamar utama rumah mereka di Menteng. Ia menatap ke arah ponsel yang tergeletak di meja rias. Tak ada pesan dari Reza sejak pukul delapan. Katanya ada pertemuan dengan klien Jepang yang ngaret.
Vania menghela napas, lalu berdiri, mengenakan jubah sutra dan keluar dari kamar. Rumah itu sunyi. Anak-anak mereka sedang tidur. Ia berjalan ke dapur, membuat teh, dan mencoba menenangkan pikirannya. Tapi entah mengapa, malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.
Ia membuka laci dapur, mengambil korek dan menyalakan lilin aromaterapi. Bau lavender memenuhi udara. Vania duduk di kursi bar dapur sambil memutar cangkir teh. Ia teringat masa-masa awal pernikahan mereka, saat Reza masih sering menulis puisi di kertas kecil dan menyelipkannya di bawah bantal.
Semua berubah perlahan. Reza makin sibuk. Makin jauh. Dan ia makin sering bicara dengan dirinya sendiri.
Reza dikenal di kalangan bisnis konstruksi sebagai anak muda yang menaklukkan banyak proyek besar dalam waktu singkat. Dari pembangunan perkantoran, hotel, hingga hunian elite. Ia cerdas, berani ambil risiko, dan punya koneksi yang luar biasa luas. Ia menjadi simbol pria muda sukses Indonesia.
Tapi hanya keluarganya yang tahu, bahwa Reza juga membawa ambisi itu ke ranah yang lebih gelap. Ia tidak hanya membangun gedung—ia juga membangun kehidupan ganda. Empat rumah di empat titik Jakarta, masing-masing dihuni oleh satu wanita yang merasa dirinya adalah pusat semesta Reza.
Dan yang paling mengejutkan? Keluarganya tahu. Ibunya tahu sejak rumah kedua. Ayahnya tahu sejak rumah ketiga. Dan adik laki-lakinya bahkan membantu mencarikan lokasi untuk rumah keempat.
"Daripada dia main di luar tanpa tanggung jawab, lebih baik gini. Kan semuanya diurus baik-baik," kata sang ibu saat Vania sedang tidak di rumah. Sebuah logika keliru yang diwariskan turun-temurun dalam keluarga mereka. Reza, sang pewaris kebiasaan buruk, menjalankan semuanya dengan rapi.
Namun, seperti bangunan apa pun, tak peduli seberapa kokoh pondasinya, jika dibangun di atas kebohongan—pasti akan retak. Pelan, tapi pasti.
Malam itu, di rumah Nadya, setelah sesi bercinta yang penuh gairah, mereka duduk di balkon lantai dua. Angin malam menggerakkan tirai tipis. Reza merokok dalam diam.
"Kenapa kamu nggak pernah bilang cinta?" tanya Nadya tiba-tiba.
Reza menoleh. “Kamu tahu jawabannya.”
"Aku ingin dengar. Dari bibirmu. Bukan dari asumsi."
Reza memandang jauh ke arah lampu kota. "Karena kalau aku bilang cinta, kamu akan minta lebih. Dan aku nggak bisa kasih lebih dari yang sudah ada."
Nadya tersenyum pahit. Tapi tetap menyandarkan kepalanya di bahu Reza. Ia tahu, cinta ini beracun. Tapi ia juga tahu, ia sudah terlalu dalam.
Sebelum tidur, Reza mengecek ponselnya. Ada beberapa pesan tak terbaca dari Vania. Ia tidak membalas. Ia hanya menatap layar sebentar, lalu mematikan ponsel.
Ia tahu, esok pagi ia harus sarapan bersama keluarga. Lalu sorenya rapat dengan klien. Malamnya? Mungkin Sheila. Atau Tari. Ia sudah lupa urutan.
Tapi yang pasti, satu hal terus ia tanam dalam pikirannya:
"Selama aku mengatur waktu dengan sempurna, semua akan tetap di bawah kendali."
Apa yang tidak ia sadari, adalah bahwa tidak ada kebohongan yang bisa diatur selamanya.
Other Stories
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
The Fault
Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...
Nona Manis ( Halusinada )
Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...